gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Sufi Juli 20, 2010

Filed under: Loker Kajian Agama — gogo @ 12:42 am

1 IMAM AL-GHAZALI

Filosuf dan Sufi abad keduabelas, Imam al-Ghazali, mengutip dalam bukunya, Book of Knowledge, ungkapan dari al-Mutanabbi: ” Bagi orang sakit, air manis terasa pahit di mulut.”

Dengan sangat bagus, ungkapan tersebut diambil sebagai motto Imam al-Ghazali. Delapan ratus tahun sebelum Pavlov, ia menjelaskan dan menekankan (acapkali dalam perumpamaan yang menarik, kadang dalam kata-kata ‘modern’ yang mengejutkan) masalah pengondisian.

Kendati Pavlov dan lusinan buku serta laporan studi klinis dalam perilaku manusia sudah dibuat sejak perang Korea, para siswa umum, dihadapkan pada masalah-masalah pemikiran tidak menyadari kekuatan indoktrinasi.” Indoktrinasi, dalam masyarakat totalitarian, merupakan suatu ketetapan yang diinginkan dan selanjutnya menjadi keyakinan masyarakat tersebut. Dalam pengelompokan lain, kehadirannya tidak mungkin ada bahkan dicurigai. Inilah yang membuat hampir setiap orang mudah menyerangnya.

Karya Imam al-Ghazali tidak hanya mendahului zamannya, tetapi juga melampui pengetahuan kontemporer mengenai masalah-masalah tersebut. Pada waktu opini disampaikan secara tertulis, dipisahkan apakah indoktrinasi (jelas maupun terselubung) diinginkan atau sebaliknya, juga apakah mutlak atau tidak.

Imam al-Ghazali tidak hanya menjelaskan apakah orang-orang yang menciptakan kepercayaan, kemungkinan dalam keadaan terobsesi; dengan jelas ia menyatakan, sesuai dengan prinsip-prinsip Sufi, bahwa hal itu bukannya tidak dapat dielakkan mutlak, tetapi menegaskan bahwa hal itu esensial untuk manusia agar dapat mengenalinya.

Buku-bukunya dibakar oleh kaum fanatik Mediteranian dari Spanyol sampai Syria. Sekarang ini memang tidak dilempar kedalam api, tetapi pengaruhnya, kecuali diantara kaum Sufi, mulai melemah; buku-buku tersebut tidak lagi banyak dibaca.

Menurutnya, perbedaan antara opini dan pengetahuan adalah sesuatu yang dapat hilang dengan mudah. Ketika hal ini terjadi, merupakan kewajiban atas mereka yang mengetahui perbedaan tersebut untuk menjelaskannya sebisa mungkin.

Kendati penemuan-penemuan, psikologi dan ilmu pengetahuan Imam al-Ghazali, dihargai secara luas oleh bermacam kalangan akademis, tetapi tidak diperhatikan sebagaimana mestinya, karena ia (al-Ghazali) secara spesifik menyangkal metode ilmiah atau logika sebagai sumber asli atau awal. Ia berada pada pengetahuannya melalui pendidikan Sufismenya, diantara kaum Sufi, dan melalui bentuk pemahaman langsung tentang kebenaran yang sama sekali tidak berhubungan dengan intelektual secara mekanis. Tentu saja, hal ini membuatnya berada di luar lingkaran kalangan ilmuwan. Apa yang lebih menimbulkan penasaran adalah bahwa temuan-temuannya begitu menakjubkan hingga orang akan berpikir, bahwa para penyelidik ingin mengetahui bagaimana dia telah menempuh atau mendapatkannya.

‘Mistisisme’ dijuluki dengan sebutan yang buruk seperti seekor anjing dalam sebuah peribahasa, jika tidak dapat digantung, setidaknya boleh diabaikan. Ini merupakan ukuran pelajaran psikologi: terimalah penemuan seseorang jika engkau tidak dapat menyangkalnya, sebaliknya abaikan metodenya jika tidak mengikuti keyakinanmu akan metode.

Jika Imam al-Ghazali tidak menghasilkan karya yang bermanfaat, secara alamiah ia akan dihargai hanya sebagai ahli mistik, dan membuktikan bahwa mistisisme tidak produktif, secara edukatif maupun sosial.

Pengaruh Imam al-Ghazali pada pemikiran Barat diakui sangat besar dalam semua sisi. Tetapi pengaruh itu sendiri menunjukkan hasil suatu pengondisian; para filosuf Kristen abad pertengahan yang telah banyak mengadopsi gagasan al-Ghazali secara sangat selektif, sepenuhnya mengabaikan bagian-bagian yang telah memperlakukan kegiatan indoktrinasi mereka.

Upaya membawa cara pemikiran al-Ghazali kepada audiens yang lebih luas, daripada kepada Sufi yang terhitung kecil jumlahnya, merupakan perbedaan final antara keyakinan dan obsesi. Ia menekankan peran pendidikan dalam penanaman keyakinan religius, dan mengajak pembacanya untuk mengamati keterlibatan suatu mekanisme. Ia bersikeras pada penjelasan, bahwa mereka yang terpelajar, mungkin saja dan bahkan sering, menjadi bodoh fanatik, dan terobsesi. Ia menegaskan bahwa, disamping mempunyai informasi serta dapat mereproduksinya, terdapat suatu pengetahuan serupa, yang terjadi pada bentuk pemikiran manusia yang lebih tinggi.

Kebiasaan mengacaukan opini dan pengetahuan, adalah kebiasaan yang sering dijumpai setiap hari pada saat ini, Imam al-Ghazali menganggapnya seperti wabah penyakit.

Dalam memandang semua ini, dengan ilustrasi berlimpah serta dalam sebuah atmosfir yang tidak kondusif bagi sikap-sikap ilmiah, Imam al-Ghazali tidak hanya memainkan peranan sebagai seorang ahli diagnosa. Ia telah memperoleh pengetahuannya sendiri dalam sikap Sufistik, dan menyadari bahwa pemahaman lebih tinggi — menjadi seorang Sufi — hanya mungkin bagi orang-orang yang dapat melihat dan menghindari fenomena yang digambarkannya.

Imam al-Ghazali telah menghasilkan sejumlah buku dan menerbitkan banyak ajaran. Kontribusinya terhadap pemikiran manusia dan relevansi gagasan-gagasannya, ratusan tahun kemudian tidak diragukan lagi. Mari kita perbaiki sebagian kelalaian pendahulu-pendahulu kita, dengan melihat apa yang dikatakannya tentang metode. Apakah yang dimaksud dengan ‘Cara al-Ghazali’? Apa yang harus dilakukan seseorang agar menyukainya, orang yang diakui sebagai salah seorang tokoh besar dunia bidang filsafat dan psikologi?

Imam al-Ghazali tentang Tarekat

Seorang manusia bukanlah manusia jika tendensinya meliputi kesenangan diri, ketamakan, amarah dan menyerang orang lain.

Seorang murid harus mengurangi sampai batas minimun, perhatiannya terhadap hal-hal biasa seperti masyarakat dan lingkungannya, karena kapasitas perhatian (sangatlah) terbatas.

Seorang murid haruslah menghargai guru seperti seorang dokter yang tahu cara mengobati pasien. Ia akan melayani gurunya. Kaum Sufi mengajar dengan cara yang tidak diharapkan. Seorang dokter berpengalaman akan menentukan sebuah perlakuan-perlakuan tertentu dengan benar. Kendati pengamat luar mungkin saja sangat terpesona terhadap apa yang ia katakan dan lakukan; ia akan gagal melihat pentingnya atau relevansi prosedur yang diikuti.

Inilah mengapa, tidak mungkin bagi murid dapat mengajukan pertanyaan yang benar pada waktu yang tepat. Tetapi guru tahu apa dan kapan seseorang dapat mengerti.

Perbedaan antara Sosial dan Pemrakarsa Aktikitas

Imam al-Ghazali menekankan pada hubungan dan juga perbedaan antara kontak sosial atau kontak yang bersifat pengalihan dari orang-orang, dan kontak yang lebih tinggi.

Apa yang menghalangi kemajuan individu dan sebuah kelompok orang-orang, dari permulaan yang patut dipuji, adalah proses stabilisasi mereka sendiri terhadap pengulangan (repetisi) dan basis sosial apa yang tersembunyi.

Jika seorang anak, katanya, meminta kita untuk menjelaskan kesenangan yang ada saat memegang kedaulatan tertinggi, kita mungkin mengatakan hal itu seperti kesenangan yang ia rasakan saat olah raga; kendati, kenyataannya keduanya tidak sama, kecuali bahwa keduanya memiliki kategori kesenangan (yang sama).

Perumpamaan Manusia dengan Tujuan Lebih Tinggi

Imam al-Ghazali menghubungkan tradisi dari kehidupan Isa, Ibnu Maryam; Yesus, Putra Maryam.

Suatu ketika Isa melihat orang-orang duduk dengan sedih di dinding pinggir jalan. Ia bertanya, “Apa yang kalian susahkan?” Mereka menjawab, “Kami begini karena rasa takut kami terhadap Neraka.”

Isa pun berlalu, kemudian melihat sejumlah orang berkelompok berdiri sedih di sisi jalan. Ia bertanya, “Apa kesusahan kalian?” Mereka menjawab, “Rindu akan Surga yang membuat kami begini.”

Ia pun melanjutkan perjalanan, sampai pada sekelompok orang untuk yang ketiga kalinya. Mereka tampak seperti orang-orang yang memikul beban, tetapi wajah mereka bersinar bahagia.

Isa bertanya, “Apa yang membuat kalian begini?” dan mereka menjawab, “Jiwa Kebenaran. Kami sudah melihat Realitas, dan hal ini membuat kami terlupa akan tujuan-tujuan yang kurang baik.”

Isa mengatakan, “Mereka adalah orang-orang yang telah mencapai. Pada Hari Perhitungan, mereka inilah orang-orang yang akan berada dalam Kehadiran Tuhan.”

Tiga Fungsi Manusia Sempurna

Manusia Sempurna kaum Sufi mempunyai tiga bentuk hubungan dengan masyarakat. Hal ini berubah-ubah sesuai dengan kondisi masyarakat.

Tiga sikap yang dijalankan sesuai dengan:

1. Bentuk keyakinan orang yang ada di sekitar Sufi;

2. Kemampuan murid, yang diajar sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti;

3. Suatu Lingkaran khusus masyarakat, yang akan berbagi pemahaman pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman batiniah, secara langsung.

Daya Tarik Selebritis

Seseorang yang terbebas dari bahaya singa buas, bukanlah tujuan, apakah jasa ini dilakukan oleh individu yang tidak terkenal atau termasyhur. Oleh karena itu, mengapa mencari pengetahuan dari selebritis?

Sifat Dasar Pengetahuan Ilahiah

Pertanyaan tentang pengetahuan Ilahiah begitu dalam, hingga hanya dimengerti dengan benar-benar oleh mereka yang memilikinya.

Seorang anak tidak mempunyai pengetahuan yang sebenarnya tentang pencapaian orang dewasa. Orang dewasa awam tidak dapat memahami pencapaian orang terpelajar. Dalam cara yang sama, orang terpelajar belum (tentu) dapat memahami pengalaman pencerahan orang-orang suci atau kaum Sufi.

Cinta dan Ketertarikan Diri

Jika seseorang mencintai orang lain karena memberinya kesenangan, seharusnya ia tidak menganggap bahwa ia mencintai orang tersebut sama sekali. Cinta, pada kenyatannya adalah, kendati hal ini tidak disadari, ditujukan pada kesenangan. Sumber kesenangan merupakan sasaran perhatian sekunder, dan hal itu dirasakan hanya karena persepsi mengenai kesenangan tidak cukup baik dikembangkan untuk mengenali dan menggambarkan perasaan yang sebenarnya.

Anda Harus Siap

Anda harus menyiapkan diri sendiri, untuk transisi dimana di sana tidak ada satu pun yang Anda sendiri telah terbiasa, kata Imam al-Ghazali. Setelah meninggal dunia, identitas Anda akan merespon untuk merangsang sesuatu yang pernah ia rasakan sebelumnya. Jika Anda tetap terikat dengan sesuatu yang sudah Anda kenal; hal itu hanya akan membuat Anda menderita.

Kebodohan

Manusia menentang sesuatu, karena mereka tidak mengetahuinya.

Upacara Musik dan Gerak

Pertemuan-pertemuan serupa itu harus diadakan sesuai dengan persyaratan waktu dan tempat. Para penonton yang tidak layak akan dikeluarkan. Para partisipan harus duduk tenang dan tidak saling pandang. Mereka mencari apa yang mungkin muncul dari ‘hati’ mereka sendiri.

Perempuan Mandul

Seorang laki-laki pergi ke dokter dengan istrinya, dan berkata bahwa istrinya tidak memberinya anak. Dokter memandang perempuan tersebut, memegang nadinya, dan mengatakan:

“Saya tidak dapat menangani kemandulan, karena saya telah mengetahui bahwa Anda dalam satu hal akan mati dalam empatpuluh hari.”

Ketika mendengar ini, perempuan tersebut sangat khawatir hingga tidak dapat memakan apa pun selama menjelang empatpuluh hari tersebut.

Tetapi ternyata ia tidak meninggal seperti pada waktu yang telah diprediksikan.

“Ya, saya sudah tahu. Sekarang ia akan menjadi subur.”

Sang suami menanyakan Bagaimana hal itu bisa terjadi.

Dijelaskan oleh sang dokter:

“Isterimu terlalu gemuk, dan ini mempengaruhi kesuburannya. Saya tahu, satu-satunya hal yang dapat membuatnya jauh dari makanan adalah ketakutan terhadap kematian. Sekarang ia sudah sembuh.”

Persoalan tentang pengetahuan merupakan salah satu hal yang berbahaya.

Tarian

Seorang murid meminta izin ikut bagian dalam ‘tarian’ kaum Sufi. Dijawab oleh Syeikh, “Puasalah selama tiga hari, kemudian masak hidangan yang lezat. Jika kemudian engkau lebih suka ‘menari’, kau boleh bergabung.”

Kualitas Harus Mempunyai Sarana

Kecepatan, akan menjadi berguna jika didapatkan dalam seekor kuda, karena kecepatan sendiri tidak memiliki kemanfatan.

Diri yang Idiot

Jika Anda tidak dapat menemukan contoh dedikasi yang tepat pada diri seseorang, pelajarilah kehidupan kaum Sufi. Seseorang juga harus berkata pada diri sendiri, “Wahai jiwaku! Kau kira dirimu pintar dan marah jika disebut idiot. Tetapi siapa sebenarnya dirimu pada kenyataannya? Engkau buat baju untuk musim dingin, tetapi tidak menyediakan untuk kehidupan lain. Engkau seperti orang di tengah-tengah salju yang mengatakan, ‘Seharusnya aku tidak mengenakan baju hangat, sebaliknya percaya pada Kemurahan Tuhan untuk melindungiku dari kedinginan’.” Ia tidak menyadari bahwa, di samping penciptaan dingin, Tuhan telah meletakkan di hadapan manusia alat untuk melindungi diri sendiri.

Manusia Diciptakan untuk Belajar

Unta lebih kuat daripada manusia; gajah lebih besar; singa lebih berani; sapi dapat makan lebih banyak daripada manusia; burung lebih jantan. Tujuan manusia diciptakan adalah untuk belajar.

Nilai Pengetahuan

“Tentu saja terdapat nilai pada pengetahuan. Diberikan hanya kepada mereka yang dapat menjaga dan tidak menghilangkannya.” –(Book of Knowledge, mengutip Ikriniah)

Komentar Junubi:

“Pengetahuan ini tentu saja pengetahuan Sufi. Sama sekali tidak merujuk buku pengetahuan, sesuatu yang dapat ditulis atau dilestarikan dalam bentuk faktual; karena materi tersebut tidak dapat dihilangkan dengan menjelaskanya kepada seseorang yang mungkin saja gagal memanfaatkannya. Merupakan pengetahuan yang diberikan pada waktu dan cara yang teruji, serta menyajikan buku pengetahuan. ‘Memberi pengetahuan yang akan hilang’, merujuk pada ‘kondisi’ tertentu tentang penghargaan terhadap kebenaran yang timbul pada diri individu, sebelum orang tersebut dalam kondisi mempertahankan keadaan tersebut, oleh sebab itu ia kehilangan manfaatnya dan musnah.”

Komentar Ahmad Minai:

“Karena sulitnya memahami fakta ini, dan berkait dengan kemalasan yang dapat dimengerti, kaum cendekiawan memutuskan untuk ‘menghapus’ beberapa ajaran yang tidak dapat dimasukkan dalam buku. Tetapi bukan berarti tidak ada. Hanya saja membuatnya lebih sulit untuk ditemukan dan diajarkan, karena orang-orang tersebut di atas (intelektual) telah melatih masyarakat untuk tidak mencarinya.”

Kemilikan

Anda hanya memiliki apa yang tidak akan hilang dalam sebuah kapal yang pecah.

Untung dan Rugi

Saya ingin tahu, apa yang diperoleh seseorang yang sama sekali tidak memiliki pengetahuan, dan apa yang tidak diperoleh orang terpelajar.

AGIAN KEDUA: PENULIS-PENULIS KLASIK

3 ATHTHAR AN-NISABURI

Kendati Aththar merupakan salah seorang guru Sufi besar dalam literatur klasik, dan pengilham ar-Rumi, dongeng dan ajaran-ajaran guru-guru Sufi dalam karyanya Memorials of the Saints, harus menunggu hampir tujuh setengah abad untuk diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Pesatnya ketertarikan dunia Barat terhadap Sufisme, juga dipengaruhi oleh pertapa Hindu Dr. Bankey Behari yang telah menerbitkan enampuluh dua seleksi dari buku ini tahun 1961.

Aththar menulis sekitar seratus empatbelas buku, beberapa buku-buku Sufi yang paling masyhur Divine Book, Parliament of the Birds dan Book of Counsel.

Ajaran-ajarannya banyak disertai gambaran-gambaran biografi, fabel, pepatah dan apologi, yang tidak hanya mengandung ajaran moral tetapi kiasan-kiasan yang menggambarkan tentang tahap-tahap khusus perkembangan manusia. Misalnya dalam Parliament of the Birds, ia membuat sketsa tahap-tahap individual dalam kesadaran manusia, meski hal ini direpresentasikan sebagai kejadian terhadap individu yang berbeda atau terhadap suatu komunitas seluruhnya.

Aththar menggunakan tema suatu ‘perjalanan’ atau ‘pencarian’ sebagai analogi dari tahap-tahap keberhasilan jiwa manusia dalam mencari kesempurnaan.

Menolak untuk menerima tanda jasa dari kaki tangan penjajah Mongolia, di Asia Tengah, ia dilaporkan wafat di tangan tentara Jengis Khan, setelah membubarkan murid-muridnya –mengirim mereka ke tempat-tempat aman– ketika ia memprediksi invasi Mongol pada abad ketigabelas.

Tradisi-tradisi Sufisme menegaskan bahwa karya Aththar sangat penting karena, membaca secara keseluruhan, membantu menegakkan struktur sosial dan standar etika Islam; sementara seleksi-seleksi khususnya mengandung materi inisiator yang tersembunyi oleh bagian-bagian teologikal yang berat.

JAWABAN YESUS

Beberapa orang Israel mencaci Yesus suatu hari, ketika dia berjalan melintasi bagian kota mereka.

Tetapi ia menjawab dengan mengulang doa atas nama mereka. Seseorang berkata kepadanya:

“Engkau berdoa untuk orang-orang ini, tidakkah engkau merasa marah kepada mereka?”

Ia menjawab:

“Aku hanya dapat membelanjakan apa yang ada dalam dompetku.”

HATI

Seseorang menghampiri orang gila yang sedang menangis dalam kesedihan yang memilukan.

Ia bertanya:

“Mengapa engkau menangis?”

Orang gila menjawab:

“Aku menangis untuk menarik belas kasihan hati-Nya.”

Yang lain berkata kepadanya:

“Ucapanmu bohong, karena Dia tidak memiliki hati lahiriah.”

Orang gila menjawab:

“Engkaulah yang salah, karena Dia pemilik seluruh hati yang ada. Melalui hati engkau dapat berhubungan dengan Tuhan.”

DITAWARI DERMA YANG TIDAK DAPAT DITERIMA

Apa! Akan kau berikan sejumlah uang

(Yang akan) menghapus namaku dari Daftar Kaum Darwis?

DONGENG FAZL-RABBI

Suatu hari seorang tua yang kikir pergi menjeguk Fazl-Rabbi, untuk membahas beberapa hal.

Karena lemah dan gelisah, orang tua ini menusukkan tongkat besinya ke luka di kaki Fazl-Rabbi.

