gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Logika Formal dan Logika Dialektik Juli 8, 2010

Filed under: Loker Filsafat — gogo @ 1:53 pm

Kemampuan manusia untuk berpikir secara logis adalah hasil dari proses evolusi sosial yang panjang. Kemampuan ini mendahului penemuan logika formal, bukan hanya dalam jangka ribuan, tapi jutaan tahun. Locke telah menyatakan pemikiran ini di abad ke-17, ketika ia menulis: “Tuhan tidaklah demikian acuh terhadap manusia sehingga Ia membuatnya menjadi sekedar mahluk berkaki dua, dan kemudian menyerahkan tugas membuat mereka rasional kepada Aristoteles.” Di balik Logika, menurut Locke, berdirilah “satu kemampuan naif untuk menangkap koherensi atau ketidakkoherenan dari salah satu idenya sendiri.
Kategorisasi logika tidaklah jatuh dari langit. Bentuk-bentuk ini telah terbangun dalam jalannya perkembangan sosio-historis umat manusia. Mereka semua adalah generalisasi paling mendasar atas realitas, yang tercermin dalam pikiran manusia. Semua ditarik dari fakta bahwa setiap objek memiliki kualitas tertentu yang membedakannya dengan objek-objek yang lain; bahwa segala hal hadir dalam hubungan tertentu dengan hal lain; bahwa objek-objek tersusun dalam kelas-kelas yang semakin tinggi, di mana mereka memiliki kesamaan dalam sifat-sifat tertentu; bahwa gejala-gejala tertentu mengakibatkan terjadinya gejala-gejala lain, dsb.

Sampai batas tertentu, seperti yang dinyatakan oleh Trotsky, hewan pun memiliki kemampuan untuk berpikir dan menarik kesimpulan tertentu dari situasi yang dihadapinya. Pada mamalia yang lebih tinggi, dan khususnya pada kera, kemampuan ini telah maju cukup jauh, seperti yang ditunjukkan dengan cukup menyolok oleh penelitian baru-baru ini mengenai simpanse bonobo. Walau demikian, sekalipun kemampuan berpikir mungkin bukanlah monopoli spesies manusia, kemampuan untuk berpikir secara rasional telah mencapai titik tertinggi yang telah dicapainya sejauh ini hanya pada perkembangan intelektualitas manusia.

Abstraksi adalah keharusan mutlak. Tanpanya, pemikiran secara umum tidaklah dimungkinkan. Pertanyaannya: abstraksi macam apa? Ketika saya mengabstraksi realitas, saya berkonsentrasi pada beberapa aspek dalam gejala tertentu, dan mengabaikan aspek-aspek lainnya. Seorang pembuat peta yang baik, contohnya, bukanlah seorang yang menggambar ulang setiap detil dari tiap rumah dan batu trotoar, apalagi tiap mobil yang diparkir. Jumlah detil yang demikian banyak akan menghancurkan kegunaan dari peta itu sendiri, yang dibuat untuk menyajikan satu skema umum yang enak dilihat dari sebuah kota atau wilayah geografis yang lain. Serupa dengan itu, sejak awal otak telah belajar mengabaikan bunyi tertentu dan berkonsentrasi pada bunyi yang lain. Jika kita tidak dapat melakukan ini jumlah informasi yang mencapai telinga kita dari segala sisi akan membuat otak kelebihan beban. Bahasa itu sendiri menyaratkan satu tingkatan abstraksi yang tinggi.

Kemampuan untuk membuat abstraksi yang tepat, yang cukup mencerminkan realitas yang ingin kita pahami dan gambarkan, adalah prasyarat perlu bagi pemikiran ilmiah. Abstraksi logika formal cukup untuk menyatakan dunia nyata pada tingkatan tertentu yang sempit. Tapi logika ini sepihak dan statis, dan sangat tidak cukup untuk menangani proses yang kompleks, terutama pergerakan, perubahan dan kontradiksi. Kekongkritan satu objek mengandung jumlah-total dari semua aspek dan interrelasinya, yang ditentukan oleh hukum-hukum dasar internalnya. Tugas dari ilmu pengetahuan-lah untuk menyingkap hukum-hukum ini, untuk sampai sedekat mungkin pada realitas kongkrit itu. Seluruh kegunaan kognisi [pengenalan, pengakuan] terletak pada pencerminan terhadap dunia objektif dan ketaatannya sejauh mungkin akan hukum-hukum internal dan hubungan-hubungan wajibnya. Seperti yang dinyatakan oleh Hegel, “Kebenaran itu selalu kongkrit.”

