gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Tujuh Tahapan Pergantian Kepemimpinan Nasional Februari 14, 2011

Filed under: Loker Kepemimpinan — gogo @ 11:54 am

Pujangga besar Indonesia yaitu Jayabaya juga telah memprediksi yang sejauh ini terbukti tepat tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh bangsa Indonesia dan pergantian kepemimpinan nasional yang telah terbukti menunjukkan keakuratannya tersebut terdiii dari tujuh periode tahapan yang dapat disarikan sebagal berikut :

  • Periode Pertama yaitu masa pergerakan naslonal dan deklarasi kemerdekaan Indonesia, di mana tampil Satriya Kinunjara Marwan Kuncara pemimpin bangsa ini dikarakteristikkan sebagai tokoh yang tadinya berkungkung dan terpenjara walaupun akhirnya tampil dengan kemenangan dan kecemerlangan. Tahapan ini sangat tepat untuk menggambarkan periode kepemimpinan nasional Presiden Soekarno yang telah dengan sukses meletakkan dasar persatuan kesatuan dalam kedautatan lndone!ãa yang mandiri di bidang ekonomi dan membangun bangsa yang berkepribadian.
  • Periode Kedua adalah masa Orde Baru, di sini tamil Satriya Wibawa Kesandhung Kesampar yang menggambarkan masa kecemerlangan dan keutuhan kepemimpinan nasional Soeharto di mana pada masanya meletakkan dasardasar pembangunan fisik yang gegap-gempita meskipun pada masa meletakkan dasar-dasar pembangunan fisik yang gegap-gempita meskipun pada akhirnya meninggalkan setumpuk persoalan utang yang membuat bangsa ini harus pontang-panting.
  • Periode ketiga adalah masa transisi dan Orde Baru ke Orde Reformasi, di mana tampil Satriya Jinumput Sumelo Atur, merupakan hadirnya tokoh nasional yang tampil sejenak untuk mengintervensi keadaan supaya tidak ada suasa chaos. Keadaan ini secara tepat menggambarkan penode pemerintahan Presiden BJ Habibie. BJ Habibie Presiden III Republik Indonesia. 21 Mel 1998 – 20 Oktober 1999 berarti hanya 17 bulan berkuasa. Sungguh waktu yang amat singkat guna bertindak menyelamatkan negara dalam melaksanakan reformasi konstitusional, namun seperti kita ketahui bahwa beliau telah sukses membukakan pintu gerbang menuju kehidupan berdemokrasi. Dan ketika pertanggungjawabannya ditotak oleh MPR dengan perbandingan 355 menolak dan 322 menerima, maka beliau mengurungkan niatnya menjadi kandidat presiden selanjutnya, hal ini menunjukkan bahwa beliau menghargai proses demokrasi dalam arti pemungutan suara dan hasilnya, serta lebih menjunjung tinggi moral dan etika berpolitik.
  • Periode keempat adalah menggambaran yang terjadi saat tampil Satriyo Piningit Hamong Tuwuh yang merupakan gambaran ketidakterdugaan tampilnya Abdurrahman Wahid sebagai Presiden IV Indonesia yang merupakan hasil pemungutan suara sebagai bagian dari proses demokrasi. Beliau telah mengadopsi beberapa paradigma global untuk dijadikan acuan kerja seperti meletakkan dasar-dasar kehidupan demokrasi dalam berbangsa dan bernegara, transparansi, perwujudan HAM, supremasi hukum, dan good godvernance yang sebenarnya sudah terlihat upaya awal pelaksanaannya.
  • Periode kelima adalah Satriyo Lelana Tapa Ngrame adalah menggambarkan di mana akan tampiliya pemimpin bangsa yg melalui tahapan difitnah, dideskriditkan, terlunta-lunta. sebelum kemudian berdiam diri di tengah berbagai hujatan sampai khalayak tersadar dan melihat kebenaran dan kebijakannya. Hal ini bisa menggambarkan pemimpin tertinggi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Ibu Dyah Permata Megawati Setyowati Soekamoputri. Beliau adalah kandidat Presiden tahun 2000-2004 yang ka]ah dengan kandidat lain yaltu Abdurrahman Wahid, meskipun partal yang dipimpin memenangkan Pemilu tapi beliau bisa menerima dengan legawa atas hasil pemungutan suara di sidang MPR sebagai bagian dari proses pendidikan demokrasi bangsa indonesia. Makna yang pantas kita teladani datam pendidikan politik dan beliau adalah kesabaran, kerelaan dalam mengedepankan kepentingan bangsa dan menjunjung tinggi moral serta etika berpolitik. Meskipun dalam proses demokrasi daii partainya, sebab sepeili kita ketahui bersama bahwa inandat pantainya di kongres Bali adalah sebagai Presiden dan dipertegas lagi waktu kongres di Semarang. Kalau kita mencerinati ramalan pada urutan ke kelima jul. dan dikaitkan situasi politik di mana gonjang-ganjing elite politik dan memburuknya ekonomi bukan tidak mungkin Satriya Lelana Tapa Ngrame akan segera tampil memimpin bangsa Indonesia..
  • Periode keenam dalam ramalan ini adalah merupakan forecasting ke masa depan setelah bangsa Indonesia melewati tahapan masa transisi, di mana akan tampil seorang pemimpin naslonal yang berpredikat Satrya Boyong Pembukane Gapura pada masa ini diharapkan bangsa Indonesia dipimpin oleh seorang yang bisa membuka pintu gerbang utama menuju tercapainya cita-cita masyarakat madani.
  • Ramalan Jayabaya pada periode ke tujuh adalah akan merupakan periode emas dan masa kejayaan kecemerlangan bangsa dan negara Indonesia di mana akan tampil Satriya Pinandhita Kasinungan Wahyu yang mempunyai dan kapabilitas untuk segala persyaratan memenuhi tuntutan dan amanat rakyat mewujudkan kualitas terbaik dalam kebldupan berbangsa dan bernegara.

