gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Ular n’Daung dan Si Bungsu – Bengkulu Mei 21, 2012

Filed under: Loker Cerita Pendek — gogo @ 2:00 am

Ular n’Daung dan Si Bungsu – Bengkulu

Dahulu kala, di kaki sebuah gunung di daerah Bengkulu hiduplah seorang wanita tua dengan tiga orang anaknya. Mereka sangat miskin dan hidup hanya dari penjualan hasil kebunnya yang sangat sempit.
Pada suatu hari perempuan tua itu sakit keras. Orang pintar di desanya itu meramalkan bahwa wanita itu akan tetap sakit apabila tidak diberikan obat khusus. Obatnya adalah daun-daunan hutan yang dimasak dengan bara gaib dari puncak gunung.
Alangkah sedihnya keluarga tersebut demi mengetahui kenyataan itu. Persoalannya adalah bara dari puncak gunung itu konon dijaga oleh seekor ular gaib. Menurut cerita penduduk desa itu, ular tersebut akan memangsa siapa saja yang mencoba mendekati puncak gunung itu. Diantara ketiga anak perempuan ibu tua itu, hanya si bungsu yang menyanggupi persyaratan tersebut. Dengan perasaan takut ia mendaki gunung kediaman si Ular n’Daung. Benar seperti cerita orang, tempat kediaman ular ini sangatlah menyeramkan. Pohon-pohon sekitar gua itu besar dan berlumut. Daun-daunnya menutupi sinar matahari sehingga tempat tersebut menjadi temaram.
Belum habis rasa khawatir si Bungsu, tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh dan raungan yang keras. Tanah bergetar. Inilah pertanda si Ular n’Daung mendekati gua kediamannya. Mata ular tersebut menyorot tajam dan lidahnya menjulur-julur.  Dengan sangat ketakutan si Bungsu mendekatinya dan berkata, “Ular yang keramat, berilah saya sebutir bara gaib guna memasak obat untuk ibuku yang sakit. Tanpa diduga, ular itu menjawab dengan ramahnya, “bara itu akan kuberikan kalau engkau bersedia menjadi isteriku!”
Si Bungsu menduga bahwa perkataan ular ini hanyalah untuk mengujinya. Maka iapun menyanggupinya. Keesokan harinya setelah ia membawa bara api pulang, ia pun menepati janjinya pada Ular Ndaung. Ia kembali ke gua puncak gunung untuk diperisteri si ular. Alangkah terkejutnya si bungsu menyaksikan kejadian ajaib. Yaitu, pada malam harinya, ternyata ular itu berubah menjadi seorang ksatria tampan bernama Pangeran Abdul Rahman Alamsjah.
Pada pagi harinya ia akan kembali menjadi ular. Hal itu disebabkan oleh karena ia disihir oleh pamannya menjadi ular. Pamannya tersebut menghendaki kedudukannya sebagai calon raja.
Setelah kepergian si bungsu, ibunya menjadi sehat dan hidup dengan kedua kakaknya yang sirik. Mereka ingin mengetahui apa yang terjadi dengan si Bungsu. Maka merekapun berangkat ke puncak gunung. Mereka tiba di sana diwaktu malam hari. Alangkah kagetnya mereka ketika mereka mengintip bukan ular yang dilihatnya tetapi lelaki tampan. Timbul perasaan iri  dalam diri mereka. Mereka ingin memfitnah adiknya. Mereka mengendap ke dalam gua dan mencuri kulit ular itu. Mereka membakar kulit ular tersebut. Mereka mengira dengan demikian ksatria itu akan marah dan mengusir adiknya itu. Tetapi yang terjadi justru kebalikannya. Dengan dibakarnya kulit ular tersebut, secara tidak sengaja mereka membebaskan pangeran itu dari kutukan.
Ketika menemukan kulit ular itu terbakar, pangeran menjadi sangat gembira. Ia berlari dan memeluk si Bungsu. Di ceritakannya bahwa sihir pamannya itu akan sirna kalau ada orang yang secara suka rela membakar kulit ular itu.
Kemudian, si Ular n’Daung yang sudah selamanya menjadi Pangeran Alamsjah memboyong si Bungsu ke istananya. Pamannya yang jahat diusir dari istana. Si Bungsu pun kemudian mengajak keluarganya tinggal di istana. Tetapi dua kakaknya yang sirik menolak karena merasa malu akan perbuatannya.
 

