gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Manifesto Partai Komunis [1] Juli 19, 2010

Filed under: Loker Kumpulan Tulisan — gogo @ 8:58 am

Ada hantu berkeliaran di Eropa-hantu Komunisme. Semua kekuasaan di Eropa lama telah menyatukan diri dalam suatu persekutuan keramat untuk mengusir hantu ini: Paus dan Tsar, Metternich [12] & Guizot [13], kaum Radikal Perancis [14] dan mata-mata polisi Jerman.

Di manakah ada partai oposisi yang tidak dicaci sebagai Komunis oleh lawan-lawannya yang sedang berkuasa? Di manakah ada partai oposisi yang tidak melontarkan kembali cap tuduhan Komunisme, baik kepada partai-partai oposisi yang lebih maju maupun kepada lawan-lawannya yang reaksioner?

Dua hal timbul dari kenyataan ini.

I. Komunisme telah diakui oleh semua kekuasaan di Eropa sebagai suatu kekuasaan pula.

II. Telah tiba waktunya bahwa kaum Komunis harus dengan terang-terangan terhadap seluruh dunia menyiarkan pandangan mereka, cita-cita mereka, tujuan mereka, aliran mereka,dan melawan dongengan kanak-kanak tentang Hantu Komunisme ini dengan sebuah manifesto dari partai sendiri.

Untuk maksud ini, kaum Komunis dari berbagai nasionalitet telah berkumpul di London, dan merencanakan manifesto berikut ini untuk diterbitkan dalam bahasa Inggeris, Perancis, Jerman, Italia, Vlam dan Denmark.


I
KAUM BORJUIS DAN KAUM PROLETAR [a]

Sejarah dari semua masyarakat:[b] yang ada hingga sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas.

Orang-merdeka dan budak, patrisir dan plebejer [16], tuan bangsawan dan hamba, tukang-ahli [c] dan tukang pembantu, pendeknya : penindas dan yang tertindas, senantiasa ada dalam pertentangan satu dengan yang lain, melakukan perjuangan yang tiada putus-putusnya, kadang-kadang dengan tersembunyi, kadang-kadang dengan terang-terangan, suatu perjuangan yang setiap kali berakhir dengan penyusunan-kembali masyarakat umumnya atau dengan sama-sama binasanya kelas-kelas yang bermusuhan.

Dalam zaman permulaan sejarah, hampir di mana saja kita dapati suatu susunan rumit dari masyarakat yang terbagi menjadi berbagai golongan, menjadi banyak tingkatan kedudukan sosial. Di Roma purbakala terdapat kaum patrisir, kaum ksatria, kaum plebejer, kaum budak, dalam Zaman Tengah kaum tuan feodal, kaum vasal, kaum tukang-ahli, kaum tukang-pembantu, kaum malang, kaum hamba; di dalam hampir semua kelas ini terdapat lagi tingkatan-tingkatan bawahan.

Masyarakat borjuis modern yang timbul dari runtuhan masyarakat feodal tidak menghilangkan pertentangan-pertentangan kelas. Ia hanya menciptakan kelas-kelas baru, syarat-syarat penindasan baru, bentuk-bentuk perjuangan baru sebagai ganti yang lampau.

Tetapi zaman kita, zaman borjuasi, mempunyai sifat yang istimewa ini : ia telah menyederhanakan pertentangan-pertentangan kelas. Masyarakat seluruhnya semakin lama semakin terpecah menjadi dua golongan besar yang langsung berhadapan satu dengan yang lain – borjuasi dan proletariat.

Dari kaum hamba pada Zaman Tengah timbullah wargakota berhak-penuh dari kota-kota yang paling permulaan. Dari wargakota-wargakota ini berkembanglah anasir-anasir pertama dari borjuasi.

Ditemukannya benua Amerika, dikelilinginya Tanjung Harapan di Afrika Selatan, memberikan lapangan baru bagi borjuasi yang sedang tumbuh, pasar-pasar di Hindia Timur dan Tiongkok, kolonisasi atas Amerika, perdagangan dengan tanah-tanah jajahan, bertambah banyaknya alat penukaran dan barang dagangan pada umumnya, memberikan kepada perdagangan, kepada pelajaran, kepada industri, suatu dorongan yang tak pernah dikenal sebelum itu dan bersamaan dengan itu memberikan kepada anasir-anasir revolusioner dalam masyarakat feodal yang. sedang runtuh itu suatu kemajuan yang cepat.

Sistim industri yang feodal, di mana produksi industri dimonopoli oleh gilda-gilda semata-mata, sekarang tidak lagi mencukupi kebutuhan-kebutuhan yang makin bertambah dari pasar-pasar baru. Sistim manufaktur [l7] menggantikannya. Tukang-tukang-ahli didesak keluar oleh kelas tengah manufaktur; pembagian kerja di antara berbagai gabungan gilda hilang dengan lahirnya pembagian kerja di setiap bengkel pertukangan sendiri-sendiri.

Sementara itu pasar-pasar senantiasa makin meluas, kebutuhan senantiasa bertambah. Sistim manufaktur itupun tak dapat lagi mencukupi. Segera sesudah itu uap dan mesin-mesin merevolusionerkan produksi industri. Kedudukan manufaktur direbut oleh Industri Modern raksasa, kedudukan kelas tengah industri oleh milyuner-milyuner industri, pemimpin-pemimpin kesatuan-kesatuan lengkap dari tentara industri, kaum borjuis modern.

Industri modern telah menciptakan pasar dunia yang telah dibukakan jalannya dengan ditemukannya Amerika. Pasar ini telah memberikan kemajuan maha besar pada perdagangan, pada pelajaran, pada perhubungan di darat. Kemajuan ini, pada gilirannya, bereaksi terhadap meluasnya industri; dan sebanding dengan meluasnya industri, perdagangan, pelajaran, perhubungan kereta api, maka dalam perbandingan yang sama borjuasi pun maju pula, kapitalnya bertambah dan mendesak ke belakang tiap-tiap kelas peninggalan dari Zaman Tengah.

Oleh sebab itu tahulah kita, bagaimana borjuasi modern itu sendiri adalah hasil dari perjalanan perkembangan yang lama, dari suatu rangkaian revolusi-revolusi dalam cara produksi dan cara pertukaran.

Tiap langkah dalam perkembangan borjuasi diikuti oleh suatu kemajuan politik yang sesuai dari kelas itu. Suatu kelas tertindas di bawah kekuasaan bangsawan feodal, suatu perserikatan bersenjata dan memerintah sendiri dalam komune [d] pada Zaman Tengah; di satu tempat berupa republik-kota yang merdeka (seperti di Italia dan Jerman), di lain tempat berupa, “pangkat ketiga” [18] Wajib-pajak dalam monarki (seperti di Perancis), sesudah itu, dalam masa manufaktur yang sebenarnya, dengan mengabdi pada monarki setengah-feodal [19] atau absolut sebagai kekuatan imbangan terhadap kaum bangsawan, dan dalam kenyataannya, batu dasar bagi monarki-monarki besar pada umumnya, maka pada akhirnya borjuasi, sejak berdirinya Industri Modern dan pasar dunia, telah merebut untuk dirinya sendiri segenap kekuasaan politik di dalam Negara konstitusionil modern. Badan eksekutif negara modern hanyalah merupakan sebuah komite untuk mengatur urusan-urusan bersama dari seluruh borjuasi.

Borjuasi, di dalam sejarah, telah memainkan peranan yang sangat revolusioner.

Borjuasi, di mana saja ia telah dapat memperoleh kekuasaan, telah mengakhiri semua hubungan feodal patriarkal pedesaan. Ia dengan tiada kenal kasihan telah merenggut putus pertalian-pertalian feodal yang beraneka ragam yang mengikat manusia pada “atasannya yang wajar”, dan tidak meninggalkan ikatan lain antar manusia dengan manusia selain daripada kepentingan sendiri semata-mata, selain daripada “pembayaran tunai” yang kejam. Ia telah menghanyutkan getaran yang paling suci dari damba keagamaan, dari gairah keksatriaan, dari sentimentalisme filistin, ke dalam air dingin perhitungan egois. Ia telah menjatukan harga diri dengan nilai-tukar, dan sebagai ganti dari kebebasan-kebebasan tak terhitung jumlahnya yang telah disahkan oleh undang-undang yang tak boleh dibatalkan itu, ia telah menetapkan satu-satunya kebebasan yang tidak berdasarkan akal – Perdagangan Bebas. Pendek kata, penghisapan yang diselimuti dengan ilusi-ilusi keagamaan dan politik digantikan olehnya dengan penghisapan yang terang-terangan, tak kenal malu, langsung, ganas.

Borjuasi telah menanggalkan anggapan mulia terhadap setiap jabatan yang selama ini dihormati dan dipuja dengan penuh ketaatan. Ia telah mengubah dokter, advokat, pendeta, penyair, sarjana menjadi buruh-upahannya yang dia bayar.

Borjuasi telah merobek dengan kekerasan selubung perasaan kekeluargaan, dan telah memerosotkannya menjadi hubungan-uang belaka.

Borjuasi telah menyingkapkan bagaimana dapat terjadinya hal bahwa pertunjukan kekuatan secara kasar dalam Zaman Tengah, yang begitu dikagumi oleh kaum reaksioner itu, mendapatkan imbangannya yang wajar dan cocok berwujud kemalasan yang paling lamban. Dialah yang pertama-tama memperlihatkan apa yang dapat dihasilkan oleh kegiatan manusia. Ia telah melahirkan keajaiban-keajaiban yang jauh melampaui piramida-piramida Mesir, saluran-saluran air Roma dan katedral-katedral Gotik; ia telah melakukan ekspedisi-ekspedisi yang sangat berlainan dibanding dengan perpindahan-perpindahan bangsa-bangsa [20] serta perang-perang salib [21] di masa dahulu.

Borjuasi tidak dapat hidup tanpa senantiasa merevolusionerkan perkakas-perkakas produksi dan karenanya merevolusionerkan hubungan-hubungan produksi, dan dengan itu semuanya merevolusionerkan segenap hubungan dalam masyarakat. Sebaliknya, mempertahankan cara-cara produksi yang lama dalam bentuknya yang tidak berubah adalah syarat pertama untuk hidup bagi segala kelas industri yang terdahulu. Senantiasa merevolusionerkan produksi, kekacauan tiada putus-putusnya dalam segala syarat.sosial, ketiadaan kepastian serta kegelisahan yang abadi itu membedakan zaman borjuasi dengan semua zaman yang terdahulu. Segala hubungan yang telah ditetapkan dan beku serta berkarat, dengan rentetannya berupa prasangka-prasangka serta pendapat-pendapat kuno yang disegani, disapu bersih, segala yang dibentuk baru menjadi usang sebelum membatu. Segala yang padat hilang larut dalam udara, segala yang suci dinodai, dan pada akhirnya manusia terpaksa menghadapi dengan hati yang tenang syarat-syarat hidupnya yang sebenarnya, dan hubungan-hubungannya dengan sesamanya.

Kebutuhan akan pasar yang senantiasa meluas untuk barang-barang hasilnya mengejar borjuasi ke seluruh muka bumi. Ia harus bersarang di mana-mana, bertempat di mana-mana, mengadakan hubungan-hubungan di mana-mana.

Melalui penghisapannya atas pasar dunia borjuasi telah memberikan sifat kosmopolitan kepada produksi dan konsumsi di tiap-tiap negeri. Kaum reaksioner merasa sedih sekali karena borjuasi telah menarik dari bawah kaki industri bumi nasional tempat ia berdiri.

Semua industri nasional yang sudah tua telah dihancurkan atau sedang dihancurkan setiap hari. Mereka digantikan oleh industri-industri baru yang pelaksanaannya menjadi jadi masalah hidup dan mati bagi semua nasion yang beradab, oleh industri yang tidak lagi mengerjakan bahan mentah dari negeri sendiri, tetapi bahan mentah yang didatangkan dari wilayah-wilayah dunia yang paling jauh letaknya, industri yang barang-barang hasilnya tidak saja dipakai di dalam negeri tetapi di setiap pelosok dunia. Sebagai pengganti kebutuhan-kebutuhan masa lampau yang dipenuhi oleh produksi negeri sendiri, kita mendapatkan kebutuhan-kebutuhan baru, yang untuk memuaskannya diperlukan hasil-hasil dari negeri-negeri serta daerah-daerah iklim yang sangat jauh letaknya. Sebagai pengganti keadaan terasing serta mencukupi-kebutuhan-sendiri secara lokal maupun nasional yang lama, kita dapati hubungan ke segala jurusan, keadaan saling-tergantung yang universal di antara nasion-nasion. Dan seperti halnya dengan produksi material, demikian jugalah keadaannya dalam hal produksi intelek. Ciptaan-ciptaan intelek dari satu-satu nasion menjadi milik bersama. Kesepihakan serta kesempitan pandangan nasional menjadi makin tidak mungkin, dan dari sejumlah besar literatur nasional dan lokal timbullah suatu literatur dunia.

Borjuasi, dengan perbaikan cepat dari segala alat produksi, dengan makin sangat dipermudahnya kesempatan menggunakan alat-alat perhubungan, menarik segala nasion, sampai yang paling biadab pun, ke dalam peradaban. Harga-harga murah dari barang dagangannya merupakan artileri berat yang dengannya ia memporak-porandakan segala tembok-tembok Tiongkok, yang dengannya ia menaklukkan kebencian berkepala batu dari kaum biadab terhadap orang-orang asing. Ia memaksa semua nasion, dengan ancaman akan musnah, cara produksi borjuis; ia memaksa mereka mengemukakan apa yang olehnya disebut peradaban itu ke tengah-tengah lingkungan mereka, yaitu, supaya mereka sendiri menjadi borjuis. Pendek kata, ia menciptakan suatu dunia menurut bayangannya sendiri.

Borjuasi menundukkan desa kepada kekuasaan kota. Ia telah menciptakan kota-kota yang hebat, telah sangat menambah penduduk kota dibanding dengan penduduk desa, dan dengan demikian telah melepaskan sebagian besar penduduk dari kedunguan kehidupan desa. Sebagaimana halnya ia telah menjadikan desa bergantung kepada kota, begitupun ia telah menjadikan negeri biadab dan setengah-biadab bergantung kepada negeri yang beradab, nasion kaum tani kepada nasion kaum borjuis, Timur kepada Barat.

Borjuasi senantiasa makin bersemangat menghapuskan keadaan terpencar-pencar dari penduduk, dari alat-alat produksi, dan dari milik. Ia telah menimbun penduduk, memusatkan alat-alat produksi, dan telah mengkonsentrasi milik ke dalam beberapa tangan. Akibat yang sudah seharusnya dari hal ini adalah pemusatan politik. Propinsi-propinsi yang merdeka atau yang mempunyai hubungan tak begitu erat dengan kepentingan-kepentingan undang-undang pemerintah dan sistim pajak yang berlain-lainan menjadi terpadu sebagai satu nasion dengan satu pemerintah, satu tata undang-undang, satu kepentingan-kelas nasional, satu perbatasan dan satu tarif pabean.

Borjuasi, selama kekuasaannya yang belum genap seratus tahun itu, telah menciptakan tenaga-tenaga produktif yang lebih teguh dan lebih besar daripada yang telah diciptakan oleh generasi-generasi yang terdahulu dijadikan satu. Ditundukkannya kekuatan-kekuatan alam kepada manusia, mesin-mesin, pelajaran kapal api, pengenaan ilmu kimia pada industri dan pertanian, jalan kereta api, pembukaan benua-benua utuh untuk tanah garapan, telegrafi listrik, penyaluran sungai sejumlah sangat besar penduduk yang dengan kekuatan sihir dikeluarkan dari dalam tanah – abad terdahulu manakah yang dapat menduga adanya tenaga-tenaga produktif yang sedemikian itu tertidur dalam pangkuan kerja masyarakat?

Jadi tahulah kita: alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran, yang di atas dasarnya borjuasi berkembang, telah ditimbulkan di dalam masyarakat feodal. Pada suatu tingkat tertentu dalam perkembangan alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran ini, syarat-syarat tempat masyarakat feodal menghasilkan dan mengadakan pertukaran, organisasi feodal dari pertanian dan industri manufaktur, pendek kata, hubungan-hubungan feodal dari milik menjadi tidak lagi dapat disesuaikan dengan tenaga-tenaga produktif yang sudah berkembang; mereka merupakan belenggu-belenggu yang begitu banyak; mereka harus dipatahkan, mereka memang dipatahkan.

Sebagai gantinya datanglah persaingan bebas, disertai oleh susunan sosial dan politik yang diselaraskan dengannya, dan oleh kekuasaan ekonomi dan politik dari kelas borjuis.

Suatu gerakan yang serupa sedang berlangsung di hadapan mata kepala kita sendiri. Masyarakat borjuis modern dengan hubungan-hubungan produksinya, hubungan-hubungan pertukaran, dan hubungan-hubungan miliknya, suatu masyarakat yang telah menjelmakan alat-alat produksi serta alat-alat pertukaran yang begitu raksasa, adalah seperti tukang sihir yang tidak dapat mengontrol lagi tenaga-tenaga dari alam gaib yang telah dipanggil olehnya dengan mantra-mantranya. Sudah sejak berpuluh-puluh tahun sejarah industri dan perdagangan hanyalah sejarah pemberontakan tenaga-tenaga produktif modern melawan syarat-syarat produksi modern, melawan hubungan-hubungan milik yang merupakan syarat-syarat untuk hidup bagi borjuasi dan kekuasaannya. Cukuplah untuk menyebut krisis-krisis perdagangan yang dengan terulangnya secara periodik, setiap kali lebih berbahaya, mengancam kelangsungan hidup seluruh masyarakat borjuis. Di dalam krisis-krisis ini tidak saja sebagian besar dari baranghasil-baranghasil yang ada, tetapi juga dari tenaga-tenaga produktif yang telah diciptakan terdahulu, dihancurkan secara periodik. Di dalam krisis-krisis ini berjangkitlah wabah yang di dalam zaman-zaman terdahulu akan merupakan suatu kejanggalan – wabah produksi kelebihan. Tiba-tiba masyarakat mendapatkan dirinya terlempar kembali dalam suatu keadaan kebiadaban sementara; nampaknya seakan-akan suatu kelaparan, suatu perang pembinasaan umum telah memusnahkan persediaan segala bahan-bahan keperluan hidup; industri dan perdagangan seakan-akan dihancurkan; dan mengapa? Karena terlampau banyak peradaban, terlampau banyak bahan-bahan keperluan hidup, terlampau banyak industri, terlampau banyak perdagangan. Tenaga-tenaga produktif yang tersedia bagi masyarakat tidak lagi dapat melanjutkan perkembangan syarat-syarat milik borjuis; sebaliknya, mereka telah menjadi terlampau kuat bagi syarat-syarat ini, yang membelenggu mereka, dan segera setelah mereka mengatasi rintangan belenggu-belenggu ini, mereka mendatangkan kekacauan ke dalam seluruh masyarakat borjuis, membahayakan adanya milik borjuis. Syarat-syarat masyarakat borjuis adalah terlampau sempit untuk memuat kekayaan yang diciptakan olehnya. Dan bagaimanakah borjuasi mengatasi krisis-krisis ini? Pada satu pihak, dengan memaksakan penghancuran sejumlah besar tenaga-tenaga produktif, pada pihak lain, dengan merebut pasar-pasar baru dan menghisap pasar-pasar yang lama dengan cara yang lebih sempurna. Itu artinya, dengan membukakan jalan untuk krisis-krisis yang lebih luas dan lebih merusakkan, dan mengurangi syarat-syarat yang dapat mencegah krisis-krisis itu.

Senjata-senjata yang digunakan oleh borjuasi untuk menumbangkan feodalisme sekarang berbalik kepada borjuasi itu sendiri.

Tetapi tidak saja borjuasi itu menempa senjata-senjata yang mendatangkan mautnya sendiri; ia juga telah melahirkan manusia-manusia yang akan menggunakan senjata-senjata itu – kelas buruh modern – kaum proletar.

Dibandingkan dengan berkembangnya borjuasi, artinya, kapital, maka dalam derajat yang itu juga proletariat, kelas buruh modern, telah berkembang – suatu kelas kaum pekerja yang hanya hidup selama mereka mendapat pekerjaan, dan hanya mendapat pekerjaan selama kerja mereka memperbesar kapital. Kaum pekerja ini yang harus menjual dirinya sepotong-sepotong, adalah suatu barang dagangan seperti semua barang dagangan lainnya, dan karenanya diserahkan mentah-mentah kepada segala perubahan dalam persaingan, kepada segala perguncangan pasar.

Disebabkan oleh pemakaian mesin-mesin secara luas dan karena pembagian kerja, hilanglah segala sifat perseorangan dari pekerjaan kaum proletar, dan karena itu hilanglah segala kegairahan bagi si buruh. Ia semata-mata menjadi lampiran-tambahan dari mesin dan hanyalah kecakapan yang paling sederhana, paling menjemukan dan paling mudah didapat, yang dibutuhkan dari dia. Dari itu, biaya produksi dari seorang buruh terbatas hampir semata-mata pada bahan-bahan keperluan hidup yang diperlukan untuk hidupnya dan untuk pembiakan jenisnya. Tetapi harga sesuatu barang dagangan, dan oleh sebab itu juga harga kerja, [22] adalah sama dengan biaya produksinya. Oleh sebab itu sederajat dengan makin tidak menyenangkannya kerja itu, maka turunlah upahnya. Bahkan lebih dari itu, dalam derajat sebagaimana pemakaian mesin-mesin dan pembagian kerja bertambah, dalam derajat yang itu juga beban kerja bertambah, baik dengan memperpanjang jam kerja, dengan menambah banyaknya pekerjaan dalam waktu yang tertentu atau dengan mempertinggi kecepatan mesin-mesin, dsb.

Industri modern telah mengubah bengkel kecil kepunyaan majikan patriarkal menjadi pabrik besar kepunyaan kapitalis industri. Massa kaum buruh yang dikumpulkan dalam pabrik diorganisasi seperti serdadu. Sebagai serdadu biasa dari tentara industri mereka diatur di bawah perintah suatu susunan-kepangkatan yang rapi terdiri dari opsir-opsir dan sersan-sersan. Mereka itu tidak hanya menjadi budak kelas borjuis dan budak negara borjuis saja; mereka itu setiap hari dan setiap jam diperbudak oleh mesin-mesin, oleh mandor-mandor, dan terutama sekali oleh tuan pabrik borjuis orang-seorang itu sendiri. Semakin terang-terangan kelaliman ini menyatakan keuntungan sebagai tujuan dan maksudnya, semakin keji, semakin membencikan dan semakin memarahkanlah dia itu.

Semakin kurang kecakapan dan kurang pemakaian kekuatan yang diperlukan dalam kerja badan, dengan kata-kata lain, semakin industri modern menjadi sempurna, semakin banyak kerja kaum pria yang digantikan oleh kerja kaum wanita. Perbedaan umur dan perbedaan jenis kelamin tidak lagi mempunyai sesuatu arti kemasyarakatan yang penting bagi kelas buruh. Semuanya adalah perkakas kerja, kurang atau lebih mahalnya untuk dipakai, bergantung pada umur dan jenis kelamin mereka.

Jika penghisapan atas pekerja oleh pengusaha sudah sampai sedemikian jauhnya sehingga ia menerima upahnya dengan tunai, maka diterkamlah ia oleh bagian-bagian lain dari borjuasi, tuan tanah, tuan toko, pemilik pegadaian, dsb.

Lapisan rendahan dari kelas tengah – kaum pengusaha kecil, tuan toko dan tukang riba [23] umumnya, kaum pekerja-tangan dan kaum tani – semua ini berangsur-angsur jatuh menjadi proletariat, sebagian oleh karena kapitalnya yang kecil tidak cukup untuk menjalankan industri besar dan menderita kekalahan dalam persaingan dengan kaum kapitalis besar, sebagian oleh karena keahlian mereka menjadi tidak berharga untuk cara-cara produksi yang baru. Begitulah proletariat terjadi dari segala kelas penduduk.

Proletariat melalui berbagai tingkat perkembangan. Bersamaan dengan lahirnya, mulailah perjuangannya terhadap borjuasi. Mula-mula perjuangan itu dilakukan oleh kaum buruh orang-seorang, kemudian oleh buruh suatu pabrik, kemudian oleh buruh dari satu macam perusahaan di satu tempat melawan borjuis orang-seorang yang langsung menghisap mereka. Mereka tidak mengerahkan serangan-serangannya terhadap syarat-syarat produksi borjuis, tetapi terhadap perkakas-perkakas produksi itu sendiri; mereka merusakkan barang-barang impor yang menyaingi kerja mereka, mereka menghancurkan mesin-mesin, mereka membakar pabrik-pabrik, mereka mencoba mengembalikan dengan paksa kedudukan pekerja dari Zaman Tengah [24] yang telah hilang itu.

Pada tingkat tersebut kaum buruh merupakan suatu massa yang lepas tersebar di seluruh negeri dan terpecah belah oleh persaingan di kalangan mereka sendiri. Jika di sesuatu tempat mereka bersatu membentuk badan-badan yang lebih erat terhimpun, ini belumlah akibat dari persatuan yang aktif dari mereka sendiri, tetapi dari persatuan borjuasi, kelas yang untuk mencapai tujuan politiknya sendiri terpaksa menggerakkan seluruh proletariat, tambahan pula karena untuk sementara waktu mereka masih dapat berbuat demikian. Oleh karena itu, pada tingkat tersebut kaum proletar tidak melawan musuh-musuhnya, tetapi musuh-musuh dari musuh mereka, yaitu sisa-sisa monarki absolut, kaum pemilik tanah, borjuis bukan-industri, borjuasi kecil. Dengan demikian seluruh gerakan yang bersejarah itu berpusat di dalam tangan borjuasi; tiap-tiap kemenangan yang dicapai dengan cara demikian adalah kemenangan bagi borjuasi.

Tetapi dengan berkembangnya industri, proletariat tidak saja bertambah jumlahnya; ia menjadi terkonsentrasi di dalam massa yang lebih besar, kekuatannya bertambah besar dan ia semakin merasakan kekuatan itu. Kepentingan-kepentingan dan syarat-syarat hidup yang bermacam ragam di dalam barisan proletariat semakin lama semakin menjadi sama, sederajat dengan dihapuskannya segala perbedaan kerja oleh mesin-mesin dan dengan diturunkannya upah hampir di mana-mana sampai pada tingkat yang sama rendahnya. Persaingan yang semakin menjadi di kalangan kaum borjuis dan krisis-krisis perdagangan yang diakibatkannya, menyebabkan upah kaum buruh senantiasa berguncang. Perbaikan mesin-mesin yang tidak henti-hentinya itu senantiasa berkembang dengan lebih cepat, menyebabkan penghidupan mereka makin lama makin tidak tentu; bentrokan-bentrokan antara buruh orang-seorang dengan borjuis orang-seorang makin lama makin bersifat bentrokan-bentrokan antara dua kelas. Sesudah itu kaum buruh mulai membentuk perkumpulan-perkumpulan menentang kaum borjuis; mereka berhimpun untuk mempertahankan upah-kerja mereka; mereka mendirikan perserikatan-perserikatan yang tetap untuk mempersiapkan diri guna perlawanan yang sewaktu-waktu ini. Di sana-sini perjuangan itu meletus menjadi huru-hara.

Kadang-kadang kaum buruh memperoleh kemenangan, tetapi hanya untuk sementara waktu. Buah yang sebenarnya dari perjuangan mereka tidak terletak pada hasil yang langsung, tetapi pada senantiasa makin meluasnya persatuan kaum buruh. Persatuan ini dibantu terus oleh kemajuan-kemajuan alat-alat perhubungan yang dibuat oleh industri modern dan yang membawa kaum buruh dari berbagai daerah berhubungan satu dengan yang lain. Justru perhubungan inilah yang diperlukan untuk memusatkan perjuangan-perjuangan lokal yang banyak itu, yang kesemuanya mempunyai sifat yang sama, menjadi satu perjuangan nasional antara kelas-kelas. Tetapi tiap perjuangan kelas adalah suatu perjuangan politik. Dan persatuan ini, yang untuk mencapainya, wargakota pada Zaman Tengah dengan jalan-jalan mereka yang sangat buruk memerlukan waktu yang berabad-abad lamanya, berkat adanya jalan-jalan kereta api, dicapai oleh kaum proletar modern dalam beberapa tahun saja.

Terorganisasinya kaum proletar menjadi kelas ini, dan dengan sendirinya menjadi partai politik, senantiasa dirusak kembali oleh persaingan di antara kaum buruh sendiri. Tetapi ia selalu bangun kembali, lebih kuat, lebih teguh, lebih perkasa. la memaksakan pengakuan berdasarkan undang-udang atas kepentingan-kepentingan tertentu dari kaum buruh dengan jalan menggunakan perpecahan di dalam kalangan borjuasi sendiri. Maka lahirlah undang-undang sepuluh-jam di Inggris.

Kesimpulannya ialah bahwa bentrokan-bentrokan antara kelas-kelas di dalam masyarakat lama, dengan berbagai cara, mendorong maju perkembangan proletariat. Borjuasi terlibat dalam perjuangan yang terus-menerus. Mula-mula dengan aristokrasi; kemudian dengan bagian-bagian dari borjuasi itu sendiri yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang bertentangan dengan kemajuan industri; dan selamanya dengan borjuasi negeri-negeri asing semuanya. Di dalam segala perjuangan ini ia merasa terpaksa berseru kepada proletariat, meminta bantuannya, dan dengan begitu menarik proletariat ke dalam gelanggang politik. Oleh karena itu, borjuasi itu sendiri membekali proletariat dengan anasir-anasir politik dan pendidikan-umumnya sendiri, dengan perkataan lain, ia melengkapi proletariat itu dengan senjata-senjata untuk melawan borjuasi.

Selanjutnya, sebagaimana yang telah kita ketahui, golongan-golongan keseluruhan dari kelas yang berkuasa, dengan majunja industri, tercampak ke dalam proletariat, atau setidak-tidaknya terancam di dalam syarat-syarat mereka untuk hidup. Hal ini juga memberikan kepada proletariat anasir-anasir kesadaran dan kemajuan yang segar.

Akhirnya, dalam waktu ketika perjuangan kelas mendekati saat yang menentukan, proses kehancuran yang berlaku di dalam kelas yang berkuasa, pada hakekatnya di dalam seluruh masyarakat lama seutuhnya, mencapai watak yang demikian keras dan tegasnya, sehingga segolongan kecil dari kelas yang berkuasa memutuskan hubungannya dan menyatukan diri dengan kelas yang revolusioner, kelas yang memegang hari depan di dalam tangannya. Oleh karena itu, sama seperti ketika zaman terdahulu, segolongan dari kaum bangsawan memihak kepada borjuasi, maka sekarang segolongan dari borjuasi memihak kepada proletariat, dan terutama segolongan dari kaum ideologis borjuis yang telah mengangkat dirinya sampai pada taraf memahami secara teori gerakan yang bersejarah itu sebagai keseluruhan.

Dari semua kelas yang sekarang berdiri berhadap-hadapan dengan borjuasi, hanya proletariatlah satu-satunya kelas yang betul-betul revolusioner. Kelas-kelas lainnya melapuk dan akhimya lenyap ditelan industri besar, hanya proletariatlah yang menjadi hasilnya yang istimewa dan yang hakiki.

Kelas tengah rendahan, tuan pabrik kecil, tuan toko, tukang, petani, semuanya ini, berjuang melawan borjuasi, untuk menyelamatkan hidup mereka sebagai golongan dari kelas tengah hindar dari kemusnahan. Oleh karena itu mereka tidak revolusioner, tetapi konservatif. Bahkan lebih dari itu, mereka itu reaksioner, karena mereka mencoba memutar kembali roda sejarah. Jika secara kebetulan mereka itu revolusioner, maka mereka berlaku demikian itu hanyalah karena melihat akan bahaya mendekat berupa kepindahan mereka ke dalam proletariat, jadi mereka tidak membela kepentingan-kepentingannya yang sekarang, tetapi kepentingan-kepentingannya di masa datang, mereka meninggalkan pendiriannya sendiri untuk menempatkan dirinya pada pendirian proletariat.

Proletariat-gelandangan [25], massa yang membusuk secara pasif dari kalangan lapisan-lapisan terendah masyarakat lama, di sana-sini terseret ke dalam gerakan oleh suatu revolusi proletar; akan tetapi syarat-syarat hidupnya, menjadikan dia lebih condong untuk melakukan peranan sebagai perkakas yang disuap untuk mengadakan huru-hara reaksioner.

Syarat-syarat hidup masyarakat lama sudah dihancurkan di dalam syarat-syarat hidup proletariat. Proletar tidak mempunyai milik; hubungannya dengan isteri dan anak tidak ada lagi persamaannya dengan hubungan keluarga borjuasi; kerja industri modern, penundukan modern di bawah kapital, yang sama saja baik di Inggris maupun di Perancis, di Amerika maupun di Jerman, telah menghilangkan segala bekas watak nasional daripadanya. Undang-undang moral, agama, baginya adalah sama dengan segala prasangka borjuis, yang di belakangnya bersembunyi segala macam kepentingan-kepentingan borjuis.

Semua kelas terdahulu yang memperoleh kekuasaan, berusaha memperkuat kedudukan yang telah diperolehnya dengan menundukkan masyarakat dalam keseluruhannya kepada syarat-syarat pemilikan mereka. Kaum proletar tidak dapat menjadi tuan atas tenaga-tenaga produktif dalam masyarakat, kecuali dengan menghapuskan cara pemilikan mereka sendiri yang terdahulu atas tenaga-tenaga produktif, dan dengan begitu menghapuskan juga segala cara pemilikan lain yang terdahulu. Mereka tidak mempunyai sesuatu pun yang harus dilindungi dan dipertahankan, tugas mereka ialah menghancurkan segala perlindungan dan jaminan yang terdahulu atas milik perseorangan.

Semua gerakan sejarah yang terdahulu adalah gerakan dari minoritet-minoritet, atau untuk kepentingan minoritet-minoritet. Gerakan proletar adalah gerakan yang sadar-diri dan berdiri sendiri dari mayoritet yang melimpah, untuk kepentingan mayoritet yang melimpah. Proletariat, lapisan yang paling rendah dari masyarakat kita sekarang, tidak dapat bergerak, tidak dapat mengangkat dirinya ke atas, tanpa hancur luluhnya seluruh lapisan atas dari masyarakat yang resmi.

Walaupun tidak dalam isinya tetapi dalam bentuknya, perjuangan proletariat dengan borjuasi adalah mula-mula suatu perjuangan nasional. Proletariat di masing-masing negeri tentu saja pertama-tama harus membuat perhitungan dengan borjuasinya sendiri.

Dalam melukiskan fase-fase yang paling umum dari perkembangan proletariat, kita turuti jejak peperangan dalam negeri, yang lebih atau kurang tersembunyi yang bergolak di dalam masyarakat yang ada, sampai pada titik di mana peperangan itu meletus menjadi revolusi terang-terangan, dan di mana penggulingan borjuasi dengan kekerasan meletakkan landasan bagi kekuasaan proletariat.

Hingga kini, sebagaimana yang telah kita ketahui, segala bentuk masyarakat telah didasarkan atas antagonisme antara kelas-kelas yang menindas dengan kelas-kelas yang tertindas. Tetapi untuk dapat menindas suatu kelas, haruslah dijamin syarat-syarat tertentu untuknya di mana ia setidak-tidaknya dapat melanjutkan hidupnya sebagai budak. Si hamba, dalam zaman perhambaan, meningkatkan dirinya menjadi anggota komune, seperti juga halnya dengan si borjuis kecil, di bawah tindakan absolutisme feodal, mengembangkan dirinya menjadi borjuis. Sebaliknya, buruh modern bukannya terangkat naik dengan adanya kemajuan industri, tetapi bahkan senantiasa makin jatuh merosot di bawah syarat-syarat hidup kelasnya sendiri. Ia menjadi orang melarat dan kemelaratan berkembang lebih cepat daripada penduduk dan kekayaan. Dan di sinilah menjadi terang, bahwa borjuasi tidak pada tempatnya lagi untuk menjadi kelas yang berkuasa di dalam masyarakat, dan tidak mampu lagi untuk memaksakan syarat-syarat hidupnya kepada masyarakat sebagai undang-undang yang menentukan. Ia tidak cakap memerintah karena ia tidak mampu menjamin penghidupan bagi budaknya di dalam rangka perbudakannya itu, karena ia terpaksa membiarkan budaknya tenggelam ke dalam keadaan yang sedemikian rupa sehingga ia harus memberi makan kepada budaknya, dan bukannya ia diberi makan oleh budaknya. Masyarakat tidak dapat lagi hidup di bawah borjuasi ini, dengan perkataan lain, adanya borjuasi tidak dapat didamaikan lagi dengan masyarakat.

Syarat terpokok untuk hidupnya, dan berkuasanya kelas borjuis, adalah terbentuknya dan bertambah besarnya kapital; syarat untuk kapital ialah kerja-upahan. Kerja-upahan semata-mata bersandar pada persaingan di antara kaum buruh sendiri. Kemajuan industri, yang pendorongnya dengan tak sengaja adalah borjuasi, menggantikan terpencilnya kaum buruh, yang disebabkan oleh persaingan, dengan tergabungnya mereka secara revolusioner, yang diperoleh karena perserikatan. Perkembangan industri besar, karenanya, merenggut dari bawah kaki borjuasi landasan itu sendiri yang di atasnya borjuasi menghasilkan dan memiliki hasil-hasil. Oleh sebab itu, apa yang dihasilkan oleh borjuasi ialah, terutama sekali, penggali-penggali liang kuburnya sendiri. Keruntuhan borjuasi dan kemenangan proletariat adalah sama-sama tidak dapat dielakkan lagi.

II
KAUM PROLETAR DAN KAUM KOMUNIS

Bagaimanakah hubungan antara kaum Komunis dengan kaum proletar umumnya ?

Kaum Komunis tidak merupakan suatu partai tersendiri yang bertentangan dengan partai-partai kelas buruh lainnya.

Mereka tidak mempunyai kepentingan-kepentingan tersendiri dan terpisah dari kepentingan-kepentingan proletariat sebagai keseluruhan.

Mereka tidak mengadakan prinsip-prinsip sendiri yang sektaris, yang hendak dijadikan pola bagi gerakan proletar.

Kaum Komunis dibandingkan dengan partai-partai kelas buruh lainnya berbeda hanyalah karena hal ini :

Di dalam perjuangan nasional dari kaum proletar di berbagai negeri, mereka menunjukkan serta mengedepankan kepentingan-kepentingan bersama dari seluruh proletariat, terlepas dari segala nasionalitet.

Pada berbagai tingkat perkembangan yang harus dilalui oleh perjuangan kelas buruh melawan borjuasi, mereka senantiasa dan di mana saja mewakili kepentingan-kepentingan gerakan itu sebagai keseluruhan.

Oleh sebab itu kaum Komunis, pada satu pihak, pada prakteknya adalah bagian yang paling maju dan teguh hati dari partai-partai kelas buruh di setiap negeri, bagian yang mendorong maju semua bagian lain-lainnya; pada pihak lain, secara teori mereka mempunyai kelebihan atas massa proletariat yang besar itu dalam pengertian tentang garis perjalanan, syarat-syarat, dan hasil-hasil umum terakhir dari gerakan proletar.

Tujuan terdekat dari kaum Komunis adalah sama dengan tujuan semua partai proletar lain-lainnya : pembentukan proletariat menjadi suatu kelas, penggulingan kekuasaan borjuasi, perebutan kekuasaan politik oleh proletariat.

Kesimpulan-kesimpulan secara teori dari kaum Komunis sama sekali bukanlah berdasar pada pikiran-pikiran atau prinsip-prinsip yang telah diciptakan, atau yang ditemukan oleh salah seorang pembaharu-dunia.

Kesimpulan-kesimpulan itu hanya menyatakan semata-mata, secara umum, hubungan-hubungan yang sebenarnya yang timbul dari suatu perjuangan kelas yang sedang berlaku, dari suatu gerakan sejarah yang sedang berjalan di depan mata kita. Penghapusan hubungan-hubungan milik yang ada sekarang sama sekali bukanlah suatu ciri yang istimewa dari Komunisme.

Segala hubungan milik di masa lampau senantiasa tunduk pada perubahan kesejarahan yang diakibatkan oleh perubahan syarat-syarat sejarah.

Revolusi Perancis misalnya, menghapuskan milik feodal untuk memberi tempat kepada milik borjuis.[26]

Ciri istimewa Komunisme – bukanlah penghapusan milik pada umumnya, tetapi penghapusan milik borjuis. Tetapi milik perseorangan borjuis modern adalah pernyataan terakhir dan paling sempurna dari sistim menghasilkan dan memiliki hasil-hasil yang didasarkan pada antagonisme-antagonisme kelas, pada penghisapan terhadap yang banyak oleh yang sedikit.

Dalam artian ini, teori kaum Komunis dapatlah diikhtisarkan dalam satu kalimat saja: Penghapusan milik perseorangan.

Kita kaum Komunis telah dimaki bahwa kita ingin menghapuskan hak atas milik yang diperdapat seseorang sebagai hasil kerja orang itu sendiri, milik yang dianggap sebagai dasar dari semua kemerdekaan, kegiatan dan kebebasan seseorang.

Milik yang diperoleh dengan membanting tulang, yang direbut sendiri, yang dicari sendiri secara halal! Apakah yang tuan maksudkan itu milik si tukang kecil, milik si tani kecil, suatu bentuk milik yang mendahului bentuk milik borjuis ? Itu tidak perlu dihapuskan; perkembangan industri telah menghancurkannya banyak sekali, dan masih terus menghancurkannya setiap harinya.

Ataukah yang tuan maksudkan itu milik perseorangan borjuis modern ?

Tetapi adakah kerja-upahan, kerja si proletar, mendatangkan sesuatu milik untuk dia? Sama sekali tidak. Ia menciptakan kapital, yaitu semacam milik yang menghisap kerja-upahan, dan yang tidak dapat bertambah besar kecuali dengan syarat bahwa ia menghasilkan kerja-upahan baru untuk penghisapan baru. Milik dalam bentuknya yang sekarang ini adalah didasarkan pada antagonisme antara kapital dengan kerja-upahan. Marilah kita periksa kedua belah segi dari antagonisme ini.

Untuk menjadi seorang kapitalis, orang tidak saja harus mempunjai kedudukan perseorangan semata-mata, tetapi kedudukan sosial dalam produksi. Kapital adalah suatu hasil kolektif, dan ia hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari banyak anggota, malahan lebih dari itu, pada tingkatan terakhir, ia hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari semua anggota masyarakat.

Oleh karena itu kapital bukanlah suatu kekuasaan pribadi, ia adalah suatu kekuasaan sosial.

Jadi, jika kapital itu dijadikan milik bersama, menjadi milik semua anggota masyarakat, dengan itu milik pribadi tidak diubah menjadi milik sosial. Hanyalah watak sosial milik yang diubah. Watak kelasnya hilang.

Marilah kita sekarang bicara tentang kerja-upahan.

Harga rata-rata dari kerja-upahan ialah upah minimum, yaitu jumlah bahan-bahan keperluan hidup yang mutlak diperlukan untuk mempertahankan buruh sebagai seorang buruh dalam hidup sekedarnya. Oleh karena itu, apa yang telah dimiliki oleh buruh-upahan berkat kerjanya, hanyalah cukup untuk memperpanjang dan melanjutkan lagi hidup yang sekedarnya itu. Kita sekali-kali tidak bermaksud untuk menghapuskan pemilikan pribadi atas hasil-hasil kerja ini, pemilikan yang digunakan untuk mempertahankan dan melanjutkan lagi hidup biasa sebagai Manusia, dan yang tidak menyisakan kelebihan yang dapat digunakan untuk menguasai kerja orang-orang lain. Yang hendak kita hapuskan hanyalah watak celaka dari pemilikan ini, di mana buruh hidup hanya untuk memperbesar kapital belaka, dan dibolehkan hidup hanya selama kepentingan kelas yang berkuasa memerlukannya.

Di dalam masyarakat borjuis, kerja yang hidup ini hanyalah suatu alat untuk memperbanyak kerja yang telah tertimbun. Di dalam masyarakat Komunis, kerja yang tertimbun itu hanyalah suatu alat untuk memperluas, memperkaya, memajukan kehidupan buruh.

Di dalam masyarakat borjuis, karenanya, masa lampau menguasai masa kini; di dalam masyarakat Komunis, masa kini menguasai masa lampau. Di dalam masyarakat borjuis, kapital adalah bebas merdeka dan mempunyai kepribadian, sedang manusia yang bekerja tidak bebas dan tidak mempunyai kepribadian.

Dan penghapusan keadaan begini ini dikatakan oleh kaum borjuis, penghapusan kepribadian dan kemerdekaan! Dan memang begitu. Penghapusan kepribadian borjuis, penghapusan kebebasan borjuis dan kemerdekaan borjuis itulah yang memang dituju.

Dengan kemerdekaan diartikan, di bawah syarat-syarat produksi borjuis sekarang ini, perdagangan bebas, penjualan dan pembelian bebas.

Tetapi jika penjualan dan pembelian itu lenyap, penjualan dan pembelian bebas itupun lenyap juga.

Obrolan tentang penjualan dan pembelian bebas ini, dan segala “kata-kata gagah” lainnya dari borjuasi mengenai kemerdekaan pada umumnya, mempunyai arti, jika ada, hanya jika dibandingkan dengan penjualan dan pembelian terbatas, dengan pedagang-pedagang terbelenggu dari Zaman Tengah, tetapi tidak mempunyai arti jika dipertentangkan dengan penghapusan secara Komunis atas penjualan dan pembelian, atas cara produksi borjuis, dan atas borjuasi itu sendiri.

Tuan merasa ngeri karena maksud kami untuk menghapuskan milik perseorangan. Tetapi di dalam rnasyarakat tuan yang ada sekarang ini, milik perseorangan sudah dihapuskan bagi sembilan persepuluh dari penduduk; ia ada pada beberapa orang justru karena ia tidak ada pada mereka yang sembilan persepuluh itu. Jadi tuan memaki kami karena kami bermaksud menghapuskan suatu bentuk milik, yang untuk adanya diperlukan syarat berupa tidak adanya suatu milik apa pun bagi mayoritet melimpah dari masyarakat.

Pendek kata, tuan memaki kami bahwa kami bermaksud menghapuskan milik tuan. Memang begitu, itulah justru yang kami maksudkan.

Sejak dari saat ketika kerja tidak lagi dapat dijadikan kapital, uang, atau sewa, [27] dijadikan suatu kekuasaan sosial yang dapat dimonopolisasi, artinya, sejak dari saat ketika milik pribadi tidak dapat lagi dijadikan milik borjuis, dijadikan kapital, sejak dari saat itu, tuan katakan, kepribadian telah hilang.

Maka itu tuan harus mengakui bahwa yang tuan maksudkan dengan pribadi adalah tidak lain daripada seorang borjuis, seorang pemilik borjuis. Orang ini memang harus disapu bersih dan tidak diberi kemungkinan untuk hidup.

Komunisme tidak menghapuskan kekuasaan seseorang untuk memiliki hasil-hasil masyarakat; apa yang dilakukannya hanyalah merampas kekuasaan seseorang untuk menjadikan kerja orang lain takluk kepadanya dengan cara pemilikan semacam itu.

Orang telah mengemukakan keberatan bahwa dengan penghapusan milik perseorangan akan berhentilah semua pekerjaan, dan kemalasan umum akan merajalela.

Menurut pendapat ini, masyarakat borjuis tentunya sudah lama lenyap karena kemalasan semata-mata; karena mereka dari anggota-anggotanya yang bekerja, tidak mendapat apa-apa, dan mereka yang mendapat sesuatu, tidak bekerja. Seluruh keberatan ini hanyalah ungkapan lain dari kata-kata yang sama artinya: tak ada lagi kerja-upahan apabila tak ada lagi kapital.

Semua keberatan yang dikemukakan terhadap cara menghasilkan dan memiliki hasil-hasil material secara Komunis telah dikemukakan juga terhadap cara menghasilkan dan memiliki hasil-hasil intelek secara Komunis. Justru karena bagi kaum borjuis itu, lenyapnya milik kelas berarti lenyapnya produksi itu sendiri, maka lenyapnya kebudayaan kelas baginya berarti juga lenyapnya semua kebudayaan.

Kebudayaan itu, yang hilangnya sangat ditangisi olehnya, bagi golongan terbanyak yang melimpah hanyalah berarti bahwa mereka itu dijadikan mesin.