Tapi di sini kita melihat satu kontradiksi. Mustahillah untuk sampai pada pemahaman tentang dunia alam kongkrit tanpa terlebih dahulu menarik abstraksi. Kata “abstrak” datang dari bahasa Latin yang berarti “mengambil dari”. Melalui sebuah proses abstraksi, kita mengambil beberapa aspek yang kita anggap penting dari objek yang sedang direnungkan, mengabaikan aspek-aspek lainnya. Pengetahuan abstrak pastilah sepihak karena ia hanya menyatakan satu sisi tertentu dari gejala yang diamati, terisolasi dari apa yang menentukan sifat khusus dari keseluruhannya. Dengan demikian, matematika akan berurusan secara eksklusif dengan hubungan-hubungan kuantitatif. Karena kuantitas adalah aspek yang sangat penting dari alam, abstraksi matematik telah menyediakan bagi kita satu alat yang sangat penting untuk menyelami rahasia-rahasia alam itu. Karena alasan ini, kita sering tergoda untuk melupakan sifat dasar dan keterbatasan-keterbatasan yang dimilikinya. Karena matematika, bagaimanapun, tetaplah sepihak, seperti segala macam abstraksi yang lain. Kita menjerumuskan diri sendiri ke dalam bahaya karena kelalaian ini.

Alam mengenal kualitas sekaligus bersama kuantitas. Penentuan hubungan yang persis terjadi antara keduanya, dan untuk menentukan bagaimana yang satu berubah menjadi yang lain pada titik kritis tertentu, mutlak perlu bagi kita jika kita ingin memahami satu dari proses paling mendasar di alam ini. Ini adalah salah satu konsepsi dasar dari pemikiran dialektik, yang berseberangan secara lurus dengan pemikiran formal, dan juga salah satu sumbangannya yang paling penting untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Kebijaksanaan yang dalam yang disediakan oleh metode ini, yang sudah lama dicaci sebagai “ajaran mistis”, baru kini dipahami dan diperhatikan. Pemikiran abstrak yang sepihak, yang terwujud dalam logika formal, telah membawa kerugian besar bagi ilmu pengetahuan dengan mengekskomunikasikan dialektika. Tapi, hasil-hasil nyata yang telah dicapai ilmu pengetahuan telah menunjukkan bahwa, ujung-ujungnya, pemikiran dialektik jauh lebih dekat dengan proses nyata yang terjadi di alam dibandingkan abstraksi linear dari logika formal.

Sangatlah penting untuk mendapatkan pemahaman kongkrit atas objek sebagai satu sistem yang integral, bukan sekedar pecahan-pecahan yang saling terisolasi satu dari lainnya; dengan kesalingterhubungannya yang kontradiktif, bukan hubungan yang terjadi di luar konteks, seperti seekor kupu-kupu yang terpaku pada papan koleksi museum; dalam kehidupan dan pergerakannya, bukan sesuatu yang mati dan statis. Pendekatan semacam ini berada dalam konflik terbuka dengan apa yang disebut “hukum-hukum” logika formal, penyataaan paling mutlak dari pemikiran dogmatik yang pernah ditemui manusia, yang merupakan sejenis rigor mortis mental. Tapi alam hidup dan bernafas, dan dengan keras kepala menolak mengikuti pemikiran formalistik. “A” tidak harus sama dengan “A”. Partikel-partikel sub-atomik sekaligus adalah dirinya sendiri dan partikel lain. Proses linear akan selalu berakhir dalam chaos. Yang keseluruhan selalu lebih besar dari jumlah bagian-bagiannya. Kuantitas berubah menjadi kualitas. Evolusi itu sendiri bukanlah sebuah proses yang gradual, tapi disela di sana-sini dengan lompatan-lompatan dan bencana yang mendadak. Apa yang dapat kita lakukan tentang hal ini? Fakta adalah hal yang keras kepala.

Tanpa abstraksi, mustahillah kita menerobos objek “secara dalam”, untuk memahami sifat-sifat hakikinya dan hukum-hukum geraknya. Melalui kerja mental abstraksi, kita dapat memahami lebih jauh daripada informasi segera yang disajikan oleh indera kita (persepsi-inderawi), dan menjelajah lebih jauh. Kita dapat memecah berbagai objek menjadi bagian-bagian penyusunnya, mengisolasi mereka, dan menelaah masing-masing secara rinci. Kita dapat sampai pada satu pemahaman yang ideal dan umum terhadap objek dalam bentuknya yang “murni”, setelah dilucuti dari semua ciri sekundernya. Ini adalah hasil kerja abstraksi, satu tahapan yang mutlak perlu bagi proses kognisi.

