gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

teori urban desain April 28, 2011

Filed under: Loker Sosiologi — gogo @ 8:42 am

Dalam proses urban design didasarkan pada teori-teori yang harus selalu diperhatikan yaitu:
1.jpg

4.jpg

Figure Ground Theory (solid-void plan)
Berisi tentang lahan terbangun (urban solid) dan lahan terbuka (urban void). Pendekatan figure ground adalah suatu bentuk usaha untuk memanipulasi atau mengolah pola existing figure ground dengan cara penambahan, pengurangan, atau pengubahan pola geometris dan juga merupakan bentuk analisa hubungan antara massa bangunan dengan ruang terbuka.
a. Urban solid
Tipe urban solid terdiri dari:

  1. Massa bangunan, monumen
  2. Persil lahan blok hunian yang ditonjolkan
  3. Edges yang berupa bangunan

b. Urban void
Tipe urban void terdiri dari:

  1. Ruang terbuka berupa pekarangan yang bersifat transisi antara publik dan privat
  2. Ruang terbuka di dalam atau dikelilingi massa bangunan bersifat semi privat sampai privat
  3. Jaringan utama jalan dan lapangan bersifat publik karena mewadahi aktivitas publik berskala kota
  4. Area parkir publik bisa berupa taman parkir sebagai nodes yang berfungsi preservasi kawasan hijau
  5. Sistem ruang terbuka yang berbentuk linier dan curvalinier. Tipe ini berupa daerah aliran sungai, danau dan semua yang alami dan basah.

Teori Keterkaitan (Linkage Theory)
Linkage artinya berupa garis semu yang menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lain, nodes yang satu dengan nodes yang lain, atau distrik yang satu dengan yang lain. Garis ini bisa berbentuk jaringan jalan, jalur pedestrian, ruang terbuka yang berbentuk segaris dan sebagainya. Menurut Fumuhiko Maki, Linkage adalah semacam perekat kota yang sederhana, suatu bentuk upaya untuk mempersatukan seluruh tingkatan kegiatan yang menghasilkan bentuk fisik suatu kota. Teori ini terbagi menjadi 3 tipe linkage urban space yaitu:

  1. Compositional form
    Bentuk ini tercipta dari bangunan yang berdiri sendiri secara 2 dimensi. Dalam tipe ini hubungan ruang jelas walaupun tidak secara langsung
  2. Mega form
    Susunan-susunan yang dihubungkan ke sebuah kerangka berbentuk garis lurus dan hirarkis.
  3. Group form
    Bentuk ini berupa akumulasi tambahan struktur pada sepanjang ruang terbuka. Kota-kota tua dan bersejarah serta daerah pedesaan menerapkan pola ini.

Teori lokasi (Place Theory)
Teori ini berkaitan dengan space terletak pada pemahaman atau pengertian terhadap budaya dan karakteristik manusia terhadap ruang fisik. Space adalah void yang hidup mempunyai suatu keterkaitan secara fisik. Space ini akan menjadi place apabila diberikan makna kontekstual dari muatan budaya atau potensi muatan lokalnya
Salah satu bentuk keberhasilan pembentuk place adalah seperti aturan yang dikemukakan Kevin Lynch untuk desain ruang kota:

  1. Legibillity(kejelasan)
    Sebuah kejelasan emosional suatu kota yang dirasakan secara jelas oleh warga kotanya. Artinya suatu kota atau bagian kota atau kawasan bisa dikenali dengan cepat dan jelas mengenai distriknya, landmarknya atau jalur jalannya dan bisa langsung dilihat pola keseluruhannya.
  2. Identitas dan susunan
    Identitas artinya image orang akan menuntut suatu pengenalan atas suatu obyek dimana didalamnya harus tersirat perbedaan obyek tersebut dengan obyek yang lainnya, sehingga orang dengan mudah bisa mengenalinya. Susunan artinya adanya kemudahan pemahaman pola suatu blok-blok kota yang menyatu antar bangunan dan ruang terbukanya
  3. Imageability
    Artinya kualitas secara fisik suatu obyek yang memberikan peluang yang besar untuk timbulnya image yang kuat yang diterima orang. Image ditekankan pada kualitas fisik suatu kawasan atau lingkungan yang menghubungkan atribut identitas dengan strukturnya.
    Kevin Lynchmenyatakan bahwa image kota dibentuk oleh 5 elemen pembentuk wajah kota, yaitu:

    • Paths
      Adalah suatu garis penghubung yang memungkinkan orang bergerak dengan mudah. Paths berupa jalur, jalur pejalan kaki, kanal, rel kereta api, dan yang lainnya.
    • Edges
      Adalah elemen yang berupa jalur memanjang tetapi tidak berupa paths yang merupakan batas antara 2 jenis fase kegiatan. Edges berupa dinding, pantai hutan kota, dan lain-lain.
    • Districts
      Districts hanya bisa dirasakan ketika orang memasukinya, atau bisa dirasakan dari luar apabila memiliki kesan visual. Artinya districts bisa dikenali karena adanya suatu karakteristik kegiatan dalam suatu wilayah.
    • Nodes
      Adalah berupa titik dimana orang memiliki pilihan untuk memasuki districts yang berbeda. Sebuah titik konsentrasi dimana transportasi memecah, paths menyebar dan tempat mengumpulnya karakter fisik.
    • Landmark
      Adalah titik pedoman obyek fisik. Berupa fisik natural yaitu gunung, bukit dan fisik buatan seperti menara, gedung, sculpture, kubah dan lain-lain sehingga orang bisa dengan mudah mengorientasikan diri di dalam suatu kota atau kawasan.
      3.jpg

      31.jpg
  4. Visual and symbol conection
    • Visual conection
      Visual conection adalah hubungan yang terjadi karena adanya kesamaan visual antara satu bangunan dengan bangunan lain dalam suatu kawasan, sehingga menimbulkan image tertentu. Visual conection ini lebih mencangkup ke non visual atau ke hal yang lebih bersifat konsepsi dan simbolik, namun dapat memberikan kesan kuat dari kerangka kawasan
      Dalam pengaturan suatu landuse atau tata guna lahan, relasi suatu kawasan memegang peranan penting karena pada dasarnya menyangkut aspek fungsional dan efektivitas. Seperti misalnya pada daerah perkantoran pada umumya dengan perdagangan atau fungsi-fungsi lain yang kiranya memiliki hubungan yang relevan sesuai dengan kebutuhannya.
    • Symbolic conection
      Symbolic conection dari sudut pandang komunikasi simbolik dan cultural anthropologymeliputi:

      • Vitality
        Melalui prinsip-prinsip sustainance yang mempengaruhi sistem fisik, safety yang mengontrol perencanaan urban struktur, sense seringkali diartikan sebagai sense of place yang merupakan tingkat dimana orang dapat mengingat tempat yang merupakan tingkat dimana orang dapat mengingat tempat yang memiliki keunikan dan karakteristik suatu kota.
      • Fit
        Menyangkut pada karakteristik pembangkit sistem fisikal dari struktur kawasan yang berkaitan dengan budaya, norma dan peraturan yang berlaku.
 

Revolusi Maret 23, 2011

Filed under: Loker Sosiologi — gogo @ 1:06 pm

 

Revolusi tak bisa difotokopi. Revolusi tak bisa dipesan. Mungkin ini kesimpulan sejak revolusi pertama dalam sejarah modern.

Pada usia 20, Lafayette, aristokrat dari Auvergne, Prancis Selatan, itu berangkat ke Amerika. Ini tahun 1777, ketika belum ada harapan bagi perjuangan orang Amerika untuk membebaskan diri dari penjajahan Inggris. Saat itu Raja Prancis tak mengizinkan siapa pun bergabung dengan revolusi di ”benua baru” itu. Tapi Lafayette punya kenekatan, ambisi, dan cita-cita luhur. Hatinya berkobar dengan keyakinan yang disuratkan Deklarasi Kemerdekaan Amerika. Ia pun berangkat dari pantai Spanyol dengan menyamar sebagai seorang perempuan.

Akhirnya—setelah menyatakan diri tak hendak menerima bayaran sepeser pun—ia diterima bergabung dengan tentara pembebasan yang dipimpin George Washington. Di antara pasukannya yang berpakaian berantakan, Jenderal Amerika itu menyambut pemuda Prancis yang kurus itu dengan hormat: ”Kami harus merasa malu, mempertontonkan diri di depan seorang perwira yang baru saja meninggalkan pasukan Prancis.” Lafayette menjawab: ”Untuk belajar, dan bukan mengajar, saya datang kemari.”

Dan Lafayette memang belajar banyak, melalui perang, luka, intrik politik—dengan gairah yang tak kunjung menciut. Ia kembali ke Prancis setelah empat tahun bertempur. Beberapa tahun kemudian ia terlibat langsung dengan Revolusi Prancis.

Pada 11 Juli 1789, dialah—yang darah birunya berasal dari kelas bangsawan lama—yang pertama kali mengajukan rancangan ”Deklarasi Hak-hak Manusia dan Warga Negara”: ”Manusia dilahirkan sama-rata dalam hak-haknya, dan tetap demikian adanya….” Dalam dokumen Prancis itu, terasa gema Deklarasi Kemerdekaan Amerika yang ditulis 13 tahun sebelumnya—gema sesuatu yang kemudian terbukti universal.

Tapi kita tahu, Revolusi Prancis berakhir tak sama dengan Revolusi Amerika. Bung Karno pernah mengatakan, tak ada model revolusi yang ”ready-for-use”. Masyarakat bisa diubah dengan satu desain, tapi tak akan bisa sepenuhnya terpenuhi. Sejarah dan geografi yang berbeda-beda tak mudah diutak-atik. ”Manusia memang membuat sejarah,” demikian kata-kata Marx yang terkenal dari tahun 1851, ”tapi di bawah kondisi yang bukan dipilihnya sendiri.”

Maka Rusia, dengan cita-cita pembebasan universal, tak bisa menyamakan kondisi Cina untuk melihat lahirnya sebuah revolusi sosialis. Jalan Mao berbeda dengan jalan Stalin. Bahkan pada akhirnya keduanya bertentangan. Rusia, Cina, Yugoslavia, Korea Utara, Kuba, dan lain-lain: revolusi tak bisa difotokopi.

Tapi ia bisa menjalar. Di abad ke-20 ia menjalar ke Asia, Afrika, Amerika Latin. Kini, di awal abad ke-21, tampak ia berjangkit dari Tunisia, Mesir, Aljazair, Bahrain, Libya….

Mengapa? Menulis tentang gemuruh yang terjadi di Alun-alun Tahrir, Kairo, bulan ini, Slavoj Žižek menyimpulkan: pemberontakan ini universal. Seperti Lafayette tergerak Revolusi Amerika, ”Semua kita di seluruh dunia dengan segera tak mustahil menyamakan diri dengannya.”

Yang menarik, Žižek melihat kontras pemberontakan di Mesir dengan ”revolusi Khomeini” di Iran. Di sana, kaum kiri harus ”menyelundupkan pesan mereka ke dalam kerangka yang paling kuat, yakni Islam.” Sebaliknya, di Alun-alun Tahrir, ”kerangka itu jelas merupakan satu seruan sekuler yang universal untuk kebebasan dan keadilan.” Justru Ikhwanul Muslimin, kata Žižek, ”menggunakan bahasa tuntutan sekuler.”

Kata ”sekuler” di sini tampaknya sama dengan ”tak didominasi pandangan agama apa pun” dan sebab itu ”universal”, menyentuh siapa saja, di mana saja. Tapi mampukah sebuah revolusi berhasil tanpa seruan yang universal?

Žižek salah. Di Iran, sebenarnya kerangka Islam itu juga punya sifat-sifat universal. Kita menemukannya dalam pemikiran Ali Shariati dan Mehdi Bazargan. Yang tragis ialah bahwa bersama tenggelamnya peran pemikiran Ali Shariati dan tersisihnya orang seperti Bazargan, kian terputus pula pertalian peninggalan Khomeini dengan yang universal: ”Islam” menjadi hanya ”kami”, tak lagi ”kita”.

Tapi apa boleh buat: revolusi bukan sekadar penjelmaan ”ide yang abadi” (kata-kata Žižek) tentang kemerdekaan dan keadilan. Revolusi meletus dari kehidupan yang tak terkait dengan langit. ”Hak untuk mempunyai hak” tak diberikan satu kekuasaan yang ada dari luar sejarah. Hak itu ditegakkan atau direbut mereka yang merasa terjepit.

Itu sebabnya revolusi tak bisa dipesan. Seperti puisi, revolusi punya saatnya sendiri untuk lahir. Ia buah yang panas dari kemarahan yang otentik dan antagonisme yang mendalam.

Tapi selalu jadi cacat dalam tambo manusia: dalam proses itu, pergeseran dari ”kita” ke ”kami” tak terelakkan. Revolusi harus mengukuhkan batas antara ”kami” dan ”mereka”—dan di situ, ”kita” ditiadakan.

Dengan kata lain, ada pembungkaman yang terjadi, ketika yang universal—kemerdekaan, keadilan, harga diri—dilembagakan dalam program partai, ideologi negara, atau hukum. Kaum revolusioner akan harus menentukan siapa yang masuk kemerdekaan, keadilan, dan harga diri itu dan siapa yang harus dikeluarkan.

Akan demikian jugakah gemuruh di Alun-alun Tahrir itu?

Karim, seorang demonstran muda, menyebut lapangan itu sebuah ”utopia kecil”. Tapi utopia, dalam arti harfiahnya, terdiri atas kata ou dan topos, ”bukan + tempat”. Ia jejak dari satu kejadian yang akan segera hilang. Mereka yang cemas perlu mengerahkan kesetiaan yang besar untuk selalu merebut kembali yang hilang itu.

Maka Lafayette tak berhenti di satu sisi Lautan Atlantik—dan namanya tak tenggelam hanya sampai di abad ke-18. Revolusi tak bisa difotokopi, tapi ia tak pernah selesai.

Majalah Tempo Edisi Senin, 21 Februari 2011

 

Desentralisasi Juli 20, 2010

Filed under: Loker Sosiologi — gogo @ 1:20 am

PEMBAHARUAN KEMBALI PEMERINTAHAN LOKAL

DAN INISIATIF  ” E – GOVERNMENT ”

Pengantar

Saat ini  paradigma dalam Birokrasi telah bergeser dari ‘ tradisional ‘ yang menekankan pada standarisasi, departemenisasi dan efisiensi biaya menuju paradigma baru ‘ E – Government “ yang menekankan pada pembangunan jaringan koordinasi, Kolaborasi Eksternal dan orientasi pelayanan pelanggan.  Prinsip  paradigma ini adalah orientasi terhadap pelanggan  melalui  “ One Stop Shopping “  ( pelayanan satu atap   ).  Untu itu pemanfaatan tehnologi Internet melalui pembuatan Web Site sangat ditekankan.

