gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Si Bungsu yang Revolusioner, Rosa Luxemburg Agustus 3, 2010

Filed under: Loker Kumpulan Tulisan — gogo @ 9:48 am

Rosa Luxemburg lahir pada 5 Maret 1871 sebagai putri bungsu sebuah keluarga Yahudi di Zamość, Polandia-Rusia. Keluarganya pindah ke Warsawa ketika dia berumur dua tahun. Di kota inilah dia memperoleh pendidikan dan akhirnya terjun ke politik sosialis revolusioner ketika masih seorang siswi sekolah menengah. Gabungnya Luxemburg dengan Partai Proletariat dengan segera membuat polisi Tsar gusar dan pada 1889 dia terpaksa keluar Polandia. Sebagian karena menghindari kejaran intel Tsar, sebagian demi melanjutkan pendidikan tingginya, Luxemburg pindah ke Swis yang saat itu merupakan negeri para pengungsi politik, terutama kaum sosialis dari Eropa Timur. Dia tinggal di Zürich dan mendaftar ke Universitas Zürich untuk belajar hukum dan ekonomi. Di sana dia bertemu dengan Leo Jogiches, kekasih dan kawan seperjuangannya di pergerakan sosialis Polandia. Keduanya sama-sama kecewa terhadap kecenderungan nasionalistik yang dominan dalam Partai Sosialis Polandia (PPS) dan bareng-bareng membentuk inti kecil kelompok oposisi di dalamnya. Kelompok oposisi ini kemudian pada 1893 memisahkan diri dan mendirikan Demokrasi Sosial Kerajaan Polandia dan Lithuania (SDKPiL). Meskipun Luxemburg bergulat sungguh-sungguh demi sosialisme di wilayah Imperium Tsar untuk sepanjang hidupnya, namun di Jerman tempatnya menyelesaikan tesis doktor-lah dia nyata-nyata bergulat. Luxemburg merupakan perempuan pertama yang memperoleh doktorat dalam ilmu ekonomi dari Universitas Zürich. Sejak 1898 dia tinggal di Berlin. Secara kebetulan, tinggalnya Luxemburg di Berlin berbarengan dengan meningginya bibit-bibit perpecahan di tubuh Partai Sosial Demokrasi Jerman (SPD) yang terkait dengan ‘perdebatan revisionis’. Dalam kondisi demikian, sumbangan-sumbangannya dalam perdebatan melambungkan kedudukannya di antara kaum sosialis sebagai wakil terkemuka sayap revolusioner. Luxemburg tidak hanya berhadap-hadapan dengan pengemuka revisionisme, Eduard Bernstein yang menghendaki ‘revolusi dalam parlemen’ sebagai jalan keluar menghadapi perubahan kapitalisme, tetapi juga bergiat menghantam kecenderungan ‘revolusioner omong-doang’ dari kubu Karl Kautsky yang menolak aksi-aksi revolusioner yang sungguh-sungguh. Luxemburg berdiri di saya paling radikal dengan mengajukan program aksi revolusioner yang berkecenderungan pada siasat ‘pemogokan massa’ sebagai senjatanya. Perdebatan dalam SPD memang membuahkan hasil tak sekadar lumayan secara intelektual, tetapi secara politik bikin frustrasi. Akhirnya Luxemburg menyadari bahwa dia terkucil tidak hanya dari kubu revisionis dan serikat buruh ‘Kanan’, tapi juga dari “Pusat Marxis” yang dinaungi Kautsky.