Mendengar dengan sopan, apa pun yang dikatakan oleh si orang tua, Fazl-Rabbi tidak berkata-kata, kendati ia menjadi pucat dan kemudian memerah, karena lukanya terasa sakit dan besi tersebut tetap menancap di kakinya.

Kemudian, ketika yang lainnya telah menyelesaikan urusannya, ia mengambil selembar kertas darinya dan menandatanganinya.

Ketika orang tua itu sudah pergi, ia senang karena berhasil dalam ketekunannya, Fazl-Rabbi membiarkan dirinya roboh.

Salah seorang bangsawan yang hadir mengatakan:

“Tuanku, Anda duduk di sana dengan darah mengucur dari kaki Anda, dan orang tua itu menusuknya dengan tongkat besinya, dan Anda sama sekali tidak berkata apa pun.”

Fazl-Rabbi menjawab:

“Aku sama sekali tidak memberi tanda kesakitan, karena Aku takut kalau ketakutannya mungkin menyebabkan ia bingung, dan bahwa ia mungkin menyerahkan ketekunannya karena bantuanku. Kasihan sekali dia, bagaimana aku dapat menambah masalahnya dengan cara demikian?”

Jadilah manusia sejati: mempelajari kebangsawanan dari pemikiran dan tindakan, seperti Fazl-Rabbi.

BUDAK TANPA MAJIKAN

Berkelana dengan jubah tambalan, wajahnya menghitam karena matahari, seorang darwis tiba di Kufah, di mana ia berjumpa dengan seorang pedagang.

Si pedagang berbicara kepadanya, dan memutuskan bahwa ia pasti seorang budak yang tersesat.

“Karena tindak-tandukmu halus, Aku akan memanggilmu Khair (bagus).” Katanya, “Engkau bukan budak?”

“Itulah saya,” jawab Khair.

“Akan kuantar engkau pulang, dan engkau dapat bekerja untukku sampai berjumpa tuanmu.”

“Saya senang sekali,” ujar Khair, “Karena sudah sangat lama saya mencari tuan saya.”

Ia bekerja beberapa tahun pada orang tersebut, yang mengajarinya menjadi penenun; oleh sebab itu nama keduanya adalah Nassaj (penenun).

Setelah layanannya yang lama, merasa bersalah karena terlalu mengeksploitasinya, pedagang tersebut mengatakan, “Aku tidak tahu siapa dirimu, tetapi sekarang engkau bebas untuk pergi.”

Khair Nassaj, Guru Agung Tarekat (Sufi), melanjutkan perjalanannya ke Mekkah tanpa penyesalan karena ia telah menemukan bagaimana melanjutkan perkembangannya, daripada tanpa memiliki nama dan diperlakukan seperti budak.

Ia adalah guru asy-Syibli, Ibrahim Khawwas dan juga Guru Agung kaum Sufi. Ia meninggal lebih dari seribu tahun yang lalu, di usia seratus duapuluh.

KOTAK AJAIB

Suatu ketika seorang laki-laki ingin menjual karpet kasar, dan ia pun menawarkannya di jalan.

Orang pertama yang melihat mengatakan:

“Ini karpet yang kasar, dan sangat usang.” Maka ia pun membelinya sangat murah. Kemudian pembeli tersebut berdiri dan mengatakan kepada lainnya yang tengah berjalan:

“Karpet ini lembut bagai sutra, tak ada yang seperti ini.”

Seorang Sufi yang melintas mendengar orang yang membeli itu dan berusaha menjual barang yang sama dengan dua gambaran yang berbeda.

Sang Sufi berkata kepada si penjual karpet:

“Wahai penjual karpet, masukkan aku dalam kotak ajaibmu, yang dapat mengubah karpet kasar menjadi halus, barangkali bisa mendatangkan permata!”

BULAN

Sang Bulan ditanya:

‘Apa hasratmu yang paling kuat?”

Dijawab:

“Kalau Matahari hendak menghilang, dan tetap terselubung dalam awan selamanya.”

LIMARATUS KEPING EMAS

Salah seorang pengikut Junaid mengunjunginya dengan dompet berisi limaratus keping emas.

“Apakah engkau memiliki uang lebih dari ini?” tanya sang Sufi. “Ya, saya punya.”

“Apakah engkau ingin lebih banyak?”

“Ya, benar.”

“Maka engkau harus menyimpannya, karena engkau lebih membutuhkannya daripada aku; karena aku tidak memiliki apa pun dan tidak menginginkan apa pun. Engkau membutuhkannya dan selamanya ingin lebih banyak.”

ORANG GILA DAN MUADZIN

Seorang muadzin mendaki puncak menara dan mengumandangkan adzan. Sementara itu, seorang gila melintas dan seseorang bertanya kepadanya:

“Apa yang dilakukannya di sana, di atas menara?”

Si gila menjawab:

“Orang di atas itu sesungguhnya mengocok kulit kacang yang kosong.”

Ketika engkau mengucapkan sembilanpuluh sembilan Nama Allah, maka engkau seperti bermain dengan kulit kacang yang kosong. Bagaimana Tuhan dapat dimengerti melalui nama-nama?

Karena engkau tidak dapat mengucapkan dalam kata-kata ‘mengenai hakikat Tuhan, paling baik tidak usah bicara tentang siapa pun sama sekali.

(Kitab-Ilahi)

KERANGKA RELIGIUS

Suatu hari ketika Sahabat Umar ra. melihat dari permulaan hingga habis sebuah kitab suci Yahudi, Nabi Muhammad saw bersabda:

“Engkau terlalu sederhana dengan kitab itu. Jika ingin mendapat suatu manfaat darinya, engkau harus menjadi seorang Yahudi. Menjadi seorang Yahudi yang sempurna lebih baik daripada Muslim yang tidak sempurna; dan membuang-buang waktu dengan kitab Yahudi adalah kepalang tanggung dan tidak memberimu manfaat dengan satu cara atau cara yang lain.

Kesalahanmu adalah bahwa engkau tidak melakukan sesuatu atau pun lainnya dalam sikap ini. Engkau tidak yakin, sangsi pun engkau juga tidak. Lalu, Bagaimana keadaanmu ini, Bagaimana dapat digambarkan?”

(Kitab-Ilahi)

KISAH NABI MUSA A.S.

Suatu ketika Musa a.s. memohon kepada Allah swt. untuk menunjukkan kepadanya salah satu sahabat Allah, dan sebuah suara menjawab:

“Pergilah ke sebuah lembah dan di sana engkau akan menjumpai seorang yang dicintai, orang terpilih, yang menempuh Jalan (pencapaian)!”

Musa pun pergi dan menjumpai orang tersebut, berpakaian compang-camping, dikerubuti berbagai serangga dan binatang melata lainnya.

Musa bertanya, “Dapatkah aku membantumu?”

Laki-laki tersebut menjawab, “Utusan Allah, bawakanlah aku secangkir air, karena sangat haus!”