Kamis, 4 November 2010 November 4, 2010

Filed under: Loker Cerita Pendek — gogo @ 3:42 am

Kamis, 4 November 2010

Saya merasa beruntung sekali masih bisa menulis dan dapat berkreatifitas di Blog ini bertemu dengan sanak saudara walau hanya sekedar berkomentar dan mengirim tulisan-tulisan baru baik tulisan sendiri atau dari sumber-sumber lain, meski waktunya yang agak kurang terjadwal namun saya tetap akan terus bereksplorasi walau dengan kondisi yang terbatas ..

Maklumlah dalam memandang suatu hal ikwal saja, kita dapat berbeda pendapat, baik karena tempat berpijaknya berlainan, apalagi bila berseberangan. Bagi yang satu mungkin seluruh hal ikwal itu dapat dilihatnya, sedang bagi sementara yang lain, mungkin yang tampak hanya sementara hal ikwal saja. Karenanya, kesimpulannya tak mungkin sama.

 

Karena itulah saya merasa gembira dengan adanya sumbangsih dari rekan-rekan sekalian baik yang bertemu lansung ataupun tidak, meskipun beberapa hari sebelumnya, saya terpaksa merombak sebuah tulisan yang telah disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Perombakan tulisan itu saya lakukan, atas permintaan beberapa teman, yang mengganggap judulnya kurang tepat dan agak terlalu menyindir serta isi tulisan masih perlu ditambah lagi. Dengan senang hati saya penuhi harapan kawan-kawan, karena itu uraian tulisan masih belum saya terbitkan.

ahh…memang agak melelahkan tapi menyenangkan

 

 

Cerpen Sang Kancil dan Gurita Raksasa Juli 14, 2010

Filed under: Loker Cerita Pendek — gogo @ 6:54 am

Sore hari ketika Sang Kancil sedang asyik masyuk berjalan-jalan seorang diri di tepi Pantai Samas yang curam. Hari ini dia merasa perlu mempelajari jenis-jenis rumput yang tumbuh di tepi pantai. Mungkin suatu saat rerumputan pantai bisa dijadikan bahan makanan kala persediaan makanan di hutan menipis.

Tatkala Sang Kancil tengah mengamati rerumputan berwarna merah, mendadak terdengar suara keras menggelegar memanggil-manggil namanya. “Hai, Sang Kancil, aku ingin nasehat darimu………!!!”.

Kancil kaget mendengar suara keras dari arah laut. Dilongokkan kepalanya mencari-cari arah suara, dilihatnya seekor gurita raksasa bertepuk tangan agak jauh dari pantai. Delapan lengan Gurita itu bergantian menunjuk-nunjuk serentetan batu karang yang berjajar menjorok ke arah laut dan menyuruh Kancil berjalan menuju dirinya.

Dengan hati-hati Kancil melangkahkan kaki menuruni tebing pantai dan melompat ke batu karang tersebut. Tak berapa lama kemudian langkah Sang Kancil berhenti di ujung deretan batu karang, tepat di hadapan Gurita raksasa.

“Aku punya masalah dengan dua orang anakku’ kata Gurita terbata-bata. Sebelum mengungkapkan masalahnya Gurita mengakui bahwa dirinya sangat terkesan dengan kebijaksanaan yang ditunjukkan Sang Kancil di hutan. Kata Gurita, kebijaksanaan Kancil tatkala menghadapi para pemburu telah tersohor hingga ke dunia bawah laut, sehingga dirinya rela berminggu-minggu nongkrong di tepi pantai untuk menanti kehadiran Sang Kancil — yang menurut kabar burung camar — kadang-kadang terlihat sedang meneliti tumbuh-tumbuhan di tepi pantai.