Tetapi janganlah ribut bertengkar dengan kami selama terhadap penghapusan milik borjuis yang kami maksudkan itu tuan mengenakan ukuran anggapan-anggapan borjuis tuan tentang kemerdekaan, kebudayaan, hukum, dsb. Pikiran-pikiran tuan itu justru adalah tidak lain daripada buah yang dihasilkan oleh syarat-syarat produksi borjuis dan milik borjuis tuan, tepat seperti halnya dengan ilmu hukum tuan adalah tidak lain daripada kemauan kelas tuan yang dijadikan undang-undang untuk semua, suatu kemauan, yang tujuan serta wataknya yang hakiki ditentukan oleh syarat-syarat hidup ekonomi kelas tuan.

Anggapan egoistis yang menyebabkan tuan mengubah bentuk-bentuk sosial yang timbul, dari cara produksi dan bentuk milik tuan sekarang ini–hubungan-hubungan kesejarahan yang timbul dan lenyap selama gerak maju produksi–menjadi hukum alam dan hukum akal yang abadi, anggapan ini sama dengan anggapan semua kelas berkuasa yang telah mendahului tuan. Apa yang sudah jelas tuan ketahui tentang milik kuno [28], apa yang sudah tuan akui tentang milik feodal, tentu saja akan terlarang bagi tuan untuk mengakui tentang bentuk milik borjuis tuan sendiri.

Penghapusan keluarga! Orang yang paling radikal pun akan naik darah karena maksud keji kaum Komunis ini.

Didasarkan atas landasan apakah keluarga sekarang, keluarga borjuis itu? Atas kapital, atas hasil pendapatan perseorangan. Dalam bentuknya yang berkembang sempurna keluarga semacam ini terdapat hanya di kalangan borjuasi saja. Tetapi keadaan ini mempunyai pelengkapnya berupa ketiadaan keluarga yang terpaksa di kalangan kaum proletar, dan berupa pelacuran umum.

Keluarga borjuis akan lenyap dengan sendirinya apabila pelengkapnya lenyap, dan kedua-duanya akan lenyap bersama dengan lenyapnya kapital.

Apakah tuan menuduh kami hendak menghentikan penghisapan anak-anak oleh orang tuanya? Kami mengakui kejahatan ini.

Tetapi, tuan akan berkata, kami menghancurkan hubungan-hubungan yang paling mesra, karena kami mengganti pendidikan rumah dengan pendidikan sosial.

Dan apakah pendidikan tuan tidak juga ditentukan oleh masyarakat? Oleh hubungan-hubungan sosial, yang di bawah syarat-syaratnya tuan mendidik, oleh campur tangan langsung, atau tidak langsung dari masyarakat dengan perantaraan sekolah-sekolah, dsb.? Kaum Komunis tidak menciptakan campur tangan masyarakat dalam pendidikan; mereka hanya berusaha untuk mengubah watak campur tangan itu, dan untuk menyelamatkan pendidikan agar hindar dari pengaruh kelas yang berkuasa.

Obrolan borjuis tentang keluarga dan pendidikan, tentang ikatan mesra antara ibu-bapak dengan anak, menjadi makin memuakkan, seiring dengan, karena akibat industri besar, makin terputusnya segala ikatan keluarga di kalangan kaum proletar, dan makin terubahnya anak-anak mereka menjadi barang dagangan biasa dan perkakas kerja.

Tetapi kalian kaum Komunis hendak melakukan hak bersama atas kaum wanita, teriak seluruh borjuasi dengan serentak.

Borjuis memandang isterinya hanya sebagai suatu perkakas produksi belaka. Ia mendengar bahwa perkakas-perkakas produksi akan digunakan bersama, dan tentu saja tidak akan sampai pada kesimpulan lain kecuali bahwa nasib dipergunakan bersama itu akan menimpa pula kaum wanita.

Ia sama sekali tidak mempunyai dugaan bahwa sasaran sebenarnya yang dituju ialah justru menghapuskan kedudukan kaum wanita sebagai perkakas produksi semata-mata.

Lain daripada itu tak ada lagi yang lebih menggelikan daripada kegusaran borjuis kita terhadap apa yang mereka namakan hak-bersama atas kaum wanita yang secara resmi berlaku di kalangan kaum Komunis. Kaum Komunis tidak perlu melakukan hak-bersama atas kaum wanita; hal ini telah ada hampir sepanjang segala zaman.

Borjuis kita tidak puas dengan hal bahwa untuk mereka ada tersedia isteri-isteri dan anak-anak gadis kaum proletar, belum lagi pelacur-pelacur biasa, sangat gemar saling menggoda isteri-isteri yang satu dengan lainnya di kalangan mereka sendiri.

Dalam kenyataannya perkawinan borjuis adalah suatu sistim isteri-isteri untuk bersama. Kaum Komunis paling banyak hanyalah dapat dituduh bahwa mereka hendak melakukan hak-bersama atas kaum wanita secara sah dan terang-terangan, untuk mengganti yang tersembunyi secara munafik. Lain daripada itu, teranglah dengan sendirinya bahwa hapusnya sistim produksi yang sekarang ini tentu mengakibatkan pula hapusnya hak-bersama atas kaum wanita yang timbul dari sistim tersebut, ialah hapusnya pelacuran baik yang resmi maupun yang tidak resmi.

Selanjutnya kaum Komunis dituduh hendak menghapuskan tanah air dan nasionalitet.

Kaum buruh tidak mempunyai tanah air. Kita tidak dapat mengambil dari mereka apa yang tidak ada pada mereka. Karena proletariat pertama sekali harus merebut kekuasaan politik, harus mengangkat dirinya menjadi kelas yang memimpin dari nasion, harus mewujudkan dirinya sebagai nasion, maka sejauh itu ia bersifat nasional, biarpun tidak dalam arti kata menurut borjuasi.

Perselisihan-perselisihan dan antagonisme-antagonisme nasional antara bangsa-bangsa makin lama makin menghilang, disebabkan oleh perkembangan borjuasi, oleh kemerdekaan berdagang, oleh pasar dunia, oleh keseragaman dalam cara produksi dan dalam syarat-syarat hidup yang selaras dengan itu.

Kekuasaan proletariat akan lebih mempercepat hilangnya itu semua. Aksi yang bersatu, paling tidak dari negeri-negeri yang beradab, adalah salah satu syarat utama untuk pembebasan proletariat.

Sederajat dengan dihapuskannya penghisapan atas seseorang oleh orang lainnya, dihapuskan jugalah penghisapan atas suatu nasion oleh nasion lainnya. Sederajat dengan hilangnya antagonisme antara kelas-kelas dalam suatu nasion, berakhir jugalah permusuhan suatu nasion terhadap nasion lainnya.

Tuduhan-tuduhan terhadap Komunisme yang didasarkan pada pendirian agama, filsafat dan, pada umumnya, pendirian ideologi tidaklah perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh.

Apakah diperlukan penglihatan yang dalam, untuk memahami bahwa pikiran, pandangan dan pengertian manusia, pendek kata, kesadaran manusia, berubah dengan tiap-tiap perubahan dalam syarat-syarat hidup materilnya, dalam hubungan-hubungan sosialnya dan dalam kehidupan sosialnya?

Hal lain apakah yang dibuktikan oleh sejarah pikiran, kecuali bahwa produksi intelek mengubah wataknya sederajat dengan hal bahwa produksi materil telah berubah? Pikiran-pikiran yang menguasai dalam tiap-tiap zaman adalah senantiasa pikiran-pikiran kelas yang berkuasa.

Apabila orang berbicara tentang pikiran-pikiran yang merevolusionerkan masyarakat, ia tidak lain hanyalah, mengungkapkan kenyataan, bahwa di dalam masyarakat lama, anasir-anasir dari suatu masyarakat baru telah diciptakan, dan bahwa leburnya pikiran-pikiran lama berjalan dengan langkah-langkah yang sama dengan leburnya syarat-syarat hidup yang lama.

Ketika dunia kuno sedang mendekati ajalnya, agama-agama kuno ditaklukkan oleh agama Kristen. Ketika pikiran-pikiran Kristen dalam abad ke-18 tunduk pada pikiran-pikiran rasionil, masyarakat feodal melakukan perjuangan mautnya melawan borjuasi yang ketika itu revolusioner. Pikiran-pikiran tentang kebebasan beragama dan kemerdekaan menganut suara hati, hanyalah mengungkapkan adanya kekuasaan persaingan bebas di dalam bidang pengetahuan.

“Tak dapat disangkal lagi,” demikian orang akan berkata, pikiran-pikiran bersendikan agama, moral, filsafat, hukum, dsb. telah berubah dalam perjalanan perkembangan sejarah. Tetapi agama, moral, filsafat, ilmu politik, dan hukum, senantiasa tetap bertahan dan mengatasi pergantian ini.

“Kecuali itu, ada kebenaran-kebenaran abadi, semacam Kemerdekaan, Keadilan, dsb., yang lazim berlaku untuk segala keadaan masyarakat. Tetapi Komunisme menghapuskan kebenaran-kebenaran abadi, ia menghapuskan semua agama, dan semua moral, dan bukannya menyusun semuanya itu atas dasar yang baru; karenanya ia bertindak bertentangan dengan segala pengalaman sejarah yang lampau.”

Apakah jadinya arti tuduhan ini? Sejarah dari seluruh masyarakat masa lampau terdiri dari perkembangan antagonisme-antagonisme kelas, antagonisme-antagonisme yang mempunyai berbagai bentuk dalam berbagai zaman.

Tetapi bagaimanapun juga bentuknya, satu kenyataan adalah sama untuk segala zaman yang telah lampau, yaitu, penghisapan atas sebagian dari masyarakat oleh suatu bagian yang lain. Maka tidaklah mengherankan bahwa kesadaran sosial dari abad-abad yang lampau, biarpun terdapat segala kebanyak ragaman dan corak, bergerak dalam bentuk-bentuk tertentu yang sama, atau pikiran-pikiran umum, yang tidak dapat hilang sepenuhnya kecuali dengan lenyapnya sama sekali antagonisme-antagonisme kelas.

Revolusi Komunis adalah pemutusan yang paling radikal dengan hubungan-hubungan milik yang tradisionil; tidaklah mengherankan bahwa perkembangannya membawa serta pemutusan yang paling radikal dengan pikiran-pikiran yang tradisionil.

Tetapi marilah kita biarkan saja dulu, keberatan-keberatan borjuis terhadap Komunisme.

Telah kita lihat di atas, bahwa langkah pertama dalam revolusi kelas buruh, adalah mengangkat proletariat pada kedudukan kelas yang berkuasa, memenangkan perjuangan demokrasi.

Proletariat akan menggunakan kekuasaan politiknya untuk merebut, selangkah demi selangkah, semua kapital dari borjuasi, memusatkan semua perkakas produksi ke dalam tangan Negara, artinya, proletariat yang terorganisasi sebagai kelas yang berkuasa [29]; dan untuk meningkatkan jumlah tenaga-tenaga produktif secepat mungkin.

Tentu saja, pada permulaannya, ini tak dapat dilaksanakan kecuali dengan jalan perombakan tak kenal ampun terhadap hak-hak atas milik, dan terhadap syarat produksi borjuis; oleh sebab itu dengan jalan tindakan-tindakan yang nampaknya secara ekonomi tidak mencukupi dan tak tertahankan, tetapi yang selama berlangsungnya gerakan itu, berlari lebih cepat, sehingga menghendaki perombakan yang lebih lanjut terhadap susunan masyarakat lama, dan merupakan sesuatu yang tak terelakkan sebagai cara untuk merevolusionerkan cara produksi.

Tindakan-tindakan ini tentu saja akan berlainan di negeri-negeri yang berlainan.

Biarpun demikian, di negeri-negeri yang paling maju, tindakan-tindakan yang berikut ini umumnya dapat saja diterapkan [30].

Penghapusan milik berupa tanah dan penggunaan segala sewa tanah untuk anggaran Negara.

Pajak penghasilan progresif yang berat.

Penghapusan hak waris.

Penyitaan milik semua emigran dan pemberontak.

Pemusatan kredit di tangan Negara, dengan perantaraan sebuah bank nasional dengan kapital Negara dan monopoli penuh.

Pemusatan alat-alat perhubungan dan pengangkutan ke dalam tangan Negara.

Penambahan pabrik-pabrik dan perkakas-perkakas produksi yang dimiliki oleh Negara; penggarapan tanah-tanah terlantar, dan perbaikan tanah umumnya sesuai dengan rencana bersama.

Wajib kerja yang sama untuk semua, pembentukan tentara-tentara industri, terutama untuk pertanian.

Penggabungan antara perusahaan pertanian dengan perusahaan industri, penghapusan berangsur-angsur perbedaan antara kota dan desa, dengan pembagian penduduk yang lebih seimbang ke seluruh negeri.

Pendidikan cuma-cuma untuk semua anak di sekolah-sekolah umum; penghapusan kerja anak-anak di pabrik dalam bentuknya yang sekarang ini. Perpaduan pendidikan dengan produksi materiil, dsb., dsb.

Apabila, dalam perjalanan perkembangan, perbedaan-perbedaan kelas telah hilang, dan seluruh produksi telah dipusatkan ke dalam tangan suatu perserikatan luas dari seluruh nasion, kekuasaan umum akan kehilangan watak politiknya. Kekuasaan politik, menurut arti kata yang sesungguhnya, hanyalah kekuasaan terorganisasi dari suatu kelas untuk menindas kelas yang lain. Apabila proletariat selama perjuangannya melawan borjuasi terpaksa, karena tekanan keadaan, mengorganisasi dirinya sebagai kelas, apabila, dengan jalan revolusi, ia menjadikan dirinya kelas yang berkuasa, dan, sebagai kelas yang berkuasa, menghapuskan dengan kekerasan hubungan-hubungan produksi yang lama, maka ia, bersama-sama dengan syarat-syarat ini akan menghilangkan syarat-syarat untuk adanya antagonisme-antagonisme kelas dan adanya kelas-kelas pada umumnya, dan dengan demikian akan menghapuskan kekuasaannya sendiri sebagai kelas.

Sebagai ganti dari masyarakat borjuis yang lama, dengan kelas-kelasnya beserta antagonisme-antagonisme kelasnya, kita akan mempunyai suatu persekutuan hidup di mana perkembangan bebas dari setiap orang menjadi syarat bagi perkembangan bebas dari semuanya.


III
LITERATUR SOSIALIS DAN KOMUNIS [31]

1. Sosialisme reaksioner

a. Sosialisme feodal

Disebabkan oleh kedudukanya di dalam sejarah, menjadilah panggilan suci aristokrasi Perancis dan Inggeris untuk menulis brosur-brosur menentang masyarakat burjuis modern. Dalam revolusi Perancis bulan Juli 1830, dan dalam gerakan Reform Inggeris, [32] aristokrasi ini sekali lagi takluk pada parvenu [33] yang dibenci itu. Suatu perjuangan politik yang gawat sudah tidak mungkin ada lagi sama sekali. Hanya tinggal perjuangan literaturlah yang masih mungkin. Tetapi dalam lapangan literaturpun semboyan-semboyan lama dari zaman restorasi telah menjadi tidak mungkin. [34]

Untuk membangkitkan simpati, aristokrasi itu terpaksa pura-pura melupakan kepentinganya sendiri dan merumuskan surat tuduhanya terhadap burjuasi demi kepentingan kelas buruh yang terhisap semata-mata. Jadi aristokrasi membalas dendamnya dengan menjanjikan lagu-lagu sindiran terhadap majikannya yang baru, dan membisikkan ke telinga majikanya itu ramalan-ramalan buruk tentang bencana yang akan datang.

Dengan jalan ini timbullah sosialisme feodal: setengah ratapan, setengah sindiran; setengah gema masa lampau, setengah ancaman masadatang; kadang-kadang dengan kritiknya yang pietah, pahit dan tajam menusuk burjuasi tepat pada ulu hatinya; tetapi akibatnya selalu menggelikan karena sama sekali tak mempunyai kemampuan untuk memahami perjalanan sejarah modern.

Untuk menghimpun Rakyat di sekitar dirinya, aristokrasi melambai-lambaikan kantong-pengemis proletar sebagai panji-panjinya. Tetapi sedemikian sering Rakyat mengikuti mereka, Rakyat melihat di belakang mereka lambang kebesaran feodal yang lama, dan lari bubar dengan tawa lebar dan mengejek.

Sebagian dari kaum Legitimis [35] Perancis dan kaum “Inggeris Muda” [36] memainkan lakon ini.

Dalam menunjukkan bahwa cara penghisapan mereka adalah berlainan dengan cara penghisapan burjuasi, kaum feodal lupa bahwa mereka menghisap dalam keadaan-keadaan dan syarat-syarat yang berlainan sama sekali, dan yang kini telah menjadi kuno. Dalam memperlihatkan bahwa di bawah kekuasaan mereka tak pernah ada proletariat modern, mereka.lupa bahwa burjuasi modern adalah anak keturunan yang sewajarnya dari bentuk masyarakat mereka sendiri.

Lain daripada itu, mereka sedikit sekali menyembunyikan watak reaksioner dari kritiknya sehingga tuduhan mereka yang terutama terhadap burjuasi berarti juga bahwa di bawah rezim burjuis berkembanglah suatu kelas, yang nantinya akan pasti menghancurleburkan seluruh susunan tatatertib masyarakat lama.

Kemarahan mereka terhadap burjuasi mengenai hal bahwa burjuasi melahirkan proletariat, tidak sehebat kemarahannya mengenai hal bahwa burjuasi melahirkan proletariat yang revolusioner.

Oleh sebab itu, dalam praktek politik, mereka ikut serta dalam segala tindakan kekerasan terhadap kelas buruh; dan dalam kehidupan biasa sehari-hari, biarpun ucapan-ucapannya begitu muluk tinggi membubung, mereka tidak malu-malu untuk memungut warisan buah lezat yang jatuh dari pohon industri dan tidak malu-malu pula untuk menukarkan kejujuran, cinta dan kehormatan dengan perdagangan bulu domba, perdagangan ubi-gula dan minuman-minuman keras yang terbuat dari kentang. [37]

Sebagaimana pendeta senantiasa berjalan bergandengan tangan dengan tuan tanah, demikian jugalah Sosialisme Gereja dengan Sosialisme Feodal.

Tak ada hal lain yang lebih mudah daripada memberi pulasan Sosialis pada asetisme [38] Kristen. Bukankah agama Kristen telah berseru dengan lantangnya menentang milik perseorangan, menentang perkawinan, menentang Negara? Bukankah ia, sebagai ganti semuanya itu tadi, telah mengkhotbahkan kedermawanan dan kemiskinan, pembujangan dan kebiasaan menahan nafsu, kehidupan biara dan Ibunda Gereja? Sosialisme Kristen tidak lain hanyalah air suci yang digunakan oleh pendeta untuk mengkuduskan sakit-hati kaum aristokrat.

b. Sosialisme Burjuis Kecil

Aristokrasi feodal bukanlah satu-satunya kelas yang telah diruntuhkan oleh burjuasi, bukanlah satu-satunya kelas yang syarat-syarat kelangsungannya menjadi rusak dan musnah dalam suasana masyarakat burjuis modern. Warga kota dari Zaman Tengah dan petani pemilik kecil adalah pendahulu dari burjuasi modern. Di negeri-negeri yang industri dan perniagaannya belum berkembang, kedua kelas ini masih hidup berdampingan dengan burdjuasi yang sedang tumbuh.

Di negeri-negeri di mana peradaban modern telah berkembang sepenuhnya, terbentuklah suatu kelas burjuis kecil, yang terombang-ambing di antara proletariat dan burjuasi dan senantiasa memperbarui dirinya sebagai bagian-tambahan dari masyarakat burjuis. Tetapi anggota-anggota orang-seorang dari kelas ini terus-menerus dicampakkan kedalam kalangan proletariat oleh karena persaingan, dan setelah industri modern maju, mereka itu malahan melihat datangnya saat dimana mereka akan lenyap sama sekali sebagai golongan yang berdiri-sendiri dari masyarakat modern, untuk digantikan, dalam perusahaan-perusahaan, pertanian dan perniagaan, oleh mandor-mandor, pegawai-pegawai, dan pelayan-pelayan toko.

Di negeri-negeri semacam Perancis, di mana kaum taninya merupakan bagian yang jauh lebih besar daripada separo jumlah penduduk, adalah wajar bahwa penulis-penulis yang memihak proletariat menentang burjuasi, memakai ukuran petani dan burjuis kecil dalam kritiknya terhadap rezim burjuis, dan dari segi pendirian kelas-kelas perantara ini membela kelas buruh. Dengan begitu timbullah Sosialisme burjuis kecil. Sismondi [39] adalah pemuka dari ajaran ini, tidak hanya di Perancis saja, tetapi juga di Inggeris.

Ajaran Sosialisme ini dengan sangat tajamnya mengurai kontradiksi-kontradiksi di dalam syarat-syarat industri modern. Ia menelanjangi pembelaan-pembelaan munafik dari kaum ekonomis. Ia membuktikan dengan tak dapat disangkal lagi, akibat-akibat yang mencelakakan dari mesin dan pembagian kerja; konsentrasi kapital dan tanah ke dalam beberapa tangan saja; produksi-kelebihan dan krisis-krisis; ia menunjukkan keruntuhan yang tak terelakkan dari burjuis kecil dan tani, kesengsaraan proletariat, anarki dalam produksi, ketidakadilan yang sangat menyolok dalam pembagian kekayaan, perang pemusnahan di bidang industri di kalangan nasion-nasion, penghancuran ikatan-ikatan moral lama, hubungan-hubungan kekeluargaan lama, nasionalitet-nasionalitet lama.

Menurut tujuannya yang positif, bagaimanapun juga Sosialisme macam ini memperjuangkan hidup kembalinya alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran lama dan bersama itu semua hubungan milik lama serta masyarakat lama, atau membatasi alat-alat produksi dan alat-alat pertukaran modern di dalam rangka hubungan milik lama yang telah dan pasti dihancurkan oleh alat-alat itu. Dalam kedua hal ini, kedua-duanya adalah reaksioner dan utopi.

Kata-kata mereka yang terakhir ialah: Gabungan gilde sebagai ganti manufaktur; hubungan-hubungan patriarkal dalam pertanian.

Akhirnya, ketika kenyataan-kenyataan sejarah yang tak dapat dibantah lagi telah menghapuskan semua pengaruh dari penipuan diri sendiri yang memabukkan, Sosialisme macam ini mengundurkan diri dengan hina dan sangat mengibakan.

c. Sosialisme Jerman atau Sosialisme “Sejati”

Literatur Sosialis dan Komunis Perancis, suatu literatur yang lahir di bawah tekanan burjuasi yang sedang berkuasa, dan yang merupakan pernyataan dari perjuangan melawan kekuasaan ini, dimasukkan ke Jerman pada suatu waktu ketika burjuasi di negeri itu baru saja memulai perjuangannya menentang absolutisme feodal.

Kaum filsuf, setengah-filsuf dan “jiwa-jiwa berbakat” Jerman dengan penuh nafsu menguasai literatur ini dan hanya lupa bahwa berpindahnya tulisan-tulisan tersebut keluar dari Perancis tidaklah disertai oleh berpindahnya syarat-syarat sosial Perancis ke Jerman. Setelah berhadap-hadapan dengan syarat-syarat sosial di Jerman, literatur Perancis ini kehilangan segala arti praktisnya yang langsung, dan hanya mempunyai corak literer semata-mata. Dengan demikian, bagi para filsuf Jerman abad kedelapanbelas, tuntutan-tuntutan Revolusi Perancis yang pertama tidaklah lebih daripada tuntutan-tuntutan “Akal Praktis” pada umumnya, dan pernyataan kemauan dari burjuasi yang revolusioner, menurut pandangan mereka berarti hukum-hukum dari Kemauan belaka, hukum-hukum dari Kemauan sebagaimana yang seharusnya, hukum-hukum dari Kemauan manusia yang sejati pada umumnya.

Tulisan-tulisan kaum literat Jerman hanya berwujud penyesuaian pikiran-pikiran baru Perancis itu dengan perasaan filsafat kuno mereka, atau lebih tepat lagi, mengambil pikiran-pikiran Perancis itu dengan tidak meninggalkan pandangan filsafat mereka sendiri.

Cara mengambilnya berlangsung sama seperti memiliki bahasa asing, yaitu dengan jalan menterjemahkan.

