gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Kumpulan Foto Terbaru Sebelum Kecelakaan Sukhoi Mei 21, 2012

Filed under: Loker Info Bencana — gogo @ 2:09 am

Kumpulan Foto Terbaru Sebelum Kecelakaan Sukhoi

Kumpulan Foto – Foto Sebelum Kecelakaan Sukhoi – Tragedi jatuhnya pesawat buatan Rusia, Sukhoi Super Jet 100 di gunung Salak, Bogor, Jawa Barat (9/5) kemarin masih penuh teka-teki. Tapi dari semua peristiwa itu, ternyata para kru dan penumpang sempat berfoto-foto dan terupload di dunia maya, nampaknya sejenak sebelum mereka terbang.





Sumber :

Description: Kumpulan Foto Terbaru Sebelum Kecelakaan Sukhoi Rating: 3.5 Reviewer: Admin HQSA ItemReviewed: Kumpulan Foto Terbaru Sebelum Kecelakaan Sukhoi

 

REFLEKSI KEMATIAN MBAH MARIDJAN November 8, 2010

Filed under: Loker Info Bencana — gogo @ 12:41 pm

Setting morfologi puncak gunungapi aktif kuat dipengaruhi oleh sistem aliran lava. Morfologi ini mempengaruhi sistem aliran lava. Begitu juga sistem aliran lava akan mempengaruhi setting morfologi pasca vulkanisme. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa keadaan morfologi puncak dan jalur lava bersifat dinamis dan berubah dari waktu ke waktu, tergantung kuatnya gerusan lava dan besaran sedimentasi lava yang telah membeku.

Dugaan aliran lava akan membentuk pola yang tetap (tidak banyak berubah) sebagai buah perkembangan pengetahuan lokal (local knowledge) yang mendasarkan pada “ilmu titen” dari peristiwa-peristiwa di masa lampau (event) adakalanya bisa menjadi “salah”. Seperti itulah kasus tragedi “Mbah Maridjan” di Dusun Kinahrejo pada tanggal 26 Oktober 2010.

Selama kurun waktu 1911-2006, pola aliran awan panas dan lava Merapi memang mayoritas mengarah ke sisi barat dan barat laut lereng Merapi yaitu melewati Kali Krasak, Begog, Boyong, Blongkeng, Lamat dan Senowo. Permukiman penduduk yang berada di DAS ini dapat dikatakan lebih berbahaya dibandingkan dengan permukiman di DAS yang lain. Apalagi untuk permukiman di daerah lembah-lembah sungai. Oleh karena itu dapat kita amati sebaran permukiman di lereng ini lebih banyak kosongnya dibandingkan sisi lereng yang lain. Hal ini merupakan bentuk kearifan lokal (local wisdom) yang berwujud penyesuaian manusia (adaptation) terhadap kejadian alam (natural event). Lihat sebaran endapan vulkanik berikut ini :

Endapan Vulkanik

Setelah morfologi pembendung lava ke arah selatan (geger boyo) ambrol pada letusan tahun 2006, aliran awan panas dan lava Merapi lebih cenderung mengarah ke sisi selatan lereng yaitu melewati Kali Gendol. Peristiwa ini seharusnya menjadi pelajaran karena secara tidak langsung, Merapi telah mengingatkan perubahan setting morfologinya.

Lokasi Kali Gendol

Kearifan lokal seharusnya mampu menangkap signal yang dipancarkan Merapi ini. Sesuai kata Mbah Maridjan sendiri bahwa Merapi “sedang membangun” sistem aliran yang baru. Bisa jadi untuk letusan pasca 2006 dan seterusnya aliran awan panas dan lava banyak mengarah ke lereng selatan.

Kronologisnya, aliran lava dan awan panas ke arah selatan tahun 2006 memang belum “sempat” mampir ke Dusun Kinahrejo, tempat Mbah Maridjan tinggal. Hal ini dikarenakan masih adanya bukit-bukit kecil di atas dusun yang mampu membendung aliran awan panas dan membelokkannya menjauh dari Dusun Kinahrejo. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan bukit-bukit itu mampu menahan kuatnya aliran lava dan awan panas?

Pertanyaan tersebut terjawab setelah letusan 26 Oktober 2010 terjadi. Letusan yang sudah menunjukkan gejala kejadian extreme itu melibas Dusun Kinahrejo dan menewaskan 24 orang. Awan panas tersebut mampu menerobos bukit pelindung dusun dan bahkan mampu melewati igir antara DAS Gendol dan DAS Kuning. Dimana Dusun Kinahrejo berada di igir tersebut.

Perubahan Aliran Awan Panas

Selain karena magnitude awan panas lebih besar dari tahun 2006 (Volcanic Explosion Index/VEI >2). Ada hal lain yang menyebabkan aliran awan panas mengarah ke Dusun Kinahrejo, yaitu terkait dengan ketimpangan morfologi akibat pengendapan lahar beku di Kali Gendol bagian timur. Sepanjang aliran Kali Gendol bagian timur terisi material-material yang terangkut erupsi Tahun 2006, sehingga aliran awan panas membludag ke arah barat.

Akhir kata banyak pelajaran yang dapat kita ambil dan kita renungkan dari peristiwa letusan Merapi tersebut yaitu :

  1. Setting morfologi gunungapi berubah dari waktu ke waktu, sehingga pengetahuan lokal perlu didampingi dengan pemetaan morfologi secara continue pasca vulkanisme. Sebab pengetahuan lokal ini akan berubah menjadi kepercayaan lokal yang akan meningkatkan ambang toleransi dan menurunkan kepekaan terhadap bencana
  2. Guguran awan panas selain disebabkan faktor gravitasi (mengalir melalui lembah sungai) juga dipengaruhi oleh angin, sehingga ada perubahan arah aliran yang terjadi tanpa dapat kita duga
  3. Merapi yang identik dengan erupsi efusif bisa saja berubah menjadi erupsi eksplosif sehingga pemodelan sistem aliran magma bisa berubah. Penduduk lereng Merapi harus waspada terhadap kemungkinan kejadian yang berbeda dan pandai-pandai melihat situasi
Pra Letusan 2010

Pra Letusan 2010

Setelah letusan 2010

Pasca Letusan 2010

Pasca Letusan 2010

Referensi :

Studi sensitivitas penduduk terhadap bahaya awan panas Gunungapi Merapi di Kawasan Rawan Bencana II dan III (Thesis UGM, Pak Yasin Yusuf)

Baca Juga :

LETUSAN ST VINCENT MERAPI

ALIRAN PIROKLASTIK MERAPI

 

LETUSAN ST VINCENT MERAPI 2010

Filed under: Loker Info Bencana — gogo @ 12:39 pm


Tipe Guguran

ipe Guguran

Menurut teori tipe letusan, Merapi memang memiliki tipe sendiri yaitu tipe merapi (guguran) yaitu awan panas dan lava mengalir pada salah satu bagian lereng seperti jatuh karena gaya beratnya. Gaya berat awan panas dan lava lebih kuat mempengaruhi aliran daripada tekanan dari dalam bumi. Tetapi kenapa letusan 4 Nopember 2010 membentuk tipe St Vincent? (Kok Merapi menghianati karakternya? Melu-melu gunungapi luar negeri St Vincent?? Atau mungkin Merapi sudah kehilangan karakter kuat dan cerdasnya sehingga terpengaruh budaya gunungapi asing yang katanya nakal dan bringas???)

 

Tipe-tipe Letusanipe-tipe Letusan

Tipe letusan memang bukan sebuah hak patent suatu gunungapi. Dalam hal ini bukan berarti Merapi selalu memiliki tipe guguran. Bisa jadi Merapi akan mengeluarkan tipe letusan yang berbeda seperti Stromboli, Pellean, Hawaiian, St Vincent dsb. Hal ini tergantung pada magnitude tekanan dari dalam bumi, karakter magma dan setting morfologi puncak. Penamaan tipe guguran melekat pada gunungapi Merapi hanyalah mendasarkan pada kebiasaan Merapi meletus dengan tipe itu. Jadi boleh dong sekali-kali Merapi mengganti gaya letusan yang lain biar gaul begitu…

