gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Narasi Draft Model Teluk Sepang Juli 18, 2010

Filed under: Loker Tulisan Terbaru — gogo @ 12:17 pm

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Propinsi Bengkulu, merupakan salah satu propinsi di Indonesia, yang sebagian wilayahnya berada di daerah pesisir dan laut, dan secara Geografis Propinsi Bengkulu Terletak pada 101001’-103046’ Bujur Timur serta 2016’ dan 5031’ Lintang Selatan yang terdiri dari 8 kabupaten dan 1 kota untuk daerah kabupaten dan kota yang mempunyai wilayah pesisir dan laut ada 5 kabupaten dan 1 kota dimana masing-masing wilayah tersebut adalah:

  1. Kabupaten Kaur
  2. Kabupaten Bengkulu Selatan
  3. Kabupaten Seluma
  4. Kabupaten Bengkulu Utara
  5. Kabupaten Muko-muko
  6. Kota Bengkulu, Dengan panjang garis pantai 708 km.

Propinsi Bengkulu memiliki luas perairan laut melebihi dua pertiga dari luas daratan yang ada. Propinsi Bengkulu juga memiliki 3 pulau-pulau kecil, yaitu Pulau Enggano, Pulau Tikus, dan Pulau Mega. Propinsi Bengkulu juga berbatasan langsung pantai barat (Samudera Hindia) dengan karakteristik ombak yang besar serta wilayah pantai yang landai membuat wilayah ini rentan terhadap bencana abrasi. Disepanjang kawasan pantai timur di dominasi oleh tamanan pantai seperti mangrove dan cemara laut (casuarina sp). Selain bernilai estetika dalam bentuk wisata pantai, juga berfungsi sebagai media pertahanan pulau sumetara wilayah Bengkulu dari hantaman ombak yang besar. Gelombang dan arus Samudera Hindia sangat mempengaruhi kondisi pantai Bengkulu sehingga beberapa daerah di pesisirnya terkena abrasi dan intrusi air laut.

Pantai Teluk Sepang adalah bagian dari kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) pantai panjang yang berada di pesisir Pantai Barat Sumatera, berfungsi sebagai Taman Wisata Alam sekaligus pelindung dan penyangga daratan dari hantaman ombak samudera Hindia yang terkenal besar dan angin yang kencang. Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang ditetapkan melalui SK Menteri Kehutanan No. 383/KPTS-II/1985 dan SK Menhutbun No. 420/KPTS-II/1999, tentang penetapan kawasan hutan di Propinsi Bengkulu termasuk dalam Hutan Wisata (HW) register 91 dengan luasan 967,2 ha serta keputusan Gubernur No.13 tahun 1991.Serta berdasarkan SK.keputusan bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perhubungan No.20 Tahun 1994 dan No. KM.15 Tahun 1994 Tentang batas-batas daerah lingkungan kerja dan daerah lingkungan kepentingan Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu.

1.2. Tujuan Pengelolaan

1.2.1. Tujuan Pengelolaan Umum

Rencana umum Pengelolaan harus mendukung penegakan hakikat hukum-hukum, peraturan-peraturan dan proses-proses administrasi yang berlaku. Adapun tujuan umum dari rencana umum pengelolaan ini adalah

  • Adanya rumusan pengelolaan pantai Tanjung Ketaping eks penambangan pasir Kelurahan Teluk Sepang dengan melibatkan seluruh komponen.

1.2.2. Tujuan Pengelolaan Khusus

  • Membangun kerjasama kemitraan antara stakeholder di Propinsi Bengkulu.
  • Mendorong adanya  aturan pengelolaan dalam pemanfaatan sumberdaya diwilayah eks penambangan pasir secara terpadu  antar stakeholder.
  • Mendorong Adanya kebijakan dan prosedur untuk pelaksanaan arahan pemanfaatan wilayah pesisir pantai barat.
  • Merumuskan pembagian peran antara stakeholder dalam proses pengelolaan sumber-sumber kehidupan di pesisir pantai barat.

