gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Petualangan Politik Mei 21, 2011

Filed under: Loker Info Catatan Kecil — gogo @ 11:18 am

Ternyata bukan hal yang mudah untuk bisa hidup nyaman di negeri ini. Tak hanya persoalan ekonomi yang membuat rakyat kecil hidup dalam situasi tertekan. Politik dan hukum pun telah membuat kehidupan rakyat negeri ini kian terpenjara dalam kekangan rezim penguasa yang korup dan kehilangan kepekaan. Politik bukan dioptimalkan sebagai strategi untuk membuat kehidupan rakyat makin sejahtera, melainkan justru diperalat untuk menaikkan posisi tawar sekelompok elite demi melanggengkan kekuasaan semata. Hukum pun setali tiga uang. Rasa keadilan sudah mati di negeri ini. Aparat penegak hukum tidak lagi menenteng pedang keadilan, tetapi justru malah ikut-ikutan terlibat dalam praktik mafia peradilan yang sengaja didesain oleh para pengemplang harta negara agar bisa lolos dari jerat hukum. Dari kacamata apa pun, negeri ini agaknya makin susah dilihat aura kehormatan dan martabatnya. Semakin kabur dan gelap. Proses anomali tengah menyergap di segenap lapis dan lini kehidupan.

Yang menyedihkan, ketimpangan sosial sebagaimana yang dikhawatirkan banyak pengamat kini benar-benar nyata terjadi. Di sudut-sudut kampung dan kota, bahkan juga di pelosok-pelosok dusun yang tak pernah tersentuh kemajuan masih banyak bermunculan rakyat negeri iniyang hidup serba susah. Alih-alih cukup sandang, sekadar untuk mempertahankan hidup saja, mereka terpaksa harus makan buah-buah busuk yang sudah tersedot nilai gizinya. Situasi seperti ini berdampak buruk terhadap pertumbuhan anak-anak negeri Kelewar. Hampir sebagian besar anak-anak terjangkiti penyakit gizi buruk. Perut membuncit. Tatapan mata kosong. Banyak pengamat sosial bilang, negeri inibakal mengalami situasi “the lost generation”. Sementara itu, mereka yang berada dalam lingkaran kekuasaan berpesta dalam gelimang kemewahan dan harta haram. Rakyat terus ditindas untuk membayar pajak, tetapi separuh lebih uang pajak dikemplang dan ditilap untuk kepentingan segelintir elite.

Situasi yang sarat anomali semacam itu membuat rakyat negeri inigeram. Seperti dikomando, rakyat dari berbagai penjuru lembah dan ngarai menyatukan tekad untuk menggulingkan rezim penguasa yang dianggap sudah tak lagi peduli terhadap nasib rakyat yang tertindas dan terzalimi. Berbagai atribut dan umbul-umbul marak terpajang di berbagai sudut kampung dan kota. Demo terus terjadi secara bergelombang dari satu titik ke titik yang lain. Eksesnya, lalu lintas sering lumpuh. Jilatan api yang berkobar dari ban-ban bekas yang terbakar membuat situasi makin memanas. Jumlah aparat kepolisian yang tak seimbang dengan jumlah pendemo kewalahan. Mereka tak sanggup berbuat apa-apa. Kejadian masa silam, ketika aparat keamanan dianggap melanggar hak asasi akibat melakukan tindakan represif terhadap para pendemo, telah membuat mereka kehilangan nyali untuk membuat para pendemo jera.

Ontran-ontran sosial di negeri inimakin sulit dikendalikan. Massa yang geram seperti mendapatkan pengakuan sosial dari berbagai komponen untuk terus melakukan aksi pemakzulan terhadap rezim penguasa.

“Rakyat yang memilih, rakyat pula yang menurunkan! Saatnya kita menyatukan tekad untuk melakukan perubahan! Ini bukan revolusi! Ini tindakan bersejarah untuk menyelamatkan bangsa Seseorang dari cengkeraman rezim yang korup dan lembek! Negeri ini butuh pemimpin yang kuat, tegas, dan punya nyali besar untuk menghabisi koruptor. Bukan penguasa yang lembek dan cengeng!” teriak pendemo di tengah kerumunan massa yang menyemut di istana penguasa negeri inidisambung yel-yel yang gegap-gempita. Suara para pendemo dari berbagai elemen dan kelompok massa bersahut-sahutan. Istana penguasa negeri iniseperti bergetar.

Situasi chaos seperti itu membuat beberapa gelintir petualang politik yang selama ini tersingkir dari panggung kekuasaan merasa mendapatkan angin segar. Mereka, dengan berbagai tipu daya, ingin tampil sebagai pahlawan. Dengan mengatasnamakan rakyat, mereka terus menggelontorkan sejumlah dana untuk membiayai para pendemo. Di tengah situasi kemiskinan dan pengangguran yang merajalela, seseorang mana yang tahan godaan? Maka, jadilah aksi demo yang beruntun dan bergelombang tidak murni lagi sebagai aspirasi rakyat yang selama ini terzalimi dan ternistakan, tetapi sudah diambil alih dan dikendalikan oleh beberapa gelintir elite yang merasa tersingkir dari panggung kekuasaan.

“Bagus! Sampeyan harus mampu melakukan aksi demo secara cerdas. Pastikan bahwa rakyat benar-benar berada di pihak kita! Berapa pun biayanya, Sampeyan ndak usah khawatir! Ajak semua rakyat miskin dan pemuda pengangguran untuk beraksi bersama! Tapi ingat, jangan sampai ada seseorang lain yang tahu, kalau akulah yang berada di balik ontran-ontran ini! Paham?” seloroh seseorang bertubuh tambun dan berjidat licin. Kedua bola matanya membeliak, memancarkan optimisme.

“Paham, Bos! Dan Bos tak usah khawatir. Serahkan semua urusan kepada saya!” sahut seseorang berambut gondrong sambil menunduk takzim.

“Bagaimana hasil investigasinya? Beres? Siapa sesungguhnya yang berada di balik ontran-ontran itu?” tanya sang penguasa di sebuah lorong yang sejuk ber-AC. Di lorong yang tampak sepi dari luar itu, sesungguhnya sedang terjadi sebuah rapat pleno para petinggi negeri ini yang terancam dimakzulkan. Namun, berkat kekuatan intel yang terlatih dengan dukungan fasilitas dan akomodasi serba “wah”, mereka bisa dengan mudah menyiasati gelombang demo itu….

Iklan
 

2 Responses to “Petualangan Politik”

  1. SaniAgung Says:

    sudah saya pasang linknya, tapi situ pasang juga dong link saya, taruh di sidebar 😉


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s