Ketika Departemen Pertahanan menemukan Internet tahun 1960 an sebagai jaringan komunikasi untuk tujuan penelitian pertahanan, tak seorangpun meramalkan bagaimana hal itu dapat merubah masyarakat dalam tiga dekade kemudian. Sekarang Internet telah menjadi bagian hidup sehari-hari orang Amerika. Antara tahun 1990- 1998 jumlah pengguna komputer dalam berinternet tumubuh sangat menakjubka, dari kurang 1 juta menjadi kira-kira 30 juta. Antara 1989- 1997, penggunaan pelayanan jaringan Internet di rumah dan tempat kerja secara individu meningkat dari 6 persen menjadi 23 persen. Sampai tahun 2000  pengguna Internet diperkirakan lebih dari 110 juta orang.

Pertumbuhan yang menakjubkan dalam pemanfaatan Internet dan cepatnya perkembangan perdagangan via Internet dalam sektor privat telah mendorong pada sektor publik dalam pelayanan pada warga negara secara elektronik, yang mana ini sering dikenal dengan ”  e – government  ”.  Inisiatif ini diarahkan pada pemberian pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat melalui tehnologi informasi, khususnya melalui internet. Pada awal tahun 1990 an, Pemerintahan Kota mulai menggunakan surat secara elektronik (  e – mail ), dan Web Site untuk mengirimkan informasi dan memberikan pelayanan. Hingga akhir tahun 1990 an pelayan yang didasarkan pada penggunaan Web Site telah menjadi hal yang integral dan penting dari bagian pemerintahan baru ”  e –  Government ” .

Bagaimanapun, Internet tidak sekedar terobosan tehknologi dalam pemberian pelayanan, tetapi telah mendorong perubahan filsafat dan organisasi pemerintahan.

Sebuah Perubahan Paradigma

dalam Pemberian Pelayanan di Era Internet

Tantangan Model Birokrasi Tradisional

Orang biasanya berfikir tentang pemerintahan sebagai hierarkhi birokrasi. Model ini umumnya dikenal sebagai model organisasi Weberian. Pusat perhatian model ini adalah dalam  manajemen internal dimana tekanannya pada departemenisasi, spesialisasi, standarisasi dan rutinitas dari proses produksi. Pegawai melakukan fungsi yang sama dalam  kelompok dan organisasi pada unit  administrasi yang sama dari suatu departemen. Tiap unit bertanggungjawab untuk kepuasan kliennya, menilai permintaan pelayanannya, memberikan pelayanan dan menentukan sasaran-sasaran administrasi  untuk tujuan perencanaan dan  evaluasi. Dalam rangka menjamin konsistensi perencanaan-perencanaan  departemen   satu sama lain dengan keuangan yang layak sebagai pusat kontrol dan koordinasi.

Salah satu kelebihan Birokrasi Weberian adalah bahwa transaksi biaya dari komunikasi dan kordinasi pegawai dapat dikurangi melalui departemenisasi dan rutinitas. Pendekatan ini menganjurkan spesialisasi -profesioanl dan memaksimalkan efisiensi dan skala potensi ekonomi. Lebih jauh melalui aturan, ketertiban, dan hierarkhi pengawasan, model birokrasi dapat mengurangi kemungkinan kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja, penipuan, kebohongan dan perilaku yang oportunis dari pegawainya.  Dan menjamin keadilan palayanan pada klien.

Bagaimanapun, model Birokrasi Weberian ini sering dikritik terlalu kaku, prosedural, inefisiensi, dan ketidak mampuan dalam melayani ” klien yang humanistik ”  yang penuh dengan kepekaan dan perasaan.

Gerakan ”  Reinventing government ”    yang dimulai pada akhir tahun 1980 an adalah suatu usaha meorientasikan kembali fokus operasi pemerintahan dari pendekatan melihat kedalam menjadi melihat keluar, yang mana penekannya pada kebutuhan dan tujuan pengguna. Meminjam istilah Osborne dan Gabler, warga negara disebut sebagai  ” pelanggan ” yang menjadi pusat perhatian dalam rancangan pemberian pelayanan dari pemerintah. Model ini juga menekankan pada ” catalyctic government ”  ( pemerintah – perantara ) dan ” community – ownership ”  ( pemerintah – milik rakyat ). Petugas-petugas publik ditantang berfikir  bagaimana memberdayakan warga negara akan kesadaran masalah-masalah yang mereka hadapi. Pendekatan ini mendorong petugas menjadi parner dengan kelompok-kelompok warga dan organisasi- organisasi  non profit untuk mengidentifikasi solusi-solusi dan pemberian pelayanan publik yang efektif.

Bagaimanapun,  masalah  utama ” Reenventing government ” adalah menentukan beban biaya transaksi pada petugas dan warga negara. Pegawai pemerintah harus mengadakan perjanjian dengan warga tentang waktu dan biaya yang diperlukan. Pemberian tekanan waktu pada mereka didalam kegiatan sehari-hari pemerintah, jaringan kerja dengan warga negara dan proaktif meminta masukan publik  kelihatannya hal ini merupakan beban yang tak diinginkan. Warga negara juga mungkin enggan berpartisipasi dalam proses pembuatan keputusan dari pemerintah. Kehadiran dalam pertemuan, penulisan umpan balik secara formal dan menjadi responden dalam survey tentang pelayanan publik mungkin membutuhkan waktu  dan banyak warga negara tidak menghendaki pengaturan tentang hal tersebut. Menurut Schacher ( 1995 ) yang lebih penting, banyak individu tidak mengerti mengapa jika  mereka ingin mengetahui masalah itu harus  mencari informasi  keluar  misalnya tentang kinerja pemerintah,  jika kita mengimpikan warga negara sebagai ” pemilik ”  masalahnya adalah adanya kesenjangan psikologis dan sumber informasi.

Peran  Internet dalam Reinventing Government

Adalah tantangan bahwa tehnologi informasi akan memainkan peran yang semakin meningkat didalam administrasi publik. Sebelum internet muncul pada akhir tahun 1980 an, pemerintah telah aktif mencari tehnologi informasi untuk meningkatkan efisiensi operasi   dan      komunikasi   internal. Bagaimanapun fokus    ”  e  – government  ”  saat ini yang  utama adalah  internal dan manajemen.

Datangnya internet dan Web  Site Dunia di pasaran adalah titik awal  dalam pemanfaatan tehnologi informasi  yang telah menggeser fokus pemerintahan ke hubungan-hubungan eksternal dengan warga negara. Tehnologi memang memainkan peran penting dalam membantu perkembangan sebuah perubahan. Dari kelompok berita dan  surat komersial.  Tehnologi ini dimulai pada pertengahan tahun 1980 an, ke pembangunan  Web dunia dan pengguna  tehnologi web pada  awal tahun1990 an. Internet secara bertahap telah tumbuh menjadi  sebuah  efektifitas biaya dan  pengguna  terbiasa dengan platform tersebut, bagi aparatur untuk berkomunikasi secara langsung dengan warga negara dan menyebarkan secara besara-besaran informasi kepada publik.

Munculnya  ” e –  commerce ” dalam sektor privat kemudian mendorong kembali pergeseran fokus  ”  e – goverment ” , dimana tidak hanya menyediakan bagi  perusahaan-perusahaan tetapi juga individu-individu warga negara dalam pertukaran informasi dan membantu efisiensi biaya suatu transaksi bisnis. Fleksibilitas internet merupakan jalan dalam  menyediakan  barang-barang, pelayanan dan munculnya informasi dari warga negara, harapan-harapan pelayanan dari pelanggan  didalam sebuah jarak hubungan,  termasuk interaksi dengan pemerintah. Sekarang,  banyak keinginan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan untuk mengetahui tentang pemerintah melalui Web site setiap saat, tujuh hari dalam seminggu.

Sebagai hasil dari kemajuan tehnologi dan perubahan ekonomi, lebih lanjut pembuat kebijakan telah memberikan dorongan  untuk menggeser fokus kemanfaatan tehnologi informasi untuk kebutuhan menejemen internal ke hubungan eksternal dengan publik. The National Performance Review Report ( Gore  1993 ) menyarankan bahwa ”  e – government ”  harus memungkinkan  warga negara secara luas dan sepanjang waktu untuk mengakses informasi dan pelayanan secara lebih efisien, lebih bertanggung jawab pada pelanggan, dengan cara demikian  adalah fundamental  membuat revisi  didalam hubungan antara pemerinrah federal dengan setiap orang yang dilayani. Hal ini merupakan tanda yang jelas mereflesikan cara baru dalam pemikiran tentang pemberian pelayanan publik.

Pemunculan Kembali  ”  One – Stop  Service Centers  ”

Secara garis besar perubahan filosofi diatas merupakan peremajaan kembali ide ”  pusat pelayanan satu atap ” .  Sebenarnya  ide organisasi  ”  dasar  – klien  ”  bukanlah hal baru.  Pada tahun 1970 an dan 1980 an, petugas-petugas dilibatkan dalam pelayanan sosial telah melakukan eksperimen dengan model organisasi alternatif ini sebagai cara untuk mengintegrasikan pelayanan-pelayanan dan kegiatan- kegiatan pemerintah. Bagaimanapun usaha  seperti ini  sering dihadapkan pada penolakan birokrasi dan hambatan kekurangan sumberdaya. Sebagai hasilnya sistem birokrasi  tetap didasarkan pada  fungsi-fungsi operasi dalam banyak pelayanan-pelayanannya.

Di era Internet, ide  ”  One – stop  shopping ”   telah disertai  dengan alternatif-alternatif pada fungsi-fungsi departemennya. Reschenthaler dan Thompson  ( 1996 ) menyarankan komputer untuk mengurangi  skala ekonomi  didalam hierarkhi organisasi dan menawarkan kebenaran baru untuk pendirian  ” pusat tanggung jawab – pengaturan  ”   yang sama pada pusat pelayanan satu atap.  Dalam sektor privat pelanggan mengharapkan  ” belanja satu atap ”  diartikan sebagai  kemampuan untuk menghasilkan bermacam-macam pelayanan dalam satu waktu, tepat dan keramahan dalam cara melayani pengguna  dari satu sumber  dan faktor lainnya. Hal yang sama pada pelayanan satu atap tas dasar permintaan warganegara untuk mendapatkan pelayanan dan informasi dari pemerintah.

Pusat pelayanan satu atap adalah payung organisasi yang mengoperasikan keberadaan atas keberadaan fungsi-fungsi departemen dengan maksud memaksimalkan ketepatan dan kepuasan pengguna melalui pengintegrasian pelayanan. Sebagai pintu gerbang khususnya bagi kelompok klien  seperti pengusaha, penduduk, atau wisatawan, pusat kumpulan informasi dimaksudkan  untuk menjawab  permintaan dan pertanyaan pengguna dan membantu melayani mereka Hal itu kemudian dikordinasikan dengan fungsi-fungsi departemen seperti polisi daerah, perencanaan kota dan transportasi dalam memberikan pelayanan publik dan pembuatan perencanaan secara menyeluruh. ( see figure 1 ).

Tidak seperti pada awalnya, reformasi yang didasarkan pada klien dalam pelayanan sosial selama tahun 1980 an, munculnya pusat pelayanan satu atap hari ini, tidak mempersyaratkan perombakan organisasi secara total  dalam konsolidasi dan personil. Dengan bantuan tehnologi informasi, sepeti area jaringan kerja lokal dan proyek manajemen software, manajer-manajer publik dalam pusat pelayanan dengan mudah dapat mengkordinasikan dengan fungsi-fungsi departemen untuk memimpin pusat perencanaan dan menyediakan pelayanan-pelayanan yang terpadu.  Menghindari perombakan organisasi secara total, dapat mengurangi penolakan birokrasi dalam pelaksanaannya.

Munculnya Web Dunia kemudian diikuti  tumbuhnya fasilitas lain, tumbuhnya model  ” one-  stop  service  centers ”   karena Web site pemerintah dapat dengan sendirinya  melayani secara tepat dan platform efektifitas biaya dalam penyediaan pusat pelayanan. Pengusaha, penduduk, wisatawan dan hubungan antar pemerintah dan informasi publik  dengan mudah dapat diakses dan menghubungkan pelayanan dengan kebutuhan spesifik mereka melalui hubungan web yang berbeda didalam web site kota. Mereka juga dapat menghubungi pejabat-pejabat pemerintah secara langsung melalui email  atau  bentuk permintaan langsung  untuk memberikan umpan balik tentang isu-isu yang spesifik.

Sebagai hasilnya, tehnologi informasi dan Internet merubah administrasi publik didalam era digital  ( lihat  tabel  1 ).

Tabel. 1.  Pergeseran Paradigma dalam Pemberian Pelayanan Publik
Paradigma Birokratik Paradigma ” e – Government ”
Orientasi Efisiensi – biaya  dalam produksi Kepuasan pengguna, pengawasan , fleksibilitas
Proses organisasi Rasionalitas – fungsi, departemenisasi, hierarkhi vertikal dalam pengawasan Hierarkhi harizontal, jaringan kerja organisasi, pembagian informasi
Prinsip manajemen Manajemen didasarkan pada aturan dan mandat Fleksibilitas manajemen, tim kerja antar departemen dengan kordinasi  pengawasan
Gaya kepemimpinan Komanda dan pengawasan Fasilitator dan kordinasi, inovasi kewirausahaan
Komunikasi internal Top – down , hierarhis Jaringan kerja multi demensi,  dengan kordinasi pengawasan, komuniasi langsung
Komunikasi eksternal Sentarlisasi, formal dan sarana yang terbatas Formal dan informal, langsung, kecepatan umpan balik, banyak sarana
Model pemberian pelayanan Model dokumentasi, interaksi interpersonal Elektronik – pertukaran, interaksi tidak bersifat tatap muka
Prinsip dalam pemberian pelayanan Standarisasi, tidak memihak, keadilan Pengguna yang terbiasa,  sangat pribadi

Didalam paradigma birokratik manajer-manajer publik mengfukuskan pada efisiensi produktivitas internal, rasionalitas fungsi, departemenisasi, hierarkhi pengawasan  dan nanajemen yang didasarkan pada aturan. Hal ini sangat berbeda dengan  paradigma  ” e – government ”  seperti paradigma tehnologi informasi,  organisasi didasarkan pada dunia bisnis. Manajer publik menggeser dari  penekanan pada aspek produksi, seperti efisiensi biaya ke fokus kepuasaan pengguna  dan fleksibilitas pengawasan didalam pemberian  melayani  serta manajemen jaringan kerja dengan intenal dan eksternal partai. Paradigma baru menekankan inovasi, pembelajaran organisasi dan kewirausahaan sehingga pemerintah dapat melanjutkan pembaharuan sendiri.  Tambahan, pelayanan publik dalam paradigma baru tidak membatasi standar.  Dengan bantuan tehnologi informasi, ” e – government ” dapat terbiasa melayani atas dasar kepentingan dan kebutuhan individu.