1.3. Sasaran Pengelolaan

1.3.1. Sasaran umum

  • Penetapan zonasi (konservasi, pemanfaatan wilayah) dan tata ruang wilayah pesisir Kelurahan Teluk Sepang.
  • Optimalisasi pemanfaatan, pengaturan dan pengawasan sumberdaya di wilayah  pesisir Kelurahan Teluk Sepang.
  • Rehabilitasi kerusakan dan pengkajian ekosistem wilayah pesisir Kelurahan Teluk Sepang dalam penyelamatan  sumber-sumber kehidupan.

1.3.2. Sasaran Khusus

  • Terjaga dan pulihnya ekosistem diwilayah pesisir Kelurahan Teluk Sepang.
  • Menurunya tingkat abrasi dan sedimentasi di wilayah pesisir Kelurahan Teluk Sepang .
  • Meningkatnya kualitas dan kuantitas potensi sumberdaya di wilayah pesisir  Kelurahan Teluk Sepang.
  • Pengelolaaan sumber daya alam pesisir secara optimal, efisien, dan berkelanjutan.

1.4. Out Put

  • Masing-masing pemangku kepentingan  dapat merumuskan agenda pengelolaan dan peran antar komponen.
  • Adanya SK Walikota tentang model tentang tata aturan pengelolaan pantai eks penambangan pasir.
  • Adanya strategi dan teknis pengelolaan dalam bentuk prosedur baku yang akan menjadi petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis pengelolaan wilayah eks penambangan pasir.
  • Masing-masing komponen mempunyai peran, tugas dan tanggung jawab dalam penyelamatan wilayah eks penambangan pasir.

1.5. Out Came

  • Meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir secara optimal,efisien dan berkelanjutan.
  • Mewujudkan lingkungan diwilayah pesisir yang lestari dan berkelanjutan.
  • Terjaminnya keselamatan dermaga Pulau Baai sebagai sarana transportasi laut propinsi Bengkulu.

1.6. Aktivitas

  • Menggali informasi dari seluruh pemangku kepentingan dalam menyusun model pengelolaan wilayah pesisir kel.Teluk sepang.
  • Membentuk  TIM kajian untuk merumuskan model pengelolaan wilayah pesisir Kel.Teluk sepang.
  • Konsultasi Publik model pengelolaan wilayah pesisir Kel.Teluk Sepang.
  • WORKSHOP pengelolaan wilayah pesisir Kel.Teluk Sepang dalam rangka legitimasi draft model yang sudah disusun.

II. CAKUPAN GEOGRAFIS WILAYAH PERENCANAAN

2.1. GAMBARAN UMUM

A. Sejarah Kelurahan Teluk Sepang

Dari sejarahnya, Kelurahan Teluk Sepang adalah daerah baru yang dibuka pada tahun 1989 untuk memindahkan kelompok masyarakat korban bencana alam gelombang pasang, berjumlah 420 kepala keluarga dari empat kelurahan yaitu, Kelurahan Berkas, Kelurahan Sumur Meleleh, Kelurahan Malabero dan Kelurahan Pasar Pantai Kecamatan Teluk Segara kota Bengkulu melalui program transmigrasi sosial, dan ditetapkan melalui SK Walikota Bengkulu tanggal 20 juli 1999 No.465/650/B  sebagai kawasa rawan bencana.

B. Sejarah masuknya masyarakat ke daerah teluk sepang.

1.  Orang Bugis.

Pada tahun 1970-an Bupati Bengkulu Selatan membawa orang Bugis ke daerah Bintang untuk bermukim, yang mana mata pencaharian mereka hanya berkebun/ladang dan bersawah pada waktu itu, dan yang berprofesi sebagai nelayan juga ada. Dari daerah Bintang mereka memperluas daerah kebun mereka hingga sampai ke daerah Teluk Sepang.

2.Orang Padang.

Masyarakat Padang ini pada mulanya mereka bermukim di daerah Pondok Besi, Malabero, dan Pasar Pantai yang mana pada waktu mereka tinggal di daerah tersebut terjadi abrasi pantai yang sangat mengancam pemukiman penduduk. Sehingga mereka pada Tahun 1990 sesuai dengan program yang dicanangkan oleh Pemerintah mereka mengikuti program Transmingrasi sosial yang berlokasi didaerah Teluk Sepang. Mereka mendapatkan berupa fasilitas tempat tinggal berupa rumah, balai social, SD, masjid, yang sampai pada masa kini masih ada.

