gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Lahirnya Sebuah Proses Perlawanan Juli 27, 2010

Filed under: Loker Tulisan Terbaru — gogo @ 3:34 pm

Lahirnya Sebuah Proses Perlawanan

Desentralisasi, dalam salah satu aspeknya, seolah menjadi “durian runtuh” bagi pemain politik di tingkat lokal, terutama yang memiliki kemapanan politik secara tradisional dan mengusai sumber daya ekonomi. Tidak terhindarkan pula, bahwa sebagian pertarungan politik di nasional telah berpindah ke pertarungan politik lokal, bahkan tak jarang pertarungan politik lokal disorot secara nasional.

Namun, harus diakui, bahwa pemain-pemain politik paling siap dalam pertarungan politik adalah kekuatan politik lama dan kelompok elit baru. Elit lama mengacu pada warisan politik jaman Soeharto, sedangkan elit baru meliputi kelompok pengusaha baru, pedagang, pemuka agama, hingga kelompok professional.

Karena konturnya begitu, maka pertarungan politik lokal pun didominasi oleh elit yang sekedar haus kekuasaan, tanpa keberpihakan kepada rakyat. Mereka begitu mudah disuap oleh klik kepentingan, terutama kepentingan bisnis. Inilah, menurut hemat saya, yang menyebabkan lahirnya perlawanan atau amuk di beberapa daerah, termasuk di Buol, Buton, dan Banggai.

Secara garis besar, kita dapat menjelaskan beberapa hal yang memungkinkan perlawanan itu hadir; Pertama, kelahiran pemerintahan lokal yang tidak peka dengan persoalan rakyat, sibuk mengejar pemuasan pribadi dan golongannya, dan begitu mudah disuap oleh kekuatan uang (pemodal). Ini sangat kontras dengan kehidupan rakyat secara luas, yang mengalami kesulitan ekonomi, terdiskriminasi, dan lain sebagainya.

Kedua, absennya kontrol publik atau mekanisme kontrol publik terhadap kekuasaan politik di lokal. Paska pemberangusan organisasi massa di bawah rejim Soeharto, saluran kontrol publik seperti dihapuskan. Memang ada LSM/ornop yang berusaha mengisi ruang-ruang itu, namun terkadang menghindar dari mobilisasi politik ataupun menjembatani massa dalam medan politik. Karena kekosongan itulah, maka perlawanan spontan atau amuk merupakan ekspresi paling mungkin bagi massa untuk mengoreksi kesalahan pemerintah.

Ketiga, medan electoral seperti pilkades dan pilkada, sebagai mekanisme demokratis bagi massa untuk menyeleksi pemimpin, masih diwarnai kesan-kesan tidak demokratis. Ini sangat nampak dalam hal berkembangnya politik uang, politik patron-klien, dsb.

https://gogoleak.wordpress.com/

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s