gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Rumah Rejang Di Desa Gunung Alam-Lebong Agustus 15, 2010

Filed under: Loker Kabupaten Rejang lebong — gogo @ 6:02 am
Rumah yang berusia ratusan tahun ini terletak di desa Gunung Alam-Lebong, 9 km dari kota Muara Aman ke arah Taba Atas. Rumah ini beratap ijuk dari pohon enau, tak memakai paku besi dan dihisi lukisan di dinding luar rumah. Memiliki satu tangga di samping kiri mengarah ke belakang rumah. Di belakang rumah terdapat bangunan kecil yang dulu dipakai sebagai lumbung padi. Sekarang rumah ini tidak lagi dihuni dan dijadikan cagar budaya.

Sudut kiri

Samping kanan

Lumbung padi

Dari depan

ruang keluarga

Bilik

Tiang kayu

Iklan
 

Situs Kutei Giri

Filed under: Loker Kabupaten Rejang lebong — gogo @ 5:40 am

Situs Kutei Giri, Situs Makam Para Leluhur Orang Rejang di Sindang Beliti Ulu, Kabupaten Rejang Lebong

Secara administratif Situs Kutei Giri terletak di Desa Lawangagung, Kecamatan Sindangbeliti Ulu pada posisi UTM 48 0254038 9616703 dengan elevasi 502 meter. Di situs ini terdapat makam Depati Pakal dan keturunannya, makam Krio Tandan, Depati Anggun serta Makam Krio Bungkuk yang ditandai dengan dua nisan dari batu andesit.
Hiasan sulur pada nisan makam Dipati Pakal
Makam Krio Tandan berada di dalam “kutei” (benteng tanah) yang sampai sekarang masih bisa dilihat sisanya di bagian timur laut. Di luar benteng tanah ini masih ditemukan rumpun bambu duri yang digunakan untuk memperkuat pertahanan benteng.
Hiasan sulur pada nisan makam Dipati Pakal

Makam Dipati Pakal menggunakan dua nisan yang dihias dengan lukisan. Pada nisan pertama terdapat hiasan di keempat sisinya berupa kuda dengan penunggangnya, sulur-suluran, dan tumpal. Sedangkan nisan kedua hanya dihias pada kedua sisi dengan sulur-suluran dan lingkaran.Hiasan pada nisan bagian kepala juga terdapat pada makam Depati Anggun, sementara nisan-nisan makam lainnya polos. Selain temuan tersebut, di sekitar makam Krio Tandan ditemukan pecahan tembikar dan keramik asing
Note admin : Hendaknya Pemda pro aktip melakukan promosi dan menjaga situs ini dengan baik, karena ini adalah aset dan kekayaan wisata sejarah tanah rejang (Prop. Bengkulu. Namun hingga kini peran aktip Pemda sama sekali tidak tampak dan terasa, sehingga sangat banyak situs sejarah di tanah rejang tak di kenal publik tanah rejang sendiri dan jadi telantar. Butuh kerja keras buat Pemda Rejang Lebong bila ingin maju dan di kenal dunia luar. Apalagi untuk menggaet wisatawan internasional, rasanya masih sangat jauh sekali dari harapan.
 

Kuliner

Filed under: Loker Kabupaten Rejang lebong — gogo @ 5:31 am

Sambea Ujak

SAMBEA UJAK Sambea ujak ( sambal ujak ) adalah masakan khas rejang ada istilah yang cukup dikenal yaitu sambea ujak lem boloak ( sambal ujak dalam bambu ) dulunya masakan ini dimasak dalam bambu dan ada juga yang masaknya dengan belanga dan memang rasanya lebih enak jika di masak secara tradisional. Bahan – bahan : cabe 100 grm kemiri 3 biji cung 150 gr daun bawang 2 batang kunyit sebar ibu jari serai satu ibu jari ikan salai ( ikan asap )250 gr garam secukupnya cara membuatnya : Rebus cung dengan air kurang lebih 4 gelas,setelah airnya mendidih angkat dan cungnya di tekan tekan hingga hancur masukan cabe,kemiri serai,garam dan kunyit yang telah dihaluskan kedalam rebusan cung tadi dan masukan juga daun bawang dan ikan salainya, lalu dimasak lagi hinga mendidih.setelah itu angkat.siap untuk di sajikan. catatan : untuk ikan sesuai dengan selera( Ikan mas, Ikan Putih atau kalo bisa ikan putih yang telah di asapkan ) bisa juga di tambahkan dengan kabau bagi yang suka kabau kata ujak yaitu menggepengkan cung tadi mungkin karena masaknya ada acara gepeng-gepengan makanya dinamakan sambal ujak :hehe Cung adalah sejenis tomat kecil atau juga di sebut dengan tomat dusun yang rasanya sangat asam yang memiliki daging sangat tipis.

Samba Macang

Samba Macang ( sambal macang ) merupakan salah satu masakan yang sering dibuat masyarakat curup, bila musim buah macang berbuah, namun tidak diketahui dengan pasti apakah masakan ini khas daerah curup apa bukan, soalnya hampir disetiap daerah mempunyai dan mengenal nama masakan ini hanya namanya saja yang berbeda. masakan ini biasanya dimakan bersama nasi yang dijadikan sebagai lauk.

Bahan: Buah Macang Cabe Gula Merah Cara Membuat: kupas buah macang lalu dicuci bersih dan di iris-iris sesuai selara, setelah itu campukan dengan cabe yg sudah digiling halus dan gula merah ,lalu aduk-aduk hingga merata.

Lema

LEMA / LEMEA Lema/lemea dalam bahasa rejang adalah sejenis makanan yang terbuat dari rebung ( bambu muda ). berbeda dengan Rebung-rebung kebanyakan dan ini adalah masakan khas orang rejang.yang memiliki rasa yang khas, namun ada sebagian orang yang tidak menyukai masakan yang terbuat dari lema karena baunya yang sangat menusuk,namun bagi yang pernah merasakan masakan yang terbuat dari lema,merasa akan ketagihan. lema ini tidak bisa langsung di makan, tapi harus di olah / masak lagi dengan bumbu-bumbu yang sederhana. proses pembuatan lema cukup memakan waktu kurang lebih 6 hari, Cara pembuatan lema yaitu

  • Bambu muda di dibersihkan dari kotorannya dan di cuci lalu di potong-potong/diiris kecil kecil dan di cincang( beda dengan sayur rebung,irisan potangannya lebih kecil dari irisan potongan sayur rebung )
  • Setelah itu dimasukan kedalam sebuah tempat ( ember ) tambahkan air dan diendapkan/direndam selama 2 malam.
  • Setelah 2 malam perendaman, air rendaman di buang dan diganti dengan air yang baru dan di tambahkan dengan rempah – rempah.
  • Rempah-rempah biasanya terdiri dari :

– Air Rebusan ikan ( ikan yang biasa dibunakan adalah ikan sungai seperti ikan Putih ) menggunakan ikan yang lain juga bisa namun biasanya kualitas lema nya akan kurang bagus. – Serai satu batang – Cabe merah 5 buah di patah-patahkan – Nasi satu genggam kecil

  • Semua rempah rempah tadi dimasukan dalam rendaman lema tadi bersama dengan air rebusan ikan dan ikannya.
  • Lalu didiamkan lagi selama 3 malam
  • setelah 3 malam lema siap untuk diolah menjadi masakan lema.

Catatan :

  • untuk bahan dasar sebaiknya menggunakan rebung dari jenis bambu kecil, namun rebung dari bambu jenis besar juga bisa di buat lema namun kualitasnya tentu akan beda
  • dahulu orang-orang buat lema menggunakan tempat khusus untuk perendamannya yaitu menggunakan alat yang namanya Tajuo ( sejenis gentong yang terbuat dari tanah liat ),namun tajuo jarang digunakan sekarang karena kesulitan untuk memperolehnya,digantikan dengan ember atau toples.

Jadea’ Tat ( Kue Tat )

Kue tat ( Jadea’ Tat dalam Bahasa Rejang ) bisa dibilang adalah kue wajib dalam masyarakat rejang, dalam acara apa pun kue ini selalu ada,baik di acara pernikahan, sedekahan. kue tat atau kue sawah sebagian orang menyebutnya seperti itu karena sebelum dipotong-potong dalam ukuran kecil kue ini mirip dengan petak – petak sawah yang dipermukaannya di terdapat selai nanas, namun ada juga yang menggantikan selai nanas tersebut dengan kelapa. biasanya kue ini berbentuk persegi empat, namun ada juga yang di cetak diatas piring sehingga berbentuk lingkaran.

kue ini terbuat dari tepung gendum,santan, gula, telur dan mentega.

 

Kota Curup sejak tahun 1930-an dikenal sebagai pusat tanaman sayur

Filed under: Loker Kabupaten Rejang lebong — gogo @ 5:26 am

Kota Curup sejak tahun 1930-an dikenal sebagai pusat tanaman sayur

Kota Curup sejak tahun 1930-an dikenal sebagai pusat tanaman sayur namum untuk menjadi pusat tanaman sayur mayur tersebut para petani petani curup dan sekitarnya harus menghadapi perjuangan yang amat sulit,dimulai sejak kedatangan koloni pertama di tanah rejang hingga saat para koloni tersebut menghadapi krisis ekomoni. berikut adalah perjalanan sejarah para koloni yang memperjuangkan nasibnya di tanah rejang : tahun 1909

  • – peserta kolonisasi di Permu telah berhasil membuka persawahan seluas 20 bau

tahun 1910

  • – penduduk di tiga desa migran kolonisasi Rejang berjumlah 522 orang.
  • – Pada tahun 1910, pemerintah memulangkan tiga orang migran karena tidak mampu bekerja keras sehingga dianggap tidak berguna bagi kemajuan program kolonisasi. Pada kasus ini, uang persekot yang diberikan kepada mereka dianggap lunas oleh pemerintah. Akan tetapi, bila migran pulang ke Jawa atas kemauan sendiri, mereka harus melunasi hutang kepada pemerintah.
  • – migran yang kembali ke Bogor berjumlah dua orang.
  • – pada tahun 1910 banyak migran terserang penyakit flu Spanyol, dan disentri yang mengakibatkan kematian. Jumlah migran yang meninggal dunia berjumlah 66 orang, terdiri atas 22 orang dewasa (17 orang laki-laki) dan 44 orang anak-anak, atau kurang lebih 10% dari penduduk migran yang berjumlah 650 orang.[5] Menghadapi keadaan seperti ini, pemerintah memberikan bantuan berupa makanan dan obat-obatan. Migran kolonisasi yang sakit ditangani oleh dokter orang Eropa yang berada di Kepahiang karena banyak migran kolonisasi yang sakit, banyak persawahan yang tidak tergarap.

tahun 1911

  • – ketiga desa migran kolonisasi itu kembali mendapat tambahan pendatang baru sehingga penduduk migran berjumlah 596 orang migran, yang terdiri atas 230 orang laki-laki, 150 orang wanita, dan 216 anak-anak.

tahun 1912

  • – Pada tahun 1912, di desa-desa migran dari Jawa telah terdapat 5.749 pohon kopi dan pada tahun berikutnya tanaman kopi telah bertambah menjadi 39.386 pohon. Sebagian besar tanaman kopi terdapat di Kolonisasi Air Sempiang, yaitu 20.328 pohon, di Permu terdapat 10.058 pohon, dan di Curup 9.000 pohon. Sampai dengan tahun 1914, tiga desa migran kolonisasi di Rejang terdapat 76.128 batang pohon kopi.
  • – program pencarian peserta kolonisasi difokuskan pada kelompok petani miskin dari daerah Bagelen dan mereka akan ditempatkan di Pasar Curup. Hal ini antara lain karena hasil percobaan kolonisasi di Kepahiang kurang baik karena lingkungan yang tidak sehat. maka percobaan selanjutnya dialihkan ke Pasar Curup yang banyak terdapat lahan dapat diairi dan lingkungan lebih sehat. Kontrolir G.A. van Drunen juga menetapkan tidak akan mendatangkan lagi migran orang Sunda tetapi migran orang Jawa yang menurutnya lebih mudah diajak kerjasama.
  • – jumlah penduduk migran kembali berkurang karena 26 orang migran meninggal dunia, 10 orang di antaranya adalah anak balita yang meninggal dunia karena sakit radang paru-paru. Tahun berikutnya, penduduk migran yang meninggal dunia berjumlah 9 orang, 4 orang di antaranya adalah anak balita yang meninggal dunia akibat gangguan makan dan demam. Penduduk migran dewasa yang meninggal berjumlah 5 orang karena penyakit beri-beri, demam, disentri, dan penyakit busung.
  • – di desa migran Air Sempiang terjadi kekurangan pangan.