Ketika Musa kembali dengan membawa air, ia menemukan laki-laki tersebut terkapar sekarat. Ia pergi mencari potongan baju untuk membalutnya. Ketika kembali, ia justru melihat tubuh laki-laki tersebut dilahap seekor singa padang pasir.

Musa sangat tertekan dan menangis:

“Engkau Yang Mahaperkasa dan Maha Mengetahui, Yang mengubah lumpur menjadi manusia. Sebagian menjadi penghuni Surga, lainnya harus disiksa, satu bahagia yang lain menderita. Ini lawan asas yang tidak dapat dimengerti oleh siapa pun.”

Kemudian muncul suara dari dalam diri Musa:

“Orang ini telah bergantung kepada Kami untuk minum dan kemudian berpaling dari kepercayaan itu. Ia bergantung kepada Musa untuk makanannya, percaya pada perantara. Ia telah bersalah karena meminta bantuan dari yang lain setelah puas dengan Kami …”

Hatimu senantiasa melekat sendiri dan makin melekat lagi pada keinginan. Engkau harus tahu bagaimana menjaga hubungan dengan asal-usulmu …

(Ilahi-Nama)

RUH SEBELUM PENCIPTAAN TUBUH

Ketahuilah mengenai waktu ketika di sana ada ruh dan tanpa tubuh.

Inilah masa selama beberapa tahun, yang setiap tahunnya sama dengan seribu tahun kita.

Ruh-ruh tersebut berbaris. Dunia diperlihatkan kepada mereka. Sembilan dari sepuluh ruh berlari menuju dunia.

Kemudian Surga diperlihatkan pada ruh yang tersisa. Sembilan dari sepuluh ruh berlari menuju Surga.

Kemudian Neraka diperlihatkan kepada ruh yang tersisa. Sembilan dari sepuluh ruh berlari menghindarinya dengan ketakutan.

Maka tinggallah beberapa ruh, mereka yang tidak terpengaruh oleh apa pun. Mereka tidak tertarik pada Dunia maupun Surga, juga tidak takut Neraka.

Sebuah Suara Semesta berkata pada ruh-ruh yang tinggal tersebut:

“Wahai ruh-ruh bodoh, apa yang kalian inginkan?”

Secara serempak mereka menjawab:

“Engkau mengetahui segala pengetahuan, bahwa Engkau-lah Yang kami inginkan, dan bahwa kami tidak ingin meninggalkan KehadiranMu.”

Suara itu berkata:

“Menginginkan Kami penuh bahaya, menimbulkan kesulitan dan akibat yang tidak terhitung.”

Ruh-ruh menjawab:

“Dengan senang hati akan kami alami apa pun untuk bersama-Mu, dan kehilangan apa pun agar kami mendapatkan segalanya.”

(Ilahi-Nama)

UJIAN

Berkait dengan ucapan Syaqiq al-Balkh kepada murid-muridnya:

“Kupertaruhkan Imanku kepada Allah, dan pergi mengarungi hutan ganas dengan uang sekadarnya di saku. Aku pergi haji dan pulang, dan uang receh ini masih ada.”

Salah seorang muridnya berdiri dan berkata:

“Jika Anda memiliki uang receh di saku, Bagaimana Anda dapat mengatakan, bahwa Anda menggantungkan segala sesuatu kepada yang lebih Tinggi?”

Syaqiq menjawab:

“Tidak ada lagi yang dapat kukatakan, anak muda ini benar. Ketika engkau menggantungkan segala sesuatu kepada-Nya, maka tidak ada tempat lagi untuk apa pun, sekecil apa pun, sebagai suatu perbekalan!”

(Kitab-Ilahi)

MUHAMMAD, IBNU ISA

Muhammad, ibnu Isa, salah seorang sahabat Pemimpin Ummat, karena kecerdasannya melebihi yang lain.

Suatu hari ia berkuda melintasi jalanan di Baghdad, diiringi pelayan dalam jumlah cukup banyak. Orang-orang pun saling bertanya:

“Siapa laki-laki itu, begitu mempesona, kudanya bagus, begitu kaya?”

Dan seorang perempuan tua yang berjalan tertatih diantara mereka menjawab:

“Itu orang miskin, bukan orang kaya. Karena, jika Allah meniadakan kesenangannya, ia tidak akan memiliki benda seperti sekarang.”

Mendengar ini, Muhammad ibnu Isa, turun dari kudanya yang sehat dan bagus, dan mengakui bahwa memang begitulah keadaannya.

Sejak saat itu ia meninggalkan keinginannya untuk memamerkan kekayaannya.

PEMAHAMAN ORANG GILA

Terdapat orang gila yang tidak ikut ambil bagian dalam jamaah shalat. Di hari Jum’at, dengan penuh kesulitan, orang-orang membujuknya untuk hadir.

Tetapi ketika sang Imam memulai, orang gila tersebut justru melenguh seperti lembu jantan.

Orang-orang menyangka bahwa ia hanya sedang kambuh lagi gilanya, tetapi pada saat yang sama ingin membantunya. Sesudah shalat mereka menegurnya:

“Apakah engkau tidak berpikir tentang Allah, engkau bersuara seperti seekor binatang di tengah-tengah shalat jamaah?”

Si orang gila menjawab:

“Aku hanya melakukan apa yang dikerjakan Imam. Ketika ia telah menekankan, ia membeli seekor lembu, maka aku pun bersuara seperti seekor lembu!”

Ketika jawaban aneh ini disampaikan kepada sang Imam, ia mengakui:

“Ketika aku menyebut Allahu Akbar, aku sedang memikirkan pertanianku. Dan ketika sampai pada alhamdulillah, aku berpikir bahwa aku akan membeli seekor lembu. Pada saat itulah aku mendengar suara lenguhan.”

SI KIKIR DAN MALAIKAT MAUT

Setelah bekerja keras, berdagang dan meminjamkan (uang) si kikir telah menumpuk harta, tigaratus ribu dinar. Ia memiliki tanah luas dan banyak gedung, dan segala macam harta benda.

Kemudian ia memutuskan untuk beristirahat selama satu tahun, hidup nyaman, dan kemudian menentukan mengenai bagaimana masa depannya. Tetapi, segera setelah ia berhenti mengumpulkan uang, ketika itu juga muncul Malaikat Maut di hadapannya untuk mencabut nyawanya.

Si kikir pun berusaha dengan segala daya upaya, agar Malaikat Maut yang pantang menyerah itu, tidak jadi menjalankan tugasnya. Ia berkata:

“Bantulah aku, hanya tiga hari saja, dan akan kuberikan sepertiga hartaku.”

Malaikat Maut menolak, dan mulai menarik nyawa si kikir. Kemudian si kikir berkata lagi:

“Jika engkau membolehkan aku tinggal dua hari lagi, akan kuberi engkau duaratus ribu dinar dari gudangku.”

Tetapi sang Malaikat Maut tidak mau mendengarkannya. Bahkan ia menolak memberi tambahan tiga hari demi tigaratus ribu dinarnya. Kemudian si kikir berkata:

“Tolonglah, kalau begitu beri aku waktu untuk menulis sebentar.”