Pada 1914, Luxemburg benar-benar berada di titik oposisi paling ujung terhadap kecenderungan umum dalam politik SPD. Ia telah lama bertarung dengan mereka, tapi belum juga bisa menumbangkannya. Pada tahun ini fajar Perang Dunia I merekah. Baranya tidak hanya melumerkan SPD tapi juga meluluh-lantakkan Internasionale Kedua. Luxemburg yang mewakili SDKPiL dalam Biro Sosialis Internasional tersebut sejak 1904 memainkan peran penting dalam merumuskan sikap anti-perang dalam biro tersebut. Ketika perang meledak, Luxemburg menghadapi tanggung jawab mengorganisasi oposisi sosialis terhadap perang di lingkungan sosialis Jerman sekaligus menanggung bagian penting untuk membangun sebuah pergerakan internasional revolusioner baru. Ia menyeru para pekerja untuk tidak ikut perang yang tiada lain hasil persaingan antarkapitalis. Karena seruannya, Luxemburg dipenjara pemerintah. Meski selama perang berlangsung (1914-1918) dia menghabiskan sebagian besar waktunya di penjara, Luxemburg merupakan sumber utama kepemimpinan teoritis untuk oposisi sosialis baru dalam Serikat Spartakus, dan bersama-sama Karl Liebknecht, Clara Zetkins, dan Franz Mehring merumuskan garis-garis agitasi anti-perang serta membangun kerjasama dengan Partai Sosial Demokrasi Independen (USPD) ketika pada 1917 terjadi perpecahan dalam SPD. Luxemburg menentang kebijakan SPD yang wakil-wakilnya di parlemen menyetujui kucuran dana perang Jerman. Luxemburg pula yang membangun posisi yang dipegang Serikat Spartakus dalam pertemuan kaum Kiri Seluruh Eropa yang antiperang. Hal ini menghantarnya (lagi) ke dalam pertentangan dengan Lenin, si bos Bolsheviks.

Sebelumnya, ketika masih dalam penjara, Rosa Luxemburg menulis kritik pedas terhadap Revolusi Oktober Lenin di Rusia, terutama kecenderungan Bolsheviks menjadi partai elit yang menafsirkan ‘diktatur proletar’ sama dengan diktatur partai dan akhirnya sama dengan ‘diktatur elit partai’. Bagi Luxemburg, kelakuan Bolsheviks yang segera memberangus kebebasan pers dan berserikat ketika menguasai Rusia, merupakan pertanda buruk bagi gerakan kaum pekerja seluruh dunia. Kaum pekerja dalam demokrasi sosialnya Lenin bakal menjadi budak dalam sistem diktatur elit partai yang mewujud dalam birokrasi kapitalisme negara. Kecenderungan ini sudah sejak 1903 dipahami Luxemburg yang melihat adanya benih-benih Blanquisme dalam teori-teori Lenin.

Pada akhir tahun 1918, Kekaisaran Jerman runtuh karena kalah perang. Di awal 1919, Serikat Spartakus yang mengubah nama menjadi Partai Komunis Jerman mencoba mengadakan revolusi di Berlin. Luxemburg sendiri menilai pilihan ini tidak tepat. Tetapi keadaan akhirnya mendesak para pelaku melakukan pemberontakan. Revolusi gagal dan anggota-anggota Serikat Spartakus diberangus hingga hangus. Pada 15 Januari, Luxemburg dan Liebknecht, dua pemimpin partai ditangkap segerombolan pasukan liar sayap kanan. Keduanya dipukuli sampai mati. Konon kepala Luxemburg rengat dihajar popor senjata. Jenazah keduanya lalu dibuang ke sungai. Meski tubuhnya dimakan ikan, tapi gagasan si bungsu yang revolusioner ini tetap hidup untuk mengingatkan arti penting massa dalam revolusi.

https://gogoleak.wordpress.com/

 

2 Responses to “Si Bungsu yang Revolusioner, Rosa Luxemburg”

  1. sedjatee Says:

    menemukan profil seorang revolusioner
    menjadi tumbal tirani politik
    thanks infonya, salam kenal…

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com

    • gogo Says:

      Sip……. yang penting kia semua bisa menarik pelajaran atas semua aktivitas dan kejadian yang terjadi oleh para pejuang revolusioner ini..
      Thanks


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s