Paradigma baru merubah prinsip-prinsip organisasi didalam pemerintahan. Sementara model birokratik menekankan manajemen  top – down dan hierarkhi komunikasi, dalam model baru menekanan tim kerja, jaringan kerja multi  demensi, kounikasi langsung antara partai dan kecepatan umpan balik. Warganegara kebutuhannya tidak dibatasi untuk mengetahui dimana tanggungjawab departemen didalam menghasilkan pelayanan. Struktur fungsi departemen dan proses produksi dalam pelayanan publik dibelakang pelaksanaan ” one – stop service centre ” menjadi tidak diketahui  pengguna. Hal ini bukanlah berarti pusat kepemimpinan  tidak penting dalam ” e – government ”.  Bagaimanapun kepemimpinan dalam paradigma baru mendorong fasilitasi dan kordinasi diantara partai-partai daripada hierarkhi komando dan pengawasan.

Pergeseran Paradigma dicerminkan dalam Web Site Kota

Orientasi pembuatan web site  kota menjadi bukti bahwa pergeseran paradigma sedang terjadi didalam pemerintahan kota. Jika kota mengadopsi paradigma Birokrasi tradisional ,  organisasi web sitenya  cenderung administratif  oriented.  Informasi diorganisasikan terutama menurut struktur administrasi dari pemerintah dan tidak mencerminkan pemikiran yang subtansial dalam proses Birokrasi dan organisasi dalam pemberian pelayanan publik. Pemerintah kota umumnya mengadopsi pendekatan ini ketika mereka mulai membuat internet pertama kali muncul tahun 1990 an.

Kota yang  telah menggeser paradigma dari Birokratik ke ” E- government ”  mendesain Web site nya secara berbeda. Mereka cenderung menggunakan  dua pendekatan, yaitu  pertama, ” Portal Design ”  yang lebih didasarkan pada  ” Information – oriented  ” design,   dan kedua ” User – oriented ” design. Kedua pendekatan tersebut kemudian dijabarkan dalam pemikiran departemen dan perubahan pengorganisasian informasi menurut persepsektif pengguna dan kepentingan.

Pendekatan yang berorientasi pada informasi diterapkan dalam konsep ” one – stop shopping service ”  yang menawarkan  kehebatan sejumlah isi dalam home page, seperti anggaran kota, demografi, kalender aktivitas daerah atraksi wisata, kontak pejabat, press release dan kesempatan kerja. Pendekatan ini menekankan secara langsung dan luas dalam kehadiran informasi dan memberikan pengguna kesempatan  lebih luas dalam mencari  informasi tanpa pemotongan isi oleh pemerintah atau pengguna lain.

Desain portal yang berorientasi pengguna merupakan satu tahap lebih maju, pengkategorian informasi dan pelayanan dalam web menurut perbedaan kebutuhan dari kelompok pengguna. Sebagai comtoh  Web page untuk pengguna ( penduduk ) biasanya isinya tentang kegiatan-kegiatan masyarakat, pembangunan, kesempatan kerja, pajak daerah, ketersediaan pelayanan publik dan kontak dengan pemrintahan kota. Sedangkan Web page bisnis biasanya informasinya tentang struktur ekonomi lokal pekerjaan –pekerjaan yang penting, fasilitas-fasilitas, pajak perdagangan dorongan-dorongan pembangunan dan lisensi. Sementara web page wisatawan mungkin menyediakan informsi tentang sejarah kota, lokasi hiburan wisata, festival-festival daerah serta even-even budaya. Informasi-informasi tersebut biasanya diintegrasikan dalam web lokasi yang sama. Design  ” oreintasi pengguna ” menyajikan ketepatan pengguna dan efisiensi dalam akses kebutuhan informasi dan pelayanan. Bahkan pemikiran informasi dalam web site datang dari departemen yang berbeda atau sumber eksternal  sepeti organisasi masyarakat atau kelompok bisnis. Pengguna kadang tidak menyadari keterbatasan organisasi dalam menyediakan hal itu dalam dunia cyber.

Dari analisis web sitei 55 kota,  yang dilaksanakan pada pertengahan             tahun 2000, menunjukkan  banyak pemerintahn kota telah merubah pemikiran mereka dari paradigma tradisional Birokkratik ke paradigma  ” E – government ”. Dlam waktu yang sama, hanya sedikit kota seperti New Orleans, Columbus dan Miami masih mengadopsi orientasi administrasi dalam web site nya. Beberapa kota seperti Fort Worth, Minnepolis dan St. Louis, mengadopsi orientasi informasi. Bagaimanapun ada perbedaan tingkat pengguna dalam menerapkan fokus. Philedelpia, Setle dan Washinton Dc, lebih condong  menggunakan orientasi pengguna dalam web sitenya, tetapi Chicago, New York, Denver  membuat keseimbangan antara orientasi pengguna dan informasi.

Sebagai tambahan perubahan orientasi dalam rancangan  web, pergeserannya kearah  paradigma ” E – government ”  juga tercermin dalam saluran komunikasi antara pejabat-pejabat dengan warganegara yang ada dalam web sitenya. Hanya sedikit kota yang masih mempersyaratkan pengguna untuk memandu individu ke web page departemen untuk mendapatkan kontak informsi tentang  pelayanan publik yang spesifik. Banyak kota yang telah meninggalkan batasan –batasan departemental secara total dan mengadopsi   pendekatan ” One – stop shopping ”  dalam pemusatan komunikasi.  Bebarapa kota seperti Las vegas, telah mendorong warganya berkomunikasi melaui Web Master. Kota lain seperti, NEW York, Indiana Polis, Oklahoma, menggunakan manajemen terpusat dalam sistem permintaan pelaayan secara langsung.  Dalam Web site menawarkan bayak pilihan untuk pelayanan angsung termasuk untuk mendapatkan formulir permohonan kerja, berhubungan  dengan pemilihan  pejabat . lembaga  pembuat kebijakan dan keluhan-keluhan masyarakat, masalah-masalah lingkungan, perkembangan kejahatan, pengaturan lalu lintas.

Pergeseran Paradigma Tercermin dalam Survay Pendapat dalam Web Master

Pergeseran dari paradigma Birokrasi tradional tercermin pada survay Web Master kota dalam pertengahan tahun 2000 an, antara bulan April sampai bulan Juni 2000 an. Survay meneliti tentang tanggung jawab pejabat pada 55 kota  di Amerika Serikat. Survay menanyakan pada pejabat-pejabat tentang karakteristik dalam proses pengembangan web dan mengapa kotanya tertarik menggunakan pelayanan berdasar web.

Hasilnya menunjukkan banyak pejabat- pejabat kota meninggalkan mental departemental didalam manajemen web nya. Diantara 46 kota yang merespon survay, 31 ( 67 persen ) telah membentuk komite interdepartemental yang terdiri dari aparat dari tehnologi informasi dan Departemen pengguna  untuk menyediakan dana bagi pengembangan web. Kolaborasi antar departemen khususnya dimaknai oleh pejabat manajemen web   didalam kota dengan orientasi web site nya   bersifat     administratif  ( lihat tabel  2 ).  Hasil ini mungkin mengejutkan tetapi dapat dimengerti, karena pejabat-pejabat kota telah membangun web site mengikuti struktur departemen tradisional, mereka memiliki ketergantungan yang tinggi atas input departemen didalam mensuplai keperluan informasi dan titik perhatian departemen. Tanpa kolaborasi antar departemen pekerjaan itu akan sangat sulit.

Tabel. 2. Karakteristik manajemen web kota , Orientasi desain web site
pendekatan   Administratif

( n = 13)

Pendekatan          non         Administratif
Pendekatan informasi

( n = 20 )

Pendekatan pengguna

(  n  = 18 )

Kerjasama antar departemen adalah penting dalam desaian web dan manajmen 4.64

( 0.50 )

4.55

( 0.94 )

4.33

( 1.14 )

Manajemen tehnologi informasi adalah pekerjaan teknik 3.50

( 0.85 )

3.15

( 1.31 )

2.94

( 1.14 )

Pandangan administrator kota terhadap web site sebagai alat untuk meningkatkan pelayanan pada warganegara 3.92

( 0.76 )

4.20

( 1.06 )

4.22

( 1.17 )

Umpan balik warga adalah pentuing guna membuat desain web site kota 3.64

( 1.15 )

4.10

( 0.72 )

4.11

( 0.68 )

Kolaborasi dengan warga, pengusaha atau organisasi masyarakat adalah sangat essensial untuk mendesain dan memelihara web site kota 3.21

( 0.97 )

3.40

( 1.14 )

3.78

( 1.11 )

Tabel 2 menunjukkan bahwa banyak kota terbuka atas masukan dari luar dan kolaborasi dan sangat sedikti menekankan pada teknokrasi dalam pembangunan web nya. Kecenderungan ini sebagai bukti di kota telah diadopsi desain non administratif. Walaupun ada perbedaan-perbedaan tapi secara statitik tidak bermakna. Kota-kota tersebut sedikit banyak membuka kerjasama dan jaringan kerja dengan eksternal. Hal ini menunjukkan bahwa mereka menekankan pentingnya masukan dari warga negaradan kolaborasi dengan organisasi non pemerintah. Pejabat-pejabat didalam kota-kota tersebut lebih berorientasi pengguna dan sangat percaya bahwa web adalah alat untuk meningkatkan pelayanan pada pelanggan  ( warga negara ). Ditambahkan, mereka cenderung menyimpang dari pemikiran-pemikiran tehnokrat tradisional. Mereka juga tidak setuju bahwa manajemen tehnologi informasi adalah sebuah pekerjaan tehnik semata.

Mengapa Kota-Kota Menyetujui Perubahan Paradigma  ?

Pertanyaan yang tak dapat dielakkan adalah, mengapa beberapa kota yang lebih maju menyetujui perubahan paradigma ?. Secara teori perubahan organisasi dan inovasi menyarankan beberapa hipotesa, beberapa studi menemukan bahwa kota-kota yang lebih besar cenderung lebih inovatif, karena mungkin mereka menghadapi keaneka ragaman lingkungan yang selalu menuntut solusi yang inovatif, atau karena mereka mungkin mempunyai organisasi yang lebih bebas untuk mencoba ide-ide baru. Waktu dan pengalaman juga dapat menjadi faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Kota-kota tersebut telah mempunyai  garis belajar didalam pembangunan webnya kebutuhan waktu untuk berubah secara bertahap  dari paradigma Birokrasi tradisonal ke paradigma ” E – government ” . Dukungan pejabat-pejabat senior melalui kritikkan-kritikannya dan sebagai pelopor perubahan teknologi didalam organisasi. Dukungannya bagi pelayanan yang didasarkan web mungkin tidak hanya akan mempertinggi kesadaran organisasional dalam memberikan pelayanan, tetapi juga menyediakan sumberdaya yang diperlukan untuk memfasilitasi perubahan organisasi.

Dalam literatur dunia Digital  diketemukan bahwa latar belakang sosial  ekonomi mempengaruhi jangkauan warga negara  didalam menggunakan internet dan komputer. Keluarga dengan pendapatan yang lebih tinggi akan lebih menyukai menggunakan kompter dan interne, sementara itu keluarga  miskin tidak begitu menyukai dunia digital . Berdasarkan penemuan ini, maka hipotesa bahwa kota-kota dengan  penduduk yang berpendapatan rendah cenderung kurang menyukai untuk mengadopsi kemajuan  desain web  karena hal itu tidak bermakna bagi permintaan warga negara atas pelayanan dengan dasar web.

Tabel.3.   Karakteristik latar belakang warga kota dan Orientasi Web sitenya
Pendekatan administratif

( n = 14 )

Pendekatan non Administratif
Pendekatan informasi

( n = 24 )

Pendekatan pengguna

( n = 18 )

Tingkat kepadatan    penduduk 583,587

( 246,824 )

1.054,250

( 1,570,774 )

642,304

( 530,399 )

Prosentase penduduk yang berkulit putih 74,9

( 10,9)

82,1

( 12,8 0)

81,0

( 7,8 )

Prosentase penduduk yang berumur lebih dari 65 tahun 11,3

( 2,3 )

10,9

( 1,8 )

11,7

( 1,9 )

Pendapatan perkapita $ 23,629

( 3,757 )

$ 21,855

( 3,444 )

$ 23,105

( 2,556 )

Rata-rata lamanya tinggal di kota yang ada web site nya ( tahun ) 4,5

( 1,7 )

5,4

( 1,1 )

5,9

( 2,7 )

Tabel 3 menunjukkan bahwa tiga kelompok kota yang tidak  berbeda jauh secara siginifikan dalam hal jumlah penduduk, tingkat pendapatan dan kelompok umur penduduk. Bgai kota-kota dengan orientasi administratif dalam web sitenya cenderung lebih tinggi  dari penduduk minoritasnya. Hasilnya mereka lebih konsisten dengan dunia digital. Sedang perbedaan ras akan mempengaruhi  dalam pemanfaatan secara individu pada komputer dan internet. Mereka juga memperhatikan  kemajuan pemerintahan kota  dalam pembangunan web.

Hasil ini juga mendukung hipotesa model pembelajaran, kota dengan perhatian pada administratif pada desain web nya, rata-rata hanya diperhatikan  pejabat    Web site tersebut untuk 4,5 tahun, dibanding untuk 5,4 tahun bagi kota-kota yang menggunakan pendekatan informasional dan hampir 6 tahun bagi kota yang menggunakan pendekatan pengguna.  Bagi  kota yang mempunyai pengalaman lebih dalam pembangunan webnya, akan lebih mengadopsi desain yang lengkap yang mencerminkan paradigma baru ” e – government ”.