3. Orang Bengkulu Selatan.

Masyarakat Bengkulu Selatan yang tinggal didaerah Teluk Sepang merupakan masyarakat pendatang yang memperoleh rumah dengan cara membeli atau membeli lahan pertanian dari masyarakat setempat.

4. Orang Jawa.

Mereka ini merupakan masyarakat pendatang yang mana mereka tinggal didaerah Teluk Sepang tidak jauh bedanya dengan masyarakat Bengkulu Selatan, yaitu dengan cara membeli rumah sebagai tempat tinggal dan lahan pertanian sebagai mata pencaharian mereka. Dan ada juga masyarakat Jawa yang sekarang menjadi nelayan guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

C. Letak dan Aksesibilitas

Kelurahan Teluk Sepang merupakan salah satu kelurahan yang secara administratif termasuk ke dalam wilayah kecamatan Kampung Melayu. Kelurahan ini berjarak 24 km dari pusat kota. Kelurahan ini terdapat beberapa sarana yang dapat menunjang aktivitas kegiatan masyarakat Teluk Sepang diantaranya berupa satu Balai , sarana ibadah Masjid dan Mushola lima unit, sarana kesehatan dua unit Puskesmas pembantu, dan sarana pendidikan berupa dua unit bangunan Sekolah Dasar.

Untuk sarana penerangan saat ini mayoritas masyarakat  masih menggunakan alat penerangan dengan menggunakan energi listrik tenaga Disel dan sebagian kecil masyarakat juga masih menggunakan penerangan memakai bahan bakar minyak tanah (lampu teplok dan petromaks). Selanjutnya untuk sarana informasi masyarakat memanfaatkan radio transistor yang mereka miliki serta memanfaatkan beberapa layanan televisi yang sudah dimiliki oleh beberapa keluarga lainnya.

D. Sketsa Kelurahan Teluk Sepang

Kelurahan Teluk Sepang memiliki luasan wilayah yang

terdiri dari :

1.  Daerah Pemukiman

Luas daerah pemukiman penduduk lebih kurang 10 hektar. Tanah yang ditempati penduduk bukan lahan milik Pelindo, tanah tersebut adalah milik warga ada yang memperolehnya dengan cara membeli, memperoleh sewaktu mengikuti program transmigrasi Pemerintah. Pada awalnya dahulu tanah tersebut merupakan lahan pertanian orang Bugis.

2.  Luas daerah perkebunan lebih kurang dari 1.000 hektar, yang penggarapannya kurang begitu dioptimalkan dikarenakan kendala berbagai faktor :

  • Lahan yang sering terendam diwaktu datangnya musim hujan.
  • Seringnya terserang hama penyakit tanaman yang menyebabkan sering gagalnya panen.
  • Adanya usaha sampingan seperti adanya usaha tambang pasir.

3.  Daerah persawahan yang luasnya lebih kurang dari 500 hektar.

4.  Mata pencaharian masyarakat kelurahan teluk sepang.

  • Warga Teluk Sepang yang berprofesi sebagai petani dan nelayan lebih dari 90 persen.
  • Warga teluk sepang yang berprofesi sebagai wiraswasta kurang dari 10 persen.
  • Warga yang menjadi PNS hanya satu orang.

Produktivitas tanah di Kelurahan Teluk Sepang termasuk kriteria rendah, dengan keadaan wilayah yang terbagi dua yaitu pantai dan daratan. Dilihat dari sisi orbitasi  maka  Kelurahan Teluk Sepang berada di wilayah:

  • Sebelah utara berbatasan dengan Daerah Pelabuhan Pulau Baii
  • Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Bangkahan
  • Sebelah timur berbatasan dengan samudera Hindia
  • Sebelah barat berbatasan dengan  Sungai Jenggalu

E. Demografi Kelurahan Teluk Sepang

Kelurahan Teluk Sepang terdiri dari 14 Rukun Tetangga (RT) dimana jumlah penduduknya adalah:

Berdasarkan Tingkat Pendidikan

NO. PENDIDIKAN JUMLAH
1.

2.

3.

4.

5.