Kali ini Malaikat Maut mengizinkannya, dan si kikir menulis dengan darahnya sendiri.

“Wahai manusia, manfaatkan hidupmu. Aku tidak dapat membelinya dengan tigaratus ribu dinar. Pastikan bahwa engkau menyadari nilai dari waktu yang engkau miliki.”

KEPALA KELEDAI

Seorang bodoh melihat kepala keledai di atas sebatang kayu di halaman.

Ia bertanya, “Apa yang terjadi di sana?”

Ada yang menjawab, “Diletakkan di sana untuk memalingkan mata iblis!”

“Engkau ini berotak keledai, dan itulah mengapa engkau menggantungkan kepala keledai! Ketika hidupnya, ia tidak dapat menghindari batang kayu yang memukulnya. Sekarang, ketika mati, bagaimana dapat menolak mata iblis?”

KEMUSTAHILAN DAN KEBODOHAN

Apa yang tampak mustahil dan tidak, adalah lebih baik daripada kebodohan manusia yang menganggapnya mustahil.

CAHAYA

Pecinta (kekasih) sejati akan menemukan cahaya hanya jika, seperti lilin, dirinya adalah bahan bakar, membakar dirinya sendiri.

UMMAT KRISTEN DAN MUSLIM

Suatu ketika, seorang Kristen menjadi Muslim. Keesokannya ia telah mulai minum anggur.

Dalam keadaan mabuk, ibunya datang dan berkata:

“Anakku, apa yang engkau kerjakan? Bertingkah dalam cara seperti ini engkau telah menolak Yesus, dan juga gagal menyenangkan Muhammad. Tetaplah berpijak pada keyakinanmu! Tidak seorang pun dapat menjadi manusia dan menyembah berhala sama baik mempertahankan keyakinan lain.”

POHON TIDAK MENYADARI AKAN KEADAANNYA

Suatu hari seorang laki-laki menebang pohon. Seorang Sufi yang melihatnya, mendekat dan berkata:

“Lihatlah cabangnya yang segar ini, penuh dengan getah, bahagia karena ia belum tahu kalau dipotong.”

Seorang fakir yang sedang dalam perjalanan mencari penerangan melihat secarik kertas dengan coretan-coretan di atasnya.

“Mengapa,” tanya sang fakir, “kau menghitami wajahmu yang putih-bersih?”

“Tidak adil kau menuduhku melakukannya,” jawab sang kertas. “Bukan aku yang melakukannya.” “Tanyakanlah kepada sang tinta mengapa dia keluar dari wadahnya, padahal dia cukup tenang berada di dalamnya, dan mengapa dia menghitami wajahku.”

“Kau benar,” kata sang fakir. Lalu dia berpaling kepada sang tinta dan bertanya kepadanya.

“Mengapa kau bertanya kepadaku?” jawabnya, “Aku sedang duduk tenang di dalam wadah tinta dan tidak berpikir untuk keluar, tetapi mata pena yang tajam itu menyorengku, lalu mendorongku keluar dan menaburkanku di atas permukaan sang kertas. Di sana kau dapat melihatku terbaring tak berdaya. Pergilah ke sang pena dan tanyakan kepadanya.”

Sang fakir berpaling kepada sang pena dan bertanya mengapa dia bersikap sewenang-wenang.

“Mengapa kau menggangguku?” jawab sang pena. “Lihat, siapa aku ini? Tak lebih dari sebatang buluh yang tiada berarti. Aku waktu itu sedang tumbuh di tepian sungai bening keperak-perakan, di tengah-tengah pepohonan hijau nan rindang, ketika, kau tahu, sebuah tangan merentang ke arahku. Sang tangan memegang sebuah pisau. Sang pisau mencabut akar-akarku, menguliti seluruh batang tubuhku, memisah-misahkan seluruh persendianku, menumbangkanku, membelah kepalaku, lalu memenggalnya. Aku segera dikirim ke sang tinta, dan harus mengabdi sebagai pelayan hina-dina. Janganlah kau menambah parah luka-lukaku. Pergilah ke sang tangan dan bertanyalah kepadanya.”

Sang fakir memandang sang tangan, lalu bertanya: “Benarkah itu? Apakah kau demikian kejamnya?”

“Jangan marah dulu, Tuan,” jawab sang tangan. “Aku hanyalah segumpal daging, tulang, dan darah. Pernahkah Tuan melihat sekerat daging memiliki kekuatan? Dapatkah sebentuk tubuh bergerak dengan sendirinya? Aku hanyalah alat yang digunakan oleh sesuatu yang disebut vitalitas. Dia menunggangiku dan memaksaku berputar-putar. Tuan tahu, orang mati mempunyai tangan tetapi tidak dapat menggunakannya karena vitalitas telah meninggalkannya. Mengapa aku, sebuah alat, mesti dipersalahkan? Pergilah Tuan ke sang vitalitas. Tanyakanlah kepadanya mengapa dia menggunakanku.”

“Kau benar,” kata sang fakir, kemudian bertanya kepada sang vitalitas.

“Acap kali pengecam sendiri mendapat kecaman, sementara yang dikecam terbukti tak bersalah. Bagaimana kau tahu bahwa aku telah memaksa sang tangan? Aku sudah berada di sana sebelum dia bergerak, dan tidak pernah berpikir untuk menggerakkannya. Aku tidak sadar dan pemirsa pun tidak sadar akan diriku. Tiba-tiba suatu agen datang kepadaku dan menggerakkanku. Aku tak punya cukup kekuatan untuk melanggarnya ataupun kemauan untuk mematuhinya. Mengenai perkara yang membuatmu menegurku, aku melakukannya sesuai dengan keinginannya. Aku tak tahu siapa agen itu. Dia disebut sang kemauan dan aku hanya mengenal namanya. Seandainya hal itu diserahkan kepadaku, kupikir aku tidak akan melakukan apa-apa.”

“Baiklah,” lanjut sang fakir, “aku akan mengajukan pertanyaan kepada sang kemauan, dan bertanya kepadanya mengapa dia telah mempekerjakan secara paksa sang vitalitas yang menurut keinginannya sendiri tidak akan melakukan sesuatu.”

“Jangan dulu terlalu terburu-buru,” pekik sang kemauan. “Sedapat mungkin aku akan mengajukan alasan yang cukup memadai. Yang Mulia Pangeran, sang pikiran, mengutus seorang duta besarnya yang bernama pengetahuan, yang menyampaikan pesannya kepadaku melalui nalar, berbunyi: ‘Bangkitlah, gerakkanlah vitalitas.’ Aku terpaksa melakukannya, karena aku harus patuh kepada sang pengetahuan dan sang nalar, tetapi aku tak tahu apa alasannya. Selama tidak menerima perintah aku bahagia, tetapi begitu ada perintah aku tak berani melanggarnya. Apakah sang raja seorang penguasa yang adil ataukah zalim, aku harus patuh kepadanya. Aku telah bersumpah, selama sang raja ragu-ragu atau masih merenungkan suatu masalah, maka aku hanya diam saja, siap melayani; pegitu perintah sang raja disampaikan kepadaku, maka rasa patuh yang memang sudah menjadi pembawaanku akan segera memaksaku untuk menggerakkan sang vitalitas. Maka janganlah Tuan mengecamku. Sebaiknya pergilah Tuan menghadap sang pengetahuan dan mendapatkan keterangan di sana.”