Tahun 1913

  • – pada tahun 1913 di desa migran kolonisasi Air Sempiang, tanaman teh berjumlah 33.420 batang, di Desa Permu 14.275 batang, dan di Desa Talang Benih (Curup) hanya terdapat 200 batang. Hasil tanaman teh penduduk migran dapat dijual kepada perusahaan korporasi milik orang Cina, atau menjualsendiri ke Pasar Kepahiang.
  • – pemerintah Bengkulu melaksanakan program kolonisasi spontan, yaitu kolonis yang menanggung biaya perjalanan sendiri.
  • – pemerintah Bengkulu mendapatkan calon kolonis berjumlah 11 orang yang terdiri atas empat orang laki-laki, empat orang perempuan, dan tiga anak-anak, yang bersedia berangkat ke Bengkulu atas biaya sendiri. Kedatangan mereka menambah jumlah penduduk pada tiga desa migran kolonisasi, yaitu menjadi 768 orang.
  • – pada tahun 1913 dengan cara memberangkatkan Radjiman, kepala kampung desa migran Jawa di Curup disertai isterinya Djemina dan dua orang pembantu, yaitu Soeropawiro dan Setrowirono ke Kutoarjo untuk mencari petani-petani miskin yang mau diajak pindah ke Rejang. Melalui kerja sama dengan Kontrolir Kutoarjo, mereka berhasil mendapat 53 orang calon kolonis, yang terdiri atas 20 orang laki-laki, 18 orang perempuan, dan 15 anak-anak, yang berasal dari Kutoarjo. Di Rejang mereka ditempatkan di desa migran kolonisasi Talang Benih (Curup).

tahun 1914

  • – Dibuka desa migran di desa Talang Benih (Curup)
  • – pemerintah membangun, jalan tanah yang menghubungkan Desa Air Sempiang dengan Kampung Pensiunan di Kepahiang.
  • – Pada tahun 1914 saat terjadi musim kering yang panjang hampir semua migran kolonisasi tidak dapat menanam padi. Mereka hanya dapat mengumpulkan kayu bakar untuk dijual dan uang yang didapat bisa untuk membeli kebutuhan hidup. Bahkan di Desa Talang Benih (Curup) terdapat 30 keluarga migran mengalami kekurangan makan karena persediaan beras sudah habis.

tahun 1915

  • – migran kolonisasi laki-laki berjumlah 309 orang, sedangkan migran kolonisasi wanita hanya 209 orang. Hal ini pun terjadi pada perbandingan jumlah anak laki-laki dan perempuan, yaitu jumlah anak laki-laki 177 orang dan anak perempuan 136 orang.
  • – Penduduk Desa Talang Benih hanya berjumlah 162 orang sehingga banyak lahan belum dibuka dan sawah tidak digarap karena kekurangan tenaga kerja. Lahan persawahan yang baru digarap hanya kurang lebih 10,25 bau, sedangkan luas lahan yang disediakan 100 bau berupa tanah vulkanis yang subur di kaki Bukit Kaba dan terdapat pengairan dari Air Duku.
  • – Sampai tahun 1915, Desa Talang Benih masih belum berkembang, meskipun jaraknya hanya setengah pal dari Pasar Curup.
  • – migran dari Jawa yang ditempatkan di Desa Imigrasi Permu telah memiliki lahan persawahan seluas 60 bau. Sebelum lahan persawahan ditanami padi, mereka memanfaatkanya untuk dijadikan kolam-kolam ikan emas, dan pekarangan rumah ditanami tanaman pisang (Musa paradisica L.), kopi (Coffea canephora L.), dan buncis (Phaseolus vulgaris L.).
  • – kehidupan migran dari Jawa telah membaik. Rata-rata migran telah memiliki rumah, lahan persawahan, dan kebun kopi di sekitar pekarangan rumah. Akan tetapi, keberhasilan migran kolonisasi di Rejang secara ekonomis tidak sama, juga antara satu desa migran dengan desa migran lainnya. Migran kolonisasi yang bertempat tinggal di desa kolonisasi Air Sempiang, hidupnya lebih makmur karena mereka dapat mencari kerja sampingan sebagai kuli di perkebunan.[14] Di samping itu, migran pun sudah memiliki sendiri kebun teh dan kopi di pekarangan rumahnya. Migran juga diuntungkan karena desa mereka tidak tergabung dalam pemerintahan marga. Dengan demikian, migran dari Jawa tidak perlu melakukan kerja wajib kepada marga dan membayar pajak pemerintahan marga[15] sehingga uang yang diperoleh dapat untuk digunakan membangun rumah yang bagus.
  • – kebun-kebun teh milik migran kolonisasi di desa Air Sempiang telah menghasilkan daun teh (Camellia folium L.) sebanyak 162,81 pikul, dan para migran bisa menjual dengan harga berkisar antara f. 0,36 sampai f. 0, 40/kati.

tahun 1916

  • – hasil panen padi bertambah dari 2.831 pikul
  • – saat saluran irigasi di Desa Air Sempiang dapat digunakan lagi
  • – migran kolonisasi yang ditempatkan di Desa Air Sempiang dan Talang Benih (Curup) sampai tahun 1916 masih banyak yang berladang padi.

tahun 1917

  • – jumlah migran Jawa di Curup adalah 197 orang. Rumah yang sudah dibangun berjumlah 53 buah dan luas sawah yang telah dibuka adalah 65 bau
  • – jumlah penduduk di tiga desa migran berjumlah 831 orang
  • – hasil panen padi sebanyak 8.207 pikul

tahun 1918

  • – desa Talang Benih (Curup) mendapat tambahan migran baru

tahun 1919

  • – jumlah penduduk di tiga desa migran menurun menjadi 799 orang, Penduduk desa migran kolonisasi berkurang, antara lain dapat disebabkan karena migran pindah ke desa lain, pulang ke Jawa, migran meninggal dunia, atapun karena angka kelahiran bayi yang rendah. Rendahnya angka kelahiran anak berkaitan dengan jumlah migran wanita lebih sedikit dibandingkan dengan migrant.
  • – Pengurangan penduduk terjadi di desa migran Air Sempiang dari 324 orang menjadi 277 orang
  • – jumlah penduduk bertambah desa Talang Benih (Curup) dari 191 orang menjadi 258 orang

tahun 1920

  • – luas persawahan bertambah menjadi 223 bau dengan hasil padi 7.350 pikul, tetapi hasil itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri

Tahun 1928

  • – Luas lahan tanaman tembakau di Marga Merigi dan Selupu Rejang pada mencapai 421 bau dan hasilnya dikirim ke Palembang.
  • – Sampai dengan tahun 1928, jumlah penduduk di Desa Migran Kolonisasi Air Sempiang, Permu, dan Talang Benih berjumlah 1.324 orang. Pertambahan penduduk terutama terjadi di Desa Talang Benih (Curup) dengan kedatangan migran baru dari Pulau Jawa. Pada saat itu kebanyakan migran sudah dapat menjual sebagian dari hasil panen, dan mereka mendapat hasil tambahan dari budi daya ikan emas (Carassius auratus L.), bertanam sayur, dan berkebun teh dan kopi.

tahun 1930

  • – di Rejang masih banyak petani yang berladang padi dengan luas ladang garapan sekitar 6.380,75 bau, jauh lebih besar dibandingkan persawahan yang digarap, yaitu seluas 1.596 bau, Lahan persawahan yang luas terutama terdapat di desa-desa kolonisasi, Durian Mas, Talang Benih, dan Permu. Sebagian lagi terdapat di desa kolonisasi Pelalo Baru, Air Sempiang, Pulau Geto, dan Belumai, dan beberapa desa penduduk asli, yaitu lahan persawahan Cawang (Kejalo), Dusun Curup, dan Pelalo.

tahun 1936

  • – Jumlah penduduk di desa Air Sempiang relatif stabil, yaitu 438 orang
  • – Jumlah penduduk di desa migran Permu berjumlah 867 orang
  • – tahun 1936 sampai tahun 1939 lahan pertanian di desa migran Permu dari tahun peningkatan dari 209 ha menjadi 262 ha.
  • – tahun 1936 sampai tahun 1939 Desa Air Sempiang tidak mendapat tambahan penduduk baru, sedangkan jumlah migran yang meninggalkan desa hanya 21 orang

tahun 1937

  • – Angka kematian yang tertinggi terjadi pada tahun 1937, yaitu 67 orang
  • – harga kopi turun, seperti yang terjadi pada bulan November 1937, banyak petani yang kekurangan uang untuk membayar pajak.
  • – Pada tahun 1937 dan 1938 petani sayur sudah dapat menggantikan kiriman sayur untuk daerah Jambi dan Palembang yang biasa didatangkan dari Jawa dan Sumatera Barat.

tahun 1938

  • – didirikan perkumpulan petani sayur yang bertujuan menyatukan petani sayur dan mencari pasar baru untuk memasarkan hasil sayur dari Rejang. Perkumpulan ini berdiri atas inisiatif Ajun Konsultan Pertanian Curup yang menyelenggarakan pertemuan petani sayur di Desa Air Sempiang. Hasil pertemuan itu adalah berdirinya perkumpulan petani sayur yang bernama “Mitra Sunda”. Perkumpulan “Mitra Sunda” mengatur masalah penanaman dan pemasaran hasil sayur para petani dan untuk mengatasi permasalahan yang muncul dalam masalah penanaman dan pemasaran mereka dapat berkonsultasi dengan Ajun Konsultan Pertanian yang berkedudukan di Curup. Akhirnya, melalui perkumpulan “Mitra Sunda” para petani migran Sunda mendapatkan jalan untuk memasarkan langsung hasil sayurnya ke Pagar Alam.
  • – pada awal tahun 1938 harga tembakau adalah f. 20/ kotak atau 400 lempeng dan kemudian pada bulan berikutnya harga terus menurun, maka banyak petani yang tidak menjual tembakaunya.
  • – penarikan pajak menjadi lebih sulit dilakukan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
  • – Talang Benih mendapat tambahan penduduk baru pada tahun 1938 dan 1939 sebanyak 134 orang

tahun 1939

  • – Oleh karena letak desa migran Air Sempiang di area perkebunan swasta maka perluasan lahan pertanian pun terbatas, yaitu dari 122 ha menjadi 138
  • – Jumlah penduduk di desa Air Sempiang menjadi 436 orang
  • – Desa migran Permu dalam waktu empat tahun mengalami penurunan jumlah penduduk menjadi 834 orang

Sampai dengan tahun 1940

  • – mata pencaharian migran yang pertama datang ke Bengkulu adalah bertani, bertanam kopi seperti yang dilakukan oleh orang Rejang dan sebagian dari mereka bertanam sayur

sumber : meretas kehidupan baru ditanah harapan bengkulu ; sejarah bengkul 1908-1944 oleh Dr.Lindayanti.M.Hum

 

Adat dan Upacara Perkawinan Suku Rejang

Filed under: Loker Kabupaten Rejang lebong — gogo @ 5:24 am

Adat dan Upacara Perkawinan Suku Rejang

Bagi suku Rejang perkawinan mempunyai beberapa tujuan. Tujuan suatu perkawinan adalah :

  • a. untuk mendapatkan teman hidup dan memperoleh keturunan, yang disebut Mesoa Kuat Temuun Juei;
  • b. untuk memenuhi kebutuhan biologis, hal dimaksudkan agar kaum muda dapat terhindar dari perbuatan tercela;
  • c. memperoleh status sosial ekonomi. Bagi suku Rejang bujang dan gadis belum merupakan orang kaya ( coa ade kayo ne) oleh karena itu mereka harus kawin, setelah kawin mereka akan bekerjasama untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan memupuk kekayaan bagi keluarga mereka sendiri.

Pengantin Rejang dari turunan bermani ix

Suku Rejang juga memiliki suatu pandangan mengenai perkawinan yang diinginkan (ideal). Perkawinan seperti ini kebanyakan diukur dari kondisi calon pengantin, baik laki maupun perempuan. Perempuan yang baik untuk menjadi isteri apabila dia memenuhi berbagai persyaratan, yang pada dasarnya menunjukkan perilaku yang baik dan pandai mengatur rumah tangga. Persyaratan-persyaratan tersebut antara lain adalah : baik tutur katanya; pandai mengatur halaman rumah dan bunga-bunga di pekarangan; pandai menyusun/mengatur kayu api (semulung putung); bagus bumbung airnya (lesat beluak bioa); dan mempunyai sifat pembersih.

Sedangkan bagi kaum laki-laki, syarat-syarat yang harus dipenuhi menunjukkan bahwa ia adalah orang yang berilmu-pengetahuan dan berketerampilan. Syarat-syarat bagi laki-laki tersebut antara lain adalah : banyak ilmu batin dan pandai bersilat; pandai menebas dan menebang kayu; pandai membuat alat senjata dan alat-alat untuk bekerja. Selain itu dalam adat suku Rejang juga diatur larangan untuk kawin bagi anggota suku tersebut. Secara adat, orang Rejang dilarang kawin dengan saudara dekat, sebaiknya perkawinan itu dilakukan dengan orang lain (mok tun luyen). Perkawinan dengan saudara dekat dianggap merupakan suatu perkawinan sumbang, yang mereka sebut Kimok (memalukan/menggelikan). Perkawinan dengan sesama famili disebut kawin Sepasuak dan perkawinan dengan saudara yang berasal dari moyang bersaudara (semining) disebut Mecuak Kulak. Perkawinan Sepasuak dan Mecuak Kulak ini merupakan perkawinan yang dilarang, namun demikian apabila tidak dapat dihindarkan maka mereka yang kawin didenda secara adat berupa hewan peliharaan atau uang, denda seperti ini disebut Mecuak Kobon. Jenis perkawinan lainnya yang dilarang secara adat adalah perkawinan antara seorang pria atau wanita dengan bekas isteri atau suami dari saudaranya sendiri, apabila saudaranya tersebut masih hidup. Bentuk-bentuk perkawinan dalam adat suku Rejang berhubungan erat dengan peristiwa atau kejadian sebelum perkawinan tersebut dilaksanakan. Bentuk-bentuk perkawinan tersebut adalah : a. Perkawinan biasa, yakni perkawinan antara pria dan wanita yang didahului dengan acara beasen (bermufakat) antara kedua belah pihak. b. Perkawinan sumbang, yakni perkawinan yang dianggap memalukan. Misalnya karena sang gadis telah berbuat hal-hal yang memalukan (komok) sehingga menimbulkan celaan dari masyarakat atau perkawinan yang dilakukan oleh sesama saudara dekat. c. Perkawinan ganti tikar (Mengebalau), yaitu perkawinan yang dilakukan oleh seorang laki yang isterinya telah meninggal dengan saudara perempuan isterinya, atau dengan perempuan yang berasal dari lingkungan keluarga isterinya yang telah meninggal tersebut.
Upacara perkawinan dalam adat suku rejang mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu upacara sebelum perkawinan, upacara pelaksanaan perkawinan dan upacara setelah perkawinan. Oleh sebab itu, perkawinan dalam suku Rejang terdiri dari :

a. Upacara sebelum perkawinan, yang terdiri dari :

  • 1) Meletak Uang, yaitu upacara pemberian uang atau barang emas yang dilakukan oleh kedua calon mempelai di rumah si gadis, dengan disaksikan oleh keluarga kedua belah pihak. Maksud upacara ini adalah memberi tanda ikatan bahwa bujang dan gadis tersebut sudah sepakat untuk menikah.
  • 2) Mengasen, yaitu meminang yang dilakukan di rumah keluarga si gadis.
  • 3) Jemejai atau Semakup Asen, yaitu upacara terakhir dalam peminangan yang merupakan pembulatan kemufakatan antara kedua belah pihak. Tujuan upacara ini adalah untuk : meresmikan atau mengumumkan kepada masyarakat bahwa bujang dan gadis tersebut telah bertunangan dan akan segera menikah; mengantar uang antaran (mas kawin), dan menyampaikan kepada Ketua Adat mengenai kedudukan kedua mempelai itu nantinya setelah menikah.

b. Upacara Pelaksanaan Perkawinan, terdiri dari : Upacara pelaksanaan perkawinan pada suku Rejang pada umumnya terdiri dari dua macam upacara, yaitu Mengikeak dan kemudian diikuti dengan Uleak. Mengikeak adalah upacara akad nikah dan upacara Uleak adalah pesta keramaian perkawinan. Pelaksanaan Mengikeak biasanya dilaksanakan di tempat pihak yang mengadakan Uleak, namun demikian berdasarkan permufakatan bisa saja mengikeak dilaksanakan di rumah mempelai pria dan Uleak dilaksanakan di rumah mempelai wanita. Dalam permufakatan adat hal seperti ini disebut : Mengikeak keme, uleak udi artinya menikah kami merayakannya kamu. c. Upacara Sesudah Perkawinan, terdiri dari : Pada zaman sekarang berbagai upacara sesudah pelaksanaan perkawinan tidak begitu diperhatikan lagi. Pada zaman dahulu setelah upacara perkawinan, dilakukan pula berbagai upacara yaitu :

  • 1) Mengembalikan alat-alat yang dipinjam dari anggota dan masyarakat dusun.
  • 2) Pengantin mandi-mandian, melambangkan mandi terakhir bagi kedua mempelai dalam statusnya sebagai bujang (jejaka) dan gadis.
  • 3) Doa selamat.
  • 4) Cemucu Bioa, yaitu berziarah ke makam-makam para leluhur.
  • d. Adat Menetap Sesudah Perkawinan.
Apabila akad nikah dan upacara perkawinan telah dilakukan, maka kedua mempelai itu telah terikat oleh norma adat yang berlaku. Kebebasan bergaul seperti pada masa bujang dan gadis hilang, dan berganti ke dalam ikatan keluarga di mana mereka bertempat tinggal. Status tempat tinggal (Duduk Letok) mereka ditentukan oleh hasil permufakatan yang telah diputuskan dalam upacara Asen. Bagi suku bangsa Rejang ada dua macam Asen, yakni Asen Beleket dan Asen Semendo. Asen Beleket artinya mempelai perempuan masuk ke dalam keluarga pihak laki-laki, baik tempat tinggalnya maupun sistem kekerabatannya. Asen Beleket dibedakan lagi dalam dua macam Asen, yaitu Leket Putus dan Leket Coa Putus (tidak putus). Pada Leket Putus, hubungan mempelai perempuan dengan pihak keluarganya diputuskan sama sekali. mempelai perempuan tersebut sepenuhnya menjadi hak keluarga pihak laki-laki. Apabila suaminya meninggal terlebih dahulu, maka perempuan tersebut tetap tinggal di lingkungan keluarga suaminya. Biasanya ia dinikahkan dengan saudara suaminya atau sanak saudara suaminya yang lain, tanpa membayar uang apa-apa dan ia tidak boleh menolak. Pada Leket Coa Putus hubungan mempelai perempuan dengan keluarganya tidak terputus sama sekali. Pada Asen Semendo terdapat banyak variasi. Pada mulanya Asen Semendo merupakan lawan atau kebalikan dari Asen Beleket, yakni :
  • 1) Semendo Nyep Coa Binggur (hilang tidak terbatas), mempelai laki-laki masuk dan menjadi hak pihak keluarga perempuan sepenuhnya.
  • 2) Semendo Nyep/Tunakep (menangkap burung sedang terbang), mempelai laki-laki dianggap oleh keluarga pihak perempuan sebagai seorang yang datang tidak membawa apa-apa. Jika terjadi perceraian atau laki-laki tersebut meninggal terlebih dahulu maka semua hak warisnya jatuh kepada isterinya.
  • 3) Semendo Sementoro/Benggen (berbatas waktu), mempelai laki-laki pada awal kehidupan berkeluarga harus tinggal dalam lingkungan keluarga pihak mempelai perempuan, setelah itu dia bersama isterinya dapat tinggal dalam lingkungan keluarga asalnya atau membentuk lingkungan keluarganya sendiri.
  • 4) Semendo Rajo-Rajo, yaitu apabila kedua mempelai berasal dari dua keluarga yang sama kuat atau sederajat. Kedudukan dan tempat tinggal kedua mempelai setelah perkawinan diserahkan sepenuhnya kepada kedua mempelai untuk memutuskannya.
 

ASAL BAHASA REJANG

Filed under: Loker Kabupaten Rejang lebong — gogo @ 5:21 am

ASAL BAHASA REJANG

SEMINAR BAHASA DAN HUKUM ADAT REJANG

ASAL BAHASA REJANG

Richard McGinn

Ohio University USA

0. Ringkasan

Di dalam tulisan ini, kami mengajukan tiga hipotesa yang secara logis tidak perlu diterima sekaligus atau sebagai gabungan. Ketiga-tiganya didasarkan atas perbandingan bahasa-bahasa, terutama perbandingan kosakata sehari-hari termasuk bentuk (struktur) perkataan.

1. Bahasa Rejang adalah anggota subkelompok besar “Austronesia” dan turun dari bahasa induk purba yang bernama Austronesia Purba.

2. Dialek-dialek Rejang adalah anggota subkelompok kecil di Sumatra yang turun dari bahasa induk purba yang kami namai bahasa Rejang Purba. Ternyata, dialek Rawas yang paling penting dalam upaya merekonstruksikan Rejang Purba. Selanjutnya bahasa Purba dipergunakan sebagai langkah pertama atau ‘menara berlampu’ untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih jauh ke masa lalu – misalnya untuk mengatahui tempat yang paling pertama diduduki oleh suku Rejang.

3. Bahasa Rejang (purba) adalah anggota subkelompok Bidayŭh dan turun dari bahasa induk yang kami namai Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba. Lagi pula, leluhur Rejang itu berasal dari sana, yaitu Kalimantan Utara.

Tiga hipotesa ini tidak sama penilaiannya. Misalnya, hipotesa yang pertama sudah sering dibenarkan oleh para akhli bahasa sejak 70 tahun belakang ini; dengan demikian kami kemukakannya sebagai latar belakang. Lain halnya dengan hipotesa kedua dan ketiga yang kami ajukan sebagai teori pribadi. Walau sudah diterbitkan dalam jurnal dan buku, haruslah diakui bahwa hipotesa kedua dan ketiga masih baru, dan belum banyak didiskusikan (apalagi dibenarkan dan dikonfirmasikan) oleh para akhli bahasa. Malah teori ketiga sudah memiliki pendukung (Zork 2006) dan pengritik (Adelaar 2007).

1. Hipotesa yang pertama

Bahasa dan suku Rejang adalah anggota kelompok besar bahasa-bahasa yang bernama “Austronesian”, yang terdiri dari lebih dari seribu duaratus bahasa, yang tersebar di Asia Tenggara dan pulau-pulau di Lautan Pasifik dengan penutur berjumlah ratusan juta orang (Dempwolff 1934-1938; Dahl 1976; Blust (MS, no date). Berikut adalah beberapa contoh kata sehari-hari yang merupakan bahan keterangan (data, fakta) untuk dimengerti dan ditafsirkan oleh hipotesa serupa rekonstruksinya bahasa Austronesia Purba.

Kata-kata Sehari-hari dalam Tujuh Bahasa Austronesia

Melayu Rukai Tagalog Bidayuh Rejang Samoan Malagasy

(Taiwan) (Filipina) (Kalimantan) Rawas (Pasifika) (Afrika)

Dua dosa da-lawa duŭ duei lua rua

Empat sepate apat umpĕt pat fi efatra

Lima lima lima rimŭ lemau lima dimi

Enam enem anim inŭm num ono ëninä

Ayam (aDaDame) manok manuk monok manu ??

Kutu koco kuto gutu guteu ?utu hao

Mata maca mata matŭh matei mata maso

Telinga calinga talinga (kaping) (ti’uk) talinga tadini

Ati aTay atay ati atui ate ati

Jalan dalan da?an jĕrĕn dalen ala ??

Niur (abare) niyog (buntĕn) niol niu ??

Ujan odale ulan ujĕn ujen ua uranä

Langit (sobelebeleng) langit rangit längät langi laniträ

Batu (lenege) bato batuh buteu fatu `fruit pit‘ vato

Makan kane ka?in ma?an ka?en ?ai hanä

Bahasa-bahasa di atas ini tersebar di hampir semua kepulauan Asia Tenggara dan Pasifik waktu sekarang, dari Taiwan (Rukai) hingga di Afrika (Malagasy) dan lautan Pasifik (Samoan). Ternyata, semua bahasa ini termasuk dalam satu kelompok bahasa, yaitu Austronesian. Prinsip dasar ilmu sejarah bahasa yang jelas digambarkan adalah: Evolusi fonologi sangat sistematis dan bertata dalam setiap dialek. (“Sound changes are regular”). Misalnya huruf ‘c’ dalam bahasa Rukai selalu menunjukkan ‘t’ atau ‘s’ atau nol dalam bahasa lain (lihat Kutu, Mata, Telinga) tanpa kecualian. Data seperti ini mustahil telah muncul hanya sebagai kebetulan saja, atau sebagai gara-gara kecampuran penduduk yang jauh sekali jarak antaranya pada waktu sekarang. Sebaliknya, para akhli bahasa menyatakan bahwa semua perkataan di atas itu diwariskan dari sebuah bahasa induk yang walaupun sudah lama mati sebagai bahasa sehari-hari, masih tetap hidup serupa bahasa keturunannya.

2. Di manakah Tempat yang paling Lama Diduduki oleh Suku Rejang?

Hipotesa 2: Dialek-dialek Rejang merupakan subkelompok terpencil di Sumatra yang turun dari bahasa induk purba yang kami namai Rejang Purba. Ternyata, dialek Rawas yang paling konservatif yaitu penting dalam upaya merekonstruksikan Rejang Purba. Selanjutnya bahasa Purba dipergunakan sebagai langkah pertama atau menara berlampu untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih jauh ke masa lalu–misalnya untuk mengatahui tempat yang paling pertama diduduki oleh suku Rejang.

Dalam seksi tulisan ini akan dibicarakan keunikan bahasa Rejang pada umumnya, kemudian sumbangan setiap dialek untuk merekonstrusikan bahasa Rejang Purba.

2.1 Keunikan Bahasa Rejang

Bahasa Rejang yang unik ini dapat dicirikan oleh beberapa macam unsur leksikon, tatabahasa dan fonologi.

  • PERBENDAHARAAN KATA YANG KAYA-RAYA
  • STRUKTUR KALIMAT YANG SUSAH DITERJEMAHKAN
    Rajo yo mebureu coa si awié lak nien.
  • SISIPAN -EM- DAN -EN-
    Inuk cemerito dongéng kelem. ~ Dongéng o cenerito inuk ku.
  • KETIDAKADAAN AKHIRAN
    Uku nelei nak Cu’up = Saya dibesarkan di Curup
  • DUA SERIAL NASAL (BUNYI SENGAU)
    jam“eu in“ok sing“eak janj“ei
    ‘jambu’ ‘ibu’ ‘singgah’ ‘janji’
  • TEKANAN PADA AKHIR PERKATAAN
    “Lalan Bélék” delafalkan LaLAN bĕLÉK (bukan LAlan BÉlék)
  • HARMONI VOKAL
    MPP Rejang MPP Rejang
    • *langit léngét *nyamuk nyomok
    • *Rakit ékét *tungked tokot
    • *balik bélék *ipen épén~äpän (Rawas)
    • *manuk monok *hiket ékét~äkät (“)
    • *sabung sobong *isep ésép~äsäp (“)
  • BANYAK SEKALI DIFTONG

MPP RP Pes Leb Musi Keban Rawas

1. *danaw *daniu daneu daneu danuo danea daniu

2. *qatay *atui atui atei atié ateé atui

3. *kahiw *kiiu kieu kieu kiuo kiea kiiu

4. *hapuy *upui upui opoi opoi opoi upui

5. *tinaqi *tenui tenui tenei tenié teneé tenui

    1. *sapu *supu supau supau supeu supeu supeu
    2. *talih *tili tilai tilai tilei tilei tilei
    3. *duha *dui duai duai duei dui duei
    4. *mata *mati matai matai matei matei matei
    5. *kena *kena keno keno keno keno kenau

Keunikan bahasa Rejang dan perbedaan dialek-dialeknya satu sama lain yang memungkinkan merekonstruksikan bahasa Rejang Purba sebagai suatu hipotesa. Sebaliknya bahasa Purba mengandung informasi tentang sejarah bahasa dan suku Rejang.

Yang muncul dengan jelas dari penelitian kami adalah: dialek Rawas dan Kebanagung yang paling penting dalam perekonstruksian bahasa Rejang Purba, sedangkan dialek Lebong, Pesisir dan Musi lebih bermanfaat untuk menunjukkan proses evolusi fonologi. Dengan kata lain, perekonstruksian bahasa purba Rejang tidak mungkin dengan hanya dialek Lebong, Musi dan Pesisir, sebab ketiganya sangat mirip dan perbedaannya sedikit sekali. Lain halnya dengan dialek Rawas dan Kebanagung yang sangat berbeda dengan dialek Rejang lain.

2.2 Sumbangan Dialek Kebanagung

Berikut adalah dua sumbangan dari dialek Kebanagung yang paling penting.

    1. H diwariskan dari Rejang Purba *r (yang hilang dalam dialek lain): hotos ‘ratus’; kehing ‘kering’; libeh ‘lebar’
    2. -i dalam dui, tui, bungi diwariskan dari *due, tue, bunge dalam bahasa Rejang-Bukar-Sadong Purba (yang menjadi diptong duey atau duay dalam dialek Rejang lain).

2.3 Sumbangan Dialek Rawas

Adalah tiga sumbangan dari dialek Rawas yang paling penting.

    1. Konson -l di akhir kata diwariskan dari Rejang Purba *-l, *-r.
    2. Diftong ui dan iu diwariskan dari Austronesia Purba *ui dan *iu tanpa perubahan
    sejak 6000 tahun.
    3. Vokal ä diwariskan dari Rejang Purba *ä yang bergabung dengan é dalam dialek lain.

2.3.1 MPP *-l, *-R dan Rawas -l

MPP *-l di akhir kata diwariskan dari Rejang Purba *-l, *-r yang hilang dari dialek lain, misalnya: niol ‘niur’; biol ‘air’; tenol ‘telur’ dalam Rawas tetapi menjadi nioa, bioa, tenoa dalam dialek lain.

Juga MPP *-R berubah menjadi RP *-l dan *-r dalam Bahasa Rejang Purba.

MPP RPur P&L Musi Keban Rawas Melayu

A *wahiR *biol bioa bioa bioa biol air

*niuR *niol nioa nioa nioa niol niur

*ikuR *ikol ikoa ikoa ikoa iko? (borr) ékor

*dapuR *dopol dopoa dopoa dopoa dopol dapur

*qateluR *tenol tenoa tenoa tenoa tenol telor

*tiduR *tidul tidua tidoa tiduh(borr) tidul tidur

*dengeR *tengol tengoa tengoa tengoa n.c. dengar

B *huluR *ulur ulua oloa uluh ulua ulur

*qapuR *upur upua opoa opoh upua kapur

*libeR *liber libea libea libeh libea lébar

*qiliR *ilir n.c. éléa ilih n.c. ilir

2.3.2 MPP, RP *iu dan *ui dan Rawas iu dan ui

Diftong MPP *uy dan *iw diwarisi kepada Rawas dan Rejang Purba Purba ui dan iu tanpa perubahan sejak 6000 tahun, sedangkan sudah berubalah dialek yang lain.

MPP RP Pes Leb Musi Keban Rawas

*kahiw *kiiu kieu kieu kiuo kiea kiiu

*hapuy *upui upui opoi opoi opoi upui

2.3.3 Rejang Purba dan Rawas *ä

Rejang Purba *ä menjadi é dalam setiap dialek kecuali Rawas.

    MPP RPurba Rawas Dialek lain Melayu
    *nahik *näk näk nék naik
    *paqit *pät pät pét pahit
    *ipen *äpän > äpän épén (gigi)
    *langit *längät > längät léngét langit

Oleh sebab adanya Rawas -l, ui, iu, ä; dan adanya Kebanagung dui, tui, bungi dan H, maka sebagian kecil sejarah bahasa Rejang tidak hilang.

Lain halnya dengan kecirikhasan fonologi dialek Lebong, Pesisir dan Musi, yang menunjukkan proses evolusi fonologi.

2.4 Kecirikhasan Fonologi Dialek Lebong

Pada umumnya, kecirikhasan Lebong menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.

    Lebong Rejang Purba Melayu
    1. ei sadei, atei *sadui, atui desa, ati
    2. eu piseu, daneu *pisiu, *daniu pisau, danau
    3. ai duai, isai *dui, *isi dua, isi
    4. au supau, butau *supu, *butu sapu, batu
    5. -ok anok, bapok *anak, *bapak anak, bapak
    6. u dute, luyen *dete, *leyen semua, lain
    7. oi poi, moi *pai, *mai padi, ke

2.5 Kecirikhasan Fonologi Dialek Pesisir

Juga kecirikhasan Pesisir cenderung menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.

    Pesisir Arga Makmur Rejang Purba Melayu
    1. ui sadui, atui *sadui, *atui desa, ati
    2. eu piseu, daneu *pisiu, *daniu pisau, danau
    3. ai duai, isai *dui, *isi dua, isi
    4. au supau, butau *supu, *butu sapu, batu

2.6 Kecirikhasan Fonologi Dialek Musi

Juga kecirikhasan Musi cenderung menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.

    Musi Rejang Purba Melayu
    1. ié sadié, atié *sadui, *atui desa, ati
    2. uo pisuo, danuo *pisiu, *daniu pisau, danau
    3. ei duei, isei *dui, *isi dua, isi
    4. eu supeu, buteu *supu, *butu sapu, batu
    5. -éak lebéak, putéak *lebi?, *puti? lebih, putih
    6. -oak poloak, penoak *pulu?, *penu? puluh, penuh

2.7 Sumbangan Lebong, Pesisir dan Musi kepada Rejang Purba

Kebetulan ada juga unsur dialek Lebong, Pesisir dan Musi yang menunjukkan Rejang Purba, dan sebaliknya, ada unsur dialek Rawas yang menunjukkan perkembangan baru dan bukan Rejang Purba. Berikutlah ada dua contoh yang menarik dan penting.

1. -iak dan -uak dalam Pesisir dan Lebong diwariskan dari RP *-i? dan *-u? yang berubah lebih lanjut dalam Rawas; misalnya dalam Rawas RP *puti? menjadi putäh dan *pulu? menjadi poloh.

2. Serial kata ganti dalam Pesisir, Lebong, Musi dan Kebanagung, yaitu uku, kumu, ko, nu, udi, si, diwariskan langsung dari Rejang Purba, sedangkan serial itu sudah berubah dalam Rawas menjadi: keu, kumeu, kaben, kaben, kaben, sei.

2.8 Kesimpulan tentang Sumbangan setiap Dialek

Rawas dan Kebanagung berfungsi sebagi “dialek kriterion” dalam usaha reconstruksi Rejang Pruba. Sebab kebanyakan kecirikhasannya menunjukkan kepada unsur-unsur bahasa Rejang Purba. Sedangkan dialek lainnya (Lebong, Pesisir dan Musi) berfungsi sebagai “dialek ujian” untuk membenarkan Rejang Purba; kebanyakan kecirikhasannya menunjukkan perkembangan-perkembangan baru.

Akhir katanya, sumbangan setiap dialek sama pentingnya tetapi tidak sama gunanya

2.9 Di manakah Tempat yang paling Lama Diduduki oleh Suku Rejang?

Dengan adanya bahasa Rejang Purba, muncullah pertanyaan dengan jawabannya juga. Pertanyaannya adalah: di mana tempat nenek-moyang pada waktu mereka masih berbicara dengan bahasa Rejang Purba? Artinya, dari mana titik tolaknya waktu mereka mulai menyebar ke seluruh tanah Rejang?

Jawabannya yaitu: mengikuti prinsip akhli bahasa Blust (1991b) dan Ross (1991), umumnya dialek para perantau cenderung berkembang cepat sedang dialek orang yang tinggal cenderung berkembang lebih lambat (konservatif). Malah Ross (1991) menambahkan pengaruh psikologi: para perantau cenderung toleran terhadap “kesalahan” (perubahan bahasa) yang selalu akan muncul dari mulut anak-anak, sedang orang yang tinggal tidak setoleran “kesalahan” itu. Prinsip ini pasti menunjukkan Rawas sebagai tempat pertama nenek moyang waktu mereka masih berbahasa dengan Rejang Purba.

2.10 Terletak Geografi

Akhirnya, hipotesa tentang Rejang Rawas sebagai tempat Rejang Purba cocok dengan letak geografi di Sumatra.

Tanah Rawas terletak di hulu Sungai Rawas yang sudah lama menjadi jalan untuk memasuki pedalaman hampir sampai di puncak Bukit Barisan. Dari sana orang bisa berjalan kaki ke Lebong dengan tidak susah-payah, mengikuti jalan gajah. Sebaliknya Sungai Rawas mengalir jauh sekali ke laut sampai di Pulau Bangka tanpa halangan berupa air terjun. Artnya mudah sekali naik perahu ke Rawas dan tidak terlalu sulit berjalan kaki ke Lebong.

Kesimpulan: Cukup banyak fakta yang menunjukkan Rawas sebagai dialek yang paling unik dan konservatif, dan tempatnya sebagai tempat yang paling lama dihuni orang Rejang. Walaupun demikian, hipotesa kedua sangat terbatas dan belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan lain seperti: Dari mana datangnya pelopor pertama, leluhur Rejang Purba, sebelum mereka pergi merantau sampai di tanah Rejang? Apakah mereka datang dari arah timur melalui Sungai Musi, ataukah dari arah lain seperti misalnya barat-laut dari daerah Jambi dan Minangkabau sekarang? Ataukah mungkin dari pantai barat konon melalui Sungai Ketaun sampai ke tanah Pesisir dan Lebong sekarang? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlulah kita pindahkan perhatian kepada hipotesa baru, yaitu hipotesa ketiga dalam tulisan ini.

3. Hipotesa Ketiga: Asal Bahasa Rejang

Hipotesa ketiga tergantung total atas adanya bahasa Rejang Purba sebagai langkah pertama atau menara lampu untuk dapat melihat lebih jauh ke masa lalu. Jadi tujuan penelitian kini adalah untuk mencari bahasa Austronesia lain yang sedemikian sama dengan Rejang Purba sehingga dapat dinyatakan mereka adalah anggota sebuah subkelompok (sekelompok kecilan). Kalau benar ditemukan subkelompok bahasa seperti itu dalam dunia bahasa di Asia Tenggara, maka sangat mungkinlah kesimpulan bahwa suku Rejang berasal dari sana.

Hipotesa Ketiga: Bahasa Rejang (purba) adalah anggota subkelompok Bidayŭh (Land Dayak) dan turun dari bahasa induk yang kami namai Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba. Lagi pula, leluhur Rejang itu berasal dari sana atau sekitarnya, yaitu Kalimantan Utara, di bagian selatan dari kota Kuching sekarang (daerah 2 dalam peta). Ada juga Sungai Rejang dekat situ.

Tujuan seksi tulisan ini untuk membenarkan hipotesa keanggotaan bahasa Rejang dan bahasa Bukar-Sadong dalam sebuah subkelompok yang dinamai Rejang-Bukar-Sadong Purba. Hipotesa didasarkan atas 12 perkembangan bersama fonologi, dan 9 kesamaan tatabahasa.

3.1 Prinsip

Kemunculan bersama dari perkembangan-perkembangan fonologi yang menentukan keanggotaan dua bahasa dalam satu subkelompok.

Hasil penelitian kami baik di Sumatra maupun di Kalimantan Utara menunjukkan sebuah bahasa di Sarawak, Malasia, sebagai bahasa yang paling dekat dengan Rejang Purba. Meskipun demikian, harus diakui bahwa “paling dekat” tidak berarti “dekat”. Kedua bahasa itu sangat berbeda, tetapi banyak kesamaan juga. Maka hipotesa keanggotaan kedua bahasa itu merupakan suatu hipotesa saja yang baru kami ajukan sejak tahun 2003 dalam jurnal dan buku.

Nama bahasa di Kalimantan itu adalah bahasa Bukar-Sadong Bidayŭh. Nama itu mencirikan penuturnya sebagai penduduk tanah pertanian terletak di pegunungan antara Sungai Bukar dan Sungai Sadong; dan nama Bidayŭh itu menunjukkan keanggotaan mereka dalam sebuah subkelompok besar dengan anggotanya sejumlah 20 bahasa lebih. Rupanya ke-20 bahasa Bidayŭh itu berbeda sekali dengan satu sama lain, sehingga tidak saling dimengerti oleh penuturnya masing-masing.

Kedua bahasa purba itu jelas keturunan dari bahasa Melayu-Polynesia Purba (MPP).

Berikut adalah perkembangan bersama dan kesamaan lain antara bahasa Rejang Purba dan Bahasa Bukar-Sadong Purba.

3.2 Kesamaan Fonologi 1-6

Baik Rejang Purba maupun Bukar-Sadong Purba memperlihatkan perkembangan fonologi bersama dari Melayu-Polinesia Purba (MPP).

    MPP
    1. *-mb-, *-nd-, *-ngg-, *-nj- > -m“-, -n“-, ng“, nj“ (`barred nasals’)
    Rejang Rawas: em“un tan“e ping“an minj“em
    Bukar-Sadong: am“um tan“ŭ ping“an minj“em
    ‘awan’ ‘tanda’ ‘piring’ ‘meminjam’
    2. *-m, *-n, -ng > –bm, –dn, –gng (‘pre-stopped nasals’)
    Di akhir kata, bunyi sengau biasa sering dilafalkan dengan tambahan konsonan hambat.
    • Rejang: dolobm, buledn, burugng, minj“ebm
    • Bukar-Sadong: jarubm, burĕdn, bŭrŭgng, minj“ebm
    • `bundar’
    3. *qa- hilang dalam tiga-sukukata
    • MPP: *qapeju *qalimetaq *qateluR
    • Rejang: pegeu liteak tenol
    • Bukar-Sadong: puduh matak tolok
    • ‘empeduh’ ‘lintah’ ‘telur’
    4. *-Ce- dan *-eC- hilang dalam tiga-sukukata
    • MPP: *binehi *baqeRu *palaqepaq
    • Rejang Lebong: biniak belau pelepak
    • Bukar-Sadong: bénék bauh kilepak
    • ‘benih’ ‘baru’ ‘pelapah’
    5. *-q > *-k [-?]
    • MPP *taneq *jibaq *hasaq
    • Rejang Lebong: taneak jibeak aseak
    • Bukar Sadong: tanak abak asak
    6. *z > *j (kec. Rej. d- dalam `dalen’ dan `dolom’)
    • MPP: *quzan *pinzem *tuzuq
    • Rej Lebong: ujen minj“em tujuak
    • Buk-Sad: ujĕn minj“em ijuk

3.3 Kesamaan Fonologi KE-7: Perkembangan MPP Diftong *aw dan *ay

Dalam kedua diftong *ay dan *aw MPP itu, vokalnya *-a- berkembang menjadi *-e- dalam Bahasa Rejang-Bukar-Sadong Purba (yang mirip Rejang Lebong sekarang).

    MPP Rej-Buk-Sad Rejang Pur Buk-Sad Purba
    Purba &Rawas & Tibakang
    *danaw *daneu daniu danu
    *punay *punei punui puni
    *qatey *atei atui ati

3.4 Kesamaan fonologi KE-8: MPP *uy tidak berubah dan diwariskan sebagai ui

    MPP Rej-Buk-Sad Rejang Purba Buk-Sad Purba
    Purba &Rawas & Tibakang
    *hapuy *apui upui apui
    *kahiw *kaiu kiiu kayu

3.5 Kesamaan Fonologi 9-10: Perkembangan MPP *-a di akhir kata

Antara banyaknya evolusi MPP *a dalam sejarah bahasa Rejang termasuk dua perkembangan yang paling penting untuk hipotesa kami. MPP *a naik menjadi *e dalam pola perkataan KVKaK dan KVKa nampaknya bersama dalam sejarah bahasa Rejang dan Bukar-Sadong. Kedua perubahan ini terdapat sebelum tekanan menggeser ke akhir kata, yaitu sewaktu vokal *a itu tak ditekankan.

3.5.1 Kesamaan Fonologi 9: Perkembangan Bersama yang paling Penting

Dalam pola KVKaK (silabel akhir kata tertutup), MPP *-a berubah menjadi /e/ = /ĕ/ kecuali konsonan terakhir adalah [+velar] (ka-ga-nga-qa). Perubahan yang unik ini terdapat dalam semua dialek Rejang dan Bukar-Sadong.

