gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Menangkar cucakrowo Januari 20, 2011

Filed under: Loker Dunia Hobi — gogo @ 3:26 am

Menangkar cucakrowo

 

Beginilah logika umum untuk membreding cucakrawa dengan lebih gampang: memelihara indukan dari kecil dan hasil ternakan. Selain dianggap lebih mudah, juga lebih murah.

Sebagai gambaran, harga anakan usia makan sendiri sepasang sekitar 4 juta rupiah, sedangkan harga yang sudah usia dewasa kelamin, sekitar 8 bulan, dan siap dijodohkan (dalam bahasa pedagang, yang begini biasanya dianggap sepasag dan siap masuk kandang) harganya hampir dua kali “lipat.

Bila kita ragu-ragu akan jenis kelaminnya, dijual secara terpisah pun tidak ada soal. Sebab untuk cucakrawa, jantan atau betina harga satuannya sama saja, sama-sama bunyi, dan sama-sama bisa dilombakan.

Di sinilah salah satu kelebihan bila kita “menginvestasikan” uang untuk membeli, memelihara, dan membesarkan anakan cucakrawa. Bisa disebut, tak mengenal kata rugi.

Logika yang agak berbeda datang dari Mardiono, yang tinggal di Tegal Kenongo, Tirtonirmolo, Bantul.  Memelihara cucakrawa asal hutan sejak tahun 1994 yang kemudian dimasukkan ke kandang breeding, saat ini sudah menghasilkan lebih dari 50 kali tetasan.

Tentu saja, waktu itu Mardiono hanya menyiapkan kandang seadanya. Mardiono membangun kandang di dalam rumah ukuran 2 x 2 m, dengan sekat menggunkan kawat strimin.

Hanya dalam waktu satu bulan, burung sudah mau bertelur dan menetas, begitu seterusnya hingga 2007 sudah lebih dari 50 tetasan. Setelah itu, produksi baru mulai lambat, tidak selancar sebelumnya.

Dari hasil pengalaman itu, Mardiono pun menyimpulkan, bahwa indukan asal hutan bisa lebih awet produksinya. Yang jelas, sebagian anakan itu sekarang juga sudah dikembangkan menjadi indukan baru. Sekarang, Mardiono sudah memiliki 13 pasang kandang cucakrawa.

Perawatan tentukan produktivitas

Kebersihan adalah salah satu rahasia keberhasilan dari breeding, termasuk cucakrawa. Tak hanya di dalam kandang, seperti bagian sarang, titik-titik di sekitar kandang pun harus dibersihkan dari kotoran-kotoran yang berceceran.
Di dalam kandang yang diberi tanaman perdu untuk memberi kesan rindang dan alami, juga-perlu disemprot agar daun dan tangkainya kelihatan bersih dan segar.

Untuk inkubator, Mardiono hanya menggunakan inkubator sederhana buatan sendiri dari bahan triplek dan hanya diberi penerangan saja untuk penghangat.
Piyik yang baru menetas hingga umur dua minggu, setelah diloloh tak perlu diberi air.  Setelah usia tiga minggu, piyik mulai memerlukan penjemuran selama sekitar 30 menit. Setelah dijemur, bisa ditambahkan suplemen alami berupa madu.

Membedakan jantan-betina

Memilih atau membedakan jenis kelamin cucakrawa harus diakui tidak gampang, sebab secara fisik nyaris tidak berbeda, dari segi suara juga sama saja. Jadi bagi yang awam, benar-benar tak gampang membedakannya.

Di kalangan para breeder yang sudah berpengalaman pun, ternyata cara untuk memastikan jantan dan betina tidak sama. Mardiono biasa melihat cirinya bila dengan mengamati saat masih piyikan.

Piyikan bisa  dikatakan jantan bla di bagian atas kepalanya terdapat garis atau galar yang kelihatan cerah, kelihatan piyikan itu juga agresif. Bila piyikan lebih cepat bunyi dan birahinya lebih cepat biasanya banyak betinanya.  Indukan maupun piyikan yang baru diloloh juga sangat bagus bila diberi tambahan asupan multivitamin.

sumber:  (Agrobur)

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s