Tentu saja yang dimaksud Satriya dalam tujuh tahapan di atas bukanlah dalam perngertian jender, melainkan sifat dan karakter yang ada dalam orang pemimpin bangsa. Merujuk kembali ke kalatida maka pemimpin bangsa yang berikutnva yang merupakan peniode kelima, digambarkan akan membawa bangsa dan negara Indonesia pada keadaan: Ratune Ratu Utama, Patihe patih Inuwih// Pro nayaka tyas raharja, Panarkare becik-becik.

Prosa liris di atas merupakan gambaran filosofis bahwa pada periode kelima, keenam dan ketujuh merupakan roda perputaran sejarah akan kembali membawa Indonesia ke masa cemerlang, dipimpin oleh pemimpin nasional yang legislatif dan didukung okh jajaran yang beranggotakan para profesional, cakap dan bermoral tinggi. Dalam tinjauan filosofis ilmiah maka sangat diperlukan kehati-hatian dan kecermatan untuk memilih, menyusun jajaran orang-orang yang bisa mencerminkan gambaran di atas dan membawa negara dan bangsa Indonesia keluar dari turbulensi kesuraman menuju masa yang cemerlang.

Ditulis oleh Endu Marsono, Ketua Yayasan UNS dalam Suara Merdeka Pada Masa pemerintahan Abdurrahman Wahid

 

Mengenal arti kepemimpinan

Filed under: Loker Kepemimpinan — gogo @ 11:43 am

Mengenal arti kepemimpinan

 

Stogdill (1974) menyimpulkan bahwa banyak sekali definisi mengenai kepemimpinan, dan diantaranya memiliki beberapa unsur yang sama.

Menurut Sarros dan Butchatsky (1996), istilah ini dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi.

