





Tiang kayu






Tiang kayu

SAMBEA UJAK Sambea ujak ( sambal ujak ) adalah masakan khas rejang ada istilah yang cukup dikenal yaitu sambea ujak lem boloak ( sambal ujak dalam bambu ) dulunya masakan ini dimasak dalam bambu dan ada juga yang masaknya dengan belanga dan memang rasanya lebih enak jika di masak secara tradisional. Bahan – bahan : cabe 100 grm kemiri 3 biji cung 150 gr daun bawang 2 batang kunyit sebar ibu jari serai satu ibu jari ikan salai ( ikan asap )250 gr garam secukupnya cara membuatnya : Rebus cung dengan air kurang lebih 4 gelas,setelah airnya mendidih angkat dan cungnya di tekan tekan hingga hancur masukan cabe,kemiri serai,garam dan kunyit yang telah dihaluskan kedalam rebusan cung tadi dan masukan juga daun bawang dan ikan salainya, lalu dimasak lagi hinga mendidih.setelah itu angkat.siap untuk di sajikan. catatan : untuk ikan sesuai dengan selera( Ikan mas, Ikan Putih atau kalo bisa ikan putih yang telah di asapkan ) bisa juga di tambahkan dengan kabau bagi yang suka kabau kata ujak yaitu menggepengkan cung tadi mungkin karena masaknya ada acara gepeng-gepengan makanya dinamakan sambal ujak :hehe Cung adalah sejenis tomat kecil atau juga di sebut dengan tomat dusun yang rasanya sangat asam yang memiliki daging sangat tipis.
- Air Rebusan ikan ( ikan yang biasa dibunakan adalah ikan sungai seperti ikan Putih ) menggunakan ikan yang lain juga bisa namun biasanya kualitas lema nya akan kurang bagus. – Serai satu batang – Cabe merah 5 buah di patah-patahkan – Nasi satu genggam kecil
Catatan :
kue ini terbuat dari tepung gendum,santan, gula, telur dan mentega.
tahun 1910
tahun 1911
tahun 1912
Tahun 1913
tahun 1914
tahun 1915
tahun 1916
tahun 1917
tahun 1918
tahun 1919
tahun 1920
Tahun 1928
tahun 1930
tahun 1936
tahun 1937
tahun 1938
tahun 1939
Sampai dengan tahun 1940
sumber : meretas kehidupan baru ditanah harapan bengkulu ; sejarah bengkul 1908-1944 oleh Dr.Lindayanti.M.Hum
Suku Rejang juga memiliki suatu pandangan mengenai perkawinan yang diinginkan (ideal). Perkawinan seperti ini kebanyakan diukur dari kondisi calon pengantin, baik laki maupun perempuan. Perempuan yang baik untuk menjadi isteri apabila dia memenuhi berbagai persyaratan, yang pada dasarnya menunjukkan perilaku yang baik dan pandai mengatur rumah tangga. Persyaratan-persyaratan tersebut antara lain adalah : baik tutur katanya; pandai mengatur halaman rumah dan bunga-bunga di pekarangan; pandai menyusun/mengatur kayu api (semulung putung); bagus bumbung airnya (lesat beluak bioa); dan mempunyai sifat pembersih.
a. Upacara sebelum perkawinan, yang terdiri dari :
b. Upacara Pelaksanaan Perkawinan, terdiri dari : Upacara pelaksanaan perkawinan pada suku Rejang pada umumnya terdiri dari dua macam upacara, yaitu Mengikeak dan kemudian diikuti dengan Uleak. Mengikeak adalah upacara akad nikah dan upacara Uleak adalah pesta keramaian perkawinan. Pelaksanaan Mengikeak biasanya dilaksanakan di tempat pihak yang mengadakan Uleak, namun demikian berdasarkan permufakatan bisa saja mengikeak dilaksanakan di rumah mempelai pria dan Uleak dilaksanakan di rumah mempelai wanita. Dalam permufakatan adat hal seperti ini disebut : Mengikeak keme, uleak udi artinya menikah kami merayakannya kamu. c. Upacara Sesudah Perkawinan, terdiri dari : Pada zaman sekarang berbagai upacara sesudah pelaksanaan perkawinan tidak begitu diperhatikan lagi. Pada zaman dahulu setelah upacara perkawinan, dilakukan pula berbagai upacara yaitu :
ASAL BAHASA REJANG
Richard McGinn
Ohio University USA
0. Ringkasan
Di dalam tulisan ini, kami mengajukan tiga hipotesa yang secara logis tidak perlu diterima sekaligus atau sebagai gabungan. Ketiga-tiganya didasarkan atas perbandingan bahasa-bahasa, terutama perbandingan kosakata sehari-hari termasuk bentuk (struktur) perkataan.
1. Bahasa Rejang adalah anggota subkelompok besar “Austronesia” dan turun dari bahasa induk purba yang bernama Austronesia Purba.
2. Dialek-dialek Rejang adalah anggota subkelompok kecil di Sumatra yang turun dari bahasa induk purba yang kami namai bahasa Rejang Purba. Ternyata, dialek Rawas yang paling penting dalam upaya merekonstruksikan Rejang Purba. Selanjutnya bahasa Purba dipergunakan sebagai langkah pertama atau ‘menara berlampu’ untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih jauh ke masa lalu – misalnya untuk mengatahui tempat yang paling pertama diduduki oleh suku Rejang.
3. Bahasa Rejang (purba) adalah anggota subkelompok Bidayŭh dan turun dari bahasa induk yang kami namai Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba. Lagi pula, leluhur Rejang itu berasal dari sana, yaitu Kalimantan Utara.
Tiga hipotesa ini tidak sama penilaiannya. Misalnya, hipotesa yang pertama sudah sering dibenarkan oleh para akhli bahasa sejak 70 tahun belakang ini; dengan demikian kami kemukakannya sebagai latar belakang. Lain halnya dengan hipotesa kedua dan ketiga yang kami ajukan sebagai teori pribadi. Walau sudah diterbitkan dalam jurnal dan buku, haruslah diakui bahwa hipotesa kedua dan ketiga masih baru, dan belum banyak didiskusikan (apalagi dibenarkan dan dikonfirmasikan) oleh para akhli bahasa. Malah teori ketiga sudah memiliki pendukung (Zork 2006) dan pengritik (Adelaar 2007).
1. Hipotesa yang pertama
Bahasa dan suku Rejang adalah anggota kelompok besar bahasa-bahasa yang bernama “Austronesian”, yang terdiri dari lebih dari seribu duaratus bahasa, yang tersebar di Asia Tenggara dan pulau-pulau di Lautan Pasifik dengan penutur berjumlah ratusan juta orang (Dempwolff 1934-1938; Dahl 1976; Blust (MS, no date). Berikut adalah beberapa contoh kata sehari-hari yang merupakan bahan keterangan (data, fakta) untuