gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Apakah Logika Mengajari Kita Bagaimana Harus Berpikir? Juli 8, 2010

Filed under: Loker Filsafat — gogo @ 1:50 pm

Dialektika tidak berkehendak mengajari kita bagaimana kita harus berpikir. Ini adalah klaim palsu dari logika formal, yang dijawab Hegel secara ironis bahwa apa yang diajarkan logika tentang bagaimana berpikir adalah sejajar dengan apa yang diajarkan psikologi tentang bagaimana mengunyah makanan! Manusia berpikir, dan bahkan berpikir secara logis, jauh sebelum mereka mendengar tentang logika. Kategori logika, dan juga dialektika, diturunkan dari pengalaman nyata. Sekalipun mereka memasang kedok apapun, kategori-kategori logika formal tidaklah melayang di atas dunia realitas material, tapi merupakan abstraksi kosong belaka yang diambil dari realitas yang dipahami dalam cara yang sepihak dan statis, dan kemudian secara acak diterapkan kembali pada realitas itu.
Secara kotnras, hukum pertama metode dialektik adalah objektivitas mutlak. Dalam tiap kasus, sangatlah penting untuk menemukan hukum-hukum gerak dari sebuah gejala tertentu dengan menelaahnya dari segala sudut pandang. Metode dialektik bernilai sangat tinggi dalam upaya mendekati segala hal dengan tepat, dengan menghindarkan blunder-blunder filsafat yang mendasar, dan untuk membuat hipotesa ilmiah yang sahih. Dengan melihat jumlah ajaran mistis yang muncul dari hipoteses acak itu, terutama dalam fisika teoritis, ini bukanlah satu keuntungan sama sekali! Tapi metode dialektik selalu berusaha menurunkan kategori-kategorinya dari satu telaah yang hati-hati tentang fakta dan proses, bukan dengan memaksakan fakta ke dalam penjara teori yang telah dibangun dengan prasangka:

“Kita semua setuju,” tulis Engels, “bahwa dalam segala bidang ilmu pengetahuan, di alam maupun dalam ilmu sejarah, kita harus maju berlandaskan fakta yang telah ada, dalam ilmu-ilmu alam berarti: dari berbagai bentuk material dan berbagai bentuk gerak material; berarti, dalam ilmu alam teoritik pun kesalingterhubungan tidaklah boleh dipaksakan kepada fakta tapi harus digali darinya, dan ketika telah ditemukan harus pula diuji sejauh mungkin melalui percobaan.”

Ilmu pengetahuan dibangun berdasarkan pencarian hukum-hukum umum yang dapat menjelaskan bekerjanya alam. Dengan mengambil titik start dari pengalaman, ia tidaklah membatasi diri pada sekedar pengumpulan fakta, tapi berupaya untuk menggeneralisirnya berdasarkan pengalaman, maju dari yang khusus ke yang universal. Sejarah ilmu pengetahuan dicirikan oleh proses pendekatan yang semakin lama semakin dalam. Kita semakin mendekat pada kebenaran tanpa pernah mengerti “seluruh kebenaran”. Pada akhirnya, ujian terhadap kebenaran ilmiah adalah percobaan. “Percobaan,” kata Feynman, “adalah satu-satunya hakim dari ‘kebenaran’ ilmiah,”

Kesahihan bentuk-bentuk pemikiran harus, ujung-ujungnya, bergantung pada apakah ia berhubungan dengan realitas dunia fisik. Hal ini tidak boleh ditetapkan di muka, tapi harus ditunjukkan melalui pengamatan dan pengalaman. Logika formal, berlawanan dengan segala ilmu alam, tidaklah empiris. Ilmu pengetahuan menurunkan data-datanya dari pengamatan atas dunia-nyata. Logika diharuskan bersikap a priori, menetapkan kebenaran di muka, tidak seperti materi-subjek yang ditanganinya. Ada pertentangan yang bernyala di sana-sini antara hakikat dan bentuk. Logika tidak harus diturunkan dari dunia nyata, tapi ia terus diterapkan terhadap fakta-fakta dunia nyata itu. Hubungan apa yang terjadi antara kedua sisi ini?

Kant telah lama menjelaskan bahwa bentuk-bentuk logika haruslah mencerminkan realitas objektif, atau ia akan menjadi tidak bermakna sama sekali:

“Ketika kita memiliki alasan untuk menilai satu penilaian sebagai harus bersifat universal … kita harus pula mempertimbangkan tujuan-tujuannya, yaitu, bahwa penilaian itu tidaklah sekedar menjadi satu rujukan atas pandangan kita terhadap subjek tertentu, tapi juga atas kualitas dari objek itu. Karena tidak akan ada alasan bagi penilaian orang lain untuk selalu bersepakat dengan penilaian saya, jika tidak ada kesatuan atas objek yang mereka rujuk, dan yang merupakan landasan persepakatan mereka; dengan demikian, mereka semua harus saling bersepakat.”

Ide ini dikembangkan lebih jauh oleh Hegel, yang membuang keraguan dalam teori pengetahuan dan logika Kant, dan akhirnya diberi satu basis yang kuat oleh Marx dan Engels:

“Skema-skema logika,” tegas Engels, “hanya dapat berhubungan dengan bentuk-bentuk pemikiran; tapi apa yang kita urusi di sini hanyalah bentuk-bentuk keberadaan, dari dunia di luar kita, dan bentuk-bentuk ini tak akan pernah dapat diciptakan dan diturunkan dari pemikiran itu sendiri, tapi hanya dari dunia nyata itu. Tapi dengan demikian seluruh keterhubungan ini dibalik: prinsip-prinsip tidaklah dijadikan titik awal penyelidikan, tapi sebagai hasil-hasil akhirnya; prinsip-prinsip tidaklah diterapkan atas alam dan sejarah manusia, tapi diabstraksi dari sana; bukanlah alam dan kemanusiaan yang harus menuruti prinsip-prinsip ini, tapi prinsip-prinsip hanyalah sahih sejauh mereka bersesuaian dengan alam dan sejarah.”

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s