Sedangkan menurut Anderson (1988), “leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, kepemimpinan memiliki beberapa implikasi, antara lain :

  • Kepemimpinan berarti melibatkan orang atau pihak lain, yaitu para karyawan atau bawahan (followers). Para karyawan atau bawahan harus memiliki kemauan untuk menerima arahan dari pemimpin. Walaupun demikian, tanpa adanya karyawan atau bawahan, tidak akan ada pimpinan.
  • Seorang pemimpin yang efektif adalah seseorang yang dengan kekuasaannya (his or herpower) mampu menggugah pengikutnya untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi.
  • Kepemimpinan harus memiliki kejujuran terhadap diri sendiri (integrity), sikap bertanggungjawab yang tulus (compassion), pengetahuan (cognizance), keberanian bertindak sesuai dengan keyakinan (commitment), kepercayaan pada diri sendiri dan orang lain (confidence) dan kemampuan untuk meyakinkan orang lain (communication) dalam membangun organisasi.

Kepemimpinan seringkali disamakan dengan manajemen. Padahal, keduanya berbeda. Menurut Bennis and Nanus (1995), pemimpinberfokus mengerjakan yang benar, memastikan tangga yang kita daki bersandar pada tembok secara tepat.

Sedangkan manajer memusatkan perhatian pada mengerjakan secara tepat sedangkan manajemen mengusahakan agar kita mendaki tangga seefisien mungkin.

Berikut perkembangan pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan :

  • Model Watak Kepemimpinan

Pada umumnya studi pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin, seperti misalnya: kecerdasan, kejujuran, kematangan, ketegasan, kecakapan berbicara, kesupelan dalam bergaul, status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960, Stogdill 1974).

Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut, yaitu kapasitas,prestasi, tanggung jawab, partisipasi, status dan situasi.

  • Model Situasional

Model ini merupakan pengembangan model sebelumnya dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan.

  • Model Kepemimpinan yang Efektif

Model ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif.

  • Model Kepemimpinan Kontingensi

Model ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin, tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional.

  • Model Transformasional

Ini merupakan model yang relatif baru, yang pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggung jawab mereka lebih dari yang mereka harapkan.

Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan, mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi, dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya.

 

Leadership

Filed under: Loker Kepemimpinan — gogo @ 11:36 am

Leadership

Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau mejadi seorang pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya. Kepemimpinan adalah sebuah keputusan yang merupakan hasil proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang.

Leadership

Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaanya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati.

“I don’t think you have to be wearing stars on your shoulders or a title to be a leader. Anybody who wants to raise his hand can be a leader any time.”
– General Ronal Fogleman, US Air Force –

Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out). Seringkali seseorang pemimpin sejati tidak dikenal atau dihargai keberadaanya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri.

Pemimpin bukan BOSS

Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji atau dikultuskan, seorang pemimpin akan semakin tinggi hati dan lupa diri. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble). Pelajaran mengenai kerendahan hati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar afrika selatan, yang membawa bangsanya dari negara rasialis, menjadi negara yang demokratis dan merdeka.

Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa “kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya”. Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati. Kita hidup dalam dunia yang serba berubah – politik, ekonomi yang selalu berubah dengan begitu cepat dan terus berlangsung. Oleh sebab itu kesuksesan kita akan selalu bergantung pada kemampuan serta tekad untuk mengembangkan sebuah pemahaman yang menyangkut bagaimana kita menghadapi dan berinisiatif dengan perubahan itu.

“The only way that I can keep leading is to keep growing. The day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is way it always it.”
– Jhon Maxwell –
(Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa berkembang. Ketika saya berhenti berkembang, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut)

Dalam menghadapi tantangan yang ada, maka yang diperlukan oleh setiap orang adalah sebuah landasan mental yang positif:

  • terhadap orang lain;
  • terhadap perubahan, dan
  • terhadap masa depan.

Dua hal yang perlu untuk kesuksesan kita adalah: sikap positif dan tekad untuk selalu balajar!