SD/MI

SLTA/MTS

SLTA

D III

S1

395

180

147

1

7

Berdasarkan Agama Yang Dianut

No. Agama Jumlah
1.

2.

3.

4.

5.

Islam

Protestan

Katolik

Hindu

Budha

2284

6

2

1

Berdasarkan Pekerjaan

No. Pekerjaan Jumlah
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

PNS

ABRI/Polri

Pegawai Swasta

Wiraswasta

Buruh

Dagang

Tukang

Lain-lain

7

72

5

13

641

Berdasarkan Umur

No. Umur Jumlah
1.

2.

3.

4.

5.

6.

0-6 th

7-12 th

13-18 th

19-24 th

25-55 th

55 th Ke atas

327

376

276

293

860

161

2.2. Kondisi Sumber Daya

A. Transportasi

Sarana transportasi yang digunakan masyarakat Teluk Sepang dalam menunjang seluruh aktivitas proses kegiatan adalah dengan menggunakan angkutan kota namun akses transportasi yang beroperasi di Teluk Sepang masih terbatas selain itu juga masyarakat Teluk Sepang Juga menggunakan ojek. Kondisi jalan yang digunakan juga masih belum baik karena masih banyak jalan-jalan yang dilalui berlubang.

B. Kesehatan

Rata-rata Kesehatan masyarakat Teluk Sepang cukup baik dimana masyarakat sudah bisa berobat ke Puskesmas walaupun puskesmas tersebut merupakan puskesmas pembantu.Untuk kesehatan balita ibu-ibu membawa balitanya ke POSYANDU.

C. Bentuk Pemerintahan

Kampung Melayu merupakan wilayah baru hasil pemekaran dimana kelurahan Teluk Sepang termasuk didalam wilayah Kampung Melayu, sesuai dengan pola pemerintahan formal Indonesia, maka bentuk Pemerintahan kelurahan Teluk Sepang juga mengikuti pola peraturan sistem pemerintahan yang ada sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

D. Perumahan

Sehubungan dengan lancarnya hubungan transportasi maka keadaan perumahan di kelurahan Teluk Sepang juga ikut berkembang pemukiman penduduk sudah banyak yang permanen namun masih ada juga perumahan penduduk yang semi permanen serta masih ada juga terdapat rumah panggung maupun rumah sederhana yang berbentuk dinding dan lantai papan, dan atap seng.

E. Komoditi

Komoditi yang diusahakan oleh masyarakat Teluk Sepang adalah jagung padi, dan sawit tetapi yang lebih dominan adalah padi, dan sawit.Untuk komoditi tanaman padi masyarakat Teluk Sepang masih bergantung dengan cuaca dan metode pertanian yang digunakan masih bersifat subsistem.

F. Pendidikan

Tingkat pendidikan masyarakat Teluk Sepang yang paling banyak adalah tamatan SD/MI berjumlah 395 orang, SLTA/MTs 180 orang, SLTA 147 orang, D III 1 orang, S1 7 orang.

G. Pola Pertanian

Pola pertanian Masyarakat Teluk Sepang secara umum berupa berkebun dan bersawah. Dalam perkebunan penduduk membudidayakan tanaman sawit Sedangkan pada lahan lainnya masyarakat lebih banyak menanam padi sawah dengan memanfaatkan air hujan atau disebut juga sawah  tadah hujan. Disamping dua pola mata pencaharian ini masyarakat Kelurahan Teluk Sepang juga berprofesi  sebagai nelayan dalam sekala kecil.

H. Pemanfaatan Sungai

Pemanfaatan sungai di Kelurahan Teluk Sepang digunakan oleh masyarakat untuk mencari lokan dan beberapa jenis ikan serta tempat menambatkan perahu setelah pulang dari melaut (mondok).