    MPP Keban- Tibakang Melayu
    agung (Sarawak)
    A. *bulan bule:n burĕ:tn bu:lan
    *quzan uje:n ujĕ:tn u:jan
    *surat suhe:t surĕ:t su:rat
    B. *anak ana:k ana:k a:nak
    *hisang isa:ng insa:kng i:sang
    *hasaq asa:h ng-asa:? a:sah

3.5.2 Kesamaan Fonologi Ke-10

    Dalam pola KVKa (silabel akhir kata terbuka), MPP *-a berubah menjadi /e/. Perubahan ini terdengar dalam puluhan bahasa di Nusantara termasuk semua dialek Rejang dan Bukar-Sadong. Tetapi ada keunikan juga, sebab antara puluhan bahasa itu, hanya Rejang dan Bukar-Sadong mempunyai tekanan pada vokal yang bersangkutan. Logisnya, perubahan *a > e adalah unsur evolusi lama dalam Rejang dan Bukar-Sadong. Lain halnya dalam puluhan bahasa lain itu, di mana *a > e telah muncul sebagai pinjaman dari bahasa Sanskerta dan Jawa di zaman Majapahit . (Tadmor 2003)
    MPP Rejang Buk-Sad Tibakang Melayu
    Purba Purba
    *mata *ma:te *ma:te bate:h mata
    *nanga *na:nge *na:nge nange:h muara
    *lima *li:me *ri:me rime:h lima
    *duha *du:e *du:e due:h dua
    *ni?a *ni:?e *ni:?e ni?e:h nya

3.5.3 Rangkuman Kesamaan Perkembangan 9-10 secara Formal

*a > *e / V:C__(C[-velar])#

Rej-BS Purba > perkemgangan Kebanagung Melayu

*ki:ta > kite > ite kita

*du:ha > *du:e > dui: > dui dua

*ma:ta > *ma:te > *mati: > matei mata

*bu:lat > *bu:let > bule:t bulet bundar

*a:nak > *anak anak anak

3.5.4 Kesamaan ke-11 – Tekanan Menggeser ke Akhir Kata

Tekanan di akhir kata juga muncul bersama dalam Rejang Purba dan Bukar-Sadong Purba.

Dalam hipotésa kami, sesudah perkembangan tekanan itu, berpisahlah suku Rejang dan mulailah mereka hidup sendirian. Kemudian mereka masih tinggal di Kalimantan selama 1000 tahun baru migrasi ke Sumatra.

3.6 Tiga Macam Kesamaan Tatabahasa

Selain kesamaan evolusi fonologi, ada juga beberapa kesamaan tata bahasa yang mungkin juga menunjukkan bahasa Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba.

    1. Awalan hilang
    2. Kasus kataganti hilang
    3. Beberapa kata-berfungsi yang sepadan

Arti Tibakang RejPurba Melayu

Masa lalu embeh *mi~bik~bi sudah

Masa depan kelék *kelak hendak

Bentuk perintah boh, mah *bah~ba lah

`Berapa?’ kudu *kedu berapa

`Di’ ang *tang di

`Mana?’ api *ipe mana

‘Yang’ de *di~do yang

3.7 Kesimpulan: Suku Rejang Berasal dari Kalimantan Utara

Kesimpulan kami dapat digambarkan dalam bentuk pohon bercabang yang mewakili hipotesa ketiga tentang asalnya suku Rejang.

Hipotesa Subkelompok Rejang dan Bukar-Sadong

Bahasa Rejang-Bidayŭh Purba 3500 tyl di Kalimantan Utara

Rejang-Bukar-Sadong Purba (3000 tyl) Biatah Milikin Grogo Singgai Lara’ Lunde

*a > e / V:C__(C[-velar])#

pra-Rejang pra-Bukar-Sadong

(migrasi ke Sumatra 1200 tyl)

Rejang Purba (1000 tyl) Bukar-Sadong Purba (1000 tyl)

Menurut hipotesa, nenek moyang suku Rejang keturunan dari suku Rejang-Biday«h yang berada di Kalimantan Utara antara 3500-3000 tahun yang lalu. Kemudian bahasa Rejang-Bukar-Sadong berpisah menjadi Rejang dan Bukar-Sadong, dan sesudah itu, suku Rejang hidup sendirian di Kalimantan Utara selama 1000 tahun lebih. Kemudian entah mengapa suku Rejang migrasi ke Sumatra kira-kira 1200 tahun yang lalu.

Dalam perjalannya yang jaraknya kurang dari 600 kilometer, mereka naik perahu menyeberangi lautan melalui selat Bangka dan masuk Sungai Musi lalu menyusurinya hingga mencapai muara Rawas. Di sana sungai itu bercabang. Ada separuh dari imigran tersebut meneruskan perjalanannya menyusuri sungai Musi terus melewati Bukit Dempo sampai menemukan lahan yang bagus di daerah Kebanagung sekarang. Yang separuh lagi belok ke kanan dan menyusuri sungai Rawas hingga ke bagian yang paling hulu. Di hulu Rawas terdapat lahan yang baik untuk pertanian dan juga bermanfaat. Dari sana para imigran berjalan ke Lebong tanpa bersusah-payah melalui jalan gajah. Dengan demikian, para pendiri Rejang dapat mencapai Lebong yang sangat indah dan subur itu. Seiring dengan waktu, kemudian dari Lebong ada sekelompok pelopor yang membuka lahan baru sampai ke Pesisir dan daerah Gunung Kaba di sekitar Curup sekarang.

Konon nenek-moyang Rejang tersebut tidak menemukan penduduk lainnya di Sumatra. Namun, tidak lama kemudian para pelopor Rejang ini disusul oleh pelopor Melayu yang cukup puas menduduki dataran rendah sehingga saat ini mereka menempati dataran rendah, sedangkan orang Rejang menduduki dataran tinggi.
              • Seminar Bahasa dan Budaya Rejang
              • STAIN Curup
              • 17 November 2007

PUSTAKA ACUAN

A. Pustaka tentang Bahasa Rejang oleh Richard McGinn

2009 (akan datang) Out-of-Borneo Subgrouping Hypothesis for Rejang: Re-weighing the

Evidence. In Festschrift, ed. by K. Alexander Adelaar. Canberra: Australian

National University.

2008a (akan datang, dengan Dr. Zainubi Arbi). Serial Buku Bacaan Bahasa Rejang untuk

Kanak-kanak. (Lima dialek x dua judul = sepuluh buku.) Akan diterbitkan oleh

pemerintah.

2008b (akan datang) Indirect Licensing at the Interface of Syntax and Semantics in Rejang.

Proceedings of the 16th Meeting of the Southeast Asian Linguistics Society, ed. by Uri

Tadmor. Jakarta: Universitas Atma Jaya.

2005. What the Rawas Dialect Reveals About the Linguistic History of Rejang. Oceanic

Linguistics 44.1:12-64.

2003. Raising of PMP *a in Bukar-Sadong Land Dayak and Rejang. In Issues in Austronesian

Historical Phonology, ed. by John Lynch. Canberra: Australian National University .

Pacific Linguistics Series C, pp. 37-64.

2000. Where Did the Rejangs Come From? In Marlys Macken (ed.), Proceedings of the Tenth

Annual Conference of the Southeast Asia Linguistics Society, University of Arizona.

1999. The Position of the Rejang Language of Sumatra in Relation to Malay and the ‘Ablaut’

Languages of Northwest Borneo. In Elizabeth Zeitoun and Paul Jen-kuei Li (eds.),

Selected Papers from the Eighth International Conference on Austronesian Linguistics.

Taipei: Academia Sinica Institute of Linguistics, pp. 205-226.

1998. Anti-ECP Effects in the Rejang Language of Sumatra. Canadian Journal of Linguistics

43(3/4):359-376.

1997 Some Irregular Reflexes of Proto-Malayo-Polynesian Vowels in the Rejang Language of

Sumatra. Diachronica XIV.1:67-108.

1991 Pronouns, Politeness and Hierarchy in Malay. In Robert Blust (ed.), Currents in Pacific

Linguistics: Festschrift in Honor of George W. Grace. Canberra, Australian National

University: Pacific Linguistics C-117, pp. 197-221.

1989 The Animacy Hierarchy and Western Austronesian Languages. The Ohio State University: ESCOL ’89, pp. 207-217.

1985 A Principle of Text Coherence in Indonesian Languages, Journal of Asian Studies

XLIV.4:743-753.

1982a Outline of Rejang Syntax. Jakarta: Series NUSA, Linguistic Studies in Indonesian and

Languages of Indonesia.

1982b On the So-Called Implosive Nasals of Rejang (with James Coady). In Reiner Carle (ed),

Gava` 17: Studies in Austronesian Languages and Cultures: Festschrift for Hans Kähler.

pp. 437-449.

B. Penelitian Masih Belum Selesai

    The Musi Dialect of Rejang: Phonology and Morphology. (monograph, akan diterbitkan
    oleh jurnal Lingua, Departemen Linguistik dan Pendidikan Bahasa, Pasca Sarjana,
    Universitas Sriwijaya, Palembang)
    (dengan teman sepengarang Dr. Zainubi Arbi)
    Percakapan Dengan Petani-Petani Rejang Pada Tahun 1974. (artikel)
    Rejang Teks dalam Lima Dialek Rejang. (monograph)

C. Pustaka Acuan lain tentang

Bahasa dan Budaya Rejang

Aichele, W. 1935, 1984. A fragmentary sketch of the Rejang language. Reprinted in Jaspan

(1984), pp. 145-158.

Blust, Robert A. 1984. On the history of the Rejang vowels and diphthongs. Bijdragen tot

de Taal-, Land- en Volkenkunde 140:422-450.

Galizia, Michele. 1992. Myth does not exist apart from discourse, or, The story of a myth that

became history. In Victor T. King, ed. The Rejang of southern Sumatra. Hull, England:

University of Hull Centre For South-East Asian Studies, pp. 3-29.

Hazairin. De Redjang. 1936. De volksordening, het verwantschaps-,huweliijks- en erfrecht.

Batavia doctoral thesis (unpublished). 242pp. With map. Bandoeng.

Helfrich, O. L. Uit de folklore van Zuid-Sumatra. BKI 83(1927), pp. 193-315. (Rejang texts pp.

244-248 w/translation pp. 308-315).

Holle, van K. F. n.d. Rejdangische Woordenlijst door den controleur SWAAB in het archief te

Kepahiang aangetroffen, door een onbekende bewerkt naar de blanco-woordenlijst,

36pp.

Hosein, H. M. 1971 ms. Edited by Abdullah Sani. Rejang asal-usul. 58 pp. (stenciled)

Hosein, H. M. 1971 Ms, edited by Abdullah Sani. Rejang asal-usul. 58pp. (stencilled)

Jaspan, Mervyn A. 1964. Folk literature of South Sumatra: Rejang Ka-Ga-Nga texts. Canberra:

The Australian National University.

_____. 1984. Materials for a Redjang-Indonesian-English dictionary, ed. by P. Voorhoeve.

Canberra: Pacific Linguistics Series D, No. 58.

Marsden, William. 1783, 1811. History of Sumatra. London. Reprinted 1966. Kuala Lumpur:

Oxford University Press. (includes a Rejang wordlist and Ka-Ga-Nga script)

Rees, W. A. Van. 1860. De Annexatie Der Redjang eene Vredelievende Militaire Expeditie.

Rotterdam: Nijgh. 119pp. (Contains description of the Rejang and Besemah people

occupying the region between Bengkulu and Palembang.)

Saleh, Yuslisal. 1988. System Morphologi Verba Bahasa Rejang. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

Sani, Abdullah. Ms. (n.d. ca. 1975) Petweak lem serambeak. 4pp. (stencilled)

Siddik, Abdullah. 1980. Hukum Adat Rejang. Jakarta: Balai Pustaka.

Syahrul Naspin et. al. 1980/81. Morfologi dan sintaksis bahasa Rejang. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

Sya’rani, Atika. 1980. Kata kerja bahasa Rejang. Laporan penelitian. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan. 97pp (stencilled)

_______. 1981/2. Sistem perulangan kata dalam bahasa Rejang. Laporan penelitian. Jakarta:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 97pp (stencilled)

Voorhoeve, P. 1955. Critical survey of studies on the languages of Sumatra. ‘S-Gravenhage:

Martinus Nijhoff.

. 1984. Preface and Postscript to Jaspan (1984).

P. Wink, De onderafdeeling Lais in de Residentie Bengkoeloe. VBG 66/2 (1926),

pp. 111-124: Maleisch-Rejangsche woordenlijst, Lais.

Wuisman, J.J.J.M. 1984. The Rejang and the field of ethnological study concept (Comments

by William D. Wilder). Unity in Diversity: Indonesia as a Field of Ethnological Study. VKI

103, pp. xzxz.

D. Pustaka Acuan Ilmu Bahasa

Adelaar, K. Alexander, 1992, Proto Malayic: A reconstruction of its phonology and part of its

morphology and lexicon. Canberra: Pacific Linguistics C-119.

__________. 2007. Review of John Lynch, ed., Issues in Austronesian historical phonology.

Canberra: Pacific Linguistics 550. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde

163/1:139-146.

Asmah Haji Omar. 1983. The Malay Peoples Of Malaysia and their Languages. Kuala

Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

__________. 1992. An overview of linguistic research on Sarawak. In Martin, Peter W., ed.,

Shifting patterns of language use in Borneo. Williamsburg, VA: The Borneo Research

Council Proceedings Series Vol. Three.

Bellwood, Peter. 1997. Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago. Honolulu: University of

Hawaii Press.

Blust, Robert A. 2006. The origin of the Kelabit voiced aspirates: A historical hypothesis

revisited. Oceanic linguistics 45.2: 311-338.

__________. 1991a (ed). Currents in Pacific Linguistics: Papers in honor of George W. Grace.

Pacific Linguistics Series C, No. 17. Canberra.

__________. 1991b. Sound change and migration distance. In Blust (ed.), pp. 27-42.

__________. (Ms., no date) Austronesian comparative dictionary. Electronic manuscript.

Clark, Ross. 1987. Austronesian Languages. In Bernard Comrie, ed., The World’s Major

Languages. New York: Oxford University Press.

Collins, James T, ed. 1990. Language and oral traditions in Borneo. Selected Papers from the

first extraordinary conference of the Borneo Research Council, Kuching, Sarawak,

Malaysia August 4-9. Williamsburg, VA: The Borneo Research Council Proceedings

Series Vol. Two.

Court, Christopher, 1967. Some Areal features of Měntu Land Dayak. Oceanic Linguistics VI:

46-50.

Dahl, Otto Christian. 1976. Proto-Austronesian (2nd Edition). Scandinavian Institute of Asian

Studies monograph series, No. 15. Lund.

Dempwolff, Otto. 1934-1938. Vergleichende Lautlehre des Austronesischen Wortschatzes.

Berlin: Dietrich Reimer Verlag.

Diamond, Jared and Peter Bellwood. Farmers and their languages: The first expansions.

Science vol. 300, April 24, 2003.

Hudson, A.B. 1978. Linguistic relations among Bornean peoples with special reference to

Sarawak: an interim report. In Sarawak: Linguistics and Development Problems.

Williamsburg, VA: Studies in Third World Societies No. 3, pp. 1-45.

Kroeger, Paul R., 1994 Ms. The dialects of Biatah. Borneo Research Council, 3rd Biennial

Meeting, 10-14 July, 1994.