Umum mengetahui bagaimana rahib-rahib menuliskan riwayat hidup yang tidak masuk akal dari orang-orang suci Katolik di atas manuskrip di mana telah dituliskan karangan-karangan kelasik dari zaman purbakala ketika orang belum beragama. Kaum literat Jerman berbuat sebaliknya dengan literatur keduniaan Perancis. Mereka menuliskan filsafatnya yang tidak ada artinya itu di belakang tulisan Perancis yang asli. Misalnya, di belakang kritik Perancis tentang fungsi-fungsi ekonomi dari uang mereka tulis “Pengungkiran terhadap Kemanusiaan”, dan di belakang kritik Perancis tentang negara burjuis, mereka tulis “Penghapusan pengaruh faham abstrak pada umumnya”, dan seterusnya.

Penyelundupan kata-kata kosong filsafat ini ke dalam kritik-kritik Perancis bersejarah itu mereka namakan “Filsafat Tindakan”, “Sosialisme Sejati”, “Ilmu Jerman tentang Sosialisme”, “Dasar Filsafat Sosialisme”, dan seterusnya.

Literatur Sosialis dan Komunis Perancis dengan demikian menjadi dikebiri sama sekali. Dan oleh karena literatur ini di dalam tangan bangsa Jerman tidak lagi menyatakan perjuangan suatu kelas melawan kelas lainnya, dia merasa yakin telah mengatasi “kesepihakan Perancis” dan merasa telah mengemukakan bukan keperluan-keperluan yang sebenarnya, tetapi keperluan-keperluan akan Kebenaran; bukan kepentingan-kepentingan proletariat, tetapi kepentingan-kepentingan Dunia Kemanusiaan, Manusia umumnya, yang tidak termasuk dalam sesuatu kelas, tidak mempunyai kenyataan, manusia yang hanya terdapat di dalam dunia gelap khayalan filsafat saja.

Sosialisme Jerman ini yang telah menerima pelajarannya sebagai murid begitu sungguh-sungguh dan khidmat, dan yang telah memuji-muji dagangannya yang tak berharga itu dengan gaja tukang jual obat, sementara itu berangsur-angsur berkurang ketololannya yang congkak itu.

Perlawanan burjuasi Jerman dan terutama burjuasi Prusia terhadap aristokrasi feodal dan monarki absolut dengan perkataan lain, gerakan liberal, menjadi semakin sengit.

Dengan demikian Sosialisme “Sejati” mendapat kesempatan yang telah dinanti-nantikan itu untuk menghadapi gerakan politik dengan tuntutan-tuntutan Sosialls, untuk melemparkan kutukan-kutukan tradisionil terhadap liberalisme, terhadap pemerintah yang representatif, terhadap persaingan burjuis, kemerdekaan pers burjuis, perundang-undangan burjuis, kemerdekaan dan persamaan burjuis, dan untuk menganjurkan kepada massa bahwa mereka tak akan mendapat suatu apapun dan akan kehilangan segala-galanya dalam gerakan burjuis ini. Sosialisme Jerman yang menjadi kumandang kosong dari kritik-kritik Perancis justru lupa pada waktu itu, bahwa kritik-kritik Perancis mengandung ketentuan adanya masyarakat burjuis modern dengan syarat-syarat ekonomi hidupnya yang sesuai dan susunan politik yang disesuaikan dengan itu, ialah hal-hal yang sebenarnya harus dicapai sebagai tujuan dari perjuangan yang akan datang di Jerman.

Bagi pemerintah-pemerintah yang mempunyai kekuasaan mutlak dengan pengikut-pengikutnya yang terdiri dari pendeta-pendeta, profesor-profesor, tuantanah-tuantanah besar dan pegawai-pegawai pemerintah, Sosialisme “Sejati” ini merupakan suatu alat yang berguna untuk menakut-nakuti burjuasi yang sedang mengancam.

Ini adalah sebagai obat penawar sesudah merasakan kepedihan cambukan dan tembakan yang digunakan oleh pemerintah-pemerintah tadi, justru pada waktu itu, untuk menghadapi pemberontakan-pemberontakan kelas buruh Jerman.

Jadi selain daripada Sosialisme “Sejati” ini menjadi senjata bagi pemerintah-pemerintah itu guna melawan burjuasi Jerman, ia juga langsung mewakili kepentingan reaksioner, kepentingan burjuasi kecil Filistin [40] Jerman. Di Jerman, kelas burjuis kecil, peninggalan abad keenambelas, yang sejak itu senantiasa timbul kembali dalam berbagai bentuk, adalah dasar sosial yang sebenarnya dari keadaan-keadaan yang sedang berlaku.

Mempertahankan kelas ini berarti mempertahankan keadaan-keadaan yang sedang berlaku di Jerman. Kekuasaan industri dan politik dari burjuasi mengancam kelas ini dengan suatu kehancuran – pada satu pihak, karena konsentrasi kapital; pada pihak lain, karena timbulnya proletariat yang revolusioner. Sosialisme “Sejati” timbul untuk membunuh kedua mangsanya ini dengan satu kali pukul. Ia menjalar seperti suatu wabah.

Pakaian yang terbuat daripada jaring laba-laba yang spekulatif, disulam dengan bunga kata-kata indah yang dicelup ke dalam air perasaan hati yang merana, pakaian yang luar biasa ini yang digunakan oleh kaum Sosialis Jerman untuk membalut “kebenaran-kebenaran abadi” mereka yang tidak berharga, yang hanya tinggal kulit dan tulang belaka, dapat memperluas penjualan barang dagangan mereka secara luar biasa di kalangan publik yang semacam itu.

Dan dari pihaknya sendiri, Sosialisme Jerman makin lama makin mengakui panggilan atas dirinya sebagai wakil dari kaum Filistin burjuis kecil yang sombong.

Ia mengumumkan nasion Jerman sebagai manusia teladan dan Filistin kecil Jerman sebagai manusia teladan. Kepada setiap kerendahan budi yang keji dari manusia teladan ini ia berikan pengertian sosialis yang lebih tinggi, yang tersembunyi, yang sungguh bertentangan dengan wataknya yang sebenarnya. Ia telah bertindak sedemikian jauh hingga dengan langsung menentang aliran Komunisme yang “merusak secara ganas”, dan dengan menyatakan kebenciannya yang amat sangat dan tidak berpihak terhadap semua perjuangan kelas. Kecuali beberapa buah saja, segala yang dinamakan publikasi Sosialis dan Komunis yang sekarang (1847) beredar di Jerman termasuk dalam lingkungan literatur yang kotor dan melemahkan semangat ini. [e]

2. Sosialisme Konservatif atau Sosialisme Burjuis

Sebagian dari burjuasi berkehendak memperbaiki kepincangan-kepincangan sosial untuk menjamin kelangsungan masyarakat burjuis.

Ke dalam golongan.ini termasuk kaum ekonomis, filantropis, humanis, golongan yang bertujuan memperbaiki keadaan kelas buruh, organisator-organisator badan amal, anggota-anggota perkumpulan-perkumpulan penyayang binatang, kaum fanatis penganut kesederhanaan, kaum perombak secara tambalsulam dari segala macam corak. Dan lagi bentuk Sosialisme ini telah diolah lebih lanjut dan tersusun menjadi sistim-sistim yang sempurna.

Sebagai suatu contoh dari Sosialisme macam ini boleh disebut Philosophie de la Misère [41] dari Proudhon.

Burjuis Sosialis menghendaki segala kebaikan dan manfaat dari syarat-syarat sosial modern tanpa perjuangan dan bahaya-bahaya yang mesti timbul dari situ. Mereka menginginkan keadaan masyarakat yang sekarang tanpa anasir-anasirnya yang revolusioner dan yang mendatangkan kehancuran. Mereka menghendaki suatu burjuasi tanpa proletariat. Burjuasi tentu saja menganggap dunia di mana ia menjadi yang dipertuan sebagai dunia yang terbaik. Sosialisme burjuis mengembangkan anggapan yang menyenangkan ini menjadi berbagai sistim yang sempurna atau setengah sempurna. Dalam menghendaki supaya proletariat melaksanakan sistim semacam itu, dan supaya dengan demikian langsung memasuki Jerusalem Baru, ia dalam kenyataannya hanyalah menghendaki supaya proletariat tinggal di dalam batas-batas masyarakat yang ada sekarang, tetapi harus melemparkan segala pikiran kebenciannya mengenai burjuasi.

Bentuk yang kedua dari Sosialisme ini yang lebih praktis tetapi kurang sistimatis, mencoba mengecilkan tiap gerakan revolusioner di mata kelas buruh dengan menunjukkan bahwa bukan reform politik semata-mata, tetapi hanyalah suatu perubahan dalam syarat-syarat hidup materiil, dalam hubungan-hubungan ekonomi, yang akan mendatangkan sesuatu manfaat dan keuntungan bagi mereka,. Tetapi dengan perubahan-perubahan dalam syarat-syarat hidup materiil, bentuk Sosialisme ini sekali-kali tidak mengartikan penghapusan hubungan-hubungan produksi burjuis, suatu penghapusan yang hanya dapat dilakukan dengan suatu revolusi, tetapi perbaikan-perbaikan administratif yang didasarkan pada terus berlangsungnya hubungan-hubungan produksi ini; maka itu, perbaikan-perbaikan yang sama sekali tidak mempengaruhi hubungan-hubungan antara kapital dengan kerja, tetapi paling banyak, mengurangi beaja dan menyederhanakan pekerjaan administratif pemerintah burjuis.

Sosialisme burjuis mendapat pernyataan yang selaras, jika dan hanya jika ia menjadi suatu susunan kata-kata kosong dalam pidato belaka.

Perdagangan bebas! untuk kepentingan kelas buruh; tarif-bea yang melindungi! untuk kepentingan kelas buruh; perubahan peraturan penjara! untuk kepentingan kelas buruh; inilah kata-kata yang terakhir dan satu-satunya yang sungguh-sungguh dimaksudkan oleh Sosialisme burjuis.

Ia disimpulkan dalam kata-kata: burjuis adalah burjuis – untuk kepentingan kelas buruh.


3. Sosialisme dan Komunisme yang Kritis Utopi

Kita di sini tidak membicarakan literatur yang dalam tiap revolusi besar modern selalu menyatakan tuntutan-tuntutan proletariat, seperti tulisan-tulisan Babeuf [42] dan lain-lainnya. Percobaan-percobaan langsung yang pertama dari proletariat untuk mencapai tujuan-tujuannya sendiri, yang dilakukan dalam waktu kekacauan umum, ketika masyarakat feodal sedang ditumbangkan, percobaan-percobaan ini sudah tentu gagal, oleh karena keadaan proletariat yang belum berkembang ketika itu dan juga oleh tidak adanya syarat-syarat ekonomi untuk kebebasannya, syarat-syarat yang masih harus diadakan dan hanya dapat diadakan oleh zaman burjuis yang akan datang. Literatur revolusioner yang mengikuti gerakan-gerakan yang pertama dari.proletariat ini sudah tentu mempunyai watak yang reaksioner. Ia memberikan didikan asetisme universal dan didikan persamaan sosial dalam bentuk yang sangat kasar.

Sistim-sistem yang sesungguhnya dinamakan sistim Sosialis dan Komunis, yaitu sistim-sistem Saint-Simon, Fourier, Owen dan lain-lainnya, timbul pada permulaan masa belum berkembangnya perjuangan antara proletariat dengan burjuasi, seperti diterangkan di atas. (Iihat Bab I. Kaum Burjuis dan Kaum Proletar).

Para pendiri sistim ini, sesungguhnya melihat antagonisme-antagonisme kelas, dan juga melihat bergeraknya anasir-anasir yang menghancurkan bentuk masyarakat yang sedang berlaku. Tetapi proletariat, yang baru lahir ini, memberikan kepada mereka suatu gambaran dari kelas yang tidak mempunyai sesuatu inisiatif bersejarah atau sesuatu gerakan politik yang berdiri sendiri.

Karena perkembangan antagonisme kelas adalah sejalan dengan perkembangan industri, maka keadaan ekonomi, sebagaimana yang mereka ketahui, masih belum lagi memberikan kepada mereka syarat-syarat materiil untuk kebebasan proletariat. Oleh sebab itu mereka mencari suatu ilmu sosial baru, mencari hukum-hukum sosial baru, untuk menimbulkan syarat-syarat ini.

Aktivitet mencipta dari mereka sendiri harus menggantikan aktivitet sosial; syarat-syarat untuk kebebasan yang ditimbulkan menurut sejarah harus tunduk pada syarat-syarat yang bersifat khayal; dan terorganisasinya proletariat sebagai kelas yang maju secara berangsur-angsur harus tunduk pada terorganisasinya suatu masyarakat yang diangan-angankan oleh mereka sendiri. Sejarah yang akan datang, menurut pandangan mereka, menjadi propaganda dan penyelenggaraan dalam praktek dari rencana-rencana sosial mereka.

Dalam menyusun rencana-rencananya itu, mereka sudah tentu insyaf bahwa mereka terutama memperhatikan kepentingan kelas buruh sebagai kelas yang paling menderita. Mereka memandang proletariat hanya semata-mata sebagai kelas yang menderita.

Keadaan perjuangan kelas yang belum berkembang itu, maupun keadaan-keadaan sekeliling mereka sendiri, menyebabkan kaum Sosialis semacam ini menganggap dirinya jauh diatas segala antagonisme-antagonisme kelas. Mereka ingin memperbaiki keadaan tiap-tiap anggota masyarakat, bahkan juga keadaan golongan yang sudah paling beruntung. Dari itu, mereka biasa berseru kepada masyarakat seumumnya tanpa membeda-bedakan kelas; bahkan lebih suka berseru kepada kelas yang berkuasa. Sebab, jika sekali orang sudah mengerti akan sistim mereka, bagaimanakah orang itu tak akan melihat di dalamnya rencana yang terbaik dari keadaan masyarakat yang terbaik?

Oleh sebab itu mereka menolak segala aksi politik, dan terutama segala aksi revolusioner ; mereka ingin mencapai tuiuan-tujuannya dengan jalan damai, dan berusaha dengan percobaan-percobaan kecil yang sudah tentu gagal, dan dengan kekuatan contoh, untuk membuka jalan bagi ajaran sosial baru ini.

Gambaran-gambaran khayal dari masyarakat masadatang yang semacam itu, yang digambarkan

pada masa ketika proletariat masih berada dalam keadaan yang sangat terbelakang dan hanya mempunyai pandangan yang bersifat khayal tentang kedudukannya sendiri, adalah sesuai dengan hasrat-hasrat pertama yang naluriah dari kelas itu untuk pembangunan-kembali masyarakat secara umum.

Tetapi tulisan-tulisan Sosialis dan Komunis ini juga mengandung suatu anasir yang kritis. Mereka menyerang tiap dasar dari masyarakat yang sekarang. Oleh sebab itu mereka memberi bahan-bahan penerangan yang sangat berharga bagi kelas buruh. Tindakan-tindakan praktis yang diusulkan didalamnya – seperti penghapusan perbedaan antara kota dan desa, penghapusan keluarga, penghapusan dijalankannya industri-industri untuk kepentingan perseorangan, dan penghapusan sistim-sumpah, pernyataan tentang persamaan sosial, perubahan fungsi Negara menjadi hanya pengawas produksi saja – semua usul ini semata-mata menunjukkan hilangnya antagonisme-antagonisme kelas yang pada waktu itu baru saja mulai timbul, dan yang dalam tulisan-tulisan ini, baru dikenal hanya dalam bentuknya yang permulaan, yang hanya samar-samar dan tidak tertentu. Oleh sebab itu usul-usul tersebut sama sekali bersifat utopi.

Isi Sosialisme dan Komunisme yang kritis-utopi itu mengandung suatu tujuan yang bertentangan dengan perkembangan sejarah. Bersamaan dengan berkembangnya perjuangan kelas dan bersamaan dengan perjuangan kelas itu mengambil bentuk yang tertentu, maka hilanglah semua arti dalam praktek dan kebenaran teoritis dari pendirian khayal yang menyatakan berada diluar perjuangan, dan demikian juga serangan-serangan yang bersifat khayal terhadapnya. Oleh karena itu, walaupun para pencipta sistim-sistem ini dalam banyak hal revolusioner, pengikut-pengikut mereka senantiasa merupakan golongan-golongan reaksioner semata-mata. Mereka berpegang teguh kepada pandangan-pandangan asli dari guru-guru mereka, bertentangan dengan perkembangan kesejarahan yang progresif dari proletariat. Oleh karena itu mereka mencoba dengan konsekwen memadamkan perjuangan kelas dan mendamaikan antagonisme-antagonisme kelas. Mereka masih memimpikan pelaksanaan percobaan dari utopi-utopi sosial mereka, bermimpi tentang membentuk “phalanstere-phalanstere” [f] yang terpencil, tentang mendirikan “Home Colonies” [g] atau mengadakan suatu “Icaria Kecil” – Jerusalem Baru kecil-kecilan – dan untuk mewujudkan segala lamunan ini, mereka terpaksa meminta belaskasihan dan uang dari kaum burjuis. Ber-angsur-angsur mereka tenggelam kedalam golongan kaum Sosialis konservatif reaksioner yang telah digambarkan di atas, berbeda dengan mereka ini hanya dalam hal bahwa mereka berlagak pintar dengan lebih sistimatis, dan dalam hal kepercayaan mereka yang fanatik dan bersifat ketakhayulan kepada pengaruh yang mentakjubkan dari ilmu sosial mereka.

Oleh karena itu mereka dengan keras menentang segala aksi politik dari pihak kelas buruh; aksi yang semacam itu, menurut mereka, hanya dapat terjadi karena sama sekali tidak percaya kepada ajaran yang baru itu.

Kaum Owenis di Inggris dan kaum Fourieris di Perancis masing-masing menentang kaum Cartis [43] dan kaum Reformis. [44]


IV
PENDIRIAN KAUM KOMUNIS DALAM HUBUNGAN DENGAN BERBAGAI PARTAI OPOSISI

Dalam Bab II telah dijelaskan hubungan-hubungan kaum Komunis dengan partai-partai kelas buruh yang ada, seperti kaum Cartis di Inggeris dan kaum Reformer Agraria di Amerika. [45]

Kaum Komunis berjuang untuk mencapai tujuannya yang terdekat, untuk menuntut pelaksanaan kepentingan-kepentingan sementara dari kelas buruh; tetapi dalam gerakan yang sekarang mereka juga mewakili dan memperhatikan masadatang gerakan itu. Di Perancis kaum Komunis menggabungkan diri dengan kaum Sosial-Demokrat [h] menentang burjuasi yang konservatif dan radikal, tetapi dengan memegang teguh hak untuk menentukan pendirian yang kritis terhadap semboyan-semboyan dan ilusi-ilusi yang ditinggalkan turun-temurun oleh Revolusi yang besar.

Di Swis mereka menyokong kaum Radikal [46], dengan tidak melupakan kenyataan, bahwa partai ini terdiri dari anasir-anasir yang antagonistis, sebagian dari kaum Sosialis Demokrat, menurut faham Perancis, sebagian dari kaum burjuis radikal.

Di Polandia mereka menyokong partai yang mendorong revolusi agraria sebagai syarat utama untuk kebebasan nasional, menyokong partai yang mengobarkan pemberontakan Krakau dalam tahun 1846. [47]

Di Jerman mereka berjuang bersama-sama dengan burjuasi selama burjuasi itu bertindak secara revolusioner menentang monarki absolut, tuantanah feodal dan burjuasi kecil. [48]

Tetapi mereka tak pernah berhenti barang sekejappun menanamkan kedalam kelas buruh pengertian yang sejelas mungkin tentang antagonisme yang bermusuhan antara burjuasi dengan proletariat, supaya kaum buruh Jerman dapat langsung menggunakan semua syarat sosial dan politik yang tidak boleh tidak mesti ditimbulkan oleh burjuasi bersama-sama dengan kekuasaannya, sebagai senjata terhadap burjuasi, dan supaya sesudah jatuhnya kelas-kelas reaksioner di Jerman, perjuangan melawan burjuasi itu sendiri dapat segera dimulai.

Kaum Komunis mengarahkan perhatiannya terutama kepada Jerman, sebab negeri itu sedang berada dekat pada saat revolusi burjuis yang mesti akan berlangsung dalam syarat-syarat peradaban Eropa yang lebih maju dan dengan suatu proletariat yang jauh lebih maju daripada proletariat di lnggeris dalam abad ketujuhbelas, dan proletariat di Perancis dalam abad kedelapanbelas, dan oleh karena itu revolusi burjuis di Jerman tidak lain hanya akan menjadi pendahuluan dari suatu revolusi proletar yang segera akan menyusul.

Pendeknya, dimana-mana kaum Komunis menyokong tiap gerakan revolusioner menentang susunan tatatertib sosial dan politik yang sekarang. [i]

Dalam segala gerakan ini mereka mengemukakan masalah milik sebagai masalah yang pokok bagi tiap gerakan, tidak pandang derajat perkembangannya pada waktu itu.

Akhirnya, mereka bekerja dimana saja untuk persatuan dan kerukunan partai-partai demokratis di semua negeri

Komunis tidak sudi menyembunyikan pandangan-pandangan dan cita-citanya. Mereka menerangkan dengan terang-terangan bahwa cita-citanya dapat dicapai hanya dangan membongkar dengan kekerasan segala syarat sosial yang sedang berlaku. Biarkan kelas-kelas yang berkuasa gemetar menghadapi revolusi Komunis. Kaum proletar tidak akan kehilangan suatu apapun kecuali belenggu mereka. Mereka akan menguasai dunia.

Kaum buruh sedunia, bersatulah!

Organisasi Partai Komunis, Metode dan Cara Kerjanya

Diterjemahkan dari

The Organisational Sructure of the Communist Parties,

the Methods and Content of Their Work

Dokumen Kongres III KOMINTERN di Moscow, Juli-Agustus 1921

I. PRINSIP-PRINSIP UMUM

1. Bentuk-bentuk organisasi partai harus selalu disesuaikan dengan kondisi‑kondisi dan tujuan dari aktivitasnya. Pada setiap tahap perjuangan kelas revolusioner dan dalam periode peralihan menuju sosialisme yang merupakan tahap pertama dalam perkembangan masyarakat komunis‑ partai Komunis harus menjadi pelopor (vanguard) dan bagian yang termaju dari kaum proletar.

2. Tidak ada satupun bentuk organisasi yang secara mutlak tepat untuk diterapkan bagi seluruh partai Komunis di sepanjang jaman. Karena kondisi‑kondisi perjuangan kelas proletar terus menerus berubah maka pelopor proletariat pun harus selalu mencari bentuk-bentuk organisasi yang efektif, sehingga ia selalu bisa menjawab setiap perubahan yang terjadi. Kondisi‑kondisi khas yang terdapat di setiap negeri mengharuskan adanya penyesuaian dari partai‑partai Komunis setempat.

Walaupun demikian, perbedaan‑perbedaan itu ada batasnya. Memang perjuangan kelas proletar itu beragam dari satu negeri ke negeri lainnya, sesuai dengan tahapan revolusinya, namun gerakan Komunis Internasional memandang tetap adanya kesamaan kondisi, sebagai sesuatu yang sangat penting untuk diperhitungkan. Justru kesamaan inilah yang menjadi basis bagi organisasi‑organisasi partai Komunis di semua negeri.

Berdasar hal ini, adalah sangat penting untuk mengembangkan dan memperbaiki organisasi‑organisasi partai Komunis yang selama ini ada. Namun ia sama sekali tidak dimaksudkan untuk menerapkan model yang baru atau untuk menerapkan bentuk‑bentuk organisasi yang ideal bagi partai‑partai tersebut.

3. Kaum borjuasi masih menguasai dunia, oleh karena itu partai‑partai Komunis dan Komunis Internasional sebagai satu kesatuan partai dari proletariat revolusioner seluruh dunia, memiliki satu kondisi yang sama, yaitu mereka harus sama‑sama memeranginya. Dalam periode‑periode mendatang, tugas terpokok dari seluruh partai Komunis adalah menaklukan borjuasi dan merebut kekuasaan darinya.

Oleh karena itu, seluruh kerja organisasional dari partai-partai Komunis di negeri‑negeri kapitalis harus diarahkan untuk membentuk organisasi‑organisasi sedemikian rupa, sehingga mereka mampu menjamin dan mengawal kemenangan revolusi proletar dalam melawan kelas‑kelas pemilik alat produksi.

4. Kepemimpinan adalah syarat yang diperlukan bagi setiap tindakan politik dan ia merupakan faktor vital di tengah perkembangan yang sedemikian pentingnyanya dalam sejarah dunia. Pengorganisasian sebuah partai komunis pada hakekatnya adalah  pengorganisasian kepemimpinan Komunis dalam kancah revolusi proletar.