2.3. Kelembagaan Kelurahan Teluk Sepang

Dari hasil inventarisasi bersama masyarakat maka untuk kelembagaan di Kelurahan Teluk Sepang terdapat 10 lembaga, yaitu :

1.  Pemerintahan Kelurahan

2.  Kelompok PKK

3.  Kelompok Arisan

4.  Kelompok Kesenian

5.  Kelompok Kerohanian

6.  Kelompok Risma (Remaja Islam Masjid)

7.  Kelompok Nelayan

8.  Kelompok Tani

9.  Karang Taruna

10. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM)

Berdasarkan pada proses penilaian bersama masyarakat maka didapatkan gambaran manfaat dan kegunaan lembaga-lembaga yang dirasakan masyarakat selama ini, sebagai berikut:

1.  Pemerintahan

Masyarakat Kelurahan Teluk Sepang melihat peran dari pemerintahan Kelurahan sebagai  lembaga formal cukup besar dalam masyarakat. Setiap ada permasalahan yang timbul baik dengan sesama masyarakat kelurahan atau luar kelurahan senantiasa diminta untuk menyelesaikannya. Selain itu pemerintahan Kelurahan mempunyai fungsi sebagai penyambung informasi antara pemerintahan dan masyarakat, wakil dari pemerintah di kelurahan dan mengayomi masyarakat. Aktifitas pemerintah kelurahan lebih banyak pada masalah administrasi kelurahan. Anggota pemerintahan Kelurahan adalah masyarakat yang mempunyai kecakapan, keteladanan dan pengaruh dalam komunitasnya.

2.  Kelompok PKK

Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) merupakan sebuah wadah semi formal  untuk menghimpun kaum ibu-ibu dalam mensukseskan 10 program pokok PKK. Kelompok ini sangat berdampak positif bagi kaum ibu di Kelurahan Teluk Sepang dalam menambah pengetahuan berumah tangga yang baik.

3.  Kelompok Arisan

Kelompok ini dilakukan oleh kaum ibu yang biasanya menyatu atau digabungkan dengan aktifitas ibu-ibu dalam pengajian atau PKK dengan jadwal yang telah disepakati. Manfaat kelompok ini sangat dirasakan positif oleh kaum ibi di kelurahan baik secara ekonomi maupun dalam mempererat  tali kekerabatan.

4.  Kelompok Kesenian

Kelompok kesenian merupakan kelompok kecil yang berada ditengah-tengah masyarakat Kelurhan Teluk Sepang, namun kehadirannya sangat dibutuhkan seperti dalam acara pernikahan atau Perayaan Hari Besar Nasional atau Perayaan Hari Besar Agama di Teluk Sepang Kelompok Kesenian yang aktif yaitu dari pihak etnis Serawai Bengkulu Selatan dengan nama aktivitas kesenian yaitu Bedendang yang telah dilakukan secara rutin guna untuk melestarikan adat-istiadat daerah mereka.

5.  Kelompok Kerohanian

Kelompok kerohanian ini bersifat informal.Untuk masyarakat Muslim berupa kelompok pengajian baik untuk kaum Bapak-bapak maupun kaum ibu-ibu, seperti yasinan setiap malam Jum’at  dan gotong- royong pembangunan dan kebersihan masjid. Sedangkan untuk masyarakat yang memeluk agama Nasrani kegitannya berupa persekutuan do’a setiap malam minggu, dan kebaktian pada hari minggu. Kelompok ini manfaatnya sangat positif bagi masyarakat Kelurahan Teluk Sepang Kecamatan Kampung Melayu Kota Bengkulu.

6.  Kelompok Risma (Remaja Islam Masjid)

Remaja Islam Masjid (Risma) sebagai kelompok informal, di dalam gambar diagram kelembagaan berada antara didalam lingkaran masyarakat dan  diluar lingkaran. Aktifitasnya berjalan secara rutin baik sebagai jemaah masjid, jamaah pengajian ataupun mereka mempunyai kegiatan sendiri seperti menjadi panitia dalam kegitan hari besar islam.  Kelompok ini merupakan bagian kecil dalam masyarakat.

7.  Kelompok Nelayan

Kelompok Nelayan masyarakat Kelurahan Teluk Sepang keberadaanya atas kesepakatan bersama guna untuk memenuhi aktivitas sebagian warga yang kesehariannya sebagai nelayan namun kelompok ini kurang mendapatkan posisi yang baik terhadap program-program pemerintah.

8.  Kelompok Tani

Kelompok ini hampir merangkul seluruh masyarakat Kelurahan Teluk Sepang namun karena mayoritas penduduk Teluk sepang Bermata Pencaharian sebagai Petani namun keberadaanya keberadaannya juga kurang mendapatkan posisi yang baik terhadap program-program pemerintah.