“Pikiran berjalan dari kongkrit menuju ke abstrak,” tulis Lenin, “- asalkan ia tepat (dan Kant, seperti semua filsuf lainnya, bicara tentang pikiran yang tepat) – tidak akan bergeser dari kebenaran tapi justru mendekat kepadanya. Abstraksi dari materi, dari sebuah hukum alam, abstraksi dari nilai, dan lain-lain, pendeknya segala abstraksi ilmiah (tepat, serius, tidak absurd) mencerminkan alam dengan lebih dalam, benar dan lengkap. Dari persepsi hidup ke pemikiran abstrak, dan dari sini menuju praktek, – inilah jalur dialektis dari kognisi terhadap kebenaran, dari kognisi terhadap realitas objektif.”[ii]

Salah satu ciri utama pemikiran manusia adalah bahwa ia tidaklah terbatas pada “apa yang sebenarnya” tapi juga mengurusi “apa yang seharusnya”. Kita tak pernah berhenti membuat segala macam asumsi logis tentang dunia yang kita diami. Logika yang tidak dipelajari dari buku, tapi merupakan hasil dari masa-masa evolusi yang panjang. Percobaan-percobaan yang rinci telah menunjukkan bahwa bentuk-bentuk awal logika telah didapat oleh seorang bayi pada usia yang masih amat muda melalui pengalaman. Kita berpendapat bahwa jika sesuatu benar, maka hal lainnya, yang kita tidak memiliki pengalaman langsung tentang itu, pasti juga benar. Proses-berpikir logis seperti itu telah terjadi jutaan kali sepanjang hidup kita, tanpa kita sadari. Proses ini menjadi sebuah kebiasaan, bahkan tindakan paling sederhana dalam kehidupan ini akan mustahil kita lakukan tanpanya.

Aturan dasar berpikir telah dianggap wajar oleh banyak orang. Aturan-aturan itu adalah bagian hidup kita yang kita kenal baik, dan tercermin pula dalam banyak peribahasa, seperti “kamu tak dapat tetap memiliki kuemu jika kamu memakannya” – satu pelajaran yang penting untuk dipelajari tiap anak! Pada titik tertentu, hukum-hukum ini dituliskan dan disistematisir. Inilah asal-usul logika formal. Kita harus memberi penghargaan pada Aristoteles untuk itu, selain untuk hal-hal lainnya. Hal ini sangatlah berharga, karena tanpa pengetahuan tentang hal-hal yang mendasar, kita beresiko menjerumuskan pikiran kita menjadi tidak koheren. Sangatlah perlu untuk dapat membedakan hitam dari putih, dan mengetahui perbedaan antara pernyataaan yang benar dan yang salah. Nilai dari logika formal, dengan demikian, tidaklah perlu dipermasalahkan lagi. Masalahnya adalah bahwa kategori-kategori dari logika formal, yang ditarik dari pengalaman dan pengamatan yang cakupannya terbatas, hanya sahih di dalam batasan-batasan ini. Sebenarnya memang batasan ini mencakup berbagai gejala yang terjadi sehari-hari, tapi tidaklah cukup untuk mengurusi satu proses yang lebih kompleks, yang melibatkan pergerakan, turbulensi, kontradiksi, dan perubahan dari kuantitas ke kualitas.

Dalam sebuah artikel menarik yang berjudul The Origins of Inference, yang muncul dalam antologi Making Sense, tentang penggambaran seorang anak terhadap dunia, Margaret Donaldson meminta perhatian kita akan salah satu masalah dalam logika sehari-hari – cirinya yang statis:

“Logika verbal sering muncul tentang ‘keadaan-latar’ [state of affairs] – dunia ini dilihat sebagai hal yang statis, di dalam jaring-jaring waktu. Dan dengan pertimbangan semacam ini, alam semesta nampaknya tidak mengandung ketidakcocokan: segala sesuatu adalah seperti adanya. Objek yang di seberang sana adalah sebatang pohon; mangkuk itu berwarna biru; orang itu lebih tinggi dari orang yang ini. Tentu saja berbagai keadaan-latar ini menghalangi munculnya berbagai keadaan-latar yang lain, tapi bagaimana kita tahu tentang hal ini? Bagaimana ide tentang ketidakcocokan muncul dalam pemikiran kita? Tentunya bukan langsung dari kesan kita tentang segala-sesuatu-seperti-adanya.”