Pemetaan kawasan rawan bencana (KRB) untuk kepentingan tanggap darurat terutama untuk kegiatan pengungsian antara tipe letusan St Vincent dan tipe letusan guguran berbeda. Kalau tipe letusan guguran idealnya menggunakan model sektoral di lembah-lembah sungai terutama untuk daerah yang setting morfologinya berbahaya, tetapi untuk tipe St Vincent menggunakan model konsentris. Yaitu menggunakan radius melingkar dengan jarak tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai contoh radius 5 Km (sebelum 26 Oktober 2010), 15 Km (setelah 26 Oktober 2010) dan 20 Km (setelah 4 Nopember 2010). Jarak batas KRB 20 Km dari puncak Merapi kalau diukur dari Ring Road utara Kota Jogja hanya sejauh 5 Km begitu juga jarak dengan jalan Solo-Jogja di Kalasan hanya sejauh 5 Km ke arah utara. Busyet !!! luas banget ya…

Radius Bahaya 5-20 Km (dilihat dari atas)adius Bahaya 5-20 Km (dilihat dari atas)

Jika dilihat dari Ring Road Kota Jogjakarta

Radius Bahaya (tampak samping)adius Bahaya (tampak samping)

Perbandingan dengan rumah saya (Matesih) dari puncak Gunung Lawu berjarak 15 Km dan dengan Kota Karanganyar hanya sejauh 25 Km. Jadi seandainya Lawu ikut-ikutan trend gunungapi yang lain mbledhug, kami bakalan kena gusuran pengungsian.

Tipe St Vincent

ipe St Vincent

Letusan tipe St Vincent yang terjadi tanggal 4 Nopember 2010 membentuk kolom asap letusan setinggi hingga 8 Km. Letusan ini berbahaya karena bersifat jatuhan bebas dan tidak terpengaruh oleh setting morfologi puncak sebelum menyentuh permukaan bumi. Tipe letusan ini lebih dipengaruhi gaya berat material letusan dan sebagian kecil dipengaruhi oleh angin, sehingga sulit untuk diprediksikan arah dan jangkauan serangannya.

Sampai kapan letusan ini berakhir?

Letusan Merapi belum bisa diprediksikan sampai kapan berakhirnya. Apakah letusan 4 Nopember 2010 sudah merupakan klimaks atau masih ada letusan yang lebih hebat lagi. Tetapi menurut Kepala Badan Geologi Kementrian ESDM (Dr Sukhyar), sistem aliran magma sudah terbuka sehingga kemungkinan besar aliran magma menjadi lancar dan magma kemungkinan akan mengalir seperti semula dengan tipe guguran. Arus magma keluar menjadi lancar karena sudah tidak ada halangan di puncak vulkan.

Semoga tidak ada letusan yang lebih dahsyat dari ini. Amin…

 

ALIRAN PIROKLASTIK MERAPI 1 NOPEMBER 2010

Filed under: Loker Info Bencana — gogo @ 12:37 pm
Citra NASA

itra NASA

Tulisan ini mencoba mengulas dimensi ruang Citra ASTER thermal NASA tertanggal 1 November 2010. Saya mendapatkan citra tentang aliran piroklastik Merapi tersebut dari dongeng geologi. Aliran piroklastik menurutnya adalah avalanche gas sangat panas, abu, dan batuan yang mengalir menyusuri salah satu sisi gunung berapi dengan kecepatan tinggi. Aliran itu menggambarkan arus awan panas.