Tabel 4. Karakteristik Organisasi Internal dari Kota dan Orientasi desain Web Site
Pendekatan Administratif

( n = 13 )

Pendekatan Non Administratif
Pedndekatan Informasi

( n=20 )

Pendekatan

( n=18 )

Pejabat yang terpilih mendukung penggunaan web dalam pemberian informai dan pelayanan 3.46

( 1.20 )

4.00

( 1,38 0

3,94

( 1.21 )

Staf Departemen non IT telah mendukung penggunaan Web untuk memberikan dan pelayanan publik 3.38

( 0,96 )

4.10

( 0.91 )

3.89

( 0.90)

Kecukupan staff dalam pembangunan web kota 1.62

( 0,87 0

2.65

( 1,27 )

2.06

( 1,11 )

Pembangunan web dan pemeliharaannya mempunyai prioritas dana yang tinggi 2.08

( 0,86 )

3.00

( 1,20  )

2.72

( 1,49)

Untuk 5 th yg akan datang  kota ini akan selalu mendukung pengembangan tehnologi informasi 3.46

( 0,88 )

3.60

( 1,31 )

3.06

( 1,43 )

Kota dibawah  tekanan untuk menggunakan web dlm pemberian informasi dan pelayanan karena munculnya ” e – commerce ” dlm sektor privat 3.54

( 1,27 )

3.95

(1,00 )

4.06

( 1.11 )

Table 4 membandingkan beberapa faktor internal organisasi dari kota. Walaupun kota-kota yang mengadopsi pendekatan non administratif cenderung lebih menerima dukungan untuk pembangunan web dari pejabat-pejabat yang  terpilih daripada kota yang mengunakan pendekatan administratif, perbedaan itu secara statitistik tidak berarti. Dengan  demikian dukungan departemen adalah berhubungan dengan kemajuan pembangunan web. Kota yang mengadopsi dengan fokus admnistratif merasa kurang dukungan dari staf departemen. Ketidak cukupan kolaborasi departemen mungkin menjadi faktor motivasi yangmenjelaskan mengapa kota-kota mengikuti perubahan dari model Birokratik  tradisional ke paradigma ” e – government ”, yang menekankan pada dorongan pelanggan,  kolaborasi dan kordinasi antar  organisasi.

Keterbatasan sumberdaya adalah faktor lain yang mungkin menghambat beberapa kota membuat perubahan yang berarti didalam desain webnya. Hasil survay tersebut menunjukkan bahwa kota-kota yang mengadopsi pendekatan administratif merasakan hambatan-hambatan yang lebih serius dalam staff dan prioritas dana untuk pembangunan web dan pemeliharaannya, dibandingkan dengan kota- kota yang fokusnya pada non administratif dalam web sitenya. Perbedan ini lebih bermakna ketika membandingkan kota-kota yang mengadopsi pendekatan informasi. Ketidak cukupan dana dan staff ini sangatlah berarti khususnya dalam hubungannya dengan pembangunan web dan pemeliharaannya, karena semua kota-kota dalam tiga kelompok tersebut menunjukkan dukungan yang moderatuntuk pembangunan teknologi informasi pada umumnya dalam lima tahun yang lalu.

Survay itu juga diperluas dengan menanyakan tentang munculnya ” e  –  commerce ” didalam sektor privat yang mendorong kota untuk mengembangkan pelayanan yang didasrkan pada web.  Hasilnya menunjukkan bahwa kota-kota dengan desain non administratif lebih mendapatkan tekanan daripada kota dengan pendekatan administratif. Hal ini adalah benar, khususnya bagi kota yang menggunakan pendekatan ” pengguna ”.

Kesimpulan

Paradigma baru ” e – government ” , yang menekankan pembangunan jaringan koordinasi,  kolaborasi eksternal  dan ”   Pelayanan pelanggan satu atap, sangat berlawanan dengan paradigma Birokrasi tradisional yang menekankan standarisasi, departemenisasi, dan pembagian kerja. Berdasarkan analisa isi dari web – site  kota dan survay  dari  pembangunan web pejabat, dalam artikel ini menunjukkan bahwa banyak kota telah memulai bergerak kearah paradigma baru di dalam pelayanan atas dasar Web  dan manajemen tehnologi informasi.

Bagaimanapun, sosial ekonomi dan organisasi tetap menjadi hambatan dalam tarnaformasi. Ketidak cukupan staff, kekurangan dana dan masalah-masalah dalam digital perbedaan keompok  ras adalah faktor-faktor penghambat utama. Pada masa datang usaha-usaha untuk pembaharuan pemerintahan melalui pemanfaatan internet akhirnya bukan merupakan kebutuhan dalam tehnologi semata  tetapi juga dalam  bentuk manajemen   tehnologi informasi. Agaknya manajemen tehnologi informasi memerlukan visi baru dan keputusan dari pemimpin pemerintahan untuk memprioritaskan sumberdaya dalam perubahan tehnologi, pendekatan baru kearah operasi organisasi departemen yang dapat mencapai efektifitas biaya lebih tinggi, dan per perhatian yang lebih besar pada  sosial  ekonomi  dan perbedaan ras dalam masyarakat digital.

Akhirnya beberapa mimpi bahwa tehnologi internet akan mempertinggi demokrasi lokal dengan memperbolehkan warganegara secara langsung memberikan masukan dalam pembuatan keputusan, perluasan cakupan dari pengurangan kebebasan dan pengurangan hambatan-hambatan dalam penyebaran informasi.  Tehnologi baru akan memberikan akses baru warganegara untuk mengungkap kekuasan dalam pemerintahan. Seperti warga negara dapat menjangkau informasi yang lebih,  potensi yang lebih besar untuk mempengaruhi dan penghargaan dalam  pembuatan pilihan- pilihan informasi adalah bagaimana pemerintah menyentuh kehidupan mereka.  Potensi ini memberikan arti baru  bahwa  pemerintah dari  rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Disayangkan, analisa Web site dalam artikel itu menunjukkan banyak pemerintah-pemerintah kota belum mengaktualisasikan potensi  tersebut.  Namun demikian , inisiatif internet   telah mengfokuskan utama pada pelayanan pelanggan. Walaupun banyak aktivitas kota meminta input warga  tentang bagaimana mereka akan mendesain web site kota.  Hanya sedikit kota yang mengikutsertakan warganya dalam dialog  secara langsung  atau berparner dengan organisasi masyarakatuntuk memperkuat partisipasi warga dalam setiap tingkat lingkungan. Beberapa gambaran utama  dari akuntabilitas publik dan pemberdayaan warga, sperti pengukuran kinerja dari pelayanan publik, kelompok diskusi langsung atau aktivitas dari organisasi akar rumput adalah  jarang diketemukan. Banyak web site hanya menekankan bagaimana memindahkan  fokus  pada pelayanan publik. Hal ini merupakan usaha untuk memperbaharui pemerintahan melalui tehnologi informasi. Pejabat-pejabat harus menyadari bahaya dari mengfokuskan terlalu besar pada kepentingan-kepentingan elit ekonomi dan adat. Bahakan persekutuan keluar  dengan kepentingan sosial yang berbeda dan organisasi masyarakat adalah diperlukan pada orientasi inisiatif internet guna pemberdayaan masyarakat.

 

Akar dan Fungsi Sosial Dunia Sastra

Filed under: Loker Sosiologi — gogo @ 12:49 am

Perdebatan mengenai “seni murni” dan seni bertendens sering terjadi diantara kaum liberal dan kaum “populis”. Permasalahan tersebut bukanlah persoalan kita. Dialektika materialis berdiri di atas ini; dari cara pandang proses historis yang obyektif, seni selalu merupakan pelayan sosial dan berdasarkan sejarah selalu bersifat utilitarian. Seni memberikan alunan kata yang dibutuhkan bagi suasana hati yang samar dan kelam, mendekatkan atau mengkontraskan pikiran dan perasaan, memperkaya pengalaman spiritual individu dan masyarakat, memurnikan perasaan, menjadikannya lebih fleksibel, lebih responsif, memperbesar volume pemikiran sebelumnya dan bukan melalui metode personal yang berdasar pada pengalaman yang terakumulasi, mendidik individu, kelompok sosial, kelas dan bangsa. Dan apa yang disumbangkannya tersebut tidak dipengaruhi oleh permasalahan apakah seni tersebut muncul di bawah bendera seni yang “murni” ataupun yang jelas-jelas bertendensi pada kasus tertentu. Dalam perkembangan sosial masyarakat kita (Rusia), keberpihakan merupakan panji-panji kaum intelektual yang berusaha untuk membangun hubungan dengan rakyat.

Kaum intelektual yang tak mempunyai kekuatan tersebut, dihancurkan oleh kekaisaran dan kehilangan lingkungan budaya, berusaha mencari dukungan pada strata bawah dalam masyarakat dan membuktikan kepada “rakyat” bahwa mereka berfikir, hidup, dan mencintai rakyat “secara luar biasa.” Dan seperti halnya kaum populis yang siap turun ke masyarakat tanpa kain linen yang bersih, sisir dan sikat gigi, kaum intelektual siap mengorbankan “kerumitan” bentuk dalam ekspresi seni mereka, demi memberikan ekspresi yang paling spontan dan langsung untuk penderitaan dan harapan-harapan kaum tertindas. Pada pihak lain, seni “murni” merupakan panji-panji kaum borjuis yang sedang tumbuh, yang tidak bisa mendeklarasikan karakter borjuisnya secara terbuka, dan pada waktu yang sama berusaha mempertahankan kaum intelektual dalam kelompoknya. Cara pandang Marxist telah dijauhkan dari tendensi-tendensi tersebut, yang memang dulunya dibutuhkan secara historis, tetapi sesudahnya menjadi sesuatu yang ketinggalan jaman.

Dengan tetap mempertahankan investigasi ilmiahnya, Marxisme secara seimbang mencari akar sosial dari seni yang murni maupun seni yang berpihak. Marxisme sama sekali tidak “membebani” seorang penyair dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pemikiran dan perasaan yang dia ekpresikan, tetapi memberikan pertanyaan yang jauh lebih signifikan, yaitu, pada perasaan-perasaan yang seperti apa sebuah karya artistik berhubungan satu sama lain dalam keanehan-keanehannya? Kondisi-kondisi sosial apa yang melingkupi pemikiran dan perasaan itu? Tempat apa yang mereka jajah dalam perkembangan historis masyarakat dan kelas? Dan lebih jauh lagi, warisan sastra apa yang bermain dalam elaborasi bentuk seni yang lebih baru? Di bawah pengaruh impuls historis apa kompleksitas perasaan dan pemikiran terpecah dalam kulit yang memisahkan mereka dari wilayah kesadaran puitik? Investigasi tersebut dapat menjadi rumit, mendetil atau terindividualisasi, tetapi ide mendasarnya terletak pada peran tambahan yang dijalankan seni dalam proses sosial. Setiap kelas memiliki kebijakannya sendiri terhadap seni, yaitu berupa sebuah sistem yang menampilkan tuntutan-tuntutan atas seni, yang berubah sesuai dengan waktu; seperti contohnya, perlindungan ala Maecenas terhadap istana dan grand seigneur, hubungan otomatis antara permintaan dan penawaran yang dipasokkan oleh metode-metode kompleks yang mempengaruhi individu-individu, dan seterusnya, dan sebagainya. Ketergantungan sosial dan bahkan personal dari seni tidaklah ditutup-tutupi, tapi secara terbuka diumumkan selama seni tersebut mempertahankan sifat jujurnya.

Karakter misterius, luas, dan populer dari borjuis yang bangkit telah menggiring, secara menyeluruh, pada teori seni murni, meskipun begitu banyak penyelewengan terjadi dalam teori ini. Seperti yang telah diindikasikan di atas, sastra bertendens kaum intelektual “populist” diimbuhi dengan sebuah kepentingan kelas; kaum intelektual tidak mampu memperkuat dirinya sendiri dan merebut hak untuk memainkan peranan dalam sejarah bagi dirinya tanpa dukungan dari rakyat. Tapi dalam perjuangan revolusioner, egotisme kelas kaum intelektual terpadamkan, dan pada sayap kirinya, mereka mengasumsikan bentuk pengorbanan diri dalam tataran tertinggi. Itulah kenapa kaum intelektual tidak hanya menutupi seni dengan sebuah tendensi, tapi memproklamirkannya, yaitu mengorbankan seni, seperti halnya mereka mengorbankan banyak hal lainnya.

Konsepsi Marxist tentang ketergantungan sosial obyektif serta kegunaan sosial dari seni, saat diterjemahkan dalam bahasa ilmu politik, bukannya dimaksudkan untuk mendominasi seni dengan perintah atau pesanan. Tidak benar jika dikatakan bahwa kita hanya menghargai seni yang baru dan revolusioner, yang menyuarakan suara para pekerja, dan omong kosong jika kita dikatakan menuntut para penyair menggambarkan cerobong pabrik, atau pemberontakan melawan kapital! Tentu saja seni yang baru, tidak bisa tidak, menempatkan perjuangan proletariat pada perhatiannya yang utama. Tapi penjajakan seni baru tidaklah terbatas pada beberapa bidang saja. Sebaliknya, ini harus menjajaki semua seluruh lapangan dalam keseluruhan arah. Syair-syair pribadi dalam lingkupnya yang terkecil memiliki hak mutlak untuk tetap eksis dalam seni baru. Tetapi, manusia baru tak akan bisa dibentuk tanpa adanya sebuah puisi liris baru. Tetapi untuk menciptakannya, sang penyair harus memandang dunia dengan cara yang baru. Jika Kristus atau Sabaoth saja lunglai dalam rengkuhan para penyair (seperti dalam kasus Akhmatova, Tsvetaeva, Shkapskaya dan yang lain), ini membuktikan betapa ketinggalannya lirik mereka dan betapa tidak mencukupinya mereka bagi manusia baru. Bahkan saat dimana terminologi seperti itu tidak lebih dari sekedar kata dalam menghadapi zaman, hal tersebut menunjukkan sebuah kemacetan psikologis, dan oleh karenaya berdiri dalam kontradiksi dengan kesadaran manusia baru. Tak seorangpun ingin atau bermaksud memaksakan tema-tema pada para penyair. Silahkan menulis tentang segala sesuatu yang anda pikirkan. Tapi biarkanlah kelas baru ini, kelas yang merasa terpanggil untuk membangun sebuah dunia baru, bersuara kepada anda dalam beberapa permasalahan-permasalahan tertentu.

Kelas ini tidak memaksa penyair-penyair muda anda menerjemahkan filsafat hidup abad tujuh belas dalam bahasa yang sempurna. Karya seni, dalam lingkup tertentu dan tingkatan yang luas, bersifat merdeka, tetapi seniman yang menciptakan karya ini dan juga pemirsa yang menikmatinya bukanlah mesin-mesin mati; yang pertama menciptakan karya dan yang kedua mengapresiasi karya tersebut. Mereka adalah makhluk hidup, meskipun kadang tidak seluruhnya harmonis, dengan kondisi psikologi terkristalisasi yang mewakili sebuah kesatuan tertentu. Psikologi seperti ini merupakan akibat dari kondisi-kondisi sosial. Penciptaan dan persepsi seni adalah satu dari sekian fungsi psikologi tersebut. Dan tak peduli sepandai apapun kaum formalis mencoba menampilkan dirinya, konsepsi keseluruhan mereka secara sederhana didasarkan pada fakta bahwa mereka mengabaikan kesatuan psikologis dari manusia sosial, yang menciptakan dan menikmati apa yang telah diciptakan itu. Dalam seni, kelas proletar harus memiliki ekspresi yang berasal dari cara pandang spiritual baru yang mulai diformulasikan dalam diri mereka, dan kemana seni harus membantunya untuk menciptakan bentuk. Ini bukanlah tuntutan negara, tetapi tuntutan sejarah.