Buku itu juga membuat satu pernyataan sahih bahwa proses mengetahui bukanlah pasif melainkan aktif:

“Kita tidaklah duduk-duduk dengan pasif menunggu dunia menancapkan citranya tentang ‘realitas’ pada kita. Melainkan, seperti yang kini diakui secara luas, kita mendapatkan banyak dari pengetahuan kita yang paling mendasar melalui tindakan-tindakan yang dilakukan dengan sadar.”[iii]

Pemikiran manusia pada hakikatnya adalah kongkrit. Pikiran tidaklah dengan segera menyerap konsep-konsep yang abstrak. Kita paling merasa akrab dengan apa yang ada terlihat oleh kedua mata kita, setidaknya dengan hal-hal yang dapat disajikan dengan kongkrit. Kelihatannya pikiran kita butuh untuk menggenggam satu bentukan citra tertentu. Tentang hal ini, Margaret Donaldson berkomentar bahwa “bahkan anak-anak taman bermain seringkali dapat menarik logika yang baik dari cerita-cerita yang mereka dengar. Walau demikian, ketika kita maju lebih jauh dari apa yang ditangkap indera manusia perbedaannya sangatlah dramatis. Pemikiran yang tidak lagi bergerak di dalam batasan-batasan ini, sehingga ia tidak lagi bekerja di bawah dukungan konteks berbagai peristiwa yang kita pahami, seringkali disebut ‘formal’ atau ‘abstrak’.”[iv]

Proses awal itu, dengan demikian, maju dari yang kongkrit ke yang abstrak. Objek itu dibedah, ditelaah, supaya didapat satu pengetahuan yang rinci mengenai tiap bagiannya. Tapi hal ini ada bahayanya. Tiap bagian tidaklah dapat dipahami dengan tepat jika dipisahkan dari hubungannya dengan yang keseluruhan. Mutlak perlu untuk mengembalikan bagian-bagian itu menjadi satu sistem yang utuh, dan memahami dinamika internalnya dalam keadaan utuh. Dengan cara ini, proses kognisi maju dari yang abstrak, kembali pada yang kongkrit. Inilah hakikat dari metode dialektik, yang menggabungkan analisa dengan sistesa, induksi dan deduksi.

Seluruh tipu-daya idealisme diturunkan dari pemahaman yang tidak tepat mengenai sifat-sifat abstraksi. Lenin menunjukkan bahwa kemungkinan jatuh pada idealisme selalu ada dalam tiap abstraksi. Konsepsi abstrak atas suatu hal akan selalu didudukkan balik pada hal itu sendiri. Konsepsi itu bukan hanya dianggap memiliki keberadaan dalam dirinya sendiri, melainkan juga dianggap lebih mulia dari realitas materialnya yang kasar. Kekongkritan digambarkan sebagai hal yang cacat, tidak sempurna dan tidak murni, dibandingkan dengan Ide yang sempurna, mutlak dan murni. Dengan demikian, realitas didirikan terjungkir dengan kepala di bawah.

Kemampuan untuk berpikir dalam abstraksi menandai satu penaklukan raksasa dalam intelektualitas manusia. Bukan hanya ilmu-ilmu “murni”, tapi juga ilmu-ilmu teknik akan mustahil tanpa pemikiran abstrak, yang mengangkat kita ke atas realitas yang segera dan terbatas dari contoh-contoh yang terbatas, dan memberi satu ciri yang universal pada pemikiran itu sendiri. Penolakan yang membabi-buta terhadap pemikiran abstrak dan teori menunjukkan keadaan mental yang sempit dan terbelakang, yang membayangkan diri sebagai “praktis”, padahal, pada kenyataannya, impoten. Pada akhirnya, kemajuan-kemajuan besar dalam teori akan membimbing kita menuju kemajuan-kemajuan besar dalam praktek. Walau demikian, semua ide diturunkan dengan cara tertentu dari dunia fisik, dan, pada akhirnya, harus diterapkan kembali pada dunia fisik itu. Kesahihan satu teori harus didemonstrasikan, cepat atau lambat, dalam praktek.

Di tahun-tahun terakhir telah terjadi reaksi yang sehat terhadap reduksionisme mekanik, dengan mengajukan satu kebutuhan akan sebuah pendekatan yang holistik terhadap ilmu pengetahuan. Istilah holisitik itu sendiri sebenarnya agak kurang menguntungkan karena sering dikaitkan dengan ajaran mistis. Walau demikian, dalam mencoba melihat segala hal dalam pergerakan dan kesalingterhubungannya, teori chaos tak disangkal lagi telah cukup dekat dengan dialektika. Hubungan yang sebenarnya antara dialektika dan logika formal adalah hubungan antara jenis pemikiran yang memisah-misahkan segala hal dan menelaahnya secara terpisah, dan pemikiran yang sanggup menyatukan kembali bagian-bagian itu dan membuat mereka utuh kembali. Jika pikiran bersesuaian dengan realitas, ia harus mampu memahaminya sebagai satu keutuhan yang hidup, dengan segala kontradiksi yang dikandungnya.
Written by Alan Woods and Ted Grant

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s