9.  Karang Taruna

Seperti halnya dengan Remaja Islam Mesjid (RISMA), kelompok ini menghimpun remaja dan pemuda namun kegiatannya cenderung umum atau bersifat sosial kemasyarakatan tanpa diikuti oleh perencanaan kegiatan dengan baik. Sehingga saat ini dampak positif keberadaan lembaga ini belum sepenuhnya dirasakan masyarakat Kelurahan Teluk Sepang.

III.KAJIAN

3.1. Tinjauan Hukum

Penambangan pasir di Tanjung Ketaping Kecamatan Kampung Melayu Kelurahan Teluk Sepang Kota Bengkulu oleh mitra kerja Kopkar PT.(Persero) PELINDO II yaitu CV. Dua Puteri dan PD. Bahari Jaya telah beraktivitas selama 6 tahun yaitu mulai tahun 2000 sampai tahun 2006. SK pertama  yaitu melalui SK Gubernur tahun 2000, tentang kuasa penambangan pengambilan pasir dan penjualan terhadap pasir hasil pengerukan alur pelabuhan Pulau Baii yang terjadi karena proses sedimentasi namun pada prakteknya pasir yang diambil bukan pasir sedimentasi melainkan pasir hasil pengerukan sebagaimana yang tercantum dalam izin tersebut, tetapi pasir kasar yang berada di pinggir pantai Teluk Sepang (Tanjung Ketaping)dalam kawasan konservasi TWA Pantai Panjang, karena pasir sedimentasi tersebut berupa pasir halus yang nilainya rendah dan terus dibawa oleh arus laut setiap pasang tiba.

Kemudian tahap yang  selanjutnya WALIKOTA Bengkulu Melalui Keputusan WALIKOTA No.405 tahun 2004 juga mengeluarkan izin pengambilan dan penjualan pasir hasil sedimentasi di Tanjung Ketaping Kelurahan Teluk Sepang kecamatan Kampung Melayu kota Bengkulu, Kepada Koperasi Karyawan PT.(Persero) PELINDO II Suaka BAhari Cabang Bengkulu. Dan izin perpanjangan yang baru adalah SK WALIKOTA No.371 tahun 2005 sampai tahun 2006.

Dengan diberlakukannya SK Walikota Bengkulu No.371 tahun 2005 tentang tentang izin pengambilan dan penjualan pasir hasil sedimentasi di Tanjung Ketaping Kelurahan Teluk Sepang, Kecamatan Kampung Melayu, Kota Bengkulu yang diberikan kepada Koperasi Karyawan PT. (Persero) Pelindo II Suaka Bahari Cabang Bengkulu tersebut berdampak negatif karena pemberian izin tersebut bertentangan dengan :

  1. Undang-undang No.41 tahun 1999 tentang kehutanan
  • Pasal 1 Ayat 8 yaitu hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencagah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.
  • Pasal 1 Ayat 11 yaitu Kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
  • Pasal 50 Ayat 3 yaitu Setiap orang dilarang, menduduki, merambah dan melakukan penebangan dalam kawasan radius: 130 (seratus tiga puluh) kali selisih pasang tertinggi dan pasang terendah dari tepi pantai.
  • Pasal 1 Ayat 6  Sempadan Pantai adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi pantai.
  • Pasal 14 Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
  • Pasal 1 ayat 16 yaitu taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Pasal 29, ayat 1. dimana kawasan pelestarian alam terdiri dari : a. Taman Nasional b. Taman Hutan Raya dan c. Taman Wisata Alam
  1. Keputusan Presiden No. 32 Tahun 1990, tentang: Pengelolaan Kawasan Lindung.
  1. Rencana Umum Tata Ruang (RUTRK) Kota Bengkulu melalui Perda No.1 tahun 1995, yang menjelaskan bahwa lokasi penambangan galian C di Teluk Sepang adalah termasuk Kawasan Lindung .
  2. Keputusan Menteri dan Perkebunan No. 420/Kpts-II/1999 tentang Penunjukan Kawasan Hutan di Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Bengkulu Seluas 920.964 Hektar. Lokasi penambangan merupakan kawasan wisata alam Pantai Panjang dan Pulau Baii reg. 91.
  3. Undang-undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