Sesaat kemudian Gurita bercerita tentang dua orang anaknya yang selalu bertengkar untuk memperebutkan makanan yang diberikan induknya. Setiapkali dia membawa pulang ikan, udang atau kepiting, dua anaknya berebut untuk memakannya. Semakin lezat makanan, misalnya si induk mendapat mangsa ikan hiu, maka semakin hebatlah pertengkaran anaknya.

“Mengapa tidak kau bagi dua saja?” tanya Kancil

“Itulah masalahnya Mas Kancil” ujar Gurita

“Kalau makanan aku bagi dua, mereka berebut memilih bagian yang dianggap lebih besar. Padahal ukurannya sebenarnya sama, hanya terlihat lebih besar karena ada tulangnya. Jika si adik disuruh memilih terlebih dahulu, maka si kakak akan memilih bagian yang sama. Jadilah mereka bertengkar. Jika si kakak yang memilih terlebih dahulu, maka si adik ikut-ikutan ingin porsi yang telah dipilih akaknya. Pusinglah aku dibuatnya” lanjutnya

“Ah, namanya anak-anak, mereka hanya perlu diajari sedikit tentang keadilan” kata Kancil

“Wah, gimana dung caranya?”

“Gampang banget. Ntar kalau kamu pulang dari mencari makan, taruh semuanya di hadapan anak-anakmu. Kemudian suruh salah satu membagi makanan!” ujar Sang Kancil

“Waduh, apa nggak malah lebih repot lagi nantinya. Mereka pasti berebut ingin jadi yang membagi makanan agar dapat bagian yang lebih besar!”

“Yang membagi makanan tidak boleh memilih terlebih dahulu. Jika si kakak membagi, maka adiknya yang boleh memilih makanan hasil pembagian. Begitu juga sebaliknya. Dengan cara demikian si pembagi akan berusaha keras agar dapat membagi makanan dengan seadil-adilnya” urai Kancil sambil tersenyum.

“Wah ide yang brilian sekali Sang Kancil. Besok aku akan suruh anakku bergantian membagi jatah makanan. Kuharapkan dengan cara itu mereka tak akan bertengkar lagi’ kata Gurita sambil bertepuk tangan kegirangan dengan kedelapan lengannya.

Sang Kancil tersenyum melihat Gurita kegirangan. Didalam hatinya dia tahu persis bahwa ada banyak cara untuk memaksa makhluk seperti anak gurita untuk bersikap adil. Ada banyak cara yang bisa dipelajari dengan mudah untuk membuat mereka bersikap baik

 

Kamis, 8 Juli 2010 Juli 8, 2010

Filed under: Loker Cerita Pendek — gogo @ 4:40 am

Pagi ini walapun terbangun dengan kondisi mata yang agak sedikit lelah, tapi aku masih tetap melakukan aktifitas seperti biasanya. Memanaskan air lalu membuat secangkir kopi panas di temani dengan sebungkus rokok.

Rekan kerja sudah berkumpul dibawah untuk segera melakukan meeting pagi. Persoalan yang sama selalu terus dibahas setiap paginya sehingga membuat diriku menjadi jenuh, tapi kegiatan rutinitas seperti itulah yang sudah aku jalankan selama 19 bulan ini.

Produk-produk materi yang disampaikan hanya untuk sekedar memotivasi diri agar bekerja lebih baik lagi. Dalam komunitas ini terlihat banyak sekali kepentingan dan itu pun aku anggap sebuah kewajaran saja selagi manusia berfikir dan mempunai keinginan, tapi jadi ironis ketika melakukan segala cara untk mendapatkannyadan bagi mereka sesuatu hal yang sudah biasa dilakukan ketika berbicara masalah sebuah kebutuhan yang mendasar tapi bagi saya itu sebuah pelajaran yang sangat besar agar aku tidak melakukannya..