Kekuatannya terletak pada obyektifitas dari kebutuhan sejarah. Anda tak bisa melewatinya begitu saja, atau lari dari kekuatannya. . . . Victor Shklovsky, yang secara enteng meloncat dari formalisme verbal ke penilaian subyektif, menunjukkan sikap yang sangat memusuhi teori materialisme historis seni. Dalam sebuah booklet yang dia publikasikan di Berlin, dengan judul The March of the Horse, dia memformulasikan sebuah nilai fundamental, dalam tingkatan tertentu juga tak terbantahkan, argumen panjang Shklovsky-five (bukannya empat atau enam, tapi lima) melawan konsepsi materialis seni dalam tiga halaman kecil. Mari kita bersama-sama mempelajari argumen ini, karena toh untuk mengetahui guyonan seperti apa yang disebarkannya sebagai perlawanan terakhir dari pemikiran ilmiah (dengan ragam referensi ilmiah terbesar yang termuat dalam tiga halaman microscopik yang sama) tak akan membuat kita cedera. “Jika lingkungan dan relasi produksi,’ kata Shklovsky, ‘telah mempengaruhi seni, lalu tidakkah tema-tema seni akan terikat pada tempat-tempat yang terhubung dalam relasi-relasi itu saja? Padahal tema tak terbatas wilayah.’ Well, bagaimana dengan kupu-kupu? Menurut Darwin, mereka juga terhubung dengan relasi-relasi khusus, tapi mereka toh terbang dari satu tempat ke tempat lain, seperti halnya sastra. Bukanlah pekerjaan yang mudah untuk memahami kenapa Marxisme selalu dicurigai mengutuk atau memperbudak tema-tema.

Fakta bahwa orang yang berbeda dan orang yang sama dalam kelas yang berbeda mempergunakan tema yang sama secara sederhana menunjukkan betapa terbatasnya imaginasi manusia, dan betapa manusia mencoba untuk mempertahankan energi ekonomi dalam setiap jenis kreasi, bahkan dalam artsitik. Setiap kelas mencoba untuk memanfaatkan, hingga tingkatan yang tertinggi, warisan material dan spiritual dari kelas lainnya. Argumen Shklovsky dapat ditransfer secara sederhana ke dalam bidang tekhnik produktif. Mulai zaman kuno, wagon selalu didasarkan pada satu tema yang sama, yang disebut, as roda, roda, dan lampu. Tetapi, kereta patrisian Roma diadaptasi sesuai selera dan kebutuhannya, seperti halnya kereta Count Orloy, disesuaikan dengan kelembutan yang sesuai dengan selera Catherine the Great. Wagon petani Rusia diadaptasi sesuai dengan kebutuhan rumah tangganya, pada kekuatan kudanya yang kecil, dan pada karakter jalan-jalan pedesaan. Otomobil, yang tak bisa dibantah merupakan produk dari tekhnik baru, menunjukkan tema yang sama, yang disebut empat roda dan dua as roda. Tapi saat kuda para petani mundur ketakutan terkena sinar lampu yang menyilaukan dari otomobil di jalanan Rusia pada malam hari, sebuah konflik dari dua budaya terefleksi dalam sebuah episode. “Jika lingkungan mengekspresikan dirinya sendiri dalam novel,” makan muncullah argumen yang kedua, ” ilmu pengetahuan Eropa tidak akan bersusah payah memikirkan dari mana cerita Seribu Satu Malam diciptakan, entah dari Mesir, India, atau Persia.” Untuk menyebutkan bahwa lingkungan seseorang, termasuk seorang seniman, yaitu kondisi dari pendidikan dan kehidupannya, menemukan ekspresi dalam seninya bukanlah berarti menyatakan bahwa ekspresi seperti itu memiliki memiliki karakter geografis, etnografis, dan karakter statistikal yang sama persis. Tidaklah mengejutkan bahwa adalah sulit untuk memutuskan apakah sebuah novel ditulis di Mesir, India atau Persia, karena kondisi sosial dari negara-negara tersebut memiliki banyak kesamaan. Tapi fakta utama bahwa ilmu pengetahuan Eropa “memecahkan kepalanya” mencoba untuk menjawab pertanyaan ini dari novel tersebut menunjukkan bahwa novel itu merefleksikan sebuah lingkungan, meskipun tak sama persis. Tak seorang pun bisa melompat diluar dirinya. Bahkan omelan dari seorang yang sakit jiwa berisi sesuatu yang orang itu terima dari dunia luar sebelum dia sakit.

Tapi adalah gila untuk menganggap omelannya sebagai refleksi akurat dari dunia di luar dirinya. Hanya seorang psikiatris yang berpengalaman dan penuh perhitungan, yang mengetahui masa lalu dari sang pasien, yang akan mampu menemukan mana bagian realita yang terefleksi atau terdistorsi dalam isi omelannya Kreasi artistik tentu saja bukanlah omelan meskipun ini juga merupakan pembelokan, sebuah perubahan dan transformasi realita, sesuai dengan hukum-hukum kekhususan seni. Sejauh apapun seni fantasi melangkah, dia tak bisa menolak material lain kecuali apa yang diberikan dunia tiga dimensi dan masyarakat berkelas padanya. Bahkan saat sorang artis menciptakan sorga dan neraka, dia hanya mentransformasikan pengalaman dari hidupnya dalam phantasmagoria. “Jika ciri-ciri kelas dan kelas sendiri terakumulasi dalam seni,” Shklovsky melanjutkan, “lalu bagaimana bisa dongeng-dongeng orang Rusia yang beragam mengenai bangsawannya sama dengan dongeng tentang pendeta mereka?” Dalam esensinya, ini hanyalah bentuk lain dari argumen yang pertama. Kenapa dongeng tentang bangsawan dan pendeta tidak boleh sama, dan apakah itu bertentangan dengan Marxisme? Proklamasi yang ditulis secara jelas oleh kaum Marxist seringkali membicarakan mengenai tuan tanah, kapitalis, pendeta, jendral dan penghisap lainnya.

Tuan tanah tak bisa dibantah berbeda dengan kapitalis, tapi terdapat kasus dimana mereka dianggap serupa. Kenapa, karenanya, kesenian rakyat dalam kasus-kasus tertentu tidak boleh memperlakukan bangsawan dan pendeta sebagai wakil dari kelas yang berdiri di atas rakyat dan yang merampok mereka? Dalam kartun Moor dan Deni, pendeta bahkan sering berdiri berdampingan dengan tuan tanah, tanpa merusak analisa Marxisme. “Jika ciri-ciri etnografis tercermin dalam seni,” lanjut Shklovsky, ” folklore tentang orang di luar batas folknya tak akan bisa terserap dan tak akan bisa dituturkan oleh folk yang lain.” Seperti yang anda lihat, argumen tersebut sama sekali tak bisa dijadikan sebagai serangan pada Marxisme. Marxisme tidak pernah menyatakan bahwa ciri-ciri etnografi mempunyai sifat independen. Sebaliknya, Marxisme menekankan adanya signifikansi ketergantungan formasi folklore pada kondisi-kondisi ekonomis dan alamiah. Kesamaan kondisi dalam perkembangan masyarakat beternak dan bertani, dan kesamaan dalam karakter hubungan pengaruh-mempengaruhi yang menguntungkan antara satu sama lain, tidak bisa tidak akan akan menggiring pada penciptaan folklore yang serupa. Dan dari cara pandang pertanyaan yang menjadi perhatian kita saat ini, kita dapat mengetahui bahwa pertanyaan ini tidak membedakan apakah tema homogen ini muncul secara independen diantara komunitas yang berbeda, sebagai refleksi pengalaman hidup yang homogen dalam ciri mendasarnya dan yang terefleksi melalui prisma homogen imajinasi para petani, atau apakah benih dari dongeng ini diseret angin yang ramah dari satu tempat ke tempat yang lain, mengakar dimanapun juga tanah mau menerimanya. Sangatlah mungkin, dalam realitanya, bahwa metode-metode tersebut terkombinasikan. Dan akhirnya, dalam argumen kelimanya yang terpisah – “Rasio yang telah diajukan (Marxisme) salah”- Shklovsky merujuk pada tema seputar penculikan yang diangkat dalam komedi-komedi Yunani sampai dengan drama Ostrovsky. Dengan kata lain, pengkritik kita ini mengulangi, dalam bentuk khusus, argumennya yang terawal (seperti yang kita lihat, bahkan dalam menggunakan logika formal, formalis kita ini tak bagus juga). Benar, tema-tema memang bermigrasi dari rakyat ke rakyat yang lain, dari kelas ke kelas yang lain, dan bahkan dari penulis ke penulis yang lain. Ini menunjukkan bahwa imajinasi manusia bersifat ekonomis. Sebuah kelas tidak betul-betul menciptakan budayanya dari nol, tapi merebut kepemilikan kelas sebelumnya atas budaya sebelumnya, memecahnya, menyentuhnya, menggarapnya, dan membangunnya lebih jauh.

Jika tak terjadi pemanfaatan tangan kedua seperti demikian, proses historis tak akan pernah mengalami perkembangan sama sekali. Tidak hanya tema drama Ostrovsky itu saja yang didapat melalui Mesir dan melalui Yunani, tetapi kertas dimana Ostrovsky mengembangkan temanya juga merupakan sebagai sebuah pengembangan dari papyrus Mesir dan perkamen Yunani. Mari kita mengambil analogi yang lain yang lebih dekat: fakta bahwa metode kritis dari para Sophis Yunani, yang merupakan kaum formalis di zamannya, telah berpenetrasi dalam kesadaran teoritis Shklovsky, tidak merubah sama sekali fakta bahwa Shklovsky sendiri merupakan sebuah produk yang apik dari sebuah lingkungan sosial tertentu dan zaman tertentu. Usaha menghancurkan Marxisme yang dilakukan Shklovsky dalam lima poinnya sangat mengingatkan kita pada artikel-artikel yang diterbitkan melawan Darwinisme dalam sebuah majalah The Orthodox Review pada masa lalu yang indah. Jika doktrin bahwa manusia berasal dari kera adalah benar, tulis Uskup berpendidikan Nikanor dari Odessa tiga puluh atau empat puluh tahun yang lalu, maka kakek kita akan memiliki tanda-tanda semacam ekor, atau setidaknya akan pernah melihat ciri seperti itu pada kakek atau nenek mereka. Kedua, seperti semua orang ketahui, monyet hanya bisa melahirkan monyet. . . . Kelima, Darwinisme salah, karena dia menyangkal formalisme-maaf, maksud saya, keputusan formal konferensi gereja seluruh dunia. Keuntungan dari rahib berpendidikan ini terletak pada fakta bahwa dia merupakan passéist terang-terangan dan mengambil pedomannya dari Rasul Paulus dan bukan dari Fisika, Kimia atau Matematika, seperti sang futuris Shklovsky lakukan. Tak perlu dipertanyakan lagi kebenaran bahwa kebutuhan akan seni bukanlah diciptakan oleh kondisi-kondisi ekonomi. Kebutuhan akan pangan juga tak diciptakan oleh ilmu ekonomi. Sebaliknya, kebutuhan pangan dan kehangatan menciptakan ilmu ekonomi.

Adalah benar bahwa seseorang tak bisa selalu menengok prinsip-prinsip Marxisme dalam memutuskan apakah akan menolak atau menerima sebuah karya seni. Sebuah karya seni harus, pertama kali, dinilai berdasarkan hukumnya sendiri, yaitu dengan hukum-hukum seni. Tapi Marxisme sendiri dapat menjelaskan kenapa dan bagaimana tendensi tertentu dalam seni bermula dalam periode tertentu sejarah; dengan kata lain, siapakah yang menciptakan tuntutan terhadap sebuah bentuk artistik dan bukan yang lain, dan kenapa. Akan kekanak-kanakan untuk berfikir bahwa setiap kelas mampu secara menyeluruh dan penuh menciptakan seninya sendiri dari dalam dirinya sendiri, dan, secara khusus, bahwa kaum proletariat mampu untuk menciptakan sebuah seni baru melalui gilda-gilda seni dan lingkaran-lingkaran tertutup, atau dengan Organisasi Budaya Proletar, dan sebagainya. Berbicara secara umum, karya artistik manusia selalu berkelanjutan. Setiap kelas yang baru tumbuh melekatkan dirinya pada bahu kelas sebelumnya. Tapi kontinuitas ini bersifat dialektis, yaitu dia menemukan dirinya sendiri melalui tabrakan-tabrakan dan perpecahan internal. Kebutuhan atau tuntutan artistik baru bagi cara pandang artistik dan susastra baru distimulasikan oleh ekonomi, melalui perkembangan sebuah sebuah kelas baru, dan desakan kecil yang dipasok oleh perubahan posisi kelas itu, dibawah pengaruh dari pertumbuhan kekayaan serta kekuasaan budaya kelas tersebut. Penciptaan artistik merupakan penggalian segala isi bentuk-bentuk lama yang rumit, di bawah pengaruh desakan baru yang berasal dari luar seni. Dalam pengertian yang besar, seni adalah buah tangan. Seni bukannya sebuah elemen terpisah yang mampu merawat dirinya sendiri, tapi seni adalah sebuah fungsi manusia sosial yang terikat pada hidup dan lingkungannya. Dan betapa berkarakternya–jika seseorang ingin mereduksi setiap ketakhayulan sosial ke dalam absurditasnya- seorang Shklovsky ketika dia sampai pada ide mengenai independensi mutlak seni dari lingkungan sosial dalam sebuah periode sejarah Rusia dimana seni mengungkapkan spiritualitasnya, lingkungannya dan ketergantungan materialnya pada kelas-kelas sosial, sub-kelas and kelompok-kelompok secara gamblang! Materialisme tidak menyangkal signifikansi dari elemen-elemen bentuk, baik dalam logika, yurisprudensi atau seni. Seperti halnya sebuah sistem yurisprudensi dapat dan harus dinilai dengan logika dan konsistensi internal, maka seni juga dapat dan harus dinilai dari sudut pandang pencapaiannya dalam bentuk, karena tak akan pernah ada seni tanpanya.