“belajar adalah sama dengan mendayung melawan arus: Ketika anda berhenti mendayung, anda mulai begerak mundur”
– Anonymous –

(Dikutip dan disari dari ulasan tentang “Kepemimpinan Sejati” oleh Aribowo Prijosaksono)

Gaya Kepemimpinan

Dari Mahatma Gandhi sampai ke Jack Welch; dari Martin Luther King sampai ke Rudolf Giuliani; ada banyak sekali gaya kepemimpinan itu. Para pakar bisnis psikologi telah mengupayakan untuk mengkategorikan beberapa gaya kepemimpinan yang dapat memberikan aspirasi kepada para pemimpin pada masa kini untuk mengerti dan mengadaptasi gaya kepemimpinan merekaSeseorang yang memimpin sebuah kelompok kerja, tim olahraga, ataupun sebuah perusahaan besar, gaya kepemimpinannya pasti dengan satu tujuan yaitu untuk meraih kesuksesan. Sadar ataupun tidak disadari, gaya kepemimpinan manusia berbeda satu sama lain, bahkan juga berbeda dalam kesempatan serta situasi yang berlainan. Apapun gaya kepemimpinan anda, tujuan anda adalah untuk mencapai kesuksesan bersama kelompok yang anda pimpin.

Sebelum kita masuk pada gaya kepemimpinan, ada baiknya kita mengetahui sedikit tentang fungsi/peran seorang pemimpin:

  1. Pemimpin berfungsi sebagai katalisator. Maksudnya, seorang pemimpin harus bisa menumbuhkan kepahaman dan kesadaran orang yang dipimpinnya untuk kemajuan. Caranya bisa dengan melaksanakan indentifikasi masalah, merumuskan masalah dan menyusun garis besar masalah.
  2. Pemimpin berfungsi sebagai fasilitator. Seorang pemimpin harus mampu mendorong dan menciptakan kesadaran orang yang dipimpinnya untuk melakukan perubahan sehingga meningkat. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menunjukkan cara mendapatkan bantuan dari pihak terkait, mengorganisasi kelompok dan membuat keputusan yang mengarah kepada prioritas yang harus dikerjakan.
  3. Pemimpin barfungsi sebagai pemecah masalah. Pemimpin harus mampu memberikan tingkat kepercayaan orang yang dipimpinnya untuk melaksanakan tugas. Caranya yaitu dengan mengerti masalah yang dihadapi, menyatikan persepsi terhadap masalah dan membuat keputusan yang dapat diterima orang yang dipimpin.
  4. Pemimpin berfungsi sebagai penghubung sumber. Seorang pemimpin harus mampu memahami sepenuhnya terhadap kendala-kendala yang tak terselesaikan oleh orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin harus tanggap terhadap masalah yang dihadapi baik intern maupun ekstern dan mampu menentukan target penyelesaian.
  5. Pemimpin berfungsi sebagai komunikator. Seorang pemimpin harus bisa memotivasi pemahaman dan kesadaran orang yang dipimpin untuk memecahkan masalah dengan cara pandai memberi gagasan, mengarahkan polemik yang terjadi dan mengambil kesimpulan yang harus dilaksanakan.

Ada banyak gaya kepemimpinan yang diperkenalkan oleh para pakar, namun disini akan dijelaskan beberapa diantaranya:

  1. Autocratic leadership (kepemimpinan yang otoriter). Pemimpin dengan gaya otoriter biasanya memegang kekuasaan dan memonopoli kekuasaan itu. Ciri-cirinya adalah selalu mengambil keputusan sendiri, cenderung menilai bawahan secara subjektif dan kurang bersedia berpartisipasi aktif dalam organisasi/kelompoknya.
  2. Democratic or participative leadership (kepemimpinan yang demokratis/partisipatif). Gaya kepemimpinan demokrasi biasanya mempunyai ciri mengambil semua keputusan/metetapkan sebuah kebijakan berdasarkan musyawarah dengan orang yang dipimpin, setiap kativitas yang dilakukan selalu didiskusikan, bawahan bebas menentukan tugasnya dan dalam penilaian selalu bertindak objektif.
  3. Kepemimpinan yang simbolik. Gaya kepemimpinan simbolik biasanya mempunyai ciri bawahan mempunyai kebebasan untuk mengambil keputusan, pemimpin hanya memberi pendapat kalau diminta dan tidak ada usaha untuk memuji atau mengkritik bawahan.
  4. Charismaic leadership (kepemimpinan yang kharismatis). Gaya kepemimpinan kharismatis mempunyai ciri seorang pemimpin mempunyai visi yang kuat, bertanggung jawab secara pribadi atas tindakannya serta mempunyai arah, sasaran, keuletan dan kepercayaann kepada bawahannya.

Selain yang telah disebutkan diatas, gaya kepemimpinan lainnya adalah:

  • Bureaucratic leadership (kepemimpinan yang birokratis)
  • Laissez-faire leadership (kepemimpinan yang delegatif)
  • People or relations oriented leadership (kepemimpinan yang berorientasi kepada orang atau memelihara hubungan baik)
  • Servant leadership (kepemimpinan yang melayani)
  • Task or goal oriented leadership (kepemimpinan yang berorientasi pada target)
  • Transactional leadership (kepemimpinan yang berorientasi pada transaksi)
  • Transformational leadership (kepemimpinan yang transformasional)

“Leadership occurs among people, it is not something done to people. Transformational leaders develop followers to go beyond their self-imposed limitations. You must paint a vivid picture of a desired future state that makes the pain of change and personal investment worth effort. Said another way, you must learn to liberate the leader in everyone.”
– Ruth Ann Marshall, –
former President of the Americas, MasterCard International

Tipe Kepemimpinan

Terdapat dua tipe leadership yang diperkenalkan Dale Carnegie, pendiri Dale Carnegie Training, yakni inspirasional dan organisatoris. Coach Margetty Herwin yang akrab siapa Getty, General Manager iCOACH, menjelaskan lebih jauh tentang karakter dari kedua tipe leadership ini. Dari sini Anda bisa mulai memetakan, Anda termasuk tipe pemimpin yang mana.

Tipe inspirasional
Karakternya:
– Kreatif
– Komunikatif
– Tidak suka rutinitas
– Tidak sabar
– Tidak pandai basa-basi
– Selalu ingin jadi pahlawan
– Inspiratif
– Sangat dominan dalam tim

Tipe organisatoris
Karakternya:
– Agak kaku
– Suka rutinitas
– Lebih sabar
– Menomorsatukan profit
– Efisien
– Mementingkan tim dalam bekerja

Setiap tipe memiliki kekuatan tersendiri. Setidaknya dengan memetakan diri Anda termasuk dalam tipe yang mana, akan membantu untuk memaksimalkan karakter leadership dalam diri Anda. Dampaknya tak hanya untuk diri sendiri, namun juga tim dalam pekerjaan Anda.

Coach Getty mengatakan bahwa kepemimpinan yang kuat menjadi faktor penting untuk menciptakan tim yang hebat. Artinya pencapaian dalam tim, apakah target yang tercapai, atau prestasi lain yang dihasilkan dari kerja tim, bisa terwujud dengan adanya kepemimpinan yang kuat.

Kepemimpinan perlu didukung juga oleh sejumlah faktor lain agar bisa membangun the dream team. Sebut saja kesamaan visi, menjalani rencana kerja dengan memegang kode etik, saling memberdayakan, adanya delegasi tugas, dan penghargaan atas kinerja rekan kerja. Bahkan pemutusan kerjasama dengan rekan yang tidak menunjukkan kinerja baik juga sah dilakukan.
Hanya pemimpin yang berkarakter kuat yang memiliki ketegasan dan sikap adil dalam memaksimalkan tim kerjanya.