Ray, Sidney H., 1913, The languages of Borneo. The Sarawak Museum Journal 1(4):1-196.

Ross, Malcom D. 1991. How Conservative are Sedentary Languages? Evidence from

Western Melanesia. In Blust (ed.).

__________. 1998. Language classification in Sarawak: a status report. The Sarawak

Museum Journal LIII 74:137-173.

Scott, N.C., 1964, Nasal consonants in Land Dayak (Bukar-Sadong). In David Abercrombie et.

al. eds., In honour of Daniel Jones. London: Longmans, pp. 432-436.

Tadmor, Uri. 2003. Final /a/ mutation: a borrowed feature in Western Austronesia. In John

Lynch, ed., Issues In Austronesian Historical Phonology. Canberra: Pacific Linguistics

550, pp. 15-36.

Topping, Donald M. 1990. A dialect survey of the Land Dayaks of Sarawak. In James T. Collins,

ed., 247-274.

Voorhoeve, P. 1955. Critical survey of studies on the languages of Sumatra. Martinus Nijhof:

‘S Gravenhage.

Zorc, David. 2006. Review of John Lynch, ed., Issues in Austronesian historical phonology.

Canberra: Pacific Linguistics 550. In Oceanic linguistics 45.2: 505-516. http://209.85.175.104/search?q=cache:53fHi4jN-hEJ:oak.cats.ohiou.edu/~mcginn

ASAL BAHASA REJANG

SEMINAR BAHASA DAN HUKUM ADAT REJANG

ASAL BAHASA REJANG

Richard McGinn

Ohio University USA

0. Ringkasan

Di dalam tulisan ini, kami mengajukan tiga hipotesa yang secara logis tidak perlu diterima sekaligus atau sebagai gabungan. Ketiga-tiganya didasarkan atas perbandingan bahasa-bahasa, terutama perbandingan kosakata sehari-hari termasuk bentuk (struktur) perkataan.

1. Bahasa Rejang adalah anggota subkelompok besar “Austronesia” dan turun dari bahasa induk purba yang bernama Austronesia Purba.

2. Dialek-dialek Rejang adalah anggota subkelompok kecil di Sumatra yang turun dari bahasa induk purba yang kami namai bahasa Rejang Purba. Ternyata, dialek Rawas yang paling penting dalam upaya merekonstruksikan Rejang Purba. Selanjutnya bahasa Purba dipergunakan sebagai langkah pertama atau ‘menara berlampu’ untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih jauh ke masa lalu – misalnya untuk mengatahui tempat yang paling pertama diduduki oleh suku Rejang.

3. Bahasa Rejang (purba) adalah anggota subkelompok Bidayŭh dan turun dari bahasa induk yang kami namai Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba. Lagi pula, leluhur Rejang itu berasal dari sana, yaitu Kalimantan Utara.

Tiga hipotesa ini tidak sama penilaiannya. Misalnya, hipotesa yang pertama sudah sering dibenarkan oleh para akhli bahasa sejak 70 tahun belakang ini; dengan demikian kami kemukakannya sebagai latar belakang. Lain halnya dengan hipotesa kedua dan ketiga yang kami ajukan sebagai teori pribadi. Walau sudah diterbitkan dalam jurnal dan buku, haruslah diakui bahwa hipotesa kedua dan ketiga masih baru, dan belum banyak didiskusikan (apalagi dibenarkan dan dikonfirmasikan) oleh para akhli bahasa. Malah teori ketiga sudah memiliki pendukung (Zork 2006) dan pengritik (Adelaar 2007).

1. Hipotesa yang pertama

Bahasa dan suku Rejang adalah anggota kelompok besar bahasa-bahasa yang bernama “Austronesian”, yang terdiri dari lebih dari seribu duaratus bahasa, yang tersebar di Asia Tenggara dan pulau-pulau di Lautan Pasifik dengan penutur berjumlah ratusan juta orang (Dempwolff 1934-1938; Dahl 1976; Blust (MS, no date). Berikut adalah beberapa contoh kata sehari-hari yang merupakan bahan keterangan (data, fakta) untuk dimengerti dan ditafsirkan oleh hipotesa serupa rekonstruksinya bahasa Austronesia Purba.

Kata-kata Sehari-hari dalam Tujuh Bahasa Austronesia

Melayu Rukai Tagalog Bidayuh Rejang Samoan Malagasy

(Taiwan) (Filipina) (Kalimantan) Rawas (Pasifika) (Afrika)

Dua dosa da-lawa duŭ duei lua rua

Empat sepate apat umpĕt pat fi efatra

Lima lima lima rimŭ lemau lima dimi

Enam enem anim inŭm num ono ëninä

Ayam (aDaDame) manok manuk monok manu ??

Kutu koco kuto gutu guteu ?utu hao

Mata maca mata matŭh matei mata maso

Telinga calinga talinga (kaping) (ti’uk) talinga tadini

Ati aTay atay ati atui ate ati

Jalan dalan da?an jĕrĕn dalen ala ??

Niur (abare) niyog (buntĕn) niol niu ??

Ujan odale ulan ujĕn ujen ua uranä

Langit (sobelebeleng) langit rangit längät langi laniträ

Batu (lenege) bato batuh buteu fatu `fruit pit‘ vato

Makan kane ka?in ma?an ka?en ?ai hanä

Bahasa-bahasa di atas ini tersebar di hampir semua kepulauan Asia Tenggara dan Pasifik waktu sekarang, dari Taiwan (Rukai) hingga di Afrika (Malagasy) dan lautan Pasifik (Samoan). Ternyata, semua bahasa ini termasuk dalam satu kelompok bahasa, yaitu Austronesian. Prinsip dasar ilmu sejarah bahasa yang jelas digambarkan adalah: Evolusi fonologi sangat sistematis dan bertata dalam setiap dialek. (“Sound changes are regular”). Misalnya huruf ‘c’ dalam bahasa Rukai selalu menunjukkan ‘t’ atau ‘s’ atau nol dalam bahasa lain (lihat Kutu, Mata, Telinga) tanpa kecualian. Data seperti ini mustahil telah muncul hanya sebagai kebetulan saja, atau sebagai gara-gara kecampuran penduduk yang jauh sekali jarak antaranya pada waktu sekarang. Sebaliknya, para akhli bahasa menyatakan bahwa semua perkataan di atas itu diwariskan dari sebuah bahasa induk yang walaupun sudah lama mati sebagai bahasa sehari-hari, masih tetap hidup serupa bahasa keturunannya.

2. Di manakah Tempat yang paling Lama Diduduki oleh Suku Rejang?

Hipotesa 2: Dialek-dialek Rejang merupakan subkelompok terpencil di Sumatra yang turun dari bahasa induk purba yang kami namai Rejang Purba. Ternyata, dialek Rawas yang paling konservatif yaitu penting dalam upaya merekonstruksikan Rejang Purba. Selanjutnya bahasa Purba dipergunakan sebagai langkah pertama atau menara berlampu untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih jauh ke masa lalu–misalnya untuk mengatahui tempat yang paling pertama diduduki oleh suku Rejang.

Dalam seksi tulisan ini akan dibicarakan keunikan bahasa Rejang pada umumnya, kemudian sumbangan setiap dialek untuk merekonstrusikan bahasa Rejang Purba.

2.1 Keunikan Bahasa Rejang

Bahasa Rejang yang unik ini dapat dicirikan oleh beberapa macam unsur leksikon, tatabahasa dan fonologi.

  • PERBENDAHARAAN KATA YANG KAYA-RAYA
  • STRUKTUR KALIMAT YANG SUSAH DITERJEMAHKAN
    Rajo yo mebureu coa si awié lak nien.
  • SISIPAN -EM- DAN -EN-
    Inuk cemerito dongéng kelem. ~ Dongéng o cenerito inuk ku.
  • KETIDAKADAAN AKHIRAN
    Uku nelei nak Cu’up = Saya dibesarkan di Curup
  • DUA SERIAL NASAL (BUNYI SENGAU)
    jameu inok singeak janjei
    ‘jambu’ ‘ibu’ ‘singgah’ ‘janji’
  • TEKANAN PADA AKHIR PERKATAAN
    “Lalan Bélék” delafalkan LaLAN bĕLÉK (bukan LAlan BÉlék)
  • HARMONI VOKAL
    MPP Rejang MPP Rejang
    • *langit léngét *nyamuk nyomok
    • *Rakit ékét *tungked tokot
    • *balik bélék *ipen épén~äpän (Rawas)
    • *manuk monok *hiket ékét~äkät (“)
    • *sabung sobong *isep ésép~äsäp (“)
  • BANYAK SEKALI DIFTONG

MPP RP Pes Leb Musi Keban Rawas

1. *danaw *daniu daneu daneu danuo danea daniu

2. *qatay *atui atui atei atié ateé atui

3. *kahiw *kiiu kieu kieu kiuo kiea kiiu

4. *hapuy *upui upui opoi opoi opoi upui

5. *tinaqi *tenui tenui tenei tenié teneé tenui

    1. *sapu *supu supau supau supeu supeu supeu
    2. *talih *tili tilai tilai tilei tilei tilei
    3. *duha *dui duai duai duei dui duei
    4. *mata *mati matai matai matei matei matei
    5. *kena *kena keno keno keno keno kenau

Keunikan bahasa Rejang dan perbedaan dialek-dialeknya satu sama lain yang memungkinkan merekonstruksikan bahasa Rejang Purba sebagai suatu hipotesa. Sebaliknya bahasa Purba mengandung informasi tentang sejarah bahasa dan suku Rejang.

Yang muncul dengan jelas dari penelitian kami adalah: dialek Rawas dan Kebanagung yang paling penting dalam perekonstruksian bahasa Rejang Purba, sedangkan dialek Lebong, Pesisir dan Musi lebih bermanfaat untuk menunjukkan proses evolusi fonologi. Dengan kata lain, perekonstruksian bahasa purba Rejang tidak mungkin dengan hanya dialek Lebong, Musi dan Pesisir, sebab ketiganya sangat mirip dan perbedaannya sedikit sekali. Lain halnya dengan dialek Rawas dan Kebanagung yang sangat berbeda dengan dialek Rejang lain.

2.2 Sumbangan Dialek Kebanagung

Berikut adalah dua sumbangan dari dialek Kebanagung yang paling penting.

    1. H diwariskan dari Rejang Purba *r (yang hilang dalam dialek lain): hotos ‘ratus’; kehing ‘kering’; libeh ‘lebar’
    2. -i dalam dui, tui, bungi diwariskan dari *due, tue, bunge dalam bahasa Rejang-Bukar-Sadong Purba (yang menjadi diptong duey atau duay dalam dialek Rejang lain).

2.3 Sumbangan Dialek Rawas

Adalah tiga sumbangan dari dialek Rawas yang paling penting.

    1. Konson -l di akhir kata diwariskan dari Rejang Purba *-l, *-r.
    2. Diftong ui dan iu diwariskan dari Austronesia Purba *ui dan *iu tanpa perubahan
    sejak 6000 tahun.
    3. Vokal ä diwariskan dari Rejang Purba *ä yang bergabung dengan é dalam dialek lain.

2.3.1 MPP *-l, *-R dan Rawas -l

MPP *-l di akhir kata diwariskan dari Rejang Purba *-l, *-r yang hilang dari dialek lain, misalnya: niol ‘niur’; biol ‘air’; tenol ‘telur’ dalam Rawas tetapi menjadi nioa, bioa, tenoa dalam dialek lain.

Juga MPP *-R berubah menjadi RP *-l dan *-r dalam Bahasa Rejang Purba.

MPP RPur P&L Musi Keban Rawas Melayu

A *wahiR *biol bioa bioa bioa biol air

*niuR *niol nioa nioa nioa niol niur

*ikuR *ikol ikoa ikoa ikoa iko? (borr) ékor

*dapuR *dopol dopoa dopoa dopoa dopol dapur

*qateluR *tenol tenoa tenoa tenoa tenol telor

*tiduR *tidul tidua tidoa tiduh(borr) tidul tidur

*dengeR *tengol tengoa tengoa tengoa n.c. dengar

B *huluR *ulur ulua oloa uluh ulua ulur

*qapuR *upur upua opoa opoh upua kapur

*libeR *liber libea libea libeh libea lébar

*qiliR *ilir n.c. éléa ilih n.c. ilir

2.3.2 MPP, RP *iu dan *ui dan Rawas iu dan ui

Diftong MPP *uy dan *iw diwarisi kepada Rawas dan Rejang Purba Purba ui dan iu tanpa perubahan sejak 6000 tahun, sedangkan sudah berubalah dialek yang lain.

MPP RP Pes Leb Musi Keban Rawas

*kahiw *kiiu kieu kieu kiuo kiea kiiu

*hapuy *upui upui opoi opoi opoi upui

2.3.3 Rejang Purba dan Rawas *ä

Rejang Purba *ä menjadi é dalam setiap dialek kecuali Rawas.

    MPP RPurba Rawas Dialek lain Melayu
    *nahik *näk näk nék naik
    *paqit *pät pät pét pahit
    *ipen *äpän > äpän épén (gigi)
    *langit *längät > längät léngét langit

Oleh sebab adanya Rawas -l, ui, iu, ä; dan adanya Kebanagung dui, tui, bungi dan H, maka sebagian kecil sejarah bahasa Rejang tidak hilang.

Lain halnya dengan kecirikhasan fonologi dialek Lebong, Pesisir dan Musi, yang menunjukkan proses evolusi fonologi.

2.4 Kecirikhasan Fonologi Dialek Lebong

Pada umumnya, kecirikhasan Lebong menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.

    Lebong Rejang Purba Melayu
    1. ei sadei, atei *sadui, atui desa, ati
    2. eu piseu, daneu *pisiu, *daniu pisau, danau
    3. ai duai, isai *dui, *isi dua, isi
    4. au supau, butau *supu, *butu sapu, batu
    5. -ok anok, bapok *anak, *bapak anak, bapak
    6. u dute, luyen *dete, *leyen semua, lain
    7. oi poi, moi *pai, *mai padi, ke

2.5 Kecirikhasan Fonologi Dialek Pesisir

Juga kecirikhasan Pesisir cenderung menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.

    Pesisir Arga Makmur Rejang Purba Melayu
    1. ui sadui, atui *sadui, *atui desa, ati
    2. eu piseu, daneu *pisiu, *daniu pisau, danau
    3. ai duai, isai *dui, *isi dua, isi
    4. au supau, butau *supu, *butu sapu, batu

2.6 Kecirikhasan Fonologi Dialek Musi

Juga kecirikhasan Musi cenderung menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.