Namun, teori yuridis yang dicoba untuk mengembangkan independensi hukum dari kondisi sosial akan cacat pada dasar terdalamnya. Kekuatan gerak hukum terletak pada bidang ekonomi-dalam kontradiksi-kontradiksi sosial. Hukum hanya memberikan ekspresi yang terharmonisasi secara internal dan ekspresi formal dari fenomena-fenomena ini, bukan tentang kekhususan-kekhususan individual, tapi tentang karakter umumnya, yaitu elemen-elemen yang terulang dan permanen didalamnya. Kita dapat melihat sekarang dengan secercah kejelasan dalam sejarah bagaimana hukum yang baru terbentuk. Ini tidak dilakukan dengan deduksi logis, tapi melalui penilaian empirik dan penyesuaian pada kebutuhan-kebutuhan ekonomis dari kelas penguasa baru. Sastra, yang metode dan prosesnya memiliki akar jauh di masa lalu dan mewakili pengalaman akumulatif dari kepengrajinan verbal, mengekspresikan pemikiran, perasaan, suasana hati, sudut pandang dan harapan dalam era baru dan kelas barunya. Kita tak bisa melompati tahap ini. Dan tak ada gunanya untuk melompatinya, setidaknya, bagi mereka yang tidak mengabdi pada masa lalu atau kelas yang telah hidup lebih lama dari kekuasaannya. Metode analisis formal memang dibutuhkan, tapi tidak mencukupi. Anda bisa menghitung jumalah aliterasi dalam mazmur-mazmur populer, mengklasifikasikan metafora, menghitung jumlah huruf vokal dan konsonan dalam sebuah lagu pernikahan. Ini tentu saja memperkaya pengetahuan kita akan seni rakyat, dalam satu atau beberapa segi lainnya; tapi jika anda tidak paham akan sistem bercocok tanam para petani, dan kehidupan yang didasarkan pada sistem ini, jika anda tidak tahu bagian permainan-permainan celurit, dan jika anda tidak menguasai makna dari kalender gereja bagi para petani, periode waktu dimana para petani menikah, atau dimana para petani perempuan melahirkan, anda hanya akan memahami lapisan luar kesenian folk, tapi bagian terpentingnya tidak akan pernah teraih. Pola arsitektural dari katedral Cologne bisa dibentuk dengan cara menghitung dasar dan tinggi dari tapaknya, dengan menentukan tiga dimensi pada bagian tengahnya, dimensi-dimensi dan penempatan kolom-kolomnya, dan seterusnya. Tapi tanpa tahu seperti apa kota di abad pertangahan, apakah gilda itu, dan apakah makna dari gereja Katolik dalam abad pertengahan, katedral Cologne tak akan pernah bisa dipahami.

Usaha untuk memisahkan seni dengan kehidupan, untuk mendeklarasikan kemandirian kerajinan dalam dirinya, mendevitalisasi dan membunuh seni. Kebutuhan akan tindakan seperti itu merupakan sebentuk peringatan yang tak mungkin meleset tentang adanya kemunduran intelektual. Analogi antara argumen-argumen teologis dan Darwinisme yang disebutkan di atas mungkin terkesan tak berhubungan dan anekdotal bagi pembaca. Mungkin benar, untuk beberapa segi. Tapi sebuah hubungan yang lebih dalam memang ada. Teori formalis tak pelak akan membangkitkan kenagan kaum Marxist yang telah membaca semua lagu-lagu akrab berisikan melodi filosofis yang sangat kuno. Para ahli hukum dan dan kaum moralis (untuk mengingat kembali secara acak Stammler si orang Jerman, dan kaum subyektivis kita Mikhailovsky) mencoba untuk membuktikan bahwa moralitas dan hukum tak bisa ditentukan oleh kondisi ekonomi, karena kehidupan ekonomi tak mungkin berada diluar norma etis dan yuridis. Nyatanya, kaum formalis hukum dan moral tak pernah melangkah sampai titik dimana mereka mampu memperlihatkan independensi total hukum dan etika dari ekonomi. Mereka mengakui hubungan tertentu yang mutual dan komplek. Mereka mengakui keberadaan ‘faktor,’ dan faktor-faktor ini, meski mempengaruhi satu sama lain, mempertahankan kwalitas substansi-substansi independen, datang tanpa seorangpun tahu darimana asalnya. Penegasan atas independensi total dari faktor estetik dari pengaruh kondisi-kondisi sosial, seperti yang dirumuskan oleh Shklovsky, merupakan sebuah contoh dari hiperbola spesifik yang akarnya terletak pada kondisi-kondisi sosial juga; ini adalah megalomania estetika yang menyalakan realita kehidupan yang berat pada kepalanya. Lepas dari ciri khusus ini, konstruksi kaum formalis menunjukkan metodologi yang salah, sama dengan apa yang setiap jenis idealisme lain punyai. Bagi seorang materialis, agama, hukum, moral dan seni merepresentasikan aspek-aspek terpisah dari satu kesatuan dan proses pembangunan sosial yang sama. Meski mereka membedakan dirinya dari dasar industrialnya, bertumbuh semakin komplek, memperkuat dan mengembangkan sifat-sifat istimewanya dalam detil-detil, politik, agama, hukum, etika dan estetika tetap mempertahankan fungsi manusia sosial dan mengikuti hukum-hukum organisasi sosialnya. Kaum idealis, pada lain pihak, tidak melihat sebuah kesatuan proses perkembangan historis yang mengembangkan organ-organ dan fungsi yang perlu dari dalam dirinya sendiri, tapi lebih sebagai sebuah penginteraksian, pengkombinasian, dan persinggungan prinsip-prinsip independen tertentu- substansi-substansi agamis, politis, yuridis, estetik dan etis, yang mempunyai sebab dan penjelasan dalam diri mereka sendiri. Idealisme (dialektis) Hegel merancang substansi-substansi semacam ini (yang merupakan kategori-kategori abadi) dalam beberapa urutan dengan cara mereduksi mereka menjadi sebuah kesatuan genetik. Lepas dari fakta bahwa kesatuan ini bagi Hegel adalah roh absolut, yang membagi dirinya sendiri dalam sebuah proses manifestasi dialektisnya menjadi beragam “faktor,” sistem Hegel, karena sifat dialektisnya, bukan karena idealismenya, memberikan sebentuk gambaran realita historis seperti dalam ilustrasi sebuah tangan manusia yang dilepaskan dari sarung tangannya. Tapi kaum formalis (dan wakil terjeniusnya, Immanuel Kant) dalam hari dan jam penyingkapan filosofisnya, tidak mencermati seluruh dinamika perkembangan, melainkan hanya pada satu bagian persinggungannya saja. Mereka mengungkapkan kompleksitas dan keberagaman obyek yang terdapat dalam dalam garis pertemuan itu (bukannya proses, karena mereka tidak memikirkan tentang proses-proses). Kompleksitas ini mereka analisa dan kelompokkan.

Mereka memberi nama pada elemen-elemen, yang serta merta ditransformasikan dalam esensi-esensi, dalam sub-absolut, tanpa ayah dan ibu; dalam gurauan, agama, politik, moral, hukum, seni. Di sini kita tak lagi mendapati sarung tangan sejarah yang terobek saja, tapi juga kulit jari yang terkoyak, dijemur dalam suhu abstraksi penuh, dan tangan sejarah ini menjadi produk dari “interaksi” ibu jari, jari telunjuk , jari tengah, dan semua “faktor-faktor” lainnya. Jari kelingking merupakan “faktor” estetik, bagian yang terkecil, tapi bukannya yang terakhir dicintai. Dalam biologi, vitalisme adalah variasi-variasi pemujaan mutlak yang sejenis dalam menunjukkan aspek-aspek berbeda dari proses dunia, tanpa pemahaman atas relasi internal. Seorang pencipta adalah semua yang tak memiliki estetika atau moralitas absolut dan supersosial, atau “kekuatan vital” absolut superfisikal. Keberagaman faktor-faktor independen, “faktor-faktor” yang tak berawal dan berakhir, tidak lain adalah sebuah politeisme bertopeng. Seperti halnya idealisme Kantian secara historis mewakili sebuah terjemahan Kekristenan dalam bahasa filsafat rasionalistik, semua jenis formalisasi idealistik, baik yang terbuka maupun rahasia, menggiring kita pada figur tuhan, sebab dari segala sebab. Dalam perbandingan dengan oligarki sekumpulan sub-absolut filsafat idealis, seorang individu pencipta tunggal hanyalah satu elemen dalam deretan yang ada. Di sinilah terletak hubungan yang lebih dalam antara penolakan kaum formalis terhadap Marxisme dan penolakan teologis terhadap Darwinisme. Mazhab formalis adalah idealisme gagal yang diterapkan pada pertanyaan seni. Kaum formalis menunjukkan sebuah relijiusitas yang matang. Mereka adalah pengikut Santo Yohanes. Mereka percaya bahwa “pada mulanya adalah Firman.” Namun kita percaya bahwa pada mulanya adalah perbuatan. Sang kata mengikuti, sebagai bayang-bayang fonetiknya***

 

Membaca Kembali Masyarakat Juli 8, 2010

Filed under: Loker Sosiologi — gogo @ 1:32 pm
Jawa Timur adalah kawasan dengan segala keberagamannya. Dari segi kondisi alam, terdapat daerah-daerah di dataran rendah, juga beberapa daerah dataran tinggi. Daerah dataran rendah ini masih bisa dipilah-pilah dengan daerah pesisir dan daerah pedalaman. Daerah-daerah pesisir, berada memanjang di wilayah pantai utara; mulai tuban hingga ketimur wilayah tapal kuda. Sedangkan daerah dataran rendah pedalaman terhampar luas di wilayah Jawa Timur bagian barat; Nganjuk, Madiun, Ngawi Dan sekitarnya. Sementara daerah-daerah dataran tinggi berada di wilayah Malang, sebagian Probolinggo, Blitar, sebagian Tulunggung dll. Dalam studi-studi klasik, perbedaan kondisi alam menjadi perhatian dalam mengidentifikasi karateristik daerah karena keadaan alam mempengaruhi mata pencaharian masyarakat, yang seterusnya membentuk karakteristik masyarakat beserta norma dan pranata-pranata sosialnya.
Sebagai ilustrasi, kita dapat menunjuk pada norma-norma dan symbol-simbol masing-masing kategori sejarah. Dalam kategori tradisional misalnya, norma solidaritas dan partisipasi menjadi ideology. Di sini kita menemukan bahwa cita-cita egalitarian diwujudkan dalam berbagai mite, tabu dan tradisi lisan yang menunjang ideology itu. Dalam kategori patrimonial, yang ideologinya “kawulo-gusti” kita menemukan norma yang melegitimasikan dan berusaha memberikan control negara atas masyarakat dalam bentuk simbolik berupa babad, tabu, mite serta hasil-hasil seni yang mengkeramatkan raja. Dalam kategori kapitalis, dengan munculnya kelas menengah, kita melihat adanya sastra baru dengan cerita-cerita baru.
Akhirnya pada kategori teknokratis, kita melihat usaha-usaha untuk menyatakan kekecewaan dengan realisme di satu pihak, dan keinginan untuk menjadikan proses simbolis sebagai usaha untuk “social engineering” di lain pihak.
Sebagai catatan dapat dikemukakan tentang kemungkinan adanya dikotomi budaya di satu kategori dan juga ada gejala anomali budaya pada penghujung tiap kategori sejarah. Dalam masyarakat patrimonial misalnya, akan ada dikotomi social dan budaya antara golongan bangsawan dan petani. Ada budaya istana dan budaya rakyat yang masing-masing mempunyai lembaga, symbol dan normanya sendiri. Demikian juga pada kategori kapitalis, kita memiliki dikotomi budaya dalam budaya tinggi dan budaya popular, dengan lembaga, symbol dan norma-normanya sendiri. Dalam hal ini perlu diingat bahwa sekalipun dikotomi itu ada,ada pula mobilitas budaya, ke atas atau ke bawah yang menyebabkan baik lembaga, symbol, dan normanya tentu saja mengalami transformasi. (pitirim Sorokin)
Kebudayaan menjadi tidak fungsional jika symbol dan normanya tidak lagi didukung oleh lembaga-lembaga sosialnya, atau oleh modus organisasi social dari budaya itu. Kontradiksi-kontradiksi budaya dapat terjadi sehingga dapat melumpuhkan dasar-dasar sosialnya. Kontradiksi budaya dapat juga timbul karena adanya kekuatan-kekuatan budaya yang saling bertentangan dalam masyarakat.
Masyarakat Orde Baru seperti juga masyarakat Orde Lama adalah masyarakat yang ditandai oleh ketidaksetaraan. Ketika orang-orang miskin harus mencari pinjaman uang ke rentenir dengan bunga tinggi, penduduk-penduduk desa yang punya pengaruh –terutama mereka yang mempunyai kontak—memiliki akses kepada pemerintah dan dapat mengambil kredit dari BRI, dengan bunga yang lebih murah. Orang-orang kaya membawa anak-anak mereka ke klinik kesehatan swasta, sementara orang-orang miskin lain harus antri di puskesmas pemerintah, yang sudah bertahun-tahun tidak memiliki dokter. Bahkan sejumlah orang, tidak mampu pergi ke klinik sama sekali. Ketika jatuh sakit mereka mengundang pegawai rumah sakit yang praktek sebagai mantri di rumahnya.
Gambaran di atas dapat begitu saja membuat orang berfikir bahwa tidak banyak lagi norma-norma masyarakat lokal yang masih tersisa. Namun demikian kita tidak dapat melebih-lebihkan perubahan yang telah terjadi di pedesaan dan meremehkan kelangsungan kehidupan desa. Bagi kebanyakan orang, kehidupan kaum modern bukanlah keadaan yang umum dan tidak sepenuhnya diinginkan. Pada masa-masa perubahan yang cepat seperti sekarang ini, para pengamat kadang-kadang cenderung hanya melihat surutnya tradisi dan naiknya modernitas. Tetapi bahkan di sebuah desa –yang sangat Orde baru-pun—ditemukan satu semangat kemasyarakatan yang kuat. Dengan demikian sebenarnya tetap ada kesinambungan dengan masa lalu, sesuatu yang sebenarnya juga dikembangkan oleh pemerintah Orde Baru. Penting dicatat bahwa semangat kemasyarakatan ini bukanlah sisa masa lalu dan juga bukan pelarian dari kehidupan modern. Semangat kemasyarakatan ini adalah rekontruksi dari praktek-praktek kepercayaan-kepercayaaan sehari-hari. Karena kuatnya semangat kemasyarakatan ini saya percaya bahwa semangat ini akan tetap terus bertahan. Walaupun generasi muda mungkin ingin menjadi kaya, mereka tidak ingin menempati posisi sosialnya; hidup terpisah dari masyarakat. Dan tidak setiap orang menolak tetangga yang minta tolong. Orang-orang yang ingin hidup mewah juga berharap tetap menjadi “bagian dari kita”.
Bagaimana semangat komunitas berhubungan dengan berbagai perubahan, perubahan yang mempengaruhi posisi tawar-menawar antara ‘modern’ dan ‘kolot’ dengan keuntungan yang selalu jatuh pada kelompok modern yang menginginkan gaya hidup baru? Thomas Schweitzer membedakan dua pola interaksi yang bercabang di kalangan penduduk desa Jawa Tengah. Cabang pertama terdapat dalam proses produksi, yakni mentalitas individualistic yang ditujukan untuk memaksimalkan keuntungan ekonomis (Schweitzer 1989:304). Cabang yang satunya lagi, terdapat di dalam lingkungan ritual, yaitu semangat komunitas yang didasarkan pada perhitungan resiprositas dan saling memberi yang altruistic (ibid. 305). Dengan argumen yang sama, Robert Hefner (1990:154) juga menemukan mekanisme redistributif dalam pertukaran ritual di kalangan masyarakat Jawa Timur pegunungan tempat aktifitas produksi didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan komersial. Para elit sekarang ini memegang monopoli atas proses produksi dan mereka mengatur lingkungan ekonomi (hal ini berbeda dengan situasi yang berlangsung sampai tahun 1965). Oleh karena itu norma-norma di dalam lingkungan ekonomi ini cenderung menguntungkaan kelompok pemegang kekuasaan. Kaum miskin, di sisi lain, dapat memperdengarkan suara mereka hanya di dalam kehidupan budaya: di dalam konteks ritual dan konsumsi. Apabila mereka ingin memelihara beberapa aturan hukum adat dan daya tawar-menawar mereka, maka mereka harus menekankan kepada karakter redistribusi dan social yang padat di dalam ritual upacara-upacara. Sebagai senjata kaum lemah, kontrol terhadap adat adalah hal yang penting. Nilai-nilai yang dikejar dengan penuh tenaga oleh kaum miskin seringkali berhubungan dengan kepatuhan terhadap ritual, penekanan terhadap pemberian barang dan jasa secara resiprokal serta wajib terhadap keluarga, kerabat, dan tetangga (Scott 1985:237).
Memang system politik Orde Baru berlaku memberi individualisme pijakan yang kokoh, tetapi hal itu tidak berarti komunitas akan musnah. Sudah dilaporkan oleh Scott (1985:173 di Malaysia) dan Hefner (1990:188 di Jawa) bahwa dengan semakin terbatasnya wilayah interaksi social perayaan-perayaan ritual cenderung menyusut.
Dengan demikian apa yang kita lihat di suatu (desa—misalnya) bukanlah suatu pemisahan nilai-nilai yang tegas antara modern dan tradisional atau orang kaya dan orang miskin; melainkan suatu pe-lokal-an yang justru mengaburkan dikotomi seperti itu. Konsep-konsep sosiologis tentang ‘alienasi’ dan ‘modernisasi’ tidak cocok bagi desa-desa di Indonesia. Ketika kita mendengar istilah komunitas kita tidak boleh berpikir tentang tradisi; ketika kita mendengar pengaruh negara, kita juga tidak bisa berpikir tentang modernitas. Keduanya telah dipertemukan, diperbaiki bahkan dilebur menjadi satu di dalam pertemuan yang di-lokal-kan dengan realitas Indonesia. Dengan proses-proses yang menarik perhatian, hasilnya adalah campuran antara hal-hal lama dan baru, tradisi dan modern, lokal dan nasional, komunitas dan negara. Gejala ini memiliki dua sisi. Dari sudut pandang komunitas; arisan, selamatan, nangkring, musyawarah, dan jum’atan di masjid, bekerja untuk memelihara kehidupan social yang sangat kaya. Dari perspektif penguasa, kekuatan pemerintah lokal, perayaan-perayaan nasional, rasa kebangsaan Indonesia yang dirasakan bersama, dan pembangunan sarana publik membantu penciptaan suatu arena yang penting bagi masyarakat di dalam kebijakan pembangunan ekonomi dan stabilitas politik nasional. Sejalan dengan hal itu, kita telah melihat contoh-contoh ritual lama yang diberi makna baru dan diberi penghormatan ideology modern sebagai pengetahuan yang sudah panjang usianya.
Seperti kata mereka sendiri, penduduk desa sekarang adalah orang yang mampu mencari gaya hidup yang independen di tempat mereka tidak lagi tergantung pada orang lain. Konsumerisme ‘jaman duit’ memberikan makna-makna baru bagi warga desa untuk mencapai status dan kadangkala lari dari ikatan komunitas lokal. Kehidupan desa tidak lagi penuh dengan kerukunan dan gotong royong seperti pada tahun 1950-an Ward Keeler (1985) telah menggambarkan bagaimana orang Jawa memiliki sikap ganda yang mendalam terhadap otoritas.
 