“Anda benar,” setuju sang fakir, lalu dia meneruskan perjalanan, menghadap kepada sang pikiran dan para duta besarnya, yaitu pengetahuan dan nalar, untuk meminta penjelasan.

Sang nalar memohon maaf dengan mengatakan bahwa dirinya hanyalah sebuah lampu, dan dia tidak mengetahui siapa yang menyalakannya. Sang pikiran mengaku tidak bersalah dengan mengatakan bahwa dirinya hanyalah sebuah tabula rasa. Sedangkan sang pengetahuan bersikeras menyebut dirinya hanyalah sebuah prasasti, yang baru bisa digoreskan setelah lampu sang nalar menyala. Maka dia tidak dapat dianggap sebagai penulis prasasti tersebut, yang kemungkinan merupakan hasil goresan sebuah pena tertentu yang tidak terlihat.

Sang fakir kemudian menjadi bingung, tetapi setelah berhasil menguasai diri lagi, dia berkata kepada sang pengetahuan: “Aku sedang melakukan perjalanan mencari penerangan.

Kepada siapa pun aku menghadap dan menanyakan alasan, aku selalu disuruh menghadap yang lainnya. Meskipun demikian, aku merasa senang dalam pengejaranku ini, karena semuanya memberikan alasan yang masuk akal. Tetapi, Tuan Pengetahuan, maafkanlah aku kalau kukatakan bahwa jawaban Tuan tidak memuaskanku. Tuan mengatakan bahwa Tuan hanyalah sebuah prasasti yang digoreskan oleh sang pena. Aku telah berjumpa dengan sang pena, sang tinta, dan sang kertas. Mereka masing masing terbuat dari buluh, campuran warna hitam, dan kayu serta besi. Dan aku pun telah melihat lampu-lampu yang dinyalakan oleh sang api. Tetapi di sini aku tidak melihat satu pun dari mereka itu, walaupun Tuan berbicara tentang kertas, lampu, pena, dan prasasti. Tentunya Tuan tidak sedang bermain-main denganku, bukan?”

“Tentu, tidak,” timpal sang pengetahuan. “Aku berbicara dengan sebenar-benarnya. Tetapi aku dapat memahami kesulitanmu. Bekal yang kau bawa hanya sedikit, kuda yang kau tunggangi sudah letih, dan perjalanan yang kau tempuh cukup jauh dan berbahaya. Hentikanlah perjalananmu ini, karena aku khawatir kau tidak akan dapat berhasil. Tetapi, bagaimanapun, jika kau sudah “siap menanggung risiko, maka dengarkanlah.

Perjalananmu mencakup tiga wilayah. Pertama, alam dunia. Benda-benda di dalamnya adalah pena, tinta, kertas, tangan dan sebagainya, seperti yang telah kau lihat tadi. Yang kedua adalah alam langit, yang akan mulai kau masuki bila kau telah meninggalkanku. Di sana aku akan menjumpai puncak-puncak awan yang padat, sungai-sungai yang luas dan dalam, dan gunung-gunung yang menjulang tinggi tak terdaki, yang aku tak tahu bagaimana kau akan mampu mendakinya. Di antara kedua alam ini terdapat alam ketiga sebagai wilayah perantara, yang disebut alam gejala. Kau telah melampaui tiga lapis di antaranya, yaitu vitalitas, kemauan, dan pengetahuan. Dengan tamsil dapat dikatakan: orang yang sedang berjalan, ia masih berada di alam dunia: jika ia sedang berlayar pada sebuah kapal maka ia mulai memasuki alam gejala: jika ia meninggalkan kapal tersebut lalu berenang dan berjalan di atas air, maka ia telah dianggap berada di alam langit. Jika kau belum tahu bagaimana caranya berenang, maka kembalilah. Sebab daerah perairan dari alam langit itu bermula dari saat kau muiai dapat melihat pena yang menulis pada lembaran hati. Jika kau bukan orang yang diseru: Wahai iman yang kecil, mengapa kau ragu-ragu?1) maka bersiap-siaplah. Sebab dengan iman kau tidak hanya akan berjalan di atas lautan tetapi kau akan terbang di angkasa.”

Sang fakir kelana kemudian terdiam sejenak, lalu memandang sang pengetahuan dan mulai berkata: “Aku sedang mengalami kesulitan. Bahaya-bahaya yang menghadang pada jalan yang telah Tuan gambarkan itu membuat hatiku kecut, dan aku tak tahu apakah aku cukup kuat menghadapinya dan berhasil pada akhirnya.”

“Ada ujian untuk mengetahui kekuatanmu,” kata sang pengetahuan. “Bukalah matamu dan pusatkan pandanganmu padaku. Jika kau dapat melihat pena yang menulis pada sang hati, kukira kau akan mampu melangkah lebih jauh lagi. Sebab orang yang mampu menyeberangi alam gejala, lalu ia mengetuk pintu alam langit, maka ia akan dapat melihat pena yang menulis pada hati.”

Sang fakir mengikuti nasihat tersebut, tetapi ia tidak dapat melihat pena itu, karena pandangannya tentang pena adalah tidak lain dari pena yang terbuat dari buluh atau kayu. Lalu sang pengetahuan memperhatikan dirinya sambil berkata: “Di sanalah kesulitannya. Tidakkah kau tahu bahwa perabot rumah tangga sebuah istana. menunjukkan kedudukan pemiliknya? Tiada satu pun di alam semesta ini menyerupai Allah,2) oleh karenanya sifat-sifat-Nya pun transendental. Dia tidak berbentuk dan tidak pula menempati ruangan. Tangan-Nya bukanlah segumpal daging, tulang dan darah. Maka pena-Nya pun tidaklah terbuat dari buluh ataupun kayu. Tulisan-Nya bukan lah dari tinta yang keluar dari benda tajam dan runcing. Namun banyak orang dengan bodohnya tetap berpegang pada pandangan yang menyamakan Dia dengan manusia. Hanya sedikit yang menghargai konsepsi yang secara transendental murni tentang Dia, dan percaya bahwa Dia tidak hanya berada di atas segala batas kebendaan tetapi bahkan berada di atas segala batas perumpamaan. Tampaknya kau masih terombang-ambing di antara dua pandangan, karena di satu pihak kau beranggapan bahwa Allah itu tidak bersifat kebendaan, bahwa kata-kata-Nya tidak bersuara dan tidak berbentuk; di lain pihak kau tak dapat meningkat pada konsepsi transendental tentang tangan, pena dan kertas-Nya. Apakah kau kira makna dari Hadis, ‘Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menyerupai Citra-Nya’ itu terbatas pada wajah manusia yang tampak saja? Tentu tidak; sifat batin yang dapat dilihat dari pandangan batin sajalah sesungguhnya yang dapat disebut citra Allah.3) Namun demikian, dengarkanlah: Engkau kini berada pada gunung yang suci, tempat suara gaib dari hutan yang terbakar berkata: ‘Aku adalah Aku;4) sesunqguhnya Aku adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu.5)