    Musi Rejang Purba Melayu
    1. ié sadié, atié *sadui, *atui desa, ati
    2. uo pisuo, danuo *pisiu, *daniu pisau, danau
    3. ei duei, isei *dui, *isi dua, isi
    4. eu supeu, buteu *supu, *butu sapu, batu
    5. -éak lebéak, putéak *lebi?, *puti? lebih, putih
    6. -oak poloak, penoak *pulu?, *penu? puluh, penuh

2.7 Sumbangan Lebong, Pesisir dan Musi kepada Rejang Purba

Kebetulan ada juga unsur dialek Lebong, Pesisir dan Musi yang menunjukkan Rejang Purba, dan sebaliknya, ada unsur dialek Rawas yang menunjukkan perkembangan baru dan bukan Rejang Purba. Berikutlah ada dua contoh yang menarik dan penting.

1. -iak dan -uak dalam Pesisir dan Lebong diwariskan dari RP *-i? dan *-u? yang berubah lebih lanjut dalam Rawas; misalnya dalam Rawas RP *puti? menjadi putäh dan *pulu? menjadi poloh.

2. Serial kata ganti dalam Pesisir, Lebong, Musi dan Kebanagung, yaitu uku, kumu, ko, nu, udi, si, diwariskan langsung dari Rejang Purba, sedangkan serial itu sudah berubah dalam Rawas menjadi: keu, kumeu, kaben, kaben, kaben, sei.

2.8 Kesimpulan tentang Sumbangan setiap Dialek

Rawas dan Kebanagung berfungsi sebagi “dialek kriterion” dalam usaha reconstruksi Rejang Pruba. Sebab kebanyakan kecirikhasannya menunjukkan kepada unsur-unsur bahasa Rejang Purba. Sedangkan dialek lainnya (Lebong, Pesisir dan Musi) berfungsi sebagai “dialek ujian” untuk membenarkan Rejang Purba; kebanyakan kecirikhasannya menunjukkan perkembangan-perkembangan baru.

Akhir katanya, sumbangan setiap dialek sama pentingnya tetapi tidak sama gunanya

2.9 Di manakah Tempat yang paling Lama Diduduki oleh Suku Rejang?

Dengan adanya bahasa Rejang Purba, muncullah pertanyaan dengan jawabannya juga. Pertanyaannya adalah: di mana tempat nenek-moyang pada waktu mereka masih berbicara dengan bahasa Rejang Purba? Artinya, dari mana titik tolaknya waktu mereka mulai menyebar ke seluruh tanah Rejang?

Jawabannya yaitu: mengikuti prinsip akhli bahasa Blust (1991b) dan Ross (1991), umumnya dialek para perantau cenderung berkembang cepat sedang dialek orang yang tinggal cenderung berkembang lebih lambat (konservatif). Malah Ross (1991) menambahkan pengaruh psikologi: para perantau cenderung toleran terhadap “kesalahan” (perubahan bahasa) yang selalu akan muncul dari mulut anak-anak, sedang orang yang tinggal tidak setoleran “kesalahan” itu. Prinsip ini pasti menunjukkan Rawas sebagai tempat pertama nenek moyang waktu mereka masih berbahasa dengan Rejang Purba.

2.10 Terletak Geografi

Akhirnya, hipotesa tentang Rejang Rawas sebagai tempat Rejang Purba cocok dengan letak geografi di Sumatra.

Tanah Rawas terletak di hulu Sungai Rawas yang sudah lama menjadi jalan untuk memasuki pedalaman hampir sampai di puncak Bukit Barisan. Dari sana orang bisa berjalan kaki ke Lebong dengan tidak susah-payah, mengikuti jalan gajah. Sebaliknya Sungai Rawas mengalir jauh sekali ke laut sampai di Pulau Bangka tanpa halangan berupa air terjun. Artnya mudah sekali naik perahu ke Rawas dan tidak terlalu sulit berjalan kaki ke Lebong.

Kesimpulan: Cukup banyak fakta yang menunjukkan Rawas sebagai dialek yang paling unik dan konservatif, dan tempatnya sebagai tempat yang paling lama dihuni orang Rejang. Walaupun demikian, hipotesa kedua sangat terbatas dan belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan lain seperti: Dari mana datangnya pelopor pertama, leluhur Rejang Purba, sebelum mereka pergi merantau sampai di tanah Rejang? Apakah mereka datang dari arah timur melalui Sungai Musi, ataukah dari arah lain seperti misalnya barat-laut dari daerah Jambi dan Minangkabau sekarang? Ataukah mungkin dari pantai barat konon melalui Sungai Ketaun sampai ke tanah Pesisir dan Lebong sekarang? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlulah kita pindahkan perhatian kepada hipotesa baru, yaitu hipotesa ketiga dalam tulisan ini.

3. Hipotesa Ketiga: Asal Bahasa Rejang

Hipotesa ketiga tergantung total atas adanya bahasa Rejang Purba sebagai langkah pertama atau menara lampu untuk dapat melihat lebih jauh ke masa lalu. Jadi tujuan penelitian kini adalah untuk mencari bahasa Austronesia lain yang sedemikian sama dengan Rejang Purba sehingga dapat dinyatakan mereka adalah anggota sebuah subkelompok (sekelompok kecilan). Kalau benar ditemukan subkelompok bahasa seperti itu dalam dunia bahasa di Asia Tenggara, maka sangat mungkinlah kesimpulan bahwa suku Rejang berasal dari sana.

Hipotesa Ketiga: Bahasa Rejang (purba) adalah anggota subkelompok Bidayŭh (Land Dayak) dan turun dari bahasa induk yang kami namai Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba. Lagi pula, leluhur Rejang itu berasal dari sana atau sekitarnya, yaitu Kalimantan Utara, di bagian selatan dari kota Kuching sekarang (daerah 2 dalam peta). Ada juga Sungai Rejang dekat situ.

Tujuan seksi tulisan ini untuk membenarkan hipotesa keanggotaan bahasa Rejang dan bahasa Bukar-Sadong dalam sebuah subkelompok yang dinamai Rejang-Bukar-Sadong Purba. Hipotesa didasarkan atas 12 perkembangan bersama fonologi, dan 9 kesamaan tatabahasa.

3.1 Prinsip

Kemunculan bersama dari perkembangan-perkembangan fonologi yang menentukan keanggotaan dua bahasa dalam satu subkelompok.

Hasil penelitian kami baik di Sumatra maupun di Kalimantan Utara menunjukkan sebuah bahasa di Sarawak, Malasia, sebagai bahasa yang paling dekat dengan Rejang Purba. Meskipun demikian, harus diakui bahwa “paling dekat” tidak berarti “dekat”. Kedua bahasa itu sangat berbeda, tetapi banyak kesamaan juga. Maka hipotesa keanggotaan kedua bahasa itu merupakan suatu hipotesa saja yang baru kami ajukan sejak tahun 2003 dalam jurnal dan buku.

Nama bahasa di Kalimantan itu adalah bahasa Bukar-Sadong Bidayŭh. Nama itu mencirikan penuturnya sebagai penduduk tanah pertanian terletak di pegunungan antara Sungai Bukar dan Sungai Sadong; dan nama Bidayŭh itu menunjukkan keanggotaan mereka dalam sebuah subkelompok besar dengan anggotanya sejumlah 20 bahasa lebih. Rupanya ke-20 bahasa Bidayŭh itu berbeda sekali dengan satu sama lain, sehingga tidak saling dimengerti oleh penuturnya masing-masing.

Kedua bahasa purba itu jelas keturunan dari bahasa Melayu-Polynesia Purba (MPP).

Berikut adalah perkembangan bersama dan kesamaan lain antara bahasa Rejang Purba dan Bahasa Bukar-Sadong Purba.

3.2 Kesamaan Fonologi 1-6

Baik Rejang Purba maupun Bukar-Sadong Purba memperlihatkan perkembangan fonologi bersama dari Melayu-Polinesia Purba (MPP).

    MPP
    1. *-mb-, *-nd-, *-ngg-, *-nj- > -m-, -n-, ng, nj (`barred nasals’)
    Rejang Rawas: emun tane pingan minjem
    Bukar-Sadong: amum tanŭ pingan minjem
    ‘awan’ ‘tanda’ ‘piring’ ‘meminjam’
    2. *-m, *-n, -ng > –bm, –dn, –gng (‘pre-stopped nasals’)
    Di akhir kata, bunyi sengau biasa sering dilafalkan dengan tambahan konsonan hambat.
    • Rejang: dolobm, buledn, burugng, minjebm
    • Bukar-Sadong: jarubm, burĕdn, bŭrŭgng, minjebm
    • `bundar’
    3. *qa- hilang dalam tiga-sukukata
    • MPP: *qapeju *qalimetaq *qateluR
    • Rejang: pegeu liteak tenol
    • Bukar-Sadong: puduh matak tolok
    • ‘empeduh’ ‘lintah’ ‘telur’
    4. *-Ce- dan *-eC- hilang dalam tiga-sukukata
    • MPP: *binehi *baqeRu *palaqepaq
    • Rejang Lebong: biniak belau pelepak
    • Bukar-Sadong: bénék bauh kilepak
    • ‘benih’ ‘baru’ ‘pelapah’
    5. *-q > *-k [-?]
    • MPP *taneq *jibaq *hasaq
    • Rejang Lebong: taneak jibeak aseak
    • Bukar Sadong: tanak abak asak
    6. *z > *j (kec. Rej. d- dalam `dalen’ dan `dolom’)
    • MPP: *quzan *pinzem *tuzuq
    • Rej Lebong: ujen minjem tujuak
    • Buk-Sad: ujĕn minjem ijuk

3.3 Kesamaan Fonologi KE-7: Perkembangan MPP Diftong *aw dan *ay

Dalam kedua diftong *ay dan *aw MPP itu, vokalnya *-a- berkembang menjadi *-e- dalam Bahasa Rejang-Bukar-Sadong Purba (yang mirip Rejang Lebong sekarang).

    MPP Rej-Buk-Sad Rejang Pur Buk-Sad Purba
    Purba &Rawas & Tibakang
    *danaw *daneu daniu danu
    *punay *punei punui puni
    *qatey *atei atui ati

3.4 Kesamaan fonologi KE-8: MPP *uy tidak berubah dan diwariskan sebagai ui

    MPP Rej-Buk-Sad Rejang Purba Buk-Sad Purba
    Purba &Rawas & Tibakang
    *hapuy *apui upui apui
    *kahiw *kaiu kiiu kayu

3.5 Kesamaan Fonologi 9-10: Perkembangan MPP *-a di akhir kata

Antara banyaknya evolusi MPP *a dalam sejarah bahasa Rejang termasuk dua perkembangan yang paling penting untuk hipotesa kami. MPP *a naik menjadi *e dalam pola perkataan KVKaK dan KVKa nampaknya bersama dalam sejarah bahasa Rejang dan Bukar-Sadong. Kedua perubahan ini terdapat sebelum tekanan menggeser ke akhir kata, yaitu sewaktu vokal *a itu tak ditekankan.

3.5.1 Kesamaan Fonologi 9: Perkembangan Bersama yang paling Penting

Dalam pola KVKaK (silabel akhir kata tertutup), MPP *-a berubah menjadi /e/ = /ĕ/ kecuali konsonan terakhir adalah [+velar] (ka-ga-nga-qa). Perubahan yang unik ini terdapat dalam semua dialek Rejang dan Bukar-Sadong.

    MPP Keban- Tibakang Melayu
    agung (Sarawak)
    A. *bulan bule:n burĕ:tn bu:lan
    *quzan uje:n ujĕ:tn u:jan
    *surat suhe:t surĕ:t su:rat
    B. *anak ana:k ana:k a:nak
    *hisang isa:ng insa:kng i:sang
    *hasaq asa:h ng-asa:? a:sah

3.5.2 Kesamaan Fonologi Ke-10

    Dalam pola KVKa (silabel akhir kata terbuka), MPP *-a berubah menjadi /e/. Perubahan ini terdengar dalam puluhan bahasa di Nusantara termasuk semua dialek Rejang dan Bukar-Sadong. Tetapi ada keunikan juga, sebab antara puluhan bahasa itu, hanya Rejang dan Bukar-Sadong mempunyai tekanan pada vokal yang bersangkutan. Logisnya, perubahan *a > e adalah unsur evolusi lama dalam Rejang dan Bukar-Sadong. Lain halnya dalam puluhan bahasa lain itu, di mana *a > e telah muncul sebagai pinjaman dari bahasa Sanskerta dan Jawa di zaman Majapahit . (Tadmor 2003)
    MPP Rejang Buk-Sad Tibakang Melayu
    Purba Purba
    *mata *ma:te *ma:te bate:h mata
    *nanga *na:nge *na:nge nange:h muara
    *lima *li:me *ri:me rime:h lima
    *duha *du:e *du:e due:h dua
    *ni?a *ni:?e *ni:?e ni?e:h nya

3.5.3 Rangkuman Kesamaan Perkembangan 9-10 secara Formal

*a > *e / V:C__(C[-velar])#

Rej-BS Purba > perkemgangan Kebanagung Melayu

*ki:ta > kite > ite kita

*du:ha > *du:e > dui: > dui dua

*ma:ta > *ma:te > *mati: > matei mata

*bu:lat > *bu:let > bule:t bulet bundar

*a:nak > *anak anak anak

3.5.4 Kesamaan ke-11 – Tekanan Menggeser ke Akhir Kata

Tekanan di akhir kata juga muncul bersama dalam Rejang Purba dan Bukar-Sadong Purba.

Dalam hipotésa kami, sesudah perkembangan tekanan itu, berpisahlah suku Rejang dan mulailah mereka hidup sendirian. Kemudian mereka masih tinggal di Kalimantan selama 1000 tahun baru migrasi ke Sumatra.

3.6 Tiga Macam Kesamaan Tatabahasa

Selain kesamaan evolusi fonologi, ada juga beberapa kesamaan tata bahasa yang mungkin juga menunjukkan bahasa Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba.

    1. Awalan hilang
    2. Kasus kataganti hilang
    3. Beberapa kata-berfungsi yang sepadan

Arti Tibakang RejPurba Melayu

Masa lalu embeh *mi~bik~bi sudah

Masa depan kelék *kelak hendak

Bentuk perintah boh, mah *bah~ba lah

`Berapa?’ kudu *kedu berapa

`Di’ ang *tang di

`Mana?’ api *ipe mana

‘Yang’ de *di~do yang

3.7 Kesimpulan: Suku Rejang Berasal dari Kalimantan Utara

Kesimpulan kami dapat digambarkan dalam bentuk pohon bercabang yang mewakili hipotesa ketiga tentang asalnya suku Rejang.