Paradigma Sosiologi dan Teori Pendekatannya

Filed under: Loker Sosiologi — gogo @ 1:30 pm

Paradigma adalah suatu pandangan yang fundamental (mendasar, prinsipiil, radikal) tentang sesuatu yang menjadi pokok permasalahan dalam ilmu pengetahuan. Kemudian, bertolak dari suatu paradigma atau asumsi dasar tertentu seorang yang akan menyelesaikan permasalahan dalam ilmu pengetahuan tersebut membuat rumusan, baik yang menyangkut pokok permasalahannya, metodenya agar dapat diperoleh jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurut George Ritzer paradigma dalam sosiologi, yaitu (1) paradigma fakta sosial yang menyatakan bahwa struktur yang terdalam masyarakat mempengaruhi individu;

(2) paradigma definisi sosial yang menyatakan bahwa pemikiran individu dalam masyarakat mempengaruhi struktur yang ada dalam masyarakat. Dalam hal ini sekalipun struktur juga berpengaruh terhadap pemikiran individu, akan tetapi yang berperanan tetap individu dan pemikirannya; (3) paradigma perilaku sosial yang menyatakan bahwa perilaku keajegan dari individu yang terjadi di masyarakat merupakan suatu pokok permasalahan. Dalam hal ini interaksi antarindividu dengan lingkungannya akan membawa akibat perubahan perilaku individu yang bersangkutan.
Paradigma dalam sosiologi sebagaimana dikemukakan tersebut akan menyebabkan adanya berbagai macam teori dan metode dalam pendekatannya.

Pengertian Sosiologi
Sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang kehidupan bersama dalam masyarakat. Dalam masyarakat terdapat individu, keluarga, kelompok, organisasi, aturan-aturan dan lembaga-lembaga, yang kesemuanya itu merupakan suatu kebulatan yang utuh. Dalam hal ini sosiologi ingin mengetahui kehidupan bersama dalam masyarakat, baik yang menyangkut latar belakang, permasalahan dan sebabmusababnya. Untuk mengetahui kehidupan bersama tersebut diperlukan suatu teori.
Lahirnya sosiologi dihubungkan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di Eropa Barat, baik yang menyangkut tumbuhnya kapitalisme pada akhir abad XV, perubahan sosial politik, reformasi Martin Luther, meningkatnya individualisme, lahirnya ilmu pengetahuan modern, berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri, adanya Revolusi Industri maupun Revolusi Perancis.
Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari kehidupan bersama dalam masyarakat akan senantiasa berkembang terus, terutama apabila masyarakat menghadapi ancaman terhadap pedoman yang pada masanya telah mereka gunakan. Krisis yang demikian cepat atau lambat akan melahirkan pemikiran sosiologis.
Bertolak dari kenyataan yang demikian dapatlah dikatakan bahwa pemikiran-pemikiran sosiologis terjadi sejak awal XVIII berkenaan dengan adanya industrialisasi, urbanisasi, kapitalisme dan sosialisme yang menyebabkan adanya perubahan-perubahan sosial.

Teori
Teori merupakan seperangkat pernyataan-pernyataan yang secara sistematis berhubungan atau sering dikatakan bahwa teori adalah sekumpulan konsep, definisi, dan proposisi yang saling kait-mengait yang menghadirkan suatu tinjauan sistematis atas fenomena yang ada dengan menunjukkan hubungan yang khas di antara variabel-variabel dengan maksud memberikan eksplorasi dan prediksi. Di samping itu, ada yang menyatakan bahwa teori adalah sekumpulan pernyataan yang mempunyai kaitan logis, yang merupakan cermin dari kenyataan yang ada mengenai sifat-sifat suatu kelas, peristiwa atau suatu benda.

Teori harus mengandung konsep, pernyataan (statement), definisi, baik itu definisi teoretis maupun operasional dan hubungan logis yang bersifat teoretis dan logis antara konsep tersebut. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam teori di dalamnya harus terdapat konsep, definisi dan proposisi, hubungan logis di antara konsep-konsep, definisi-definisi dan proposisi-proposisi yang dapat digunakan untuk eksplorasi dan prediksi.
Suatu teori dapat diterima dengan dua kriteria pertama, yaitu kriteria ideal, yang menyatakan bahwa suatu teori akan dapat diakui jika memenuhi persyaratan. Kedua, yaitu kriteria pragmatis yang menyatakan bahwa ide-ide itu dapat dikatakan sebagai teori apabila mempunyai paradigma, kerangka pikir, konsep-konsep, variabel, proposisi, dan hubungan antara konsep dan proposisi.

Fungsionalisme Talcott Parsons
Teori Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons
Talcott Parsons adalah seorang sosiolog kontemporer dari Amerika yang menggunakan pendekatan fungsional dalam melihat masyarakat, baik yang menyangkut fungsi dan prosesnya. Pendekatannya selain diwarnai oleh adanya keteraturan masyarakat yang ada di Amerika juga dipengaruhi oleh pemikiran Auguste Comte, Emile Durkheim, Vilfredo Pareto dan Max Weber. Hal tersebut di ataslah yang menyebabkan Teori Fungsionalisme Talcott Parsons bersifat kompleks.

Asumsi dasar dari Teori Fungsionalisme Struktural, yaitu bahwa masyarakat terintegrasi atas dasar kesepakatan dari para anggotanya akan nilai-nilai kemasyarakatan tertentu yang mempunyai kemampuan mengatasi perbedaan-perbedaan sehingga masyarakat tersebut dipandang sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi dalam suatu keseimbangan. Dengan demikian masyarakat adalah merupakan kumpulan sistem-sistem sosial yang satu sama lain berhubungan dan saling ketergantungan.
Teori Fungsionalisme Struktural yang mempunyai latar belakang kelahiran dengan mengasumsikan adanya kesamaan antara kehidupan organisme biologis dengan struktur sosial dan berpandangan tentang adanya keteraturan dan keseimbangan dalam masyarakat tersebut dikembangkan dan dipopulerkan oleh Talcott Parsons.

Tindakan Sosial dan Orientasi Subjektif
Teori Fungsionalisme Struktural yang dibangun Talcott Parsons dan dipengaruhi oleh para sosiolog Eropa menyebabkan teorinya itu bersifat empiris, positivistis dan ideal. Pandangannya tentang tindakan manusia itu bersifat voluntaristik, artinya karena tindakan itu didasarkan pada dorongan kemauan, dengan mengindahkan nilai, ide dan norma yang disepakati. Tindakan individu manusia memiliki kebebasan untuk memilih sarana (alat) dan tujuan yang akan dicapai itu dipengaruhi oleh lingkungan atau kondisi-kondisi, dan apa yang dipilih tersebut dikendalikan oleh nilai dan norma.
Prinsip-prinsip pemikiran Talcott Parsons, yaitu bahwa tindakan individu manusia itu diarahkan pada tujuan. Di samping itu, tindakan itu terjadi pada suatu kondisi yang unsurnya sudah pasti, sedang unsur-unsur lainnya digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Selain itu, secara normatif tindakan tersebut diatur berkenaan dengan penentuan alat dan tujuan. Atau dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa tindakan itu dipandang sebagai kenyataan sosial yang terkecil dan mendasar, yang unsur-unsurnya berupa alat, tujuan, situasi, dan norma. Dengan demikian, dalam tindakan tersebut dapat digambarkan yaitu individu sebagai pelaku dengan alat yang ada akan mencapai tujuan dengan berbagai macam cara, yang juga individu itu dipengaruhi oleh kondisi yang dapat membantu dalam memilih tujuan yang akan dicapai, dengan bimbingan nilai dan ide serta norma. Perlu diketahui bahwa selain hal-hal tersebut di atas, tindakan individu manusia itu juga ditentukan oleh orientasi subjektifnya, yaitu berupa orientasi motivasional dan orientasi nilai. Perlu diketahui pula bahwa tindakan individu tersebut dalam realisasinya dapat berbagai macam karena adanya unsur-unsur sebagaimana dikemukakan di atas.

Analisis Struktural Fungsional dan Diferensiasi Struktural
Sebagaimana telah diuraikan di muka, bahwa Teori Fungsionalisme Struktural beranggapan bahwa masyarakat itu merupakan sistem yang secara fungsional terintegrasi ke dalam bentuk keseimbangan. Menurut Talcott Parsons dinyatakan bahwa yang menjadi persyaratan fungsional dalam sistem di masyarakat dapat dianalisis, baik yang menyangkut struktur maupun tindakan sosial, adalah berupa perwujudan nilai dan penyesuaian dengan lingkungan yang menuntut suatu konsekuensi adanya persyaratan fungsional.

Perlu diketahui ada fungsi-fungsi tertentu yang harus dipenuhi agar ada kelestarian sistem, yaitu adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi dan keadaan latent. Empat persyaratan fungsional yang mendasar tersebut berlaku untuk semua sistem yang ada. Berkenaan hal tersebut di atas, empat fungsi tersebut terpatri secara kokoh dalam setiap dasar yang hidup pada seluruh tingkat organisme tingkat perkembangan evolusioner.
Perlu diketahui bahwa sekalipun sejak semula Talcott Parsons ingin membangun suatu teori yang besar, akan tetapi akhirnya mengarah pada suatu kecenderungan yang tidak sesuai dengan niatnya. Hal tersebut karena adanya penemuan-penemuan mengenai hubungan-hubungan dan hal-hal baru, yaitu yang berupa perubahan perilaku pergeseran prinsip keseimbangan yang bersifat dinamis yang menunjuk pada sibernetika teori sistem yang umum. Dalam hal ini, dinyatakan bahwa perkembangan masyarakat itu melewati empat proses perubahan struktural, yaitu pembaharuan yang mengarah pada penyesuaian evolusinya Talcott Parsons menghubungkannya dengan empat persyaratan fungsional di atas untuk menganalisis proses perubahan.

Perlu diketahui bahwa sekalipun Talcott Parsons telah berhasil membangun suatu teori yang besar untuk mengadakan pendekatan dalam masyarakat, akan tetapi ia tidak luput dari serangkaian kritikan, baik dari mantan muridnya Robert K. Merton, ataupun sosiolog lain, yaitu George Homans, Williams Jr., dan Alvin Gouldner, sebagaimana telah dikemukakan dalam uraian di muka.