Agar partai menjadi pimpinan yang baik maka ia pun harus memiliki kepemimpinan yang baik pula. Oleh karena itu, tugas organisasional kita yang paling prinsipil adalah pembentukan organisasi dan pendidikan terhadap Partai Komunis. Hal ini dijalankan oleh organ‑organ yang berpengalaman, agar partai menjadi pimpinan yang efektif bagi gerakan proletariat revolusioner.

5. Untuk bisa menjalankan kepemimpinan dalam perjuangan kelas revolusioner, Partai Komunis dan organ‑organ pimpinannya harus memiliki daya juang besar, yang digabungkan dengan kemampuannya untuk terus menerus menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi perjuangan. Lebih jauh lagi, untuk bisa menjalankan kepemimpinannya, Partai Komunis harus menjalin hubungan yang sedekat mungkin dengan massa proletar. Jika hubungan yang demikian itu tidak terjalin maka para pimpinan tidak akan bisa memimpin massa, paling jauh mereka hanya akan membuntut di belakang massa.

Hubungan sedekat mungkin dengan massa hanya akan bisa dicapai jika Partai Komunis mempraktekan sentralisme demokrasi.

II. TENTANG SENTRALISME DEMOKRASI

6. Sentralisme demokrasi dalam Partai Komunis haruslah merupakan sintesis yang riil, yakni sebuah penggabungan antara sentralisme dengan demokrasi proletar. Penggabungan ini hanya akan bisa dicapai jika organisasi partai terus menerus bekerja dan berjuang bersama‑sama sebagai satu kesatuan yang utuh. Sentralisasi dalam Partai Komunis bukanlah sentralisasi yang formal dan mekanik, melainkan sentralisasi aktivitas kaum komunis, untuk membangun kepemimpinan yang kuat, siap tempur, efektif dan sekaliqus fleksibel.

Sentralisas1 formal dan mekanik hanya akan mengakibatkan sentralisasi “kekuasaan” di tangan birokrasi partai, yang memungkinkan mereka mendominasi seluruh anggota partai atau massa proletariat revolusioner yang berada di luar partai. Hanya musuh-musuh Komunisme lah yang menganggap Partai Komunis hendak menggunakan kepemimpinannya terhadap perjuangan kelas proletar dan sentralisasi kepemimpinan Komunisnya ini untuk mendominasi proletariat revolusioner. Anggapan demikian adalah keliru besar. Demikian juga, setiap persaingan maupun perebutan kekuasaan dalam partai tidaklah sesuai dengan prinsip-prinsip sentralisme demokrasi yang diterapkan oleh Komunis Internasional.

Dalam organisasi gerakan buruh yang lama dan yang tidak revolusioner, telah muncul juga dualisme sebagaimana yang selama ini melekat dalam, organisasi negara borjuis: yakni dualisme antara “birokrasi”: dengan “rakyat”. Di bawah pengaruh lingkungan borjuasi yang bersifat melemahkan, telah terjadi pemisahan fungsi‑fungsi; demokrasi formal telah menggantikan partisipasi aktif rakyat pekerja. Sebagai akibatnya, organisasi kemudian dibagi antara para fungsionaris yang aktif dan massa yang pasif. Bahkan gerakan buruh yang revolusioner pun belum sepenuhnya terbebaskan dari pengaruh lingkungan borjuasi, borok‑borok formalisme dan dualisme semacam ini.

Partai-Partai Komunis harus mampu mengatasi kontradiksi-kontradiksi ini secara tuntas. Hal ini dilakukan dengan menjalankan kerja politik dan organisasional secara terencana serta terus menerus melakukan perbaikan dan perubahan.

7. Dalam menjalankan perubahan dari Partai massa Sosialis menjadi Partai Komunis, partai jangan hanya melakukan pemindahan kekuasaan ke Komite Sentral namun lalai dalam melancarkan perubahan‑perubahan dalam seluruh tatanan organisasinya. Sentralisasi jangan hanya disepakati dalam teori; ia harus diwujudkan dalam praktek. Dan ini hanya akan mungkin dicapai jika seluruh anggota melihat sentralisasi ini secara positif dalam rangka memperkuat kerja dan meningkatkan kemampuan mereka untuk berjuang. Jika tidak demikian, maka massa akan melihat sentralisasi ini sebagai birokratisasi ­partai, dan akhirnya mereka akan menentang setiap upaya untuk memperkenalkan sentralisasi, kepemimpinan dan disiplin yang kuat.

Anarkisme dan birokratisme adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Demokrasi formal dalam organisasi tidak dapat mengatasi kecenderungan birokratik dan anarkistik dalam gerakan buruh, karena justru kedua kecenderungan ini terlahir dari demokrasi semacam ini.

Setiap upaya untuk mencapai sentralisasi organisasi dan kepemimpinan yang kuat tidak akan berhasil selama kita mempraktekkan demokrasi formal. Kita harus mengembangkan dan menjaga jaringan, hubungan serta kesatupaduan kerja, baik itu dalam partai sendiri, yaitu antara organ‑organ pimpinan dengan jajaran anggotanya, maupun antara partai dengan massa proletar yang ada di luar partai.

III . TENTANG KEWAJIBAN KERJA KAUM KOMUNIS

8. Partai Komunis harus menjadi sekolah kerja bagi Marxisme revolusioner. Hubungan yang organik antar organ partai dan antar anggota hanya akan terbina melalui kerjasama sehari-hari dalam organisasi‑organisasi partai.

Selama ini, partai‑partai Komunis legal belum sepenuhnya berhasil menggalang seluruh anggotanya dalam pekerjaan aktif sehari‑hari. Hal ini merupakan hambatan yang sangat besar untuk memajukan dan mengembangkan partai.

9. Tahap‑tahap awal perubahan dari partai buruh menjadi sebuah partai Komunis seringkali tidak lebih dari sekedar pencantuman program Komunis saja: yakni hanya menggantikan doktrin lamanya dengan Komunisme dan menggantikan pengurus-pengurus partai yang anti-komunis dengan orang-orang Komunis. Namun penerimaan terhadap program Komunis tak lebih dari sekedar menggambarkan keinginan partai tersebut untuk menjadi partai Komunis. Jika partai gagal menjalankan kerja Komunis dan jika massa anggotanya dibiarkan pasif, maka partai tidak akan bisa memenuhi kewajibannya yang paling minimum sekalipun, sebagaimana yang diamanatkan oleh program Komunis. Karena syarat yang  paling utama menjalankan program adalah partisifasi secara penuh seluruh anggota dalam pekerjaan sehari-hari partai.

Seni menjalankan organisasi Komunis terletak pada kemampuannya untuk melibatkan segala hal dan semua orang dalam perjuangan kelas proletar, melakukan pendistribusian partai kerja partai secara efektif dikalangan seluruh anggota dan melalui anggota-anggota ini, terus menerus menarik massa proletar seluas mungkin ke dalam gerakan revolusioner. Artinya, partai harus selalu berada dalam posisi memimpin seluruh gerakan. Posisi kepemimpinan ini tidak diperoleh partai melalui pemaksaan kekuatan, namun melalui energinya  yang besar, kemampuannnya yang beragam, pengetahuannya yang luas, pengalamanannya yang banyak dan fleksibilitasnya.

10. Sebuah partai Komunis haruslah terdiri dari orang-orang yang aktif saja, dan ia akan menuntut setiap jajaran anggota partai untuk mencurahkan segenap tenaga dan waktunya untuk pekerjaan partai. Disamping memiliki komitmen terhadap gagasan-gagasan komunisme, para anggota partai Komunis juga harus didaftarkan secara resmi, didahului dengan masa pencalonan, kemudian menjadi anggota resmi, membayar iuran anggota, berlangganan koran partai, dan sebagainya. Namun yang terpenting dari semua ini adalah keterlibatannya secara aktif dalam pekerjaan sehari-hari partai.

11. Agar bisa menjalankan pekerjaan sehari‑hari, tiap‑tiap anggota partai harus bergabung ke dalam group/kelompok kerja kecil seperti: sebuah komite, komisi, badan, group, fraksi maupun sel. Hanya dengan cara inilah kerja‑kerja partai dapat didistribusikan, diarahkan dan dijalankan secara tepat.

Tentu saja para anggota harus menghadiri pertemuan-pertemuan, rapat‑rapat umum yang diadakan organisasi-organisasi lokal mereka; dan sebuah partai Komunis yang legal jangan sampai tidak menyelenggarakan pertemuan‑pertemuan umum ini dan kemudian menggantinya dengan pertemuan‑pertemuan para perwakilan saja. Seluruh anggota partai berkewajiban untuk menghadiri pertemuan-pertemuan umum secara reguler. Namun hal ini tidaklah cukup. Persiapan-persiapan untuk menyelenggarakan pertemuan-pertemuan semacam ini haruslah terlebih dahulu dilakukan oleh group-group kecil atau oleh kawan-kawan yang diserahi tugas melakukan perencanaan secara rinci bagi penyiapan dan penyelenggaraan pertemuan. Group‑group kecil ini secara efektif akan menggunakan dan mempersiapkan pertemuan‑pertemuan umum kaum buruh, demonstrasi‑demonstrasi maupun aksi massa kelas buruh. Hanya group‑group kecil seperti inilah yanq mampu mengkaji dan menjalankan sejumlah tugas lain yang berhubungan dengan aktivitas‑aktivitas semacam ini. Jika seluruh anggota tidak dibagi‑bagi ke dalam sejumlah qroup kecil, kedalam kerja sehari-hari bagi partai, maka semilitan apapun upaya yang dilakukan kelas buruh dalam memajukan perjuangan kelas, tidak akan membuahkan apa-apa, dan ia akan gagal mengkonsolidasikan seluruh tenaga proletariat revolusioner menjadi satu Partai Komunis yang kuat.

12. Sel‑sel Komunis harus dibentuk untuk menjalankan kerja sehari‑hari dalam berbagai lapangan aktivitas partai, seperti: agitasi dari rumah ke rumah, penyelenggaraan sekolah‑sekolah partai, kelompok pembaca surat kabar/koran partai, pendistribusian bahan bacaan, jasa pelayanan informasi, kerja‑kerja kurir dan sebagainya.

Sel‑sel Komunis merupakan unit‑unit dasar untuk menjalankan kerja sehari-hari Partai Komunis di pabrik-pabrik, serikat-serikat buruh, detasemen-detasemen militer dan di semua tempat dimana terdapat anggota maupun calon anggota partai, walaupun dalam jumlah yang sedikit. Dimana di suatu tempat, seperti di pabrik, serikat buruh dan sebagainya, terdapat anggota partai dalam jumlah besar, maka harus segera dibentuk fraksi yang kerja‑kerjanya diarahkan oleh sel Komunis.

Tujuan dari pembentukan sel‑sel Komunis secara tersendiri adalah untuk merebut kepemimpinan di suatu tempat. Hal ini bisa dijalankan baik melalui pembentukan fraksi yang beroposisi secara meluas terhadap kepemimpinan yang ada atau melalui keterlibatan secara aktif dalam fraksi‑fraksi yang‑sudah ada.

Permasalahan apakah sel Komunis harus menyatakan afiliasi partainya secara terbuka atau tidak, semuanya tergantung pada situasinya. Harus ada pengkajian terlebih dahulu mengenai keuntungan maupun kerugian dari tindakan‑tindakan semacam ini.

13. Pengenalan secara umum tentang kewajiban kerja dalam partai dan tentang  group‑group kerja yang kecil ini merupakan tugas yang sangat sulit bagi partai‑partai Komunis yang berkarakter massa. Hasilnya tidak bisa kita peroleh dalam satu malam; untuk itu sangat diperlukan kesabaran, pertimbangan yang matang dan energi yang besar.

Sejak awal, pengenalan langgam kerja organisasi ini harus dilakukan sangat hati‑hati serta didahului dengan diskusi yang mendalam. Tentu merupakan hal yang mudah saja bagi partai untuk sekedar menempatkan para anggotanya ke dalam sel‑sel maupun group‑group kecil supaya mereka mudah terlibat dalam pekerjaan sehari‑hari partai, sebagaimana yanq selama ini tercantum dalam skema formal yang ada. Akan tetapi lebih baik tidak memulai pekerjaan dengan cara‑cara demikian, karena ini hanya akan memunculkan ketidakpuasan dan kebingungan di kalangan anggota partai terhadap langgam kerja baru ini.

Adalah sangat penting bagi organ‑organ pimpinan partai untuk mengadakan diskusi/konsultasi secara rinci dengan  anggota-anggota partai. Diskusi harus dilakukan sesama Komunis yang teguh hati, tulus serta sebagai organisator yang cakap, yang memiliki pengetahuan mendalam terhadap situasi umum gerakan buruh di berbagai pusat gerakan di seluruh negeri. Berdasarkan penemuan‑penemuan inilah organ pimpinan  partai kemudian menyusun prinsip‑prinsip dasar bagi metode kerja yang baru. Selanjutnya, para instruktur, organisator atau komisi pengorganisasian harus menyiapkan rencana kerja pada tingkat lokal, memilih pimpinan-pimpinan group serta melancarkan kampanye tentag langgam kerja yang baru ini. Setelah semua ini diselesaikan maka seluruh organisasi, group-group kerja, sel‑sel dan individu‑individu yang diberi tugas‑tuqas secara kongkrit, jelas,  disepakati, diperlukan, partai harus memberikan peragaan bagaimana melaksanakan tugas tersebut. Dalam hal ini, peragaan dan pengarahan harus difokuskan pada kemungkinan munculnya kekeliruan yang harus dihindari dalam pelaksanaan tugasnya.

14. Reorganisasi harus dilakukan setahap demi setahap. Organisasi‑organisasi lokal jangan sampai tergesa‑gesa membentuk terlalu banyak sel dan group‑group kerja baru sekaligus. Para anggota partai harus diberi kesempatan untuk belajar terlebih dahulu dari pengalaman keberhasilan dalam pengorganisasian sel-sel di pabrik‑pabrik besar dan di serikat‑serikat buruh. Dan para anggota harus juga belajar dari pengalaman pembentukan group-group kerja partai yang menangani informasi, komunikasi, agitasi dari rumah ke rumah, gerakan perempuan, distribusi koran, mengurus pengangguran atau semacamnya. Bentuk‑bentuk organisasi yang lama jangan lah semena‑mena dibubarkan jika kerangka organisasi yang baru belum terbangun.

Akan tetapi, kerja organisasional Komunis harus selalu dilakukan dengan penuh keteguhan hati dalam meraih tujuan. Tugas ini berlaku tidak saja bagi semua partai legal, namun juga bagi semua partai illegal. Partai harus selalu mengembangkan kerja organisasional ini, hingga jaringan sel‑sel Komunis, fraksi-fraksi dan group‑group kerja berhasil dibentuk di seluruh pusat perjuangan massa proletar, hingga partai menjadi kuat dan jelas arah tujuan perjuangannya, hingga seluruh anggotanya terlibat secara penuh dalam pekerjaan revolusioner sehari‑hari dan, untuk kemudian, menerima keterlibatannya ini sebagai suatu kewajaran.

15. Organ-organ pimpinan partai jangan sampai lengah dalam mengontrol kerja-kerja elementer organisasional ini dan ia harus selalu memberikan arahannya secara konsisten. Hal ini menuntut upaya yang sungguh‑sungguh keras dari kawan‑kawan pimpinan partai. Kepemimpinan dalam Partai Komunis tidak hanya bertanggung-jawab dalam memastikan selesai atau tidaknya suatu pekerjaan, namun ia juga harus membantu dan mengarahkan pekerjaan ini secara sistematis. Untuk itu, kawan‑kawan pimpinan harus membekali diri dengan dengan pemahaman praktis terhadap kondisi khas yang melingkupi dan menjadi orientasinya. Mereka juga harus mengawasi jika terjadi kekeliruan. Mereka harus memanfaatkan pengalaman  dan pengetahuan mereka untuk memperbaiki metode kerja, tanpa melupakan tujuan-tujuan perjuangannya.

16. Kerja partai ini selain meliputi perjuangan praktis dan teoritis secara langsung, juga meliputi kerja‑kerja persiapan untuk melaksanakan kedua perjuangan tadi. Selama ini pengorganisasian kerja partai dijalankan secara kurang memuaskan. Ada beberapa jenis pekerjaan yang sebenarnya sangat penting namun tidak dilaksanakan secara sungguh‑sungguh, misalnya adalah kerja-kerja partai legal dalam menangkal agen‑agen polisi rahasia negara. Masalah lainnya adalah tentang materi training terhadap kawan‑kawan, pelaksanaannya sering dilakukan secara sembarangan dan tidak serius sehingga sebagian besar anggota bahkan tidak memahami program‑program partai atau resolusi‑resolusi yang dikeluarkan oleh Komunis Internasional. Seluruh organisasi dan group‑group kerja partai harus mendidik para anggotanya secara sistematik dan reguler, dengan demikian mereka bisa didorong untuk menjalankan spesialisasi‑spesialisasi yang lebih tinggi lagi.

17. Salah satu kewajiban organisasi Komunis adalah membuat laporan. Hal ini berlaku bagi seluruh organisasi, organ dan para anggota. Laporan‑laporan reguler harus dibuat sesuai dengan jadwalnya, sementara laporan-laporan khusus juga dibuat bagi setiap tugas khusus yang telah dijalankan atas instruksi partai. Adalah penting untuk membuat dan menyusun laporan tersebut  secara sistematik sesuai dengan prosedur laporan dari tradisi gerakan Komunis.

18. Partai harus membuat laporan kegiatannya secara reguler kepada organ pimpinan Komunis Internasional. Setiap organisasi partai harus menyajikan laporannya kepada komite yang tepat berada di atasnya (sebagai contoh: organisasi lokal harus membuat laporan bulanannya ke komite lokal partai).

Tiap-tiap sel, fraksi dan group kerja harus membuat laporan kepada organ partai yang memimpinnya. Sementara itu, seluruh anggota juga harus membuat laporan tentang kemajuan kerja mereka seminggu sekali kepada sel atau group kerjanya, dan kepada organ partai yang telah memberinya tugas khusus.

Laporan harus selalu dibuat begitu ada kesempatan. Laporan-laporan itu bisa disampaikan secara lisan jika memang partai ataupun organ yang bersangkutan tidak khusus memintanya secara tertulis. Laporan harus ringkas dan dan langsung ke pokok masalah. Orang yang menerima laporan harus bertanggung jawab untuk mengamankan informasi tersebut dan jangan sampai mempublikasikannya. Begitu dia menerima laporan, dia harus segera menyampaikannya tanpa ditunda-tunda kepada organ partai yang bersangkutan.

19. Tentu saja, laporan‑laporan partai ini tidak hanya memuat aktivitas Si Pembuat laporan. Si Pelapor juga harus menyampaikan seluruh hasil pengamatannya selama dia menjalankan pekerjaan partai, terutama mengenai hal‑hal yang bersangkutan dengan perjuangan. Yang dimaksudkan disini adalah hal-hal yang  sekiranya akan bisa dipertimbanqkan untuk mendorong perubahan-perubahan maupun untuk perbaikan-perbaikan kerja selanjutnya. Para anggota harus menyampaikan usulan‑usulan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dalam dalam pelaksanaan kerja partai. Sel-sel Komunis, fraksi-fraksi dan group-group kerja harus mendiskusikan seluruh laporan yang mereka terima atau yang mereka sampaikan. Diskusi terhadap isi laporan harus menjadi kebiasaan dalam kerja.

Sel-sel maupun group-group kerja harus menugaskan setiap anggota maupun setiap group-groupnya untuk secara teratur mempelajari dan melaporkan aktivitas-aktivitas organisasi buruh yang didominasi elemen borjuis kecil dan terutama sekali, seluruh organisasi partai-partai “sosialis”.

IV. TENTANG PROPAGANDA DAN AGITASI

20. Tugas kita yang paling utama sebelum meletusnya pemberontakan revolusioner secara terbuka adalah melancarkan propaganda dan agitasi revolusioner. Namun, selama ini pekerjaan tersebut masih dilakukan dengan cara‑cara lama. Hal ini pun hanya terbatas pada pidato‑pidato dalam rapat‑rapat massa, tanpa memperhatikan isi revolusioner dari pidato‑pidato tersebut dan dalam bahan‑bahan tulisan politiknya.

Propaganda dan agitasi Komunis harus berakar di benak kaum proletar. Ia harus lahir dari kehidupan aktual kaum buruh, kepentingan‑kepentingan dan aspirasi mereka dan, di atas segala-galanya, dari perjuangan bersama yang dilancarkan oleh mereka.

Aspek yang terpenting dari propaganda Komunis adalah isi dan wataknya yang revolusioner. Oleh karena itu, slogan‑slogan dan seluruh sikap politik Komunis, dalam menanggapi satu atau berbagai persoalan dalam situasi kongkrit yang ada, harus mendapatkan perhatian dan pengkajian secara khusus. Partai‑partai Komunis tidak akan pernah bisa menyatakan sikapnya secara tepat jika para propaganda dan agitator profesionalnya serta para anggota partai tidak mendapatkan pendidikan politik secara menyeluruh dan terus menerus.

21. Bentuk‑bentuk pokok propaganda Komunis adalah sebagai berikut:

  • Propaganda orang ke orang secara lisan;

        Keterlibatan Komunis dalam serikat buruh dan gerakan politik kelas buruh lainnya; serta

    Propaganda melalui Roran Partai maupun pendistribusian bahan‑bahan bacaan lainnya

Seluruh anggota partai, baik legal maupun illegal, harus terlibat secara reguler dalam salah satu dan atau bentuk‑bentuk propaganda lainnya.

Propaganda dari orang ke orang terutama harus berbentuk agitasi dari rumah ke rumah secara sistematik. Untuk itu harus dibentuk group‑group khusus. Di wilayah-wilayah tertentu, dimana organisasi lokal‑partai memiliki cukup pengaruh, setiap rumah harus didatangi. Di kota-kota besar, agitasi jalanan yang diorganisasi secara khusus dengan menggunakan poster dan selebaran seringkali memberikan hasil yang baik. Sementara itu, di pabrik-pabrik dan di kantor-kantor, sel-sel maupun fraksi-fraksi harus menjalankan propaganda dari orang ke orang yang digabungkan dengan pendistribusian bahan bacaan.

Di samping itu, jika di suatu negeri terdapat bangsa‑bangsa minoritas maka partai harus mencurahkan perhatiannya secara khusus dalam hal pekerjaan agitasi propaganda di kalangan kelas buruhnya. Tentu saja agitasi propaganda ini harus dilakukan dengan menggunakan bahasa‑bahasa bangsa minoritas. Untuk menjalankan kerja tersebut harus didirikan organ‑organ partai khusus.

22. Di negeri‑negeri kapitalis dimana sebagian besar kaum proletariatnya belum memiliki kesadaran revolusioner, harus dicarikan metode kerja agitasi propaganda secara lebih efektif. Propaganda harus disesuaikan dengan tingkat kesadaran buruh yang belum revolusioner namun yang sudah mulai teradikalisir, dan juga harus dilakukan upaya-upaya untuk semakin mendekatkan mereka ke gerakan revolusioner. Dalam situasi apapun, propaganda dan slogan Komunis harus mampu meneguhkan aspirasi yang masih ragu dan masih belum mencerminkan kesadaran kelas, yakni aspirasi yang masih dipengaruhi oleh ideologi borjuis namun yang sudah mencerminkan watak revolusioner, yang berkembang di kalangan kelas buruh dalam rangka melawan tradisi borjuis.

Pada saat yang sama juga, Propaganda Komunis harus melebihi tuntutan‑tuntutan maupun harapan massa proletar yang masih terbatas dan samar‑samar. Berdasar tuntutan dan harapan inilah kita bisa membangun dan mengembangkan pengaruh kita serta mendorong kaum proletar untuk memahami dan bersimpati terhadap Komunisme.

23. Agitasi Komunis di kalangan massa proletar harus dijalankan sedemikian rupa sehingga kaum militan proletar akhirnya bisa mengetahui bahwa hanya organisasi Komunis lah yang berani dan berpandangan jauh ke depan. Dengan demikian mereka akan mengakuinya sebagai pimpinan gerakan buruh yang loyal dan enerjik.

