gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Transportasi Masyarakat Rejang di Lebong Agustus 15, 2010

Filed under: Loker Kabupaten Lebong — gogo @ 5:59 am

SEJAK zaman kolonial tempoe doeloe, masyarakat Rejang di pusat asal usul sukubangsa ini di Renah Sekalawi, yang sekarang dikenal dengan nama Lebong. Sudah mengenal beberapa jenis alat transportasi. Alat-alat itu dipergunakan sesuai dengan kebutuhannya.
Pada zaman dahoeloe kala itu, masyarakat Rejang (Tun Jang, pen) sudah kenal dengan Stoom (mobil), motor pit (sepeda motor ), Krita (speda dayung), Datai (pedati), biduk (perahu), eket (rakit) dan lainnya.
Walaupun beberapa jenis alat transportasi itu langka, di daerah Lebong sudah ada. Sampai tahun 1971 jumlah kendaraan angkutan umum yang membuka trayek ke Lebong, masih sangat sedikit. Boleh dihitung dengan jari jumlahnya. Salah seorang pengusaha angkutan umum pada saat itu adalah Marzuki. Dia juga akrab dipanggil dengan nama ‘mamak’ Zuki.
Lelaki berasal-usul dari Topos itu, kemudian keluarga besar orangtuanya bertempat tinggal di Metro dan kemudian pindah ke Lemeu Pit (Limau Pit) dekat Muara Aman. Namun, sebagai pemuda yang kreatif, Marzuki setelah menikah menetap di Kota Curup, ibukota kabupaten Rejang Lebong.
Nama perusahaan angkutan umumnya sampai tahun 1970 adalah PO Pujaan. Mobil Pujaan itu sangat dikenal di seluruh pelosok Lebong. Oleh karenanya, ketika jumlah mobilnya yang berukuran bis tanggung itu bertambah. Maka, namanya pun dibuat menjadi Pujaan A, Pujaan B, Pujaan C dan seterusnya.
Pada tahun 1971 semua bis Pujaannya dinon aktifkan, karena situasi dan kondisi ekonomi. Kemudian Marzuki membeli bis besar dari Padang yang kemudian diberi nama PO Rangkiang. Nama Rangkiang itu sendiri dalam bahasa Minangnya berarti lumbung besar tempat penyimpanan hasil bumi, terutama padi.
Yang tidak terlupakan ketika saya pergi ke Padang Panjang tahun 1971. Kami naik bis Rangkiang. Dari Curup ke Padang Panjang kami tempuh selama 10 hari lebih dengan perjalanan melewati jalan yang rusak parah. Bahkan, kami pernah beberapa hari di tengah hutan. Di sisi lain, tidak ada jembatan antara Lubuk Linggau (Sumatera Selatan) dengan Sawahlunto.
Semua penyeberangan melalui sungai-sungai dilakukan dengan perahu pantheon. Yaitu semacam rakit besar yang didorong oleh bantuan bamboo dan tali yang membentang di atas sungai. Jika kita sampai malam hari di tepi sungai, maka harus menginap. Karena si pemilik pantheon hanya menyeberangkan kendaraan pada siang hari. Dapat dibayangkan perjalanan selama 10 hari lebih melewati jalan yang benar-benar rusak, artinya ruas jalan masih berupa tanah walau badan jalan sudah ada. Karena merupakan badan jalan yang dibuat di zaman Hindia Belanda.
Kini, Marzuki sudah lama meninggal dunia. Tidak ada regenarasi kecintaannya di dunia angkutan umum. Anak tertuanya, putrid sekarang berada di Bengkulu dan yang lainnya tidak diketahui di mana mereka bertempat tinggal.
Di Lebong pada tahun 1971, untuk berangkat ke Curup dibutuhkan waktu setengah hari menunggu mobil lewat. Namun, pasca tahun 1971 Lebong berangsur membaik dengan pembangunan sarana fisik dan non fisiknya. Tetapi, belum begitu menggairahkan. Boleh dikatakan Lebong yang statusnya hanya wilayah kecamatan itu terisolir dari dunia luar.

Transportasi Lokal
Masyarakat Rejang di Lebong kurun yang panjang menggunakan jenis transportasi local, seperti pedati, bobot dan kerbau, serta perahu. Kebanyakan untuk berpergian digunakan dengan jalan kaki, berapa pun jauhnya. Sebab, belum ada yang punya sepeda motor atau sepeda, apalagi memiliki sebuah mobil.
Padahal, anggota masyarakat Rejang di Lebong pada saat yang sama sudah banyak yang merantau dan berhasil di perantauan. Baik sebagai pegawai negeri sipil, tentara, polisi dan wiraswasta. Tokoh-tokoh pembaruan yang cukup terkenal zaman itu antara lain Mohammad Husein (putra Kotadonok yang menjadi gubernur Sumatera Bagian Selatan) yang namanya sekarang diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum (RSU) Palembang.
Generasi berikutnya ada nama-nama seperti H Zulkarnain (swasta, tinggal di Curup), H Jamaan Nur (PNS di Bengkulu), M. Rivai (pegawai Bank di Jakarta), Alak Masjkoer (swasta, di Bukittingi, Sumatare Barat), Rahmatsyah (petani, tinggal di Kotadonok) , Zulkarnain Said (Dosen Unand di Padang), M Fakhrudin (dosen di Lampung), HM Ilyas (dari Topos, swasta di Curup), M Bachir (PNS di Metro, Lampung), Affan (TNI AU di Medan), Dahlan (TNI AL di Surabaya), Jhoni Anwar (TNI di Lampung), Syaiful Nawas (TNI di Lampung), dan keluarga Pangeran Kotadonok di Palembang, Jakarta dan Bengkulu.
Mereka adalah sebagian dari tokoh-tokoh dengan regenerasi tokoh masyarakat Rejang di Lebong. Dan, dari idolaisme masyarakat kepada mereka, akhirnya banyaklah orang Rejang di Lebong merantau ke luar provinsi Bengkulu. Mereka adalah panutan masyarakat Lebong pada umumnya, terutama dari Bermani Jurukalang.

Kondisi transportasi di Lebong antara tahun 1950—1975 masih sangat sulit, padahal waktu itu penghasilan dari sector pertanian, perkebunan, kehutanan, peraian darat, tambang sangat besar sekali. Namun, semuanya tidak dapat dinikmati secara baik oleh masyarakat Rejang, karena cost (biaya) yang tinggi untuk penjualan hasil-hasil pertanian mereka.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s