gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Dimana Pemimpin Kami Maret 23, 2011

Filed under: Loker Info Catatan Kecil — gogo @ 1:18 pm

Akhir-akhir ini menjadi suatu hal yang lumrah ketika berita di surat kabar  memberitakan tentang perilaku pejabat negara yang sedang berhadapan dengan proses hukum. Sebagian besar anggota DPRD diperiksa kejaksaan karena terindikasi tindakan korupsi. Seorang oknum bupati diajukan ke pengadilan karena terlibat dengan kasus mark up suatu proyek di suatu daerah.  Semua anggota DPRD di suatu daerah terlibat praktek korupsi dan telah ditetapkan menjadi tersangka. Seorang mantan bupati dijebloskan ke penjara karena terindikasi melakukan korupsi pada masa pemerintahannya. Contoh-contoh di atas merupakan berita-berita yang sudah tidak asing bagi masyarakat umum. Selain itu, masih banyak berita lain menyangkut perilaku pejabat negara, yang kadang membuat hati rakyat menjadi miris, kecewa, emosi, dan marah. Sebagai contoh dari ungkapan emosi anggota masyarakat dapat kita perhatikan dengan mendengarkan ungkapan seorang penumpang mobil angkutan umum. Penulis mengutip ungkapan seorang bapak yang kebetulan membahas masalah pejabat negara di sebuah angkutan umum sebagai berikut: Semua sistem di negara ini sudah rusak. Semua pejabat sudah tidak bisa dipercaya. Mereka tidak lagi memikirkan rakyat. Mereka sudah mendapatkan penghasilan besar dari jabatannya, tetapi masih juga mau mengambil uang rakyat dengan cara korupsi. Apakah mereka tidak memikirkan rakyat lagi? Di samping ungkapan emosi ini, masih banyak umpatan yang datang dari penumpang lain, dan semuanya ditujukan kepada pejabat-pejabat negara yang menurut mereka cenderung tidak mengabdi kepada negara dan masyarakat, tetapi hanya mengabdi kepada golongan dan diri sendiri.

Pada saat ini, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita masih ingin agar pemimpin kita nantinya adalah orang yang tidak bijak dan tidak bersih? Tentu jawabannya adalah tidak. Kita semua sudah bosan dengan perilaku pejabat yang tidak mencerminkan pengabdian kepada masyarakat. Kita sudah bosan dengan pejabat yang hanya mementingkan diri sendiri dan golongannya dan menjadikan rakyat hanya sebagai sapi perahan. Kita semua tentu menginginkan seorang pemimpin yang visioner, bersih, bijak, dan mau jadi pelayan. Kita tentu menginginkan agar nantinya muncul pemimpin yang mau dan mampu meletakkan kepentingan masyarakat jauh dia atas kepentingan pribadi atau golongan.

Setelah memaparkan sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin kemudian timbul lagi pertanyaan yang sangat mengusik. Hal ini menyangkut pertanyaan yang ada pada judul tulisan ini. Masih adakah kemungkinan  kita akan memperoleh seorang pemimpin yang mempunyai sifat seperti yang disampaikan sebelumnya? Mungkinkah hal itu hanya sebuah utopia (mimpi) saja bagi seluruh anggota masyarakat?

Apabila kita mengacu kepada situasi perkembangan politik saat ini maka pada dasarnya segenap anggota masyarakat yang terlibat langsung dengan pelaksanaan proses pemilihan kepala daerah secara langsung (pilkadasung) mempunyai kesempatan untuk menciptakan suatu perubahan. Perubahan yang dimaksud di sini adalah dengan terpilihnya seorang pemimpin yang bijak dan bersih serta benar-benar berpikir dan bertindak untuk rakyat.  Rakyat yang ikut terlibat dengan pilkadasung dapat berperan menciptakan perubahan ini yaitu dengan menjatuhkan pilihan kepada calon pemimpin yang berpikir bijak dan berhati bersih.