Untuk meraih pengakuan ini maka kaum Komunis harus terlibat dalam seluruh perjuangan sehari‑hari dan dalam seluruh gerakan kelas buruh, serta membela kaum buruh dalam setiap perlawanannya terhadap kaum kapitalis, khususnya ketika mereka sedang memperjuangkan pengurangan jam kerja, kenaikan upah, perbaikan kondisi kerja dan sebagainya. Kaum Komunis harus melakukan pengkajian secara mendalam terhadap kondisi kehidupan sehari‑hari kaum buruh; mereka harus membantu buruh untuk memahami problem‑problem yang mereka hadapi; membantu mereka dalam merumuskan tuntutan-tuntutannya secara praktis dan jelas; menggalang kesetiakawanan kelas dan meningkatkan wawasan mereka terhadap kepentingan dan tujuan bersama mereka sebagai anggota kelas di suatu negeri, sebagai bagian dari laskar proletariat internasional.

Hanya melalui kerja sehari‑hari di basis massa serta dengan komitmen yang teguh dan penuh berpartisipasi dalam seluruh perjuangan proletariat, maka sebuah partai dapat menjadi partai Komunis dalam maknanya yang sejati. Hanya dengan cara‑cara inilah maka Partai Komunis bisa membedakan dirinya dengan partal‑partai Sosialis, yang kebanyakan aktivitasnya hanyalah melakukan propaganda abstrak, yang banyak‑banyak merekrut anggota kesana kemari hanya berbicara tentang reformasi dan segala “kemungkinan” untuk berjuang melalui parlemen. Keterlibatan seluruh anggota Partai Komunis secara sadar dan teguh dalam perjuangan serta perlawanan sehari‑hari kelas terhisap terhadap kelas penghisap merupakan prasyarat yang teramat penting bukan hanya bagi perebutan kekuasaan, namun yang lebih penting lagi, untuk mewujudkan kediktatoran proletariat. Hanya dengan memimpin massa pekerja dalam perjuangan sehari‑hari melawan serangan kapitalisme lah maka Partai Komunis mampu menjadi pelopor kelas pekerja. Dengan demikian partai belajar dari praktek untuk memimpin kaum proletar guna mempersiapkan penggulingan akhir terhadap kaum borjuasi.

24. Untuk bisa terlibat dalam gerakan buruh, kaum Komunis harus dikerahkan/dimobilisir dengan kekuatan penuh, utamanya pada saat terjadi pemogokan maupun perjuangan‑perjuangan massal lainnya yang dilakukan kaum buruh.

Adalah sebuah kesalahan besar jika kaum Komunis mengecam tingkat perjuangan buruh yang masih menuntut perbaikan kondisi kerja. Sama besarnya dengan kesalahan di atas jika partai kemudian bersikap pasif dengan dalih bahwa kita hanya setia kepada program Komunis untuk melancarkan pemberontakan revolusioner bersenjata sebagai tujuan akhirnya. Betapapun terbatas dan sederhananya tuntutan yang hendak diajukan kaum buruh, jangan sampai kaum Komunis mencari dalih untuk tidak melibatkan diri dalam perjuangan tersebut. Aktivitas agitasi kita jangan sampai menimbulkan kesan bahwa kita, kaum Komunis, hanya mau membantu pemogokan yang menguntungkannya atau hanya menyepakati aksi‑aksi yang besar saja. Sebaliknya, kaum Komunis harus selalu berupaya meraih nama baik sebagai pejuang yang berani dan efektif di kalangan massa yang tengah berjuang.

25. Sel‑sel (fraksi‑fraksi) Komunis yang bekerja dalam gerakan serikat buruh seringkali tidak mampu mengakomodasi tuntutan-tuntutan sederhana yang mendesak. Adalah mudah, namun sama sekali tidak menguntungkan, untuk selalu menceramahi kaum buruh dengan prinsip‑prinsip umum Komunisme, untuk kemudian menolak segala bentuk sindikalisme, justru ketika dihadapkan pada masalah-masalah yang kongkrit. Praktek‑praktek demikian hanya akan menguntungkan Amsterdam Internasional Kuning[1].

Sebaliknya, aksi‑aksi Komunis harus selalu dituntun oleh kajian‑kajian yang mendalam terhadap semua aspek persoalan tersebut. Sebagai contoh, dari pada melakukan serangan secara teoritik terhadap seluruh kesepakatan tentang pengupahan, justru yang harus kita lakukan adalah memerangi seluruh kesepakatan pengupahan yang disetujui oleh para pimpinan Amsterdam. Segala sesuatu yang bisa meredam militansi kaum proletar harus kita kecam dan lawan mati‑matian; dan sebagaimana sudah kita ketahui bersama, kaum kapitalis dan kacung‑kacung Amsterdamnya mencoba memanfaatkan kesepakatan pengupahan tersebut untuk membelenggu militansi kaum buruh yang militan. Akan tetapi, sebagaimana sudah menjadi keharusan kita, kaum Komunis dapat membelejeti kaum kapitalis secara efektif justru dengan mengajukan kesepakatan-kesepakatan upah yang tidak akan membelenggu militansi kaum buruh.

Sikap yang sama juga harus kita ambil dalam menghadapi persoalan tunjangan bagi pengangguran, kesehatan, dana‑dana pemogokan serta tunjangan‑tunjangan lainnya yang diberikan oleh serikat‑serikat buruh. Dana pemogokan maupun dana tunjangan ini sendiri akan banyak memberikan manfaat. Adalah tidak tepat untuk menentang pengumpulan‑pengumpulan dana semacam ini. Yang kita tentang bukanlah metode perjuangan yang menyertakan pengumpulan dana pemogokan dan tunjangan, melainkan kita menentang setiap cara dan pemanfaatan penggunaan dana‑dana tersebut oleh para pimpinan Amsterdam. Karena apa yang dilakukan mereka pada hakekatnya bertentangan dengan kepentingan revolusioner kaum buruh.

Sebagai contoh bisa ditunjukkan disini, yakni berkaitan dengan dana tunjangan kesehatan bagi kaum buruh yang sedang sakit. Kaum Komunis dapat menuntut penghapusan sistem sumbangan wajib untuk pengeluaran dana tersebut, untuk itu kita juga harus menentang semua persyaratan yang membatasi sistem sumbangan secara sukarela. Jika masih ada sejumlah buruh yang ingin tetap mempertahankan sistem sumbangan wajib bagi dana kesehatan maka kita tidak bisa begitu saja melarang mereka untuk melakukannya, karena hal yang demikian ini justru akan membingungkan kaum buruh. Yang pertama‑tama harus kita lakukan adalah membebaskan mereka dari konsepsi tunjangan ala borjuis kecil yang masih melekat pada diri mereka. Cara yang paling efektif adalah dengan melancarkan propaganda dari orang ke orang.

26. Dalam perjuangan kita menentang serikat‑serikat buruh maupun partai‑partai buruh yang didominasi kaum sosial‑demokrat dan borjuis kecil, kita tidak bisa menggunakan cara‑cara persuasi. Perjuangan menentang mereka justru harus kita lakukan dengan sepenuh tenaga. Hal tersebut akan berhasil kita lakukan jika kita bisa meyakinkan para pengikut mereka, yakni dengan cara membelejeti para pimpinan yang telah mengkhianati sosialisme dan yang telah menjatuhkan diri mereka ke dalam jebakan kapitalisme. Oleh karena itu begitu muncul kesempatan, kita harus menggiring para pimpinan itu untuk membuka kedok mereka; baru setelah itu kita bisa melancarkan serangan gencar ke arah mereka.

Bagi kita adalah tidak cukup untuk sekedar mencap para pimpinan Amsterdam tersebut dengan cap “kuning.” Justru kekuningan mereka ini harus dibuktikan dengan contoh‑contoh praktis secara terus menerus, seperti aktivitas mereka di serikat‑serikat buruh , di Biro Perburuhan Internasional Liga Bangsa‑Bangsa, di kementerian‑kementerian dan pemerintahan borjuasi, pidato‑pidato khianat yang mereka sampaikan dalam sidang‑sidang parlemen maupun dalam konferensi‑konferensi, sikap-sikap politik yang mereka tunjukkan dalam ratusan artikel tulisannya di koran‑koran. Akhirnya, yang terutama kita harus blejeti adalah kebimbangan dan keengganan yang mereka tunjukkan ketika mempersiapkan atau melancarkan kampanye‑kampanye kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja yang paling wajar sekalipun. Semua hal diatas menyediakan kesempatan bagi kaum Komunis untuk membelejeti mereka setiap hari, baik itu dalam pidato‑pidato maupun dalam resolusi‑resolusi kita, yang secara jelas, ringkas dan tegas membongkar aktivitas khianat dan sayap kanan dari para pimpinan Amsterdam. Pembuktian‑pembuktian inilah yang membuat mereka layak dijuluki sebagai pimpinan‑pimpinan “kuning.”

Sel‑sel dan fraksi‑fraksi kita harus melancarkan perjuangan praktisnya dengan cara yang sistematik. Kaum Komunis jangan sampai dikalahkan oleh birokrat rendahan serikat buruh yang seringkali dengan maksud‑maksud baik namun yang karena tidak cukup kekuatan untuk mempraktekannya, berlindung di balik anggaran dasar (statuta), resolusi‑resolusi kongres serikat buruh maupun arahan‑arahan kerja dari pengurus pusatnya. Para birokrat rendahan serikat buruh ini sering memanfaatkan hal‑hal di atas sebagai dalih untuk tidak mendorong perjuangan agar lebih maju lagi. Sebaliknya, kaum Komunis harus selalu menuntut mereka untuk memberikan pemecahan terhadap persoalan yang ada, dan yang lebih penting adalah kita harus menunjukkan apa yang sudah kaum Komunis kerjakan untuk menghilangkan hambatan‑hambatan tadi. Baru setelah itu kita menanyakan kepada para pejabat rendahan dan anggota serikat buruh tadi tentang kesediaan mereka untuk diajak serta memecahkan persoalan dan memerangi hambatan‑hambatan ini secara terbuka.

27. Sebelumnya, fraksi‑fraksi harus secara seksama mempersiapkan keterlibatan Komunis dalam konferensi‑konferensi dan pertemuan‑pertemuan yang diselenggarakan oleh organisasi-organisasi serikat buruh. Sebagai contoh, kaum Komunis harus merancang secara rinci usulan‑usulan yang akan diajukannya, memilih pembicara dan mencalonkan orang untuk pemilihan kepengurusan yang diambil dari kawan‑kawan yang cakap, berpengalaman dan enerjik. Melalui fraksi‑fraksinya, organisasi-organisasi Komunis harus melakukan persiapan seksama untuk menghadapi seluruh pertemuan kaum buruh, pertemuan‑pertemuan pemilihan, demonstrasi‑demonstrasi dan acara‑acara politik lain yang diselenggarakan oleh organisasi‑organisasi saingan. Jika kaum Komunis menyelenggarakan pertemuan‑pertemuan buruh mereka sendiri, mereka harus mengatur sejumlah besar group agitator yang akan disebarkan di tengah‑tengah massa, baik itu dalam tahap persiapan maupun selama pelaksanaan pertemuan, yang akhirnya memungkinkan group‑group tersebut terlibat dalam menyusun rencana aksi selanjutnya. Hanya dengan cara inilah hasil propaganda yang memuaskan dapat kita peroleh.

28. Kaum Komunis harus selalu mempelajari bagaimana cara menarik kaum buruh yang belum terorganisasi dan yang belum sadar politik ke dalam wilayah pengaruh partai. Sel‑sel dan fraksi-fraksi kita harus mendekati kaum buruh ini untuk bergabung dengan serikat‑serikat buruh maupun untuk membaca koran partai kita. Organisasi‑organisasi yang lain juga harus kita gunakan untuk menyebarkan pengaruh kita, seperti: koperasi‑koperasi konsumsi, organisasi‑organisasi veteran dan korban perang, badan‑badan pendidikan, kelompok‑kelompok studi, klub‑klub olah raga dan kelompok‑kelompok teater. Jika sebuah partai Komunis harus bekerja dengan cara‑cara illegal, para anggota partai dapat mengambil inisiatif untuk membangun organisasi‑organisasi buruh semacam tadi ‑termasuk organisasi‑organisasi simpatisan‑ yang ada di luar partai, namun kesemuanya ini harus atas kesepakatan dan arahan kerja dari organ‑organ pimpinan partai. Organisasi-organisasi pemuda dan perempuan Komunis juga dapat menyelenggarakan kursus‑kursus, sekolah‑sekolah malam, festival dan acara‑acara piknik di hari libur, dan bermacam kegiatan yang bisa menarik perhatian rakyat pekerja, yang sebelumnya tidak akrab dengan politik Partai Komunis. Untuk kemudian kita akan menghubungkan orang‑orang ini ke dalam organisasi‑organisasi serta melibatkan mereka dalam pekerjaan‑pekerjaan partai, seperti penyebaran selebaran, mengedarkan koran Partai dan semacamnya. Hanya dengan keterlibatan dalam gerakan secara menyeluruh ini maka kaum buruh akan lebih mudah mengatasi sikap-sikap borjuis kecil mereka.

29. Untuk bisa menarik barisan semi‑proletar dari kalangan rakyat pekerja agar berpihak kepada proletariat revolusioner, kaum Komunis harus menggunakan konflik yang terjadi antara mereka dengan tuan‑tuan tanah besar, kaum kapitalis dan negara kapitalis. Dengan demikian kita bisa menghilangkan kecurigaan kelas‑kelas perantara ini terhadap revolusi proletar. Tentu saja ini akan memakan waktu panjang. Barisan semi‑proletar akan semakin yakin dengan gerakan Komunis jika partai bisa memenangkan simpati mereka dalam memperjuangkan kebutuhan mereka sehari‑hari, memberikan bantuan cuma‑cuma dan memberikan saran ketika mereka menghadapi kesulitan‑kesulitan dan sebagainya. Dan pada saat bersamaan kaum Komunis mendorong mereka untuk bergabung dalam perkumpulan‑perkumpulan khusus sehingga mereka dapat memperoleh pendidikan lebih lanjut. Dengan tindakan‑tindakan tersebut mereka akan menaruh kepercayaan terhadap gerakan Komunis. Kaum Komunis jangan sampai mengendorkan upayanya untuk membersihkan pengaruh organisasi maupun orang‑orang yang anti Komunis di kalangan petani miskin, pekerja‑pekerja industri rumah tangga maupun elemen‑elemen semi‑proletariat lainnya. Kaum Komunis harus membuka kedok musuh‑musuh rakyat ini sebagai penghisap yang mewakili kejahatan sistem kapitalisme. Propaganda dan agitasi Komunis harus dilancarkan pada setiap konflik yang terjadi sehari‑hari, yaitu konflik antara angan‑angan demokrasi borjuis kecil mereka dengan kenyataan praktek birokrasi negara dengan menggunakan bahasan yang mudah dipahami oleh mereka.

Organisasi-organisasi lokal di wilayah pedesaan harus membagi pekerjaan di kalangan anggotanya untuk melancarkan agitasi dari rumah ke rumah. Hanya dengan cara ini, setiap perkampungan, perkebunan maupun masing-masing rumah di wilayah yang bersangkutan dapat kita sentuh.

30. Sementara itu metode-metode propaganda di kalangan prajurit angkatan darat dan angkatan laut negara kapitalis harus disesuaikan dengan kekhususan kondisi di masing‑masing negara. Agitasi anti‑militerisme yang berwatak pasifis adalah membahayakan. Secara prinsipil kaum proletar menentang semua organisasi militer negara borjuis dan kelas borjuasi, kaum proletar pun akan melawan pengaruh mereka secara konsisten. Namun institusi‑institusi ini (angkatan darat, klub‑klub menembak, organisasi‑organisasi pertahanan sipil dan semacamnya) dapat dimanfaatkan untuk melakukan latihan kemiliteran bagi kaum buruh dalam mempersiapkan perjuangan revolusioner. Artinya, agitasi yang intensif tidak dilancarkan untuk menentang prinsip‑prinsip latihan kemiliteran bagi pemuda maupun buruh, namun untuk melawan rejim militer dan kekuasaan para perwira yang sewenang‑wenang. Oleh karena itu setiap kesempatan untuk mendapatkan senjata bagi kaum buruh harus bisa dimanfaatkan sebaik‑baiknya demi keuntungan revolusi. Jajaran agitasi propaganda harus mengamati setiap pertentangan kelas yang ada antara para perwira, yang memperoleh fasilitas baik, dengan kalangan prajurit rendahan, yang menerima perlakuan buruk serta kondisi sosial yang celaka. Agitasi harus dilancarkan di kalangan prajurit sehingga mereka dapat secara jelas melihat bahwa masa depan mereka sangat tergantung pada perjuangan kelas yang terhisap. Di tengah‑tengah gejolak revolusioner, kita juga harus melancarkan agitasi untuk mendorong adanya pemilihan‑pemilihan perwira secara demokratik dan pembentukan Soviet‑Soviet (Dewan‑Dewan) Perwakilan Prajurit. Jika ini berhasil dilakukan maka ia akan bisa menghancurkan dasar-dasar kekuasaan kelas borjuasi. Agitasi‑agitasi secara seksama dan dengan sekuat tenaga harus dilakukan untuk menentang pasukan khusus dan gerombolan‑gerombolan sipilnya yang dikerahkan borjuasi dalam perang kelas. Kaum Komunis harus memilih saat yang tepat untuk meruntuhkan moral serta mendorong perpecahan di jajaran pasukan mereka. Jika di kalangan tentara, biasanya di kalangan korps perwira, terdapat banyak orang yang berbeda asal-usul kelas sosialnya dengan rakyat, maka harus dilakukan pembelejetan, dengan demikian akan membuat mereka semakin terkucil. Dan jika dalam pasukan mereka terdapat orang‑orang yang berasal‑usul‑kelas yang sama dengan rakyat, maka mereka juga harus dibelejeti, dengan demikian akan timbul kebencian yang meluas di kalangan rakyat terhadap tindakan khianat mereka. Tindakan pembelejetan ini diharapkan akan meruntuhkan disiplin militer orang‑orang tadi.

V. TENTANG ORGANISASI PERJUANGAN POLITIK

31. Bagi sebuah partai Komunis tidak ada situasi dimana aktivitas politik tidak dapat dilakukan. Pada setiap perkembangan situasi politik dan ekonomi, kaum Komunis harus selalu mengembangkan strategi dan taktik organisasional, dengan demikian kita dapat meraih kemajuan dengan cara‑cara yang terorganisasi.

Betapapun lemahnya partai, ia akan selalu bisa mengubah  peristiwa‑peristiwa politik maupun pemogokan‑pemogokan besar yang menggoncang kehidupan ekonomi negeri menjadi peluang dalam mengorganisasi dan menjalankan propaganda praktisnya secara sistematik. Jika partai sudah mengambil keputusan dalam sebuah aksi, maka dengan sekuat tenaga ia harus melibatkan seluruh anggota dan berbagai bagian partai dalam kampanye tersebut.

Di atas segala‑galanya, partai harus memanfaatkan setiap hubungan yang telah dijalinnya melalui pekerjaan sel‑sel dan group‑group kerjanya. Mulai dari sinilah partai akan mengorganisasi sejumlah pertemuan di tempat‑tempat dimana kegairahan politik atau frekuensi gerakan pemogokannya paling besar. Pada pertemuan‑pertemuan semacam ini para juru bicara Partai Komunis melakukan upaya sekeras‑kerasnya untuk meyakinkan massa bahwa hanya program‑program Komunisme lah yang akan mampu memecahkan permasalahan yang mereka hadapi. Partai harus juga membentuk group‑group kerja khusus untuk melakukan persiapan secara seksama dan rinci bagi penyelenggaraan pertemuan‑pertemuan ini. Jika memang partai belum mampu menyelenggarakan pertemuan‑pertemuannya sendiri, maka harus dipersiapkan sejumlah kawan yang akan berpidato dalam pertemuan di tengah‑tengah pemogokan atau dalam pertemuan‑pertemuan buruh militan lainnya.

Jika dalam suatu pertemuan, tuntutan kita memiliki peluang mendapatkan dukungan dari mayoritas atau dari bagian‑bagian tertentu yang strategis, maka kaum Komunis harus berupaya menguraikan argumentasi dan resolusi dengan sejelas‑jelasnya. Pada saat resolusi tersebut berhasil diloloskan, maka kaum Komunis harus mencoba untuk mendapatkan dan kemudian mengumumkan resolusi‑resolusi yang sama maupun serupa yang, dalam berbagai pertemuan serupa di tempat‑tempat lain maupun pertemuan sebelumnya di tempat yang sama, mendapatkan dukungan yang kuat dari minoritas. Dengan cara inilah kita bisa menyatukan seluruh barisan buruh yang ada dalam pengaruh kita, sehingga pada akhirnya secara keseluruhan mereka akan menerima kepemimpinan kita.

Group‑group kerja yang terlibat dalam persiapan dan penyelenggaraan pertemuan semacam ini harus mendiskusikan bahan‑bahan yang akan dilaporkan ke komite partai. Mereka harus juga menarik pelajaran dari kekeliruan yang telah diperbuatnya serta menyusun rencana bagi perbaikan kerja‑kerja selanjutnya.

Sesuai dengan perkembangan situasi, maka kita dapat menyampaikan program maupun slogan tuntutan kita kepada seluruh buruh. Alat yang kita gunakan di sini adalah poster maupun selebaran‑selebaran yang singkat. Hal‑ ini juga kita lakukan dengan membagi‑bagikan selebaran yang lebih rinci. Kegunaan selebaran jenis ini adalah untuk menjelaskan bahwa program-politik Komunisme relevan dengan apa yang menjadi aspirasi mereka dan dengan situasi yang ada. Pembentukan group‑group secara khusus pun diperlukan untuk melakukan penyebaran poster dengan memperhitungkan ketepatan waktu dan tempat.

Ketika selebaran‑selebaran yang singkat telah didistribusikan di dalam maupun di luar pabrik, dimana biasanya para pemogok  berkerumun ‑pusat‑pusat kota, persimpangan jalan, kantor‑kantor, stasiun dan sebagainya‑, maka jika memungkinkan sejumlah kawan akan disebarkan di tengah‑tengah kerumunan mereka. Tugas kawan‑kawan ini adalah memberikan penjelasan isi selebaran secara singkat namun gamblang sampai massa buruh yang terlibat aksi memahaminya. Sementara itu, pendistribusian selebaran‑selebaran yang lebih rinci hanya dilakukan di dalam pabrik, ruang‑ruang pertemuan, rumah‑rumah buruh dan di tempat‑tempat lain yang memungkinkan buruh untuk membacanya secara lebih cermat dan mendalam.      Kegiatan propaganda di atas harus juga diikuti dengan kaum Komunis dalam seluruh diskusi yang diselenggarakan serikat buruh maupun dalam seluruh pertemuan pabrik. Kawan‑kawan kita harus mengorganisasi pertemuan pertemuan tersebut atau, jika tidak, harus menyelenggarakannya melalui kerja sama dengan berbagai pihak dengan terlebih dahulu mempersiapkan pembicara‑pembicaranya yang handal. Sementara itu, koran partai pun harus menyediakan sejumlah besar kolom berita maupun artikel yang mengulas gerakan buruh secara mendalam. Ulasan‑ulasan tadi harus juga menyatakan keberpihakan partai terhadap gerakan buruh dengan mengemukakan argumentasi yang seksama. Seluruh jajaran organisasional partai harus menyediakan waktunya untuk melakukan segala karya yang akan mendorong maju tujuan gerakan tersebut tanpa ragu‑ragu.

32. Aksi‑aksi protes yang bermunculan menuntut kesiagaan partai untuk selalu memberikan kepemimpinan yang fleksibel dan pengorbanan diri yang besar. Hanya kepemimpinan semacam inilah yang akan mampu mengawal konsistensi perjuangan dan yang mampu menentukan target waktu untuk memperoleh hasil maksimum. Disamping itu partai pun akan mampu menentukan saat yang tepat untuk meningkatkan kampanyenya melalui pengorganisasian mogok kerja massal atau bahkan pemogokan umum sekalipun. Demonstrasi‑ demonstrasi anti‑perang yang terjadi selama perang yang terakhir pun telah mengajarkan bahwa meskipun demonstrasi tersebut gagal mencapai tujuannya, namun sebuah partai perjuangan proletar jangan sampai mengabaikan isu ini. Betapapun kecil dan pekanya isu yang diangkat, ia memiliki arti yang strategis serta semakin menunjukkan relevansinya dengan kepentingan massa.