Hidup ini indah kawan jangan dikotori dengan sebuah pemikiran serta tindakan yang akan membuatmu menyesal dikemudian hari

 

Renungan ku Juli 7, 2010

Filed under: Loker Cerita Pendek — gogo @ 5:59 am

Tiba-tiba, saya melihat sebuah gambaran yang menimbulkan berbagai macam perasaan di dalam diri saya. Ketidakadilan bisa merajalela, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka memang tidak berani membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamkannya. Tapi kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan dukungan itu sendiri, karena betapa kuat pun kekuasaan, seseorang tetap masih memiliki kemerdekaan untuk berkata “Ya” atau “Tidak”, meskipun Cuma di dalam hati saya.

 

Sudut pandang

Filed under: Loker Cerita Pendek — gogo @ 5:55 am

Satu benda yang sama bisa dilihat berbeda, dari kanan atau kiri. Begitu juga
“pembangunan. “

Pada satu masa “strategi pembangunan” itu diperdebatkan dari sudut kanan vs
kiri. Hal itu tentu bedampak pula pada pandangan atas “strategi pengembangan
wilayah” sebagai turunannya.

Adalah pusat-pusat pertumbuhan, yang dilihat dari sisi kanan merupakan mata
rantai penyebaran kegiatan (dan kue) pembangunan, ada spread effect.
Tapi hal yang sama, dari sisi kiri dilihat sebagai “penghisap kemakmuran
daerah”. Mata rantai pusat-pusat didapati sebagai tentakel gurita kapitalis
global (back-wash effect).

Negara dunia ketiga yang pro-kapitalis, oleh kaum kiri yang percaya “teori
ketergantungan” , disebut negara kapitalis pinggiran yang perannya membantu
menghisap surplus dari desa-desa, dibawa ke kota-kota, ke metropolitan, untuk
selanjutnya dialirkan ke pusat-pusat (kapital) dunia.

Entah sudut pandang mana yang benar. Keduanya punya argumen. Tapi, sebagai awam
secara random di lapangan bisa dilihat fakta yang mendukung keduanya. Ada
penyebaran kegiatan (spread effect), sarana-prasarana, sebaran kue nya juga
sampai ke desa. Tapi jika dilihat dari barang yang dikonsumsi penduduk, dibeli
dimana, diproduksi dimana, dan implikasi aliran uang, tampaknya penghisapan
surplus (back-wash effect) dan capital flight juga terjadi.

 

Rabu 7 Juli 2010

Filed under: Loker Cerita Pendek — gogo @ 5:53 am

Hari ini segala aktifitas bisa saja di hentikan, tapi masih banyak pertimbangan yang harus dipikirkan….”mereka” hanya memikirkan kepentingan yang menjadikan sebuah ide menjadi tidak bisa di laksanakan hanya demi sebuah kepentingan sesaat saja…aku harus tetap konsisten dengan apa yang ada dalam pikiranku..dan perjalanan ini harus terus berlanjut sampai ada sebuah celah terang untuk kelancaran sebuah perjalanan….kaki dan gerakan tangan melangkah dan mengayun sekali-sekali terhenti melihat sebuah kenyataan yang sulit di pahami, apakah ada kejelasan untuk “mereka” atau kah menjadi objek sang penguasa, perubahan apa yang harus diberikan kepada “mereka”??? dan mereka hanya punya satu motto “kami pasti kalah dan bersalah karena kami miskin”. Kiranya, kita semua bisa meramalkan bahwa negara dan bangsa kita tidak akan mungkin bisa diperbaiki secara besar-besaran dan secara drastis, selama pimpinan negara, pemerintahan, dan lembaga-lembaga pentingnya (umpamanya: MPR, DPR, DPRD, Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung,TNI dan Polisi) masih tetap dikangkangi oleh orang-orang yang orientasi politiknya adalah seperti yang sudah dianut selama lebih dari 40 tahun dan bermental Orde Baru. Kita juga tidak bisa mengharapkan terlalu banyak dari hasil Pemilu yang akan datang, yang hanya akan melahirkan orang-orang semacam itu juga, yang akan menjalankan politik dan sistem yang itu itu juga..(Rabu 7 Juli 2010)

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.