Sang fakir, yang sedang mendengarkan dengan terkagumkagum itu, tiba-tiba melihat seolah-olah ada seberkas sinar, kemudian tampaklah pena yang bekerja menuliskan pada hati, tiada berbentuk. “Beribu-ribu terima kasih kuucapkan kepadamu, wahai Pengetahuan, yang telah menyelamatkanku dari kejatuhan ke dalam jurang kemusyrikan. Terima kasih kuucap kan dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku telah menunda-nunda waktu, maka kini kuucapkan selamat tinggal!” Kemudian sang fakir melanjutkan kembali perjalanannya. Berhenti sejenak ketika melihat kehadiran sang pena yang tak tampak itu. Dengan sopan ia bertanya seperti dahulu: “Kau sudah tahu jawabanku,” jawab sang pena yang misterius itu. “Kau tentunya tidak dapat melupakan jawaban yang diberikan kepadamu oleh sang pena di alam bumi sana.”

“Ya, aku masih ingat,” jawab sang fakir, “tetapi bagaimana mungkin jawabannya bisa sama, karena tidak ada kemiripan antara kamu dengan sang pena yang di sana itu.”

“Kalau demikian, tampaknya kau telah melupakan hadits: ‘Sesungguhnya Allah menciptakan Adam menyerupai citraNya’.

“Tidak, Tuan,” sela sang fakir, “Aku telah menghapalkannya.” “Dan kau pun telah melupakan ayat suci Al-Quran: ‘Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya:6)

“Tentu, tidak,” seru sang fakir, “Aku dapat mengulang-ulang seluruh isi Al-Quran di luar kepala.”

“Ya, aku tahu, dan karena kini kau sudah memasuki pelataran suci dari alam langit, maka aku pikir aku dapat dengan aman mengatakan bahwa sesungguhnya kau telah mempelajari makna ayat-ayat tersebut dari sudut pandang yang negatif. Namun sebenarnya ayat-ayat tersebut memiliki nilai positif juga, dan harus digunakan sebagai sesuatu yang membangun pada peringkat ini7) Lanjutkanlah terus perjalananmu dan kau akan memahami apa yang kumaksudkan.”

Sang fakir memandangi dirinya dan menemukan dirinya itu memantulkan sifat Tuhan Yang Maha Kuasa. Segera ia menyadari adanya kekuatan yang tersimpan di balik pernyataan sang pena yang misterius itu, tetapi dengan dorongan sifat ingin tahunya ia hampir saja mengajukan pertanyaan tentang Yang Maha Suci, ketika suatu suara bagaikan halilintar yang memekakkan telinga terdengar dari atas, berkumandang: “Ia tidak ditanya tentang perbuatannya, tetapi perbuatannya itulah yang akan ditanya.” Dengan diliputi keterkejutan, sang fakir menundukkan kepalanya penuh khidmat tanpa sepatah kata pun.

Tangan Allah Yang Maha Pengasih merentang ke arah sang fakir yang tiada berdaya itu; ke dalam telinganya dibisikkanlah nada-nada suara merdu merayu: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan menuju Kami. ” (QS 29:64)

Setelah membuka kedua matanya, sang fakir mengangkat kepalanya dan menghadapkan hatinya dengan penuh khusyuk dalam doa: “Mahasuci Engkau, wahai Allah Yang Maha Kuasa: segala puji bagi nama-Mu, wahai Tuhan seru sekalian alam! Mulai saat ini aku tak akan lagi takut pada segala makhluk, kuserahkan seluruh kepercayaanku kepada-Mu, ampunan-Mu adalah pelipur laraku, rahmat-Mu adalah tempatku berlindung.”

(Mudah-mudahan, dengan mengingat keesaan Allah, masalah tersebut akan menjadi jelas).

Dikutip dari buku : Rahasia-Rahasia Ajaran Tasawuf Al-Ghazali, Oleh Syed Nawab Ali, penerbit Gema Risalah Press, 110 halaman, pada 12 Maret 1995 harganya Rp1500.-

Catatan:

1) St. Matthew, XIV 53-31: “Dan peda perempat malam ia menghampiri mereka, berjalan di atas laut. Dan ketika murid-muridnya melihat ia berjalan di laut, mereka menjadi gempar dan berkata telah melihat hantu, lalu mereka berteriak ketakutan. Namun sejurus kemudian Yesus berfirman kepada mereka: ‘Berbuat baiklah, bergembiralah, inilah Aku, janganlah takut.!”

Kemudian Peter menjawab: Tuhan, kalau benar itu Engkau, izinkanlah aku mendekati-Mu di atas air.’ Dan Peter turun dari perahu lalu berjalan di atas air untuk menghampiri Yesus. Namun ketika melihat angin ia merasa takut, lalu ketika mulai tenggelam ia berkata: ‘Tuhan, tolonglah aku; Dan dengan serta-merta Yesus mengulurkan tangan-Nya, Ialu mengangkat tubuhnya dan berfirman: ‘wahai orang yang kurang beriman, mengapa kau ragu-ragu.”

2) Cf. AI-Quran, 42: 11: ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

3) Cf. Genesis, I. 27.

4) Exodus, III, 14.

5) Al-Quran 20: 12. Pada umumnya ditafsirkan bahwa Musa dalam ayat ini diperintahkan meninggalkan “kedua terompahnya” untuk menghormati ‘tempat suci, Thuwa, Namun Razi dalam ulasannya menyebutnya sebagai sebuah ungkapan dan mengatakan bahwa bahasa Arab menggunakan kata Na’al (sepatu) untuk menyebut istri dan keluarga. Perintah untuk menanggalkan sepasang terompah Musa itu oleh karenanya merupakan sebuah ungkapan metaforis agar ia mengosongkan hatinya dari perhatiannya terhadap keluarga? lihat Tafsir-i-Razi, Jilid V1, 19, edisi Istambul.

6) Al-Quran. 39; 67. Ayat lengkapnya berbunyi: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya: padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat den langit digulung dengan tangan kanan-nya; Maha Suci Tuhan dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”

7) Al-Ghazali telah membicarakan masalah ini secara lengkap dalam bukunya yang berjudul Iljam al-Awam, Dikatakannya bahwa setiap benda mengalami empat tahap keberadaan. Ia menggambarkan sebagai berikut; “Api” adalah yang (1) tertutis pada kertas; (2) diucapkan sebagai api; (3) membakar; dan (4) dicerap oleh akal mudah terbakar. Dua tahap yang pertama pada dasarnya bersifat konvensional tetapi mengandung nilai pendidikan. Demikian pula halnya, pemanusiaan ayat-ayat suci Al-Quran hendaknya ditelaah berdasarkan keempat tahap tersebut di atas.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s