Demonstrasi‑demonstrasi jalanan haruslah mengandalkan tenaga utamanya pada pabrik‑pabrik besar. Sel‑sel dan fraksi‑ fraksi kita harus melapangkan jalan ini dengan menjalankan propaganda lisan secara sistematik, mendistribusikan selebaran dan menciptakan atmosfir yang menguntungkan bagi penyebaran gagasan‑gagasan ini. Kemudian komite pimpinan harus memanggil wakil‑wakil partai di pabrik‑pabrik, sel‑sel maupun fraks‑fraksi untuk mendiskusikan dan menentukan saat dan tempat yang tepat untuk berdemonstrasi, melakukan rapat umum, memutuskan slogan, mengeluarkan penerbitan‑penerbitan serta memutuskan kapan suatu demonstrasi akan dmulai dan diakhiri. Tenaga inti dari demonstrasi semacam ini harus terdiri dari group‑group pekerja partai yang berpengalaman dan yang memperoleh briefing sebelumnya. Pekerja‑pekerja partai ini harus disebarkan di tengah‑tengah massa dengan menjaga jarak yang teratur, sehingga masing‑masing anggota partai ini akan bisa menjaga kontak satu sama lain yang akan memudahkan mereka untuk menerima instruksi‑instruksi politik penting selama berlangsungnya demonstrasi. Jika kepemimpinan ini sudah siap secara politik dan mampu bertindak fleksibel maka akan ada lebih banyak peluang untuk mengorganisasi demonstrasi berikutnya. Atau kita bisa menggunakan demonstrasi tersebut untuk mulai suatu kampanye massa secara besar‑besaran.

33. Partai‑partai Komunis yang sudah cukup kuat dan memperoleh dukungan massa harus menggunakan kampanye massal ini untuk mengakhiri pengaruh para pengkhianat sosialis di kalangan kelas buruh. Hanya dengan cara demikian kita bisa mempengaruhi mereka untuk mengakui kepemimpinan politik kaum Komunis. Cara-cara pengorganisasian kampanye ini tergantung pada situasi politik yang ada dan tergantung dari keadaan perjuangan kelasnya, yakni: apakah sudah memungkinkan bagi partai untuk menjalankan kepemimpinan proletariatnya segera atau situasi memang sedang dalam keadaan relatif stabil. Komposisi partai pun merupakan salah satu faktor yang menentukan dalam penerapan metode organisasional bagi aksi‑aksi tersebut.

Sebagai contoh, Partai Komunis Bersatu Jerman, yang baru-baru ini telah merubah dirinya menjadi partai massa, menggunakan media yang dinamakan “Surat Terbuka” untuk meraih dukungan dari elemen‑elemen penting proletariat Jerman. Hal ini lebih  dimungkinkan terjadi di Jerman ketimbang apa yang bisa dilakukan dinegeri‑negeri lain. Untuk membelejeti pengkhianatan para pimpinan buruh ditengah‑tengah meningkatnya kemiskinan dan konflik kelas, Partai Komunis harus menuntut partai‑partai massa proletar lainnya –secara terbuka di depan massa proletar‑ untuk menyatakan ke mana mereka akan berpihak. Partai Komunis juga harus menanyakan kepada mereka, apakah dengan organisasinya yang kuat itu mereka siap berjuang bersama dengan Partai Komunis.

Jika Partai Komunis berinisiatif melancarkan sebuah kampanye, ia harus melakukan persiapan organisasional untuk memastikan tanggapan dari massa luas kaum pekerja. Seluruh anggota fraksi yang ada di pabrik maupun serikat‑serikat buruh harus berpartisipasi dalam pertemuan terbuka yang diselenggarakan di sebuah pabrik maupun serikat buruh. Dalam pertemuan‑pertemuan inilah fraksi partai harus memunculkan persoalan sekitar “Surat Terbuka,” dan kemudian menjelaskan bagaimana “surat‑surat” ini telah mengupas tuntutan‑tuntutan fundamental yang relevan sifatnya.

Agar bisa memperoleh dukungan politik dari massa, maka harus didistribusikan selebaran, surat edaran, poster dan semacamnya, di tempat‑tempat dimana sel‑sel dan fraksi sedang bekerja untuk tujuan tersebut. Selama kampanye dilancarkan, setiap hari koran partai kita harus memuat artikel‑artikel (baik secara singkat maupun dengan rinci) yang mengupas berbagai aspek gerakan dan problem-problemnya. Organisasi‑organisasi yang kita miliki harus memasok material‑material yang memadai bagi artikel koran serta memastikan agar para editor terus memuat kemajuan gerakan pada halaman‑halamannya. Demikian juga dengan fraksi‑fraksi partai di parlemen maupun di dewan kota, mereka harus bekerja secara sistematik untuk memajukan perjuangan. Para wakil di parlemen ini harus memandang diri mereka sebagai anggota yang sadar, bagian dari massa yang sedang berjuang, sebagai pembela-pembela massa yang bekerja di kubu musuh kelas, dan bertanggung jawab kepada partai. Mereka harus terus menerus memunculkan persoalan‑persoalan yang telah digariskan partai, serta mendorongnya untuk menjadi resolusi. Resolusi‑resolusi yang dikeluarkan diparlemen ini harus memusatkan aksi‑aksi dengan isu yang sama namun yang selama ini dilakukan secara terpisah oleh berbagai kelompok. Ketika gerakan sudah berkarakter sebagai gerakan buruh, di atas segala‑segalanya, partai harus berupaya keras meningkatkan pengaruhnya dalam serikat‑serikat buruh yang paling berpengaruh dalam arah gerakan.

Untuk mencapai tujuan ini, sel‑sel dan fraksi kita di serikat‑serikat buruh harus melancarkan serangan langsung yang diarahkan kepada pejabat‑pejabat lokal serikat buruh dari partai‑partai Sosialis. Dengan demikian kita dapat melemahkan pengaruh mereka, atau kita akan mendorong mereka melancarkan perjuangan yang terorganisasi berdasarkan program‑program tuntutan kita. Jika di sejumlah tempat kerja terdapat dewan‑dewan pabrik, komite‑komite industri maupun institusi‑institusi yang serupa, maka sel‑sel maupun fraksi‑faksi Komunis harus mempengaruhi, mereka selama sidang‑sidang pleno ‑yang dihadiri banyak orang. Target kita adalah agar sidang pleno mengambil keputusan yang menyokong perjuangan kita. Setelah kita berhasil mempengaruhi organisasi lokal yang ada untuk mendukung gerakan buruh dibawah kepemimpinan kita, maka Partai Komunis harus menyerukan diselenggarakannya konferensi umum, yang dihadiri oleh delegasi-delegasi khusus dari sejumlah pabrik yang telah menjalankan resolusi kita.

VI. TENTANG PENGAMBILAN KEPEMIMPINAN TERHADAP GERAKAN

Kepemimpinan baru yang dikonsolidasikan di bawah pengaruh Komunis dijalankan dengan cara mongkonsentrasikan seluruh kelompok buruh yang aktif dan terorganisasi. Kekuasaan inilah yang akan kita gunakan untak medorong kepemimpinan partai‑partai Sosialis agar bergerak lebih maju lagi atau, jika tidak, kita akan membongkar kedok mereka di hadapan massa. Di wilayah‑wilayah industri, dimana Partai Komunis memiliki organisasi yang kerjanya paling baik dan yang dukungan terhadapnya paling kuat, harus dilancarkan tekanan secara terorganisasi terhadap serikat‑serikat buruh lokal dan dewan-dewan industri setempat. Tekanan ini dilakukan untuk menarik seluruh perjuangan ekonomi dan seluruh gerakan kelompok lain yang sedang berkembang maju, tapi yang masih saling terpencar ini, ke dalam satu perjuangan yang terkoordinasi.

Dari tuntutan‑tuntutan khusus yang ada, gerakan harus merumuskan tuntutan umumnya. Untuk mewujudkan tuntutan‑tuntutan kita harus menggunakan seluruh kekuatan kelompok di wilayah yang bersanqkutan. Di tengah‑tengah gerakan seperti inilah partai Komunis akan mampu membuktikan dirinya sebagai pimpinan oletariat yang selalu siaga dalam berjuang. Dengan demikian, jika birokrasi serikat buruh dan partai Sosialis menentang perjuangan bersama secara terorganisasi ini, maka akan terbongkar watak asli mereka, bukan hanya secara politik, namun juga dari segi praktek organisasionalnya.

34. Jika konflik ekonomi dan politik cenderung berkembang ke arah aksi dan perjuangan massa, dan jika Partai Komunis hendak merebut kepemimpinan terhadap gerakan, maka partai tidak perlu mengajukan tuntutan‑tuntutan baru. Justru, partai harus menyerukan anggota partai‑partai Sosialis dan serikat‑serikat buruh untuk tidak mengendorkan perjuangannya melawan kemiskinan dan penghisapan; meskipun para pimpinan mereka menolak aksi tersebut. Karena hanya dengan berjuanglah maka kekalahan akan bisa dihindari. Berbagai organ partai, khususnya koran hariannya, harus terus menerus menekankan dan menunjukkan bahwa hanya kaum Komunislah yang siap terlibat dalam setiap perjuangan proletar dalam melawan kemiskinan. Dan bahwa pada tahap perjuangan yang semakin genting ini, ia siap membantu perjuangan seluruh rakyat yang tertindas. Setiap hari harus ditekankan bahwa tanpa perjuangan kelas buruh yang demikian, tak mungkin akan diraih kehidupan yang lebih baik. Untuk itu perjuangan tidak boleh dihentikan meskipun organisasi‑organisasi lama mereka menentang dan menghambatnya.

Fraksi‑fraksi Komunis yang ada di serikat‑serikat buruh maupun pabrik-pabrik harus menjelaskan kepada kawan­-kawan buruhnya tentang kesiapsediaan kaum Komunis untuk berjuang dan berkorban. Oleh karenanya jangan sampai mereka mengendorkan daya juang. Sementara itu, tugas yang paling utama adalah  tetap menyatukan dan mengkonsolidasikan seluruh perjuangan serta gerakan yang muncul dimana-mana. Sel‑sel dan fraksi‑fraksi yang telah melibatkan diri dalam perjuangan tadi jangan hanya menjalin hubungan di antara mereka saja, mereka juga harus mengambil kepemimpinan seluruh gerakan yang muncul. Untuk kemudian, melalui jalur komite‑komite lokal dan komite sentral, dikeluarkan instruksi terhadap para kader dan anggota partai untuk segera  menggabungkan diri dengan perjuangan guna memperluas, memperkuat dan menyatukannya. Tugas paling utama Partai Komunis adalah menemukan kepentingan bersama dan menekankan kepada  berbagai elemen yang terlibat dalam perjuangan tentang kesamaan kepentingan ini. Dengan demikian, kaum Komunis akan bisa menyusun program aksi bersama. Begitu perjuangan semakin meningkat dan menyebar luas, maka perlu dibentuk organ bersama guna memimpin perjuangan. Jika stamina perjuangan para birokrat serikat buruh mulai mengendor, maka kaum Komunis harus segera mengambil‑alih tempat mereka, sehingga gerakan akan memperoleh kepemimpinan yang tegas dan menentukan. Jika koordinasi terhadap berbagai aksi tadi berhasil dicapai maka harus diciptakan kepemimpinan bersama. Untuk itu jika memungkinkan kaum Komunis akan menempati posisi‑posisi yang strategis. Jika persiapan sudah dilakukan dengan memadai, maka kepemimmpinan bersama tersebut akan tercipta melalui serikat buruh, fraksi‑fraksi komite pabrik, pertemuan‑pertemuan umum pabrik dan, khususnya, pertemuan‑pertemuan yang diadakan selama pemogokan massal.

Jika gerakan tersebut mulai berkembang menjadi gerakan politik, baik itu disebabkan adanya dinamika di dalam gerakan sendiri atau yang disebabkan oleh reaksi dari pengusaha dan pemerintah, maka semakin mendesak untuk melakukan pemilihan para wakil yang akan duduk dalam soviet‑soviet pekerja. Dalam kasus seperti ini, kaum Komunis harus mulai melancarkan propaganda dan persiapan‑persiapan organisasional. Seluruh organ partai harus menekankan bahwa hanya melalui soviet‑soviet ‑sebagai bentuk organisasi yang terlahir langsung dari proses perjuangan massa‑ serta dengan melancarkan perjuangan secara independen dari birokrasi serikat buruh maupun partai Sosialis, maka dapat dicapai pembebasan sejati kelas buruh.

35. Partai‑partai Komunis yang telah mencapai tingkat perkembangan organisasi tertentu dan, khususnya, yang sudah menjadi partai massa besar, harus selalu siap melancarkan kampanye politik yang meluas. Untuk itu partai harus menopangnya dengan tindakan‑tindakan organisasional. Pengalaman organisasional yang diperoleh selama diadakannya demonstrasi, aksi‑aksi sosial‑ekonomis maupun kampanye‑kampanye yang lain, akan semakin mendekatkan hubungan partai dengan massa. Seluruh kejadian penting dalam kampanye‑kampanye yang baru berjalan harus selalu dibahas dan diperdebatkan dalam konferensi‑konferensi umum. Forum‑forum seperti ini harus dihadiri oleh seluruh kader dan anggota partai serta delegasi‑delegasi buruh dari pabrik menengah maupun pabrik besar. Hanya dengan demikianlah jaringan komunikasi dapat diorganisasi melalui wakil‑wakil pabrik. Hubungan yang erat dan saling percaya antara kader partai dengan delegasi‑delegasi pabrik merupakan jaminan untuk mencegah terjadinya aksi‑aksi masa yang prematur. Di samping itu akan sangat bermanfaat untuk memastikan agar kampanye yang dilancarkan bisa menyebar sesuai dengan perkembangan dan tingkat pengaruh yang dimiliki partai.

Tanpa hubungan yang erat antara organisasi‑organisasi Partai dengan massa proletar yang terlibat dalam aksi-aksi massa besar, tidak akan terbangun sebuah gerakan revolusioner. Kekalahan yang tidak semestinya dari  pemberontakan revolusioner di Italia pada tahun lalu (l920), yang memuncak dalam bentuk penguasaan pabrik‑pabrik, disamping disebabkan oleh pengkhianatan birokrasi serikat buruh dan kebimbangan para pimpinan partai politik, juga karena kurangnya pendidikan politik bagi delegasi‑delegasi pabrik. Para delegasi inilah yang justru selama ini diandalkan guna menjaga hubungan organisasional antara partai dengan pabrik‑pabrik yang bersangkutan. Sebab yang sama juga mengakibatkan kegagalan pemogokan besar‑besaran buruh pertambangan Inggris pada tahun ini (1921), sehingga mereka gagal pula untuk mempengaruhi peristiwa‑peristiwa politik yang terjadi.


[1] Amsterdam Internasional Kuning adalah nama populer dari Federasi Serikat Buruh Internasional (International Federation of Trade Union/IFTU) yang dipimpin oleh sosial‑demokrat. Federasi ini dihidupkan kembali keberadaannya pada Juli 1919 dan bermarkas diAmsterdam, Ed .

[2] Dua biro ini terdiri dari Politbiro (Biro Politik) yang bertanggungjawab menentukan garis politik dan kampanye politik partai, serta Biro Organisasi, yang bertanggung jawab menjalankan kerja administratif dan organisasi partai, Ed .

VII. TENTANG KORAN PARTAI

36. Upaya yang keras harus terus menerus dilakukan guna mengembangkan dan memperbaiki koran partai.

Sebuah koran tidak bisa disebut sebagai organ Komunis jika ia tidak dikontrol oleh partai. Prinsip ini harus diterapkan pada semua terbitan partai, seperti jurnal teoritis, surat kabar, pamflet dan semacamnya. Akan tetapi kontrol ini jangan sampai mempengaruhi watak ilmiah, propagandis atau watak lain dari terbitan Partai harus mencurahkan segenap tenaganya untuk meningkatkan kualitas ketimbang jumlah jenis terbitannya. Tugas utama bagi setiap Partai Komunis adalah menerbitkan koran sentral ,yang bermutu dan, jika memungkinkan, terbit setiap hari.

37. Manajemen sebuah koran Komunis jangan sekali‑kali dijalankan sebagaimana koran borjuis yang dibisniskan atau seperti apa  yang disebut sebagai koran‑koran “Sosialis.” Koran-koran kita harus independen dari lembaga‑lembaga perkreditan kapitalis. Pencantuman reklame untuk mendukung keuangan koran ‑khususnya dimungkinkan bagi partai Komunis legal‑ harus dilakukan dengan cermat, dan jangan sampai membuat koran ini bergantung pada perusahaan‑perusahaan besar yang mencantumkan iklannya. Sebaliknya, koran‑koran kita akan menerapkan sikap tidak kompromistis terhadap segala hal yang menyangkut seluruh pesoalan sosial kaum proletar. Koran‑koran kita jangan sampai melayani nafsu‑nafsu sensasi dan hiburan murahan bagi kepuasan “umum,” serta jangan sekali‑kali menyerah pada kritik para penulis dan pakar jurnalistik borjuis kecil untuk sekedar memperoleh “tempat terhormat” dalam lingkaran mereka.

38. Pertama‑tama, koran Komunis harus meletakkan kepentingan kaum yang terhisap dan buruh yang militan. Ia harus menjadi propagandis dan agitator terbaik bagi revolusi proletar.

Koran kita harus terus menerus mengumpulkan semua penqalaman yang paling bernilai dari para anggota partai serta menyebarkan pengalaman ini sebagai tuntunan untuk memperbaharui dan memperbaiki metode kerja komunis. Semua pengalaman juga harus dibahas dalam pertemuan yang dihadiri oleh para editor dari seluruh negeri, pertukaran pendapat akan dilakukan dengan konsisten sesuai irama dan arahan kerja koran partai. Dengan cara inilah koran sentral dan terbitan‑terbitan partai lainnya akan menjadi organisator aktivitas revolusioner kita yang efektif.

Jika koran‑koran partai, terutama koran sentral partai, gagal dalam mensentralisasikan dan mengorganisasi pekerjaan, maka sangat kecil kemungkinan untuk mencapai sentralisme demokrasi atau untuk menjalankan pembagian kerja dalam Partai Komunis, dengan demikian partai akan gagal menjalankan tugas sejarahnya.

39. Koran Komunis harus selalu berjuang untuk benar‑benar berwatak Komunis, yakni menjadi sebuah organisasi perjuangan proletar, sebuah komunitas kerja kaum pekerja revolusioner, yang menghimpun mulai dari seluruh penulis yang secara reguler menyumbangkan tulisan, editor, penata letak, pencetak, administrator, distributor, penjual dan propagandisnya, hingga kawan-kawan yang mengumpulkan berita‑berita lokal, mendiskusikan, mengedit material dalam selnya masing‑masing dan sebagainya.

Sejumlah tindakan praktis harus dilakukan untuk benar-benar menjadikan koran tersebut sebagai sebuah organisasi perjuangan dan komunitas kerja Komunis yang sejati.

Setiap orang Komunis harus menjalin kontak sedekat-dekatnya dengan jaringan koran partai, dimana dia akan mengabdikan kerja-kerjanya. Inilah senjata harian kaum Komunis yang selalu harus ditempa dan dipertajam agar semakin efektif digunakan. Koran-koran Komunis hanya akan bertahan jika seluruh anggota partai bersiaga memberikan sumbangan kauangan dan pengorbanan material lainnya secara reguler. Para anggota harus memandang bahwa koran ini nantinya yang akan terus memasok dana bagi perbaikan organisasi mereka, hingga ia nantinya akan menjadi organisasi yang kuat. Dan walau sudah  menjadi partai legal, koran ini akan memungkinkan independensi partai dalam hal keuangan.

Kaum Komunis jangan hanya sekedar menjadi pelanggan dan agitator koran yang bersemangat; mereka juga harus menjadi penyumbang tulisan yang berguna. Setiap peristiwa yang terjadi dalam fraksi-fraksi Komunis di pabrik atau di sel, setiap peristiwa sosial atau ekonomi yang penting, mulai dari suatu kecelakaan kerja hingga sebuah pertemuan di pabrik, dari perlakuan buruk terhadap para pemagang hingga laporan keuangan pabrik, harus disampaikan  kepada koran partai secepat‑cepatnya. Fraksi‑fraksi dalam serikat‑serikat buruh harus mengumpulkan semua keputusan dan tindakan penting yang diambil dalam pertemuan umum maupun rapat sekretariat serikat buruh, begitu juga dengan informasi mengenai segala jenis aktivitas musuh, kesemuanya ini dilaporkan ke koran partai. Dari suasana umum yang berlangsung di jalanan hingga suasana sebuah pertemuan, seringkali menyediakan peluang bagi para anggota partai untuk melancarkan kritik sosialnya secara rinci yang nantinya dimuat dalam koran partai kita. Dengan demikian ia akan mendemonstrasikan kepada para pembaca, bahkan yang belum akrab dengan politik sekalipun, betapa kita terus bersentuhan dengan kepentingan keseharian mereka.

Komunikasi yang berasal dari kehidupan rakyat pekerja dan organisasi‑organisasi kaum buruh harus ditangani oleh dewan editorial dengan cermat dan penuh perhatian; ia kemudian akan dimuat sebagai artikel singkat untuk menunjukkan bahwa koran tersebut dekat dengan kehidupan rakyat pekerja. Koran juga digunakan untuk menggambarkan gagasan-gagasan Komunisme. Ini merupakan cara terbaik untuk mengakrabkan prinsip-prinsip Komunisme kepada massa luas kaum pekerja. Jika memungkinkan, dewan editorial menyediakan waktu yang cukup untuk mengadakan diskusi dengan kaum buruh yang mengunjungi kantor editorial. Para editor harus mendengarkan harapan dan keluh kesah mereka dalam menghadapi kerasnya kehidupan, mencatatnya secara seksama dan menjadikan kesemuanya ini sebagai masukan vital bagi koran partai.

Tentu saja, di bawah sistem kapitalisme, tak ada satu pun koran kita yang bisa menjadi komunitas kerja Komunis yang sempurna. Namun, bahkan dalam situasi‑situasi yang paling tidak menguntungkan sekalipun masih memungkinkan untuk mengorganisasi sebuah koran revolusioner yang baik. Hal ini telah terbuktikan oleh koran Pravda yang diterbitkan antara tahun 1912‑1913 oleh kawan‑kawan kita di Rusia. Ia telah membuktikan dirinya sebagai suatu organisasi kaum buruh revolusioner yang sangat aktif dari berbagai pusat strategis gerakan buruh se-Rusia. Kawan‑kawan buruh ini bergabung untuk menjalankan kerja editorial, menerbitkan dan mendistribusikan koran ini, bahkan sebagian besar dari mereka membiayainya dengan uang yang ada di kantong mereka. Koran tersebut memberikan apa yang mereka inginkan dan apa yang gerakan butuhkan pada masanya; ini merupakan pengalaman yang banyak memberikan manfaat kepada mereka dalam kerja dan perjuangannya pada tahap sekarang. Oleh karenanya, koran semacam inilah yang layak disebut oleh anggota partai dan kaum buruh revolusioner lainnya sebagai “koran kami”.

40. Elemen penting bagi sebuah koran Komunis yang militan adalah keterlibatannya secara langsung dalam kampanye yang dilancarkan partai. Ketika aktivitas partai dikonsentrasikan pada kampanye tertentu, maka koran partai bukan saja memuat tema kampanye dalam artikel‑artikel politik utamanya, namun juga memuatnya dalam rubrik‑rubrik lain yang dibutuhkan bagi kampanye tersebut. Para editor harus mendapatkan material berita dari berbagai sumber yang akan digunakan bagi kampanye tersebut. Untuk kemudian mereka merancang isi dan format korannya sehingga material ini bisa disajikan secara efektif.

41. Aktivitas untuk berlangganan koran ini pun harus dilakukan secara sistematik. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memanfaatkan setiap peristiwa dalam gerakan buruh maupun segala situasi yang telah merangsang kesadaran politik dan sosial mereka. Misalnya, jika sebuah pemogokan besar, yang selama ini dibela mati‑matian oleh koran partai kita, sudah berakhir, maka kaum Komunis harus segera mendekati mereka yang terlibat dalam pemogokan untuk mendaftarkan dirinya sebagai pelanggan koran kita. Formulir berlangganan koran harus diedarkan. Yang menjadi sasaran bukan hanya pabrik‑pabrik dan serikat‑serikat buruh yang ada fraksi Komunisnya, namun, jika memungkinkan, formulir tersebut diedarkan ke seluruh rumah buruh yang terlibat dalam pemogokan tersebut.

Setelah berakhirnya kampanye pemilihan yang berhasil membangkitkan kegairahan politik massa pekerja, perlu dibentuk group‑group khusus yang akan mengunjungi setiap rumah di perkmpungan buruh.