Dengan Arc View 3.3 dan Google Earth saya ingin mengulas lebih jauh informasi spasial dari citra tersebut. Arc view mampu menampalkan image seperti di bawah ini :

Citra di Arc Viewitra di Arc View

Gambar raster aliran piroklastik yang sudah saya digit menjadi vector, kemudian saya overlaykan dengan DAS di Merapi tampak sebagai berikut :

Overlay dengan DASverlay dengan DAS

Kemudian saya overlaykan juga dengan desa-desa di Merapi tampak sebagai berikut :

Overlay dengan Desaverlay dengan Desa

Kalau ditampilkan ke Google Earth tampak seperti berikut ini :

Overlay dengan Google Earthverlay dengan Google Earth

Adapun informasi yang dapat kita ambil adalah sebagai berikut :

  1. Luas aliran piroklastik tersebut adalah 126, 78 Ha
  2. Jangkauan dari puncak sepanjang 7,46 Km / melebihi radius bahaya I (5 Km)
  3. Aliran mengarah di DAS Gendol khususnya melewati bagian lembah / Kali Gendol
  4. Aliran menerjang beberapa permukiman di Desa Hargobinangun dan Desa Kepuhharjo

Baca Juga :

 

 

Foto Tsunami Mentawai | Gempa Mentawai November 5, 2010

Filed under: Loker Info Bencana — gogo @ 2:58 pm

Tsunami Mentawai , Gempa di ikuti tsunami di kepulauan mentawai menelan banyak korban sedikitnya Ratusan orang meninggal dan sekitar 600 orang hilang akibat gempa dan tsunami di mentawai tersebut, Angka korban tsunami Mentawai sebenarnya belum final dan sejumlah sumber mencatat berbeda. Namun Gubernur mengambil aman dengan mengambil data paling besar untuk antisipasi penanganan di lapangan

Sementara itu data dari Posko BPBD Kecamatam Pagai Utara-Selatang mencatat 80 orang korban tewas. Sedangkan NGO Mentawai Yayasan Citra Mandiri (YCM) hingga sore tadi mencatat 81 korban tewas.

Menurut Rapot Simanjutak aktifis YCM yang sedang berada di Pagai Utara, kemungkinan korban bisa bertambah karena ternyata banyak kampung-kampung yang tersaputsunami.

“Di Muntei desa Betumonga, Pagai Utara ada 58 mayat yang ditemukan dan belum dikubur.,jumlah jiwa di sana 307 orang dan yang hidup tidak sampai 100 orang lagi,’ katanya melalui telepo

Berikut ini beberapa Foto tsunami mentawi Sumatra

Nama korban Tsunami mentawai

Video Korban Tsunami mentawai

Foto tsunami Mentawai

 

Status Gunung Kaba Bengkulu “Waspada”

Filed under: Loker Info Bencana — gogo @ 2:53 pm
Status Gunung Kaba  Bengkulu

Gunung Kaba

Pengamatan Gunung Api Kaba Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan, status Gunung Bukit Kaba di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, masih berstatus waspada sejak ditetapkan pada September 2009. “Gunung api Kaba sudah dinaikkan statusnya menjadi waspada sejak September 2009 karena aktivitas kegempaan vulkanik yang meningkat,” kata Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Kaba Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sigit Widianto di Bengkulu, Selasa.

Peningkatan aktivitas gempa vulkanik dari normal hanya 200 hingga 300 kali per bulan naik menjadi 350 kali pada September 2009, dan sekarang naik lagi menjadi 1.130 kali pada Oktober.

Gempa vulkanik pada November sebanyak 852 kali, dan terbanyak pada Desember 2009 sebanyak 2.044 kali. “Aktivitas gempa vulkanik memang fluktuatif sehingga kami masih menetapkan status waspada dalam satu tahun ini,” ujarnya.

Sejak Januari 2010 aktivitas gempa yang tercatat sebanyak 674 kali, Februari sebanyak 802 kali, Maret sebanyak 860 kali, pada April menurun menjadi 217 kali.

Selanjutnya pada Mei meningkat lagi sebanyak 588 kali, Juni sebanyak 349 kali, Juli sebanyak 306 kali, Agustus mulai menurun menjadi 226 kali dan September 2010 hanya 148 kali. “Memang terjadi penurunan dalam dua bulan terakhir tapi kami belum mencabut status waspada karena fluktuatifnya aktivitas gempa vulkanik,” katanya.

Meskipun statusnya waspada namun petani di lereng Gunung Kaba masih beraktivitas normal, demikian juga para pendaki tidak ada larangan, namun diperingatkan untuk waspada.