Memilih calon pemimpin daerah yang bijak dan bersih dapat menjadi hal yang tergolong susah, tetapi dapat juga menjadi hal yang cenderung mudah. Artinya adalah bahwa kita akan kesulitan untuk menentukan pilihan kepada calon yang tepat apabila kita tidak mengetahui seluk beluk calon tersebut, tetapi apabila kita mendalami track record para calon pimpinan daerah maka kita akan mudah untuk menentukan pilihan. Untuk itu, melalui tulisan ini penulis menyampaikan beberapa parameter kepada sidang pembaca agar nantinya kita dapat memilih calon pemimpin daerah yang bijak dan bersih, yang dapat membuat perubahan positif yang berarti di daerah kita masing-masing.            Yang pertama, tingkat pendidikan dan wawasan calon harus diperhatikan. Masalah pendidikan dan wawasan adalah hal yang sangat penting karena seorang calon harus mempunyai pengetahuan yang memadai dan wawasan yang luas untuk membawa suatu daerah kepada suatu perubahan. Menurut penulis, jenjang sarjana dapat kita gunakan sebagai acuan untuk menentukan apakah si calon mempunyai standard pengetahuan yang memadai atau belum. Di samping itu, kita juga harus berhati-hati dengan gelar palsu yang saat ini sudah banyak dijual di pasaran. Adalah suatu hal yang naif apabila kita menginginkan pemimpin yang bijak dan bersih, tetapi pemimpin daerah kita mempunyai gelar palsu yang dibeli dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Yang kedua, yang harus diperhatikan adalah status sosial dan ekonomi dari calon pimpinan daerah. Kita harus jeli melihat latar belakang kepemilikan harta yang dimiliki oleh seorang calon. Sebagai contoh, seorang calon hanya sebagai PNS, dia tidak mempunyai sumber penghasilan di luar gaji dan tunjangan dari  PNS, tetapi yang bersangkutan mempunyai harta yang sangat melimpah (berupa kepemilikan tanah yang sangat luas, rumah mewah, kendaraan bermotor yang sangat mewah, dll). Hal ini harus menjadi bahan pertanyaan bagi kita yaitu dari mana yang bersangkutan mendapatkan harta tersebut,  apakah harta tersebut didapatkan dari warisan orang tua atau malah dari hasil korupsi? Yang ketiga, yang harus diperhatikan adalah mengenai track record si calon, meliputi prestasi kerja dan pencapaian-pencapaian yang sudah dia lakukan baik di dunia kerja ataupun ditengah-tengah masyarakat umum. Sebagai contoh, apabila yang bersangkutan berasal dari pejabat negara, maka bisa dipertanyakan tentang prestasi dan pencapaian yang telah diraihnya selama menjabat di instansi pemerintah. Apabila yang bersangkutan berasal dari kalangan dunia usaha  maka bisa dipertanyakan mengenai prestasi dan pencapaian yang telah diraih yang bersangkutan selama berkecimpung di dunia usaha. Jika yang bersangkutan adalah pegawai swasta, hampir sama dengan kondisi sebelumnya, perlu dipertanyakan tentang prestasi dan pencapaian yang diraih selama bekerja sebagai pegawai swasta. Di samping prestasi dan pencapaian di dunia kerja, kita juga perlu memperhatikan track record calon di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. Artinya adalah bahwa kita sebagai calon pemilih perlu memperhatikan apakah si calon sudah pernah berbuat hal-hal yang positif dan konstruktif bagi masyarakat umum atau pada masyarakat daerah khususnya? Jangan-jangan mereka datang ke daerah hanya pada saat proses pilkadasung akan berlangsung. Setelah terpilih, mereka akan terlena dengan euforia kemenangan dan melupakan konstituen yang telah menempatkan mereka di kursi orang nomor satu dan nomor dua di daerah. Hal ini sangat penting kita perhatikan. Kita harus benar-benar jeli mengamati calon pemimpin daerah agar kita tidak terjebak dan terperosok ke situasi yang sudah sering kita alami di masa lalu.

Yang keempat, kita juga perlu memperhatikan calon pimpinan daerah dari sikap tim sukses dan cara-cara prakampanye/kampanye masing-masing calon. Perlu kita perhatikan, apakah tim sukses seorang calon menghalalkan segala cara untuk memajukan calon mereka. Menghalalkan segala cara disini dapat diwujudkan dengan melakukan black campaign, yaitu menjelek-jelekkan calon lain atau dengan melakukan politik uang. Politik uang merupakan suatu tindakan yang dapat mencederai proses demokrasi pilkadasung. Politik uang dapat merusak tatanan kehidupan berpolitik daerah dan bangsa kita serta akan menyengsarakan masyarakat luas. Untuk itu, sebagai pencegahan kita harus jeli mengamati jumlah pengeluaran yang dikeluarkan oleh masing-masing calon. Jika seorang calon mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk suatu proses pilkadasung, maka logika awam akan mengambil kesimpulan bahwa yang bersangkutan, apabila terpilih akan berusaha untuk mengembalikan semua pengeluaran pada saat kampanye. Jika ini terjadi, korupsi kembali akan merajalela dan masyarakat lagi-lagi akan menjadi korban. Yang kelima, seorang calon pemimpin harus mempunyai visi yang jelas dan terukur terhadap daerah yang akan dipimpin. Yang bersangkutan harus  dapat meletakkan milistone-milistone yang akan dicapai selama masa kepemimpinannya serta benar-benar mendalami arah pembangunan daerah. Milistone yang akan dicapai bisa diukur dalam fase bulanan, semester, tahunan, dan lima tahunan.

Demikian beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai parameter untuk memilih calon pemimpin di daerah dalam pilkadasung yang sebentar lagi akan kita hadapi. Kita akan dimudahkan untuk memilih calon pemimpin daerah yang bijak dan bersih apabila kita benar-benar meneliti calon-calon pemimpin daerah tersebut dan mempergunakan kelima parameter diatas sebagai alat bantu. Dengan demikian, kita dapat menjawab pertanyaan yang disampaikan pada judul tulisan ini. Dengan memperhatikan beberapa parameter di atas sebelum kita menentukan pilihan maka mencari pemimpin daera yang bijak dan bersih bukanlah suatu utopia (mimpi) belaka.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s