Pada saat terjadinya krisis politik dan ekonomi yang mempengaruhi massa luas kaum pekerja, seperti naiknya harga‑harga, meningkatnya angka pengangguran dan sebagainya, maka kaum Komunis harus melancarkan propaganda yang mengangkat isu‑isu tadi. Segala upaya harus dilakukan untuk menggalang kaum buruh yang terorganisasi dari berbagai serikat buruh maupun industri. Untuk selanjutnya fraksi‑fraksi maupun sel Komunis akan membentuk group‑group khusus yang akan menjalankan propaganda koran dari rumah ke rumah. Pengalaman selama ini telah menunjukkan bahwa saat yang paling baik untuk mendapatkan pelanggan koran adalah pada minggu terakhir setiap bulannya. Setiap group lokal yang melewatkan saat‑saat seperti ini tanpa melakukan propaganda koran sama saja dengan melalaikan kewaiiban memperluas gerakan Komunis.

Group propaganda koran jangan sampai melewatkan setiap pertemuan umum atau demonstrasi tanpa menjajakan koran dan mengedarkan formulir berlangganan. Aktivitas ini dilakukan baik pada saat berlangsung maupun berakhirnya acara tersebut. Tugas yang sama juga harus dijalankan baik oleh semua fraksi serikat buruh pada setiap pertemuan serikat maupun oleh semua group dan fraksi yang bekerja pada setiap pertemuan di pabrik‑pabrik.

42. Setiap anggota partai harus terus menerus membela koran mereka dalam menghadapi musuh‑musuhnya dan juga menjalankan kampanye menentang pers kapitalis. Dia harus membelejeti dan mengkritik pers kapitalis yang menyelewengkan dan membungkam informasi.

Koran‑koran sosial‑demokrat dan koran independen juga harus dihadapi dengan keras tanpa harus terjebak dalam polemik debat kusir. Banyak contoh kejadian sehari‑hari yang bisa kita pergunakan untuk menunjukkan betapa koran‑koran tadi menutup‑nutupi konflik kelas yang nyata. Fraksi‑fraksi kita di serikat‑serikat buruh dan organisasi‑organisasi lainnya harus berusaha sekeras mungkin membebaskan para anggota serikat buruh dan organisasi pekerja lainnya dari pengaruh informasi koran sosial‑demokrat yang menyesatkan. Kampanye kita untuk memperoleh pelanggan koran, baik itu melalui agitasi dari rumah ke rumah maupun agitasi di pabrik, harus juga diarahkan untuk menyerang semua koran pengkhianat sosialisme.

VIII. TENTANG STRUKTUR UMUM ORGANISASI PARTAI

43. Perluasan dan konsolidasi organisasi jangan dilakukan berdasar kriteria pembagian geografis saja, namun ia harus lebih disesuaikan dengan pola ekonomi politik dan jaringan komunikasi/transportasi suatu wilayah. Tekanan utama pekerjaan partai harus diletakkan pada kota-kota utama dan pusat-pusat industri berskala besar.

Dalam membangun sebuah partai baru, sering muncul kecenderungan untuk segera melebarkan jaringan kerja partai ke seluruh wilayah negeri. Hal ini sering dilakukan tanpa memperhatikan kelangkaan dan keterbatasan kader partai, dimana mereka pun seringkali masih berpencaran di mana‑mana. Sebagai akibatnya, partai tidak mampu merecruit anggota‑anggota baru. Meskipun partai berhasil membangun sistem jaringan yang kuat dalam jangka beberapa tahun saja, namun ia gagal dalam membangun basis yang kuat di setiap kota industri terpenting.

44. Sentralisasi maksimum aktivitas partai tidak akan bisa dicapai hanya dengan membangun sistem kepemimpinan skematik, dengan mengumpulkan sejumlah besar group partai yang tersusun dari bawah ke atas. Yang harus dilakukan di kota‑kota besar, sebagai pusat kehidupan ekonomi, politik dan jaringan komunikasi/tansportasi, adalah meluaskan jaringan ke seluruh wilayah ekonomi politik yang mengelilingi dan atau berada di sebuah kota. Komite partai harus berkedudukan di kota industri terbesar pada suatu wilayah/lokal. Dari sinilah ia harus mengarahkan seluruh pekerjaan organisasi dan politik di sublokal‑sublokalnya. Disamping itu partai harus menjaga kontak yang erat dengan anggotanya dan massa kelas buruh yang bertempat tinggal di sub lokal yang bersangkutan.

Para organisator lokal, yang dipilih dalam konferensi lokal dan disepakati oleh Komite Sentral Partai, harus memainkan peranan yang permanen dalam kehidupan partai di lokalnya. Komite lokal partai, sebagai pimpinan politik tertinggi di lokal yang bersangkutan, harus terus menerus diperkuat dengan anggota-anggota kelas buruh, dengan demikian akan memungkinkan komite untuk menjaga kontaknya dengan massa. Begitu organisasi semakin berkembang maka komite pimpinan lokal partai harus benar‑benar menjadi pimpinan politik seluruh aktivitas politik di lokalnya. Sehingga komite pimpinan lokal partai, bersama‑sama dengan Komite Sentral, akan menjalankan kepemimpinan politik yang sebenarnya terhadap organisasi partai secara keseluruhan.

Garis yang membatasi ruang lingkup lokal partai tidak ditentukan menurut garis batas wilayah geografisnya. Faktor yang paling menentukan adalah bahwa komite lokal partai harus selalu dalam posisi mengarahkan seluruh aktivitas sub‑komite lokalnya dengan mekanisme kerja yang seragam. Dan, jika inipun tidak  mungkin dilaksanakan, maka komite lokal harus segera dipecah untuk membuat satu atau dua komite lokal yang baru.

Di kota‑kota besar, jika memang diperlukan, perlu dibentuk berbagai organ yang menghubungkan berbagai komite lokal ini dengan Komite Sentral. Dalam situasi‑situasi tertentu, jika diperlukan, organ‑organ penghubung ini diberi kepemimpinan (sebagai contoh adalah organisasi di kota besar yang memiliki banyak anggota). Akan tetapi hal ini jangan sampai mendorong teradinya desentralisasi.

45. Partai secara keseluruhan berada di bawah kepemimpinan Komunis Internasional. Arahan dan resolusi‑resolusi yang dikeluarkan oleh pimpinan sentral Komunis Internasional akan disampaikan kepada (l) Komite Sentral partai, atau (2) melalui Komite Sentral kemudian disampaikan kepada sejumlah komite khusus, atau (3) kepada seluruh organisasi partai.

Arahan maupun resolusi‑resolusi tadi akan mengikat partai dan juga, tentu saja, seluruh anggota partai.

46. Komite Sentral dipilih oleh Kongres partai dan bertanggungjawab kepadanya. Komite Sentral memilih sejumlah orang untuk menduduki dua badan yang lebih kecil, yang terdiri dari dua sub‑komite (biro) untuk menjalankan aktivitas politiknya[2]. Kedua biro ini mempertanggungjawabkan pekerjaan politiknya kepada Komite Sentral. Jika ada keputusan penting yang mendesak untuk diambil maka kedua biro ini mengatur pertemuan bersama secara reguler dengan Komite Sentral partai. Untuk mengkaji situasi politik secara umum dan memperoleh gambaran yang jelas tentang keadaan partai, maka perlu juga dihadirkan para wakil dari berbagai lokal di Komite Sentral untuk mengambil keputusan yang menyangkut kehidupan seluruh partai. Untuk alasan ini juga, perbedean‑perbedaan pendapat dalam melihat persoalan taktik yang serius jangan sampai ditekan oleh Komite Sentral. Justru sebaliknya, pendapat‑pendapat ini harus terwakili dalam Komite Sentral. Namun Politbiro hanya memutuskan garis politik yang jelas berdasarkan otoritas yang diberikan oleh mayoritas anggota Komite Sentral. Berdasarkan hal ini maka Komite Sentral partai, khususnya dalam kasus partai legal, mampu meletakkan dasar yang knat untuk menegakkan disiplin di kalangan anggota partai. Dengan demikian ia bisa mencegah kebimbangan maupun penyelewengan dalam gerak politiknya. Seluruh ketidaksepakatan dalam partai bisa ditanggulangi hingga suatu saat bisa dibicarakan dalam forum kongres partai.

47. Setiap komite pimpinan partai harus mengorganisasi pembagian kerja secara efektif. Dengan demikian akan memungkinkan partai untuk mengarahkan pekerjaan sebaik mungkin. Oleh karenanya, perlu untuk membentuk badan‑badan khusus yang menangani berbagai lapangan pekerjaan (propaganda, distribusi koran, kampanye serikat buruh, pekerjaan di kalangan kaum perempuan, informasi, kurir dan semacamnya). Setiap badan khusus ini tunduk kepada Komite Sentral maupun komite lokal partainya.

Komite lokal partai, dan juga Komite Sentral, mengontrol aktivitas dan komposisi seluruh komite yang berada di bawahnya. Untuk ini komite harus selalu melakukan pertukaran pekerjaan bagi anggota‑anggota partai yang menempati posisi‑posisi tertentu (para editor, organisator, propagandis dan sebagainya), melakukan pemindahan antar kota, sejauh hal ini bisa memperlancar pekerjaan partai. Para editor maupun propagandis juga harus terlibat dalam salah satu group kerja tertentu.

48. Komite Sentral partai dan Komunis Internasional harus selalu memperoleh laporan yang lengkap dari seluruh organisasi Komunis, group‑group yang ada maupun dari individu‑individu anggota partai. Para wakil dan delegasi Komite Sentral berhak menghadiri semua pertemuan dan sidang‑sidang yang diselenggarakan komite‑komite yang ada dibawahnya maupun diskusi group‑group. Dalam kesempatan‑kesempatan seperti ini, para delegasi memiliki hak veto.

Komite Sentral harus selalu memiliki delegasi (komisaris) yang akan membawa instruksi maupun informasi dari Komite Sentral kepada berbagai komite lokal maupun sejumlah group yang berkaitan dengan persoalan politik dan organisasional. Hal ini disampaikan baik melalui hubungan surat-menyurat maupun komunikasi lisan.

Komite Sentral maupun komite‑komite lokal harus memiliki komisi‑komisi revisi yang terdiri dari kawan‑kawan yang terlatih dan berpengalaman. Tugas komisi semacam ini adalah mengontrol dana dan keuangan (auditing) partai.

Masing‑masing organisasi, cabang partai maupun individu-individu anggota mempunyai hak untuk sewaktu‑waktu menyampaikan saran-saran, komentar atau keluhan‑keluhannya langsung ke Komite Sentral atau ke Komite Eksekutif Komunis Internasional.

49. Semua arahan dan keputusan organ pimpinan partai bersifat mengikat organisasi‑organisasi maupun individu‑individu di bawahnya.

Kewajiban dan tanggung jawab organ pimpinan partai untuk menangani pelanggaran maupun pengabaian tugas oleh kawan-kawan pimpinan tidak bisa sepenuhnya dilakukan dengan cara‑cara formal. Sebagai contoh, dalam sebuah partai illegal, pertanggungjawaban mereka tidak bersifat formal. Yang harus dilakukan oleh organ pimpinan adalah mengumpulkan berbagai pendapat dari anggota‑anggota partai lainnya, menerima, mencatat, mendiskusikan informasi yang akurat. Baru setelah proses ini dilewati maka segera diambil tindakan.

50. Dalam seluruh penampilan dan aktivitas politiknya ke luar partai, para anggota Partai wajib selalu bertindak sebagai anggota yanq berdisiplin dari organisasi militant. Jika muncul ketidaksepakatan mengenai sejumlah metode aksi, maka, sejauh mungkin ia didiskusikan terlebih dahulu dalam forum organisasi partai sebelum diambil keputusan, setelah itu tindakan/aksi dilakukan hanya berdasarkan keputusan yang telah diambil. Untuk memastikan agar semua keputusan partai dijalankan sepenuhnya oleh organisasi dan anggota partai, maka sebanyak mungkin anggota partai harus dilibatkan dalam mendiskusikan dan mengambil keputusan. Seluruh level jajaran partai harus menentukan apakah ada persoalan tertentu yang harus didiskusikan secara terbuka oleh masing‑masing individu anggota (di koran maupun pamflet, misalnya), dalam bentuk apa dan sejauh mana hal ini dilakukan. Jika ada anggota partai yanq memandanq keputusan organisasi maupun organ pimpinan partai yang tidak tepat, maka kawan anggota yang bersangkutan  jangan sampai membuat pernyataan atau tindakan di depan umum yang dapat melemahkan atau menghancurkan kesatuan gerak partai di garis depan. Karenanya tindakan demikian merupakan bentuk pelanggaran disiplin yang paling besar dan kesalahan yang paling berat, yang dilakukan dalam perjuangan revolusioner.

Adalah kewajiban untuk membela Partai Komunis dan Komunis Internasional dalam menghadapi musuh‑musuh Komunisme. Siapa saja yang melalaikan kewajiban ini adalah seorang Komunis yang buruk, dan siapa‑saja yang dengan sengaja menyerang partai maupun Komunis Internasional di depan umum harus dianggap sebagai musuh partai.

51. Anggaran dasar partai harus disusun sedemikian rupa sehingga ia tidak menjadi penghalang perkembangan dan pertumbuhan partai.

Keputusan‑keputusan yang diambil oleh Komunis Internasional harus dijalankan oleh seluruh partai yang bergabung dengannya tanpa ditunda‑tunda, untuk itu semua perubahan yang diperlukan dalam anggaran dasar partai dapat dilakukan menyusul kemudian.

IX. TENTANG PENGGABUNGAN ANTARA KERJA LEGAL DAN ILLEGAL

52. Pekerjaan sehari‑hari Partai Komunis berubah sesuai dengan perkembangan tahap proses revolusioner. Pada dasarnya, baik partai legal ataupun ilegal harus mengarahkan pada tipe yang sama dari struktur partai.

Partai harus diorganisasi sedemikian rupa sehingga ia selalu berada dalam posisi mampu menyesuaikan diri secara cepat dalam setiap perubahan kondisi perjuangannya.

Partai Komunis harus berkembang menjadi organisasi perjuangan, yang pada satu sisi, mampu menghindari perjuangan terbuka melawan musuh yang lebih unggul kekuatannya, dan disisi lain mampu mengambil keuntungan dari kelemahan musuh serta menyerangnya dari sudut yang paling tidak diduga olehnya. Adalah suatu kesalahan besar bagi partai untuk mempertaruhkan segala‑galanya pada pemberontakan, pertempuran‑pertempuran jalanan maupun aksi massa yang spontan dalam menanggapi penindasan ekstrim dari musuh. Kaum Komunis harus memersiapkan dirinya menyongsong revolusi dalam segala situasi dan harus selalu siaga tempur, karena memang sangat sulit untuk mengetahui sebelumnya kapan suatu gerakan akan tumbuh dan kapan ia akan melewati masa‑masa surut. Dan walaupun kita bisa melakukannya, namun kecepatan, desakan dan arah perubahannya tidak memungkinkan kita melakukan reorganisasi secepat‑cepatnya.

53. Partai-partai Komunis legal di negeri-negeri kapitalis biasanya tidak memahami pentingnya pekerjaan untuk menyiapkan partai dalam menghadapi penggulingan revolusioner, perjuangan bersenjata dan perjuangan illegal.

Partai-partai semacam ini tidak dipersiapkan untuk melakukan pekerjaan illegal, mereka menganggap bahwa mereka bisa bekerja secara legal dalam periode waktu yang panjang. Oleh karena itu, struktur yang mereka susun hanya untuk memenuhi kebutuhan perjuangan legal sehari-hari.

Di lain pihak, partai-partai illegal, sering tidak trampil untuk merebut peluang aktivitas politik legal. Padahal aktivitas legal inilah yang memungkinkan partai untuk menjalin kontak yang sesungguhnya dengan massa revolusioner. Organisasi-organisasi semacam ini akan cenderung menjadi sekelompok konspirator yang menghabiskan waktunya untuk pekerjaan sia-sia.

Kedua kecenderungan di atas adalah salah dan harus diluruskan. Setiap Partai Komunis legal harus diorganisasi sedemikian rupa sehingga, jika ia harus bekerja di bawah tanah, ia akan siap untuk melanjutkan perjuangannya. Dan, di atas segala-galanya, ia pun harus selalu bersiaga untuk menghadapi pecahnya revolusi. Sebaliknya setiap Partai Komunis illegal harus merebut peluang politik yang diciptakan oleh perkembangan gerakan buruh legal, sehingga, dengan bekerja keras, ia akan sanggup mengorganisasi dan memberikan kepemimpinan yang sesungguhnya terhadap massa revolusioner. Arahan politik bagi kerja legal maupun illegal tetap berada di tangan satu sentral partai.

54. Di kalangan partai legal maupun illegal sering muncul pandangan bahwa pekerjaan organisasional, Komunis bawah tanah (illegal) adalah bertujuan membentuk dan menjaga organisasi militer tersendiri, yang terpisah dari aspek-aspek pekerjaan dan organisasi partai lainnya. Ini adalah pandangan yang salah. Selama periode pra-revolusi, pembentukan organisasi militer kita harus dituntaskan melalui kerja Partai Komunis secara keseluruhan. Partai sendiri secara keseluruhan, harus menjadi organisasi ala militer yang berjuang demi revolusi.

Jika pembangunan organisasi-organisasi militer revolusioner ini dilakukan secara terpisah dan prematur, mereka akan cenderung mengalami demoralisasi dan kehancuran karena tidak ada arahan kerja langsung dari partai.

55. Tentu saja merupakan hal yang penting bagi partai illegal untuk melindungi para anggota dan organisasinya selama kampanye politik tertentu. Perlindungan yang dimaksud adalah untuk mencegah penyusupan agen-agen polisi rahasia, yakni dengan cara penyimpanan daftar anggota secara rahasia, penarikan iuran dan distribusi bahan bacaan secara, hati-hati dan sebagainya. Partai illegal tidak bisa begitu saja menggunakan bentuk-bentuk organisasi yang terbuka, seperti yang diterapkan dalam partai-parta1 legal, untuk menjalankan kerja konspirasinya. Akan tetapi, melalui praktek ia dapat mempelajari penggunaan metode kerja terbuka ini.

Setiap tindakan harus dilakukan untuk mencegah bergabungnya orang-orang yang tak terpercaya ke dalam partai. Penggunaan metode-metode ini tergantung dari tingkat legalitas maupun illegalitas partai. Salah satu metode yang banyak memberikan hasil secara memuaskan adalah sistem pencalonan. Hal ini telah terbukti di banyak tempat dan bisa diterapkan di bawah sejumlah kondisi tertentu. Sistem pencalonan ini dilakukan sesuai rekomendasi yang diberikan oleh satu atau dua kawan anggota partai. Sementara itu, keanggotaan penuh hanya akan diberikan jika calon yang bersangkutan telah berhasil menjalankan tugas partai yang diberikan kepadanya.

Kaum borjuasi secara tak terelakkan akan berusaha menyusupkan mata-mata maupun agen‑agen provokatornya ke dalam organisasi illegal. Elemen-elemen seperti ini harus dihadapi dengan penuh kesabaran dan kecermatan.

Metode untuk memerangi antek mata-mata borjuasi tadi adalah dengan menggabungkan pekerjaan illegal dan legal mereka secara maksimum. Ujian yang paling baik untuk memilih siapa-siapa saja yang bisa diandalkan, berani, sungguh-sungguh berkesadaran revolusioner, enerjik, berketrampilan dan dapat dipercaya dalam kerja-kerja illegal adalah dengan cara menempatkan orang-orang tersebut dalam pekerjaan revolusioner legal, dalam jangka yang relatif panjang.

Partai massa legal pun harus sepenuhnya disiapkan untuk menghadapi situasi yang tak terduga. Mereka harus mempersenjatai dan menyiapkan diri bagi pekerjaan-pekerjaan illegal (sebagai contoh, ia harus belajar menyimpan daftar anggotanya, menghancurkan dokumentasi surat menyurat, menyimpan dokumen di tempat‑tempat rahasia, belajar berkonspirasi dan sebagainya).

56. Oleh karena itu, seluruh pekerjaan partai harus dilakukan sedemikian rupa sehingga ia mampu bersiaga dalam situasi pra-revolusioner, yakni meletakkan dasar-dasar yang kuat dan mengkonsolidasikannya demi kepentingan revolusi. Adalah sangat penting bagi pimpinan Partai Komunis, sebagai pimpinan seluruh aktivitas organisasi, harus dibimbing dengan persyaratan-persyaratan revolusioner, sehingga ia akan jelas menentukan langkah apa yang harus diambilnya. Ini bukanlah tugas yang mudah, namun bukan alasan bagi kepemimpinan Komunis untuk mengabaikannya.

Bahkan sebuah partai yang terorganisasi dengan baik pun akan dihadapkan pada situasi yang sulit dan rumit, jika dituntut melakukan perubahan fungsi secara besar-besaran. Hal ini utamanya terjadi selama periode peningkatan situasi revolusioner. Partai kita akan dituntut memobilisir seluruh kskuatannya dalam jangka beberapa hari saja untuk menghadapi perjuangan revolusioner. Dan seringkali dalam waktu yang singkat partai tidak hanya dituntut untuk mengerahkan kekuatannya sendiri namun ia harus juga mengerahkan organisasi-organisasi lain yang bersimpati kepada partai maupun massa revolusioner lainnya yang belum terorganisasi. Ini belum termasuk soal pembentukan Tentara Merah. Akan tetapi, pada akhirnya kemenangan harus kita raih tanpa bantuan tentara yang  terorganisasi; kemenangan harus dimenangkan oleh massa sendiri di bawah kepemimpinan Partai Komunis. Karena sebab inilah, betapa pun heroiknya pekerjaan yang dilakukan, ia tidak akan berhasil meraih kemenangan jika partai tidak disiapkan dan diorganisasi dengan baik dalam menghadapi situasi seperti ini.

57. Organ kepemimpinan sentral revolusi seringkali terbukti tidak mampu menjalankan tugas-tugasnya dalam menghadapi situasi revolusioner. Sejauh menyangkut pekerjaan‑pekerjaan di basis massa, kaum proletar umumnya mampu melakukan pekerjaan revolusionernya dengan baik. Namun kekacauan justru sering bersumber di markas besar komite pemberontakan revolusioner. Kadang-kadang tidak ada pembagian kerja secara memadai. Jaringan komunikasi seringkali diorganisasi dengan buruk, dimana ia lebih banyak membawa beban ketimbang menjadi asset dan sumber informasi yang handal. Fasilitas transportasi, kantor pos rahasia, markas-markas rahasia dan mesin cetak selebaran seringkali tidak dalam keadaan baik. Di lain pihak, para agen provokator juga menggunakan kesempatan ini untuk melakukan aksi-aksi provokasinya.

Kelemahan-kelemahan seperti ini tidak bisa dihindari jika partai tidak mengorganisasi grup khusus untuk menjalankan pekerjaan ini. Intelejen militer membutuhkan training khusus dan pengetahuan praktis. Untuk itu, kegiatan kontra-intelejen pun membutuhkan hal yang sama dalam menghadapi agen‑agen polisi rahasia.

Sebuah sistem komunikasi rahasia hanya akan berfungsi secara efesien dan handal jika ia telah dioperasikan dalam jangka yang relatif panjang. Untuk menangani aktivitas revolusioner yang khusus ini, setiap Partai Komunis perlu melakukan persiapan, sekecil apa pun itu.

Dalam sejumlah kasus, sistem ini bisa dikerjakan dengan cara‑cara legal, yakni dengan memanfaatkan aparatus-aparatus tertentu, sebagai contoh: aparatus bawah tanah yang mengorganisas1 jasa pelayanan pos dan informasi, transportasi, akomodasi dan semacamnya, bisa kita bangun melalui kerja pendistribusian selebaran-selebaran legal atau melalui hubungan surat menyurat di surat kabar legal.

58. Organisator Komunis harus memperlakukan setiap anggota partai dan pekerja revolusionernya sebagai prajurit militan masa depan yang akan menghadapi pecahnya revolusi. Oleh karenanya, organisator harus menempatkan kaum buruh dalam seksi partai serta memberinya tugas yang akan melatih mereka dalam peranannya di perjuangan dan posisinya di masa depan. Tugas yang diberikan haruslah berdaya guna, yang benar-benar dibutuhkan organisasi, dan bukan sekedar menjadi ajang penempaan yang tidak dimengerti anggota. Yang harus dicamkan adalah bahwa, bagi setiap Partai Komunis, ini merupakan cara persiapannya yang terbaik untuk menghadapi tugas-tugas besar yang menghadang mereka dalam perjuangan finalnya.

Iklan
 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s