Pengamatan morfologi sekitar gunung juga masih dilakukan dan kondisinya masih dalam batas normal.

Sigit mengatakan, gempa vulkanik gunung Kaba masuk dalam tipe A di mana aktivitas gempa terjadi di kedalaman tiga kilometer dari permukaan danau kawah dan kecil kemungkinan menimbulkan letusan. “Gunung Kaba memiliki danau kawah dan jika terjadi hujan maka air hujan akan bertemu dengan magma dan menimbulkan uap panas, memang kecil kemungkinan untuk meletus tapi suatu saat bisa terjadi, seperti Gunung Sinabung,” jelasnya.

 

Patahan di Gunung Merapi

Filed under: Loker Info Bencana — gogo @ 2:34 pm

Selain memiliki awanpanas Gunung Merapi juga memiliki patahan yang unik. Patahan Merapi ini dipetakan dan dijelaskan oleh Van Bammelen, mBah londo yang meneliti geologi Indonesia pada jaman penjajahan dahulu. Van Bammelen ini orang geologist dari Belanda yang mengarang buku The Geology of Indonesia yang diterbitkan tahun 1949.

Patahan memotong Gunung Merapi

Patahan yg membelokkan arah erupsi awanpanas

Yang sering kita lihat bahwa patahan itu disebabkan oleh sebuah gerakan tektonik lempeng, namun patahan sebenarnya dapat terbentuk oleh berbagai mekanisme. Salah satunya adalah karena bebannya sendiri. Patahan yg ada di Merapi ini merupakan sebuah “block glide” yang sangat besar sehingga batuan yang bergerak terhadap yang lain membentuk bidang patahan.

Patahan yang memotong Gunung Merapi ini dapat dilihat dalam peta Google sebagai sebuah dinding yang salah satunya dikenal dengan nama Gunung Kukusan. Dinding di Kukusan ini yang membelokkan lajunya arah awan panas.

Patahan Merapi memiliki kemiringan kearah barat. Dalam ilustrasi dibawah ini memperlihatkan penampang barat timur dimana gunung Merapi berada disebelah kanan. Dalam petanya Van Bammelen patahan ini digambarkan cukup detil hingga dampak dari block glide, patahan, ini menimbulkan sebuah perlipatan. Perhatikan lokasi Bukit Gendol (Gendol Hills) yang merupakan perlipatan endapan Merapi sendiri yang terdorong secara lateral karena Gunung Merapi bergerak.

 

Warna ungu adalah patahan Merapi. Warna Biru perlipatan di Bukit Gendol. Dalam penampang AB (Barat-Timur) dibawahnya terlihat bagaimana patahan di puncak merapi ini menimbulkan dorongan lateral kearah barat menggencet batuan di kakinya karena tertahan Bukit Menoreh.

Dalam peta sederhana

Patahan di Merapi

Di sebelah timur puncak merapi terdapat dinding terjal di lerengnya. Dinding ini yag diinterpretasikan sebagai patahan oleh Van Bammelen (1949). Kalau diteruskan patahan ini akan menunjukkan dimana terdapat mata air. Sangat umum dalam analisa patahan adalah menjumpai mata air pada zona patahan ini.

Di lereng selatan Merapi ini juga dijumapai mataair-matair itu. Ada yang disebut Umbul, Tuk atau Tlogo (Umbul Lanang, Tlogo nirmolo, dan Tuk Pitu). Dan memang kalau diteruskan merupakan kepanjangan dari patahan ini.

Di sebelah timur puncak merapi terdapat dinding terjal di lerengnya. Dinding ini yag diinterpretasikan sebagai patahan oleh Van Bammelen (1949). Kalau diteruskan patahan ini akan menunjukkan dimana terdapat mata air. Sangat umum dalam analisa patahan adalah menjumpai mata air pada zona patahan ini.

Di lereng selatan Merapi ini juga dijumapai mataair-matair itu. Ada yang disebut Umbul, Tuk atau Tlogo (Umbul Lanang, Tlogo nirmolo, dan Tuk Pitu). Dan memang kalau diteruskan merupakan kepanjangan dari patahan ini.