Referensi
George Ritzer, paradigma dalam sosiologi

 

Masyarakat Transisi dan Modern

Filed under: Loker Sosiologi — gogo @ 1:29 pm
Emile Durkheim – 1858-1917

1. Pengantar

Teori-teori mengenai masyarakat berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Dari waktu ke waktu, teori-teori itu mengalami perkembangan dan perubahan bahkan ada yang turut tenggelam bersama dengan bertumbuhnya teori baru. Dalam konteks itu, kita tidak bisa menyangkali bahwa perubahan-perubahan teori mengenai masyarakat itu terjadi di dalam suatu masyarakat yang dinamis dengan daya mobile yang tinggi.

Beragam teori mengenai masyarakat itu memperlihatkan bahwa kemampuan masyarakat untuk berubah itulah yang menjadi faktor penting dalam memahami masyarakat. Artinya, masyarakat tidak bias dimengerti dari suatu konstruk teori an sich, melainkan mesti dilihat secara riil atau kontekstual.
Menarik memang ulasan beberapa pemikir di awal abad ke-21, bahwa “mesin peradaban” masyarakat sedang berfungsi untuk membawa suatu tatanan baru di dalam masyarakat.
Bangkitnya turbin “mesin peradaban” itu adalah suatu gejala dari semakin pentingnya eksistensi masyarakat, termasuk eksistensi kelokalan yang tampak melalui berbagai bentuk kearifan lokal, atau dalam terminologi sosiologi disebut sebagai “modal sosial” (social capital).
Dalam kaitan itu, sebenarnya paper ini harus dibawa masuk ke dalam ranah perubahan masyarakat yang serba cepat itu. Karena itu, persoalan pokok di sini bukan pada apa sumbangan teori sosiologi mengenai masyarakat transisi dan modern itu, sebaliknya apakah masyarakat transisi dan modern itu membuat teori-teori yang ada barubah secara signifikan? Pertanyaan itu pun penting dikemukakan untuk melakukan refleksi kritis terhadap peta pemikiran Emile Durkheim. Bahkan kita bisa mengajukan pertanyaan baru, apakah memang teori-teori Emile Durkheim mengenai masyarakat masih relevan dan dapat dijadikan sebagai suatu carapandang memahami masyarakat dewasa ini (masyarakat transisi dan modern)?
Sejauh pengenalan kita terhadap masyarakat dan teori-teori sosial itu, persoalan kita kemudian adalah bagaimana membangun suatu carapandang filsafat sosial dan karena itu bagaimana peta filsafat itu kita gunakan untuk membedah Durkheim secara epistemologik. Saya kira masalah kita di sini adalah bagaimana memahami teori-teori Durkheim sebagai suatu postulat yang tersusun atas berbagai argumentasi filsafati (keilmuan).

2. Emile Durkheim Dan Geliat [Filsafat) Sosial Tentang Masyarakat
A. Siapa Durkheim itu?
Emile Durkheim lahir di Epinal, Prancis, 15 April 1858; sebagai anak keturunan pendeta Yahudi yang belajar untuk menjadi Pendeta (rabbi), tetapi kecewa terhadap pendidikan agama, dan karena itu mengalihkan minatnya pada pengetahuan umum, dan terutama sosiologi ilmiah. Tetapi karena pada waktu itu sosiologi belum berkembang secara independen, ia lalu lebih banyak meluangkan hidupnya untuk mengajar filsafat di sejumlah sekolah di Paris (1887), yakni di Jurusan Filsafat Universitas Bordeaux.
Wilhelm Wundt seorang psikolog adalah orang yang memiliki pengaruh tersendiri terhadap Durkheim dalam perubahan orientasi itu, terutama mendorong dia untuk mendalami psikologi ilmiah. Dari situ, ia fokus mengajar pedagogik dan pendidikan moral. Tujuannya adalah untuk mengkomunikasikan sistem moral kepada para pengajar yang ia harapkan kemudian akan diteruskan kepada anak-anak muda dalam rangka membantu menanggulangi kemerosotan moral yang dilihatnya terjadi di tengah masyarakat Prancis.
Perkembangan intelektual Durkheim begitu pesat. Momentum ini ditandai oleh terbitnya tesis Doktornya, The Division of Labor in Society (Pembagian Kerja dalam Masyarakat) (1893). Ada pula beberapa buku metodologi seperti The Rules of Sociology Method (1895) yang secara khusus menstudikan secara empiris fakta bunuh diri (suicide). Sekitar tahun 1896 ia menjadi Profesor penuh di Universitas Bordeaux; tahun 1902 ia mendapat kehormatan mengajar di Universitas Pransic, Sorbonne, dan 1906 ia menjadi profesor ilmu pendidikan dan sosiologi. Karyanya yang cukup penting dalam perkembangan sosiologi di kemudian hari ialah The Elementary Forms of Religious Life (Dasar-dasar Kehidupan Agama), yang terbit tahun 1912.
Durkheim menaruh minat yang besar bukan hanya di dalam sosiologi, tetapi juga bidang-bidang lainnya. Ia meninggal pada 15 November 1917 sebagai seorang tokoh intelektual Prancis yang tersohor.

B. Konstruk Teori Durkheim tentang Masyarakat
Ada beberapa terminologi sosiologi yang bisa dikatakan sebagai peta ke dalam pemikiran Durkheim, antara lain:
• Fakta sosial (social facts/social reality). Lewis Coser menjelaskan bahwa yang dimaksud Durkheim mengenai fakta sosial adalah suatu ciri atau sifat sosial yang kuat yang tidak harus dijelaskan pada level biologi dan psikologi, tetapi sebagai sesuatu yang berada secara khusus di dalam diri manusia. Dengan kata lain, Ritzer menjelaskan bahwa fakta sosial, dalam teori Durkheim itu bersifat memaksa karena mengandung struktur-struktur yang berskala luas, misalnya hukum yang melembaga. Pengaruh fakta sosial itu pun tampak dalam karyanya mengenai bunuh diri di mana persoalan yang pokok di situ ialah apa motiv dan alasan seseorang melakukan tindakan tersebut, atau mengapa beberapa orang cenderung melakukan tindakan itu (bunuh diri).
Dengan demikian jelas bahwa yang dimaksud dengan fakta social adalah bukan sesuatu yang tampak seperti itu saja, melainkan motiv-motiv atau dorongan sosial yang menimbulkan sesuatu itu terjadi di dalam realitas sosial.
• Sui Generis. Dalam kerangka itu, istilah sui generis menjadi suatu terminologi sosial yang sangat kuat dalam teori Durkheim. Masih terkait dengan fakta sosial, semua gejala yang tampak itu bagi Durkheim tidak bisa dipahami secara sui generis, atau taken for granted, atau dipahami apa adanya secara langsung. Suatu fakta yang sui generis bukanlah suatu fakta yang harus diterima begitu saja, termasuk penyimpangan moral seseorang tidak mesti dipahami secara sui generis. Orang harus mampu melihat dorongan-dorongan psikologi, faktor-faktor biologis, dll, sehingga memunculnya suatu bentuk perilaku moral seperti itu.
• Solidaritas sosial: secara mekanis dan organis. Kedua terminologi tadi perlu dipahami dalam kerangka teori-teori Durkheim mengenai masyarakat. Bagi Durkheim, fakta sosial itu memperlihatkan adanya berbagai cara dan usaha manusia untuk membangun suatu komunitas, atau apa yang disebutnya masyarakat. Tidak seperti Ferdinand Tonnies yang melihat pada bentuk gemeinschaft (kekerabatan) dan gesselschaft (persekutuan masyarakat luas),
Durkheim melihat pada bagaimana pola masyarakat membangun persekutuan itu sendiri. Di sini menurut Durkheim ada dua corak orang membangun komunalitas, yaitu secara organik (solidaritas organik) dan secara mekanis (solidaritas mekanik). Solidaritas organik itu suatu bentuk cara membangun komunitas dengan mana melihat pada latarbelakang yang sama, dan terjadi secara spontan, tanpa melalui suatu rekayasa (social enginering). Berbeda dengan solidaritas mekanik yang terjadi karena faktor disengajakan atau diciptakan secara terencana.
• Totemisme. Durkheim patut disebut sebagai pendiri “Sosiologi Agama”. Metodologi yang dikembangkannya dalam sosiologi memang masih menggunakan kerangka filsafat deterministik, dan karena itu cara berpikir matematis (mathematico scientific model) – seperti dikembangkan Imanuel Kant – menjadi acuan metodologi yang penting. Tetapi pengaruh psikologi dan pengetahuan moral membuat Durkheim lebih merespons suatu gejala kepercayaan (sense of beliefs) dalam diri masyarakat. Ada kecenderungan orang membangun suatu ideologi sosial dan dijadikan sebagai acuan dalam hidup. Ideologi itu dilembagakan dalam totem sebagai suatu simbol yang mampu membangun sikap percaya atau perasaan takut dan tunduk (taat). Di sini kita bisa melihat bagaimana Durkheim kembali merekonstruksi dasar-dasar keagamaan masyarakat, dan sebetulnya mengapa masyarakat itu bisa bersekutu dengan melihat pada suatu totem.

3. Masyarakat Transisi Dan Modern
Seperti telah dikatakan tadi; apakah teori Durkheim itu masih relevan menjadi referensi tentang masyarakat dewasa ini? Madshab Frankfurt dan kaum Postmodernisme pun akan mengatakan bahwa untuk bertahan di era modernisasi dewasa ini orang harus masuk ke dalam kawasan “meta-“ artinya kawasan yang mampu melampaui segala sekat dan batas (boundaries) di dalam hidup masyarakat.
Kita mungkin akan kesulitan mencari benang merah antara teori Durkheim dengan masyarakat transisi dan modern dewasa ini. Tetapi satu hal yang tidak bisa kita lupakan bahwa Durkheim mengembagkan teorinya di dalam konteks Jerman yang berubah secara gradual. Orang baru saja lepas dari Revolusi Prancis dan masuk ke masa Pencerahan. Suatu titik transisi dan perubahan yang berdampak sampai saat ini. Di sinilah mengapa teori Durkheim dan para sosiolog sezamannya tidak bisa dilihat lepas dari konteks Revolusi Politik (1789), Revolusi Industri dan Kemunculan Kapitalisme (abad 19 dan awal abad 20), kemunculan sosialisme (lewat Marx), dan bangkitnya feminisme (1780-an – 1790-an).
Secara khusus mengenai perubahan di dalam masyarakat, Durkheim – seperti halnya juga Robert Nisbet, memberi perhatian serius pada proses-proses yang disebutnya sebagai kohesi, solidaritas, integrasi, kekuasaan, ritual, dan aturan sosial, sebagai bukti bahwa sosiologinya itu merupakan sutu carapandang yang anti carapandang atomistik, yaitu suatu carapandang yang melihat perubahan terjadi sebagai semacam pergeseran ion, atau sel Dengan kohesi, Durkheim hendak menunjukkan bahwa solidaritas sosial baik secara mekanis maupun organis, telah membawa masyarakat pada suatu tahapan atau puncak tertinggi peradaban manusia, yaitu kohesi sosial, sebagai kondisi di mana setiap elemen sosial dalam masyarakat berfungsi memberikan standard norm bagi hidup bersama. Di sini penting kita mencatat berperannya lembaga-lembaga sosial dalam menjaga harmoni, termasuk misalnya di Maluku, dalam bentuk berperannya pranata Pela, Larvul Ngabal, Ain ni Ain, sebagai suatu fakta sosial dari adanya kehidupan yang setara di antara masyarakat.
Demikian pun aspek solidaritas, entah mekanik atau organik, seperti telah dijelaskan tadi. Suatu bentuk perubahan yang sangat signifikan sebagai indikator empirik dari terjadinya kohesi adalah integrasi masyarakat itu sendiri. Di sini kita melihat bahwa bentuk solidaritas mekanik dan organik bisa terjadi karena ada suatu dorongan yang lebih kuat, dan menurut Durkheim hal itu disebut kesadaran kolektif (common consciousness). Kesadaran ini muncul hanya ketika
orang: individu dan kelompok mampu mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan di antara mereka, lalu mampu mengorganisasi kerja dan peran sosialnya secara adil. Kesadaran kolektif itu juga yang menjadi alasan mengapa satu komunias tertentu terhisab ke dalam satu totem yang dipandang sebagai pusat hidup komunitas itu, atau stanar hukum bagi mereka. Tetapi Durkheim sadar, bahwa seluruh proses perubahan dan pergeseran itu dapat terjadi ketika sistem regulasi sosial menjadi semakin longgar. Menjawab hal ini, Durkheim menunjuk contoh bunuh diri, sebagai akibat dari tidak berfungsinya regulasi sosial di dalam masyarakat secara baik. Jika dipahami dalam kerangka filsafatik, maka kecenderungan itu muncul karena system logika dan rasio mandeg akibat dari beragam pertentangan psikologis, biologis, politik, ekonomi, kebudayaan dan juga agama. Pertentangan-pertentangan itu mengakibatkan system regulasi sosial macet dan tidak ada mekanisme kontrol (control mechanism) di dalam masyarakat. Orang merasa bahwa tindakan bunuh diri merupakan salah satu cara membangun sistem regulasi sosial yang baru, dalam arti membangun suatu masyarakat tanpa hukum atau normless society. Sebagai semacam kesimpulan, pertanyaan yang dapat diajukan di sini adalah apakah ada tantangan yang berarti dewasa ini? Secara filsafatik dapat kita katakan bahwa perubahan cepat di dalam masyarakat yang ditandai oleh bangkitnya kerja akal (rasion) adalah bukti bahwa masyarakat sudah mengalami perkembangan peradaban yang sangat tinggi karena pengaruh pendidikan.
Di sisi lain, secara sosiologis, perubahan di dalam masyarakat, termasuk misalnya transisi hukum pasca meninggalnya Soeharto, adalah suatu bukti bahwa rasio manusia semakin tertantang, dan tantangan pertama adalah moralitas manusia itu sendiri. Karena itu tidak heran jika setiap orang akan menyusun klaim dan memiliki motiv tersendiri dalam mengantisipasi perubahan dalam masyarakat modern/postmodern ini. Begitu pun lembaga-lembaga sosial akan memiliki dan membentuk sistem regulasi tersendiri dalam menanggulangi berbagai peran sosialnya. Mengikuti Durkheim, suatu perubahan yang terjadi tidak bisa diterima sui generis, melainkan perlu mengolah kesadaran kolektif untuk menata peran sosial dan membangun regulasi sosial yang lebih beradab.