Hipotesa Subkelompok Rejang dan Bukar-Sadong

Bahasa Rejang-Bidayŭh Purba 3500 tyl di Kalimantan Utara

Rejang-Bukar-Sadong Purba (3000 tyl) Biatah Milikin Grogo Singgai Lara’ Lunde

*a > e / V:C__(C[-velar])#

pra-Rejang pra-Bukar-Sadong

(migrasi ke Sumatra 1200 tyl)

Rejang Purba (1000 tyl) Bukar-Sadong Purba (1000 tyl)

Menurut hipotesa, nenek moyang suku Rejang keturunan dari suku Rejang-Biday«h yang berada di Kalimantan Utara antara 3500-3000 tahun yang lalu. Kemudian bahasa Rejang-Bukar-Sadong berpisah menjadi Rejang dan Bukar-Sadong, dan sesudah itu, suku Rejang hidup sendirian di Kalimantan Utara selama 1000 tahun lebih. Kemudian entah mengapa suku Rejang migrasi ke Sumatra kira-kira 1200 tahun yang lalu.

Dalam perjalannya yang jaraknya kurang dari 600 kilometer, mereka naik perahu menyeberangi lautan melalui selat Bangka dan masuk Sungai Musi lalu menyusurinya hingga mencapai muara Rawas. Di sana sungai itu bercabang. Ada separuh dari imigran tersebut meneruskan perjalanannya menyusuri sungai Musi terus melewati Bukit Dempo sampai menemukan lahan yang bagus di daerah Kebanagung sekarang. Yang separuh lagi belok ke kanan dan menyusuri sungai Rawas hingga ke bagian yang paling hulu. Di hulu Rawas terdapat lahan yang baik untuk pertanian dan juga bermanfaat. Dari sana para imigran berjalan ke Lebong tanpa bersusah-payah melalui jalan gajah. Dengan demikian, para pendiri Rejang dapat mencapai Lebong yang sangat indah dan subur itu. Seiring dengan waktu, kemudian dari Lebong ada sekelompok pelopor yang membuka lahan baru sampai ke Pesisir dan daerah Gunung Kaba di sekitar Curup sekarang.

Konon nenek-moyang Rejang tersebut tidak menemukan penduduk lainnya di Sumatra. Namun, tidak lama kemudian para pelopor Rejang ini disusul oleh pelopor Melayu yang cukup puas menduduki dataran rendah sehingga saat ini mereka menempati dataran rendah, sedangkan orang Rejang menduduki dataran tinggi.
              • Seminar Bahasa dan Budaya Rejang
              • STAIN Curup
              • 17 November 2007

PUSTAKA ACUAN

A. Pustaka tentang Bahasa Rejang oleh Richard McGinn

2009 (akan datang) Out-of-Borneo Subgrouping Hypothesis for Rejang: Re-weighing the

Evidence. In Festschrift, ed. by K. Alexander Adelaar. Canberra: Australian

National University.

2008a (akan datang, dengan Dr. Zainubi Arbi). Serial Buku Bacaan Bahasa Rejang untuk

Kanak-kanak. (Lima dialek x dua judul = sepuluh buku.) Akan diterbitkan oleh

pemerintah.

2008b (akan datang) Indirect Licensing at the Interface of Syntax and Semantics in Rejang.

Proceedings of the 16th Meeting of the Southeast Asian Linguistics Society, ed. by Uri

Tadmor. Jakarta: Universitas Atma Jaya.

2005. What the Rawas Dialect Reveals About the Linguistic History of Rejang. Oceanic

Linguistics 44.1:12-64.

2003. Raising of PMP *a in Bukar-Sadong Land Dayak and Rejang. In Issues in Austronesian

Historical Phonology, ed. by John Lynch. Canberra: Australian National University .

Pacific Linguistics Series C, pp. 37-64.

2000. Where Did the Rejangs Come From? In Marlys Macken (ed.), Proceedings of the Tenth

Annual Conference of the Southeast Asia Linguistics Society, University of Arizona.

1999. The Position of the Rejang Language of Sumatra in Relation to Malay and the ‘Ablaut’

Languages of Northwest Borneo. In Elizabeth Zeitoun and Paul Jen-kuei Li (eds.),

Selected Papers from the Eighth International Conference on Austronesian Linguistics.

Taipei: Academia Sinica Institute of Linguistics, pp. 205-226.

1998. Anti-ECP Effects in the Rejang Language of Sumatra. Canadian Journal of Linguistics

43(3/4):359-376.

1997 Some Irregular Reflexes of Proto-Malayo-Polynesian Vowels in the Rejang Language of

Sumatra. Diachronica XIV.1:67-108.

1991 Pronouns, Politeness and Hierarchy in Malay. In Robert Blust (ed.), Currents in Pacific

Linguistics: Festschrift in Honor of George W. Grace. Canberra, Australian National

University: Pacific Linguistics C-117, pp. 197-221.

1989 The Animacy Hierarchy and Western Austronesian Languages. The Ohio State University: ESCOL ’89, pp. 207-217.

1985 A Principle of Text Coherence in Indonesian Languages, Journal of Asian Studies

XLIV.4:743-753.

1982a Outline of Rejang Syntax. Jakarta: Series NUSA, Linguistic Studies in Indonesian and

Languages of Indonesia.

1982b On the So-Called Implosive Nasals of Rejang (with James Coady). In Reiner Carle (ed),

Gava` 17: Studies in Austronesian Languages and Cultures: Festschrift for Hans Kähler.

pp. 437-449.

B. Penelitian Masih Belum Selesai

    The Musi Dialect of Rejang: Phonology and Morphology. (monograph, akan diterbitkan
    oleh jurnal Lingua, Departemen Linguistik dan Pendidikan Bahasa, Pasca Sarjana,
    Universitas Sriwijaya, Palembang)
    (dengan teman sepengarang Dr. Zainubi Arbi)
    Percakapan Dengan Petani-Petani Rejang Pada Tahun 1974. (artikel)
    Rejang Teks dalam Lima Dialek Rejang. (monograph)

C. Pustaka Acuan lain tentang

Bahasa dan Budaya Rejang

Aichele, W. 1935, 1984. A fragmentary sketch of the Rejang language. Reprinted in Jaspan

(1984), pp. 145-158.

Blust, Robert A. 1984. On the history of the Rejang vowels and diphthongs. Bijdragen tot

de Taal-, Land- en Volkenkunde 140:422-450.

Galizia, Michele. 1992. Myth does not exist apart from discourse, or, The story of a myth that

became history. In Victor T. King, ed. The Rejang of southern Sumatra. Hull, England:

University of Hull Centre For South-East Asian Studies, pp. 3-29.

Hazairin. De Redjang. 1936. De volksordening, het verwantschaps-,huweliijks- en erfrecht.

Batavia doctoral thesis (unpublished). 242pp. With map. Bandoeng.

Helfrich, O. L. Uit de folklore van Zuid-Sumatra. BKI 83(1927), pp. 193-315. (Rejang texts pp.

244-248 w/translation pp. 308-315).

Holle, van K. F. n.d. Rejdangische Woordenlijst door den controleur SWAAB in het archief te

Kepahiang aangetroffen, door een onbekende bewerkt naar de blanco-woordenlijst,

36pp.

Hosein, H. M. 1971 ms. Edited by Abdullah Sani. Rejang asal-usul. 58 pp. (stenciled)

Hosein, H. M. 1971 Ms, edited by Abdullah Sani. Rejang asal-usul. 58pp. (stencilled)

Jaspan, Mervyn A. 1964. Folk literature of South Sumatra: Rejang Ka-Ga-Nga texts. Canberra:

The Australian National University.

_____. 1984. Materials for a Redjang-Indonesian-English dictionary, ed. by P. Voorhoeve.

Canberra: Pacific Linguistics Series D, No. 58.

Marsden, William. 1783, 1811. History of Sumatra. London. Reprinted 1966. Kuala Lumpur:

Oxford University Press. (includes a Rejang wordlist and Ka-Ga-Nga script)

Rees, W. A. Van. 1860. De Annexatie Der Redjang eene Vredelievende Militaire Expeditie.

Rotterdam: Nijgh. 119pp. (Contains description of the Rejang and Besemah people

occupying the region between Bengkulu and Palembang.)

Saleh, Yuslisal. 1988. System Morphologi Verba Bahasa Rejang. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

Sani, Abdullah. Ms. (n.d. ca. 1975) Petweak lem serambeak. 4pp. (stencilled)

Siddik, Abdullah. 1980. Hukum Adat Rejang. Jakarta: Balai Pustaka.

Syahrul Naspin et. al. 1980/81. Morfologi dan sintaksis bahasa Rejang. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan.

Sya’rani, Atika. 1980. Kata kerja bahasa Rejang. Laporan penelitian. Jakarta: Departemen

Pendidikan dan Kebudayaan. 97pp (stencilled)

_______. 1981/2. Sistem perulangan kata dalam bahasa Rejang. Laporan penelitian. Jakarta:

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 97pp (stencilled)

Voorhoeve, P. 1955. Critical survey of studies on the languages of Sumatra. ‘S-Gravenhage:

Martinus Nijhoff.

. 1984. Preface and Postscript to Jaspan (1984).

P. Wink, De onderafdeeling Lais in de Residentie Bengkoeloe. VBG 66/2 (1926),

pp. 111-124: Maleisch-Rejangsche woordenlijst, Lais.

Wuisman, J.J.J.M. 1984. The Rejang and the field of ethnological study concept (Comments

by William D. Wilder). Unity in Diversity: Indonesia as a Field of Ethnological Study. VKI

103, pp. xzxz.

D. Pustaka Acuan Ilmu Bahasa

Adelaar, K. Alexander, 1992, Proto Malayic: A reconstruction of its phonology and part of its

morphology and lexicon. Canberra: Pacific Linguistics C-119.

__________. 2007. Review of John Lynch, ed., Issues in Austronesian historical phonology.

Canberra: Pacific Linguistics 550. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde

163/1:139-146.

Asmah Haji Omar. 1983. The Malay Peoples Of Malaysia and their Languages. Kuala

Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

__________. 1992. An overview of linguistic research on Sarawak. In Martin, Peter W., ed.,

Shifting patterns of language use in Borneo. Williamsburg, VA: The Borneo Research

Council Proceedings Series Vol. Three.

Bellwood, Peter. 1997. Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago. Honolulu: University of

Hawaii Press.

Blust, Robert A. 2006. The origin of the Kelabit voiced aspirates: A historical hypothesis

revisited. Oceanic linguistics 45.2: 311-338.

__________. 1991a (ed). Currents in Pacific Linguistics: Papers in honor of George W. Grace.

Pacific Linguistics Series C, No. 17. Canberra.

__________. 1991b. Sound change and migration distance. In Blust (ed.), pp. 27-42.

__________. (Ms., no date) Austronesian comparative dictionary. Electronic manuscript.

Clark, Ross. 1987. Austronesian Languages. In Bernard Comrie, ed., The World’s Major

Languages. New York: Oxford University Press.

Collins, James T, ed. 1990. Language and oral traditions in Borneo. Selected Papers from the

first extraordinary conference of the Borneo Research Council, Kuching, Sarawak,

Malaysia August 4-9. Williamsburg, VA: The Borneo Research Council Proceedings

Series Vol. Two.

Court, Christopher, 1967. Some Areal features of Měntu Land Dayak. Oceanic Linguistics VI:

46-50.

Dahl, Otto Christian. 1976. Proto-Austronesian (2nd Edition). Scandinavian Institute of Asian

Studies monograph series, No. 15. Lund.

Dempwolff, Otto. 1934-1938. Vergleichende Lautlehre des Austronesischen Wortschatzes.

Berlin: Dietrich Reimer Verlag.

Diamond, Jared and Peter Bellwood. Farmers and their languages: The first expansions.

Science vol. 300, April 24, 2003.

Hudson, A.B. 1978. Linguistic relations among Bornean peoples with special reference to

Sarawak: an interim report. In Sarawak: Linguistics and Development Problems.

Williamsburg, VA: Studies in Third World Societies No. 3, pp. 1-45.

Kroeger, Paul R., 1994 Ms. The dialects of Biatah. Borneo Research Council, 3rd Biennial

Meeting, 10-14 July, 1994.

Ray, Sidney H., 1913, The languages of Borneo. The Sarawak Museum Journal 1(4):1-196.

Ross, Malcom D. 1991. How Conservative are Sedentary Languages? Evidence from

Western Melanesia. In Blust (ed.).

__________. 1998. Language classification in Sarawak: a status report. The Sarawak

Museum Journal LIII 74:137-173.

Scott, N.C., 1964, Nasal consonants in Land Dayak (Bukar-Sadong). In David Abercrombie et.

al. eds., In honour of Daniel Jones. London: Longmans, pp. 432-436.

Tadmor, Uri. 2003. Final /a/ mutation: a borrowed feature in Western Austronesia. In John

Lynch, ed., Issues In Austronesian Historical Phonology. Canberra: Pacific Linguistics

550, pp. 15-36.

Topping, Donald M. 1990. A dialect survey of the Land Dayaks of Sarawak. In James T. Collins,

ed., 247-274.

Voorhoeve, P. 1955. Critical survey of studies on the languages of Sumatra. Martinus Nijhof:

‘S Gravenhage.

Zorc, David. 2006. Review of John Lynch, ed., Issues in Austronesian historical phonology.

Canberra: Pacific Linguistics 550. In Oceanic linguistics 45.2: 505-516. http://209.85.175.104/search?q=cache:53fHi4jN-hEJ:oak.cats.ohiou.edu/~mcginn

 

Alat – Alat Upacara Adat

Filed under: Loker Kabupaten Rejang lebong — gogo @ 5:18 am

Alat – Alat Upacara Adat

Satu lagi barang-barang kuno yang di perlihatkan oleh BMA Kab. Rejang Lebong dalam HUT Kota Curup yang 128, yaitu separangkat alat-alat upacara adat yang terbuat dari kuningan dan keramik. keterangan gambar : dari barisan bawah dari kiri ke kanan

  1. Selepeak besar : biasanya isi dengan barang – barang berupa perhiasan
  2. Selepeak kecil : diisi dengan uang
  3. Tempat sesajen
  4. Tempat Kemenyan
  5. Tempat Bara Api

Di belakang dari kiri kekanan

  1. Talam Saji : tempat makanan dan menghidangkan makanan
  2. Tempat Dupa
  3. Nampan Besar tempat menempatkan kue-kue
  4. Tempat Nasi ( diatas nampan Besar )
  5. Piring Raja ( diatas nampan besar )

Note : untuk piring raja dulunya adalah piring yang bisa mengakal segala jenis racun