3.2. Dampak

Ada beberapa permasalahan yang sangat serius yang dihadapi oleh masyarakat di kelurahan Teluk Sepang Kecamatan Kampung Melayu yaitu dengan Beroperasinya Tambang Pasir di Kawasan Pantai Teluk Sepang Kota Bengkulu oleh CV. Dua Putri dan PD. Bahari Jaya atas nama Koperasi Karyawan PT.(Persero)PELINDO II Suaka Bahari Cabang Bengkulu, telah mengakibatkan dampak yang serius terhadap :

  1. Kerusakan pantai yang cukup parah.
  2. Laju abrasi pantai Teluk Sepang sangat tinggi, ditandai dengan perubahan garis pantai dan kerusakan lingkungan.
  3. Pohon-pohon pelindung yang tumbuh dipinggir pantai seperti cemara laut, ketaping dan beberapa jenis belukar lainnya banyak yang tumbang terkikis oleh air laut.
  4. Daerah kelola masyarakat (lahan pertanian) semakin sempit.
  5. Timbulnya gejolak psikis berupa trauma yang dialami masyarakat akan terjadinya bencana tsunami dan angin badai yang kencang.
  6. Terganggunya aktifitas  ekonomi masyarakat nelayan yang disebabkan oleh tidak dapat lagi menangkap ikan disekitar pantai Teluk Sepang, jaring apung yang biasa digunakan tidak dapat beroperasi akibat banyak kayu besar didasar laut bekas pohon-pohon cemara laut yang telah tumbang, akibatnya hasil tangkapan masyarakat nelayan berkurang.
  7. Terjadinya pendangkalan air laut, terumbu karang menjadi mati karena tertimbun pasir dan berbagai jenis ikan yang biasa ditangkap tidak lagi ditemukan.

3.3. Respon Masyarakat

Respon dalam mengatasi persoalan ini sangat positif dan telah banyak upaya yang dilakukan oleh warga masyarakat Teluk Sepang untuk menutup tambang pasir di wilayah mereka, seperti permintaan kepada PEMDA Kota dan DPR kota Bengkulu agar menghentikan/menutup tambang pasir tersebut.Upaya tersebut pernah berhasil hingga dikeluarkannya SK Walikota No. 545/260/B.IV tahun 2000 tentang penutupan/penghentian kegiatan penambangan pasir. Namun, aktivitas penambangan pasir tersebut hanya terhenti selama 2 minggu, karena wilayah tersebut melalui keputusan bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perhubungan No.20 tahun 1991 dan No.KM.15 tahun 1991 tentang batas-batas daerah lingkungan kerja dan daerah lingkungan kepentingan adalah hak PT. PELINDO bukan hak masyarakat dan penambangan pasir terus dilakukan hingga saat ini. Namun tidak sebatas itu saja perjuangan masyarakat demi untuk menutup aktivitas penambangan tersebut maka WALHI Bengkulu atas permintaan masyarakat Teluk Sepang melakukan kegiatan serangkaian proses advokasi demi untuk menyelamatkan pantai teluk Sepang dari kerusakan lingkungan. Bersama masyarakat disusunlah agenda-agenda advokasi penyelamatan pantai Teluk Sepang dan masyarakat sekitarnya dari kehancuran  

Berdasarkan hasil kajian dan pengamatan di lapangan maka WALHI menyimpulkan bahwa dengan dikeluarkannya SK WALIKOTA No.371 tahun 2005 tersebut berdampak negatif terhadap keberlangsungan sumber-sumber kehidupan di wilayah pesisir Pantai Barat Bengkulu khususnya yaitu di pantai Tanjung Ketaping kecamatan Kampung Melayu Kelurahan Teluk Sepang kota Bengkulu.

 

2 Responses to “Narasi Draft Model Teluk Sepang”

  1. Reni Rosita Says:

    terimakasih infonya sangat membantu, boleh tau nama aslinya siapa soalnya mau saya cantumkan di daftar pustaka penelitian saya.oh ya klau boleh tlg di upload juga referensi artikel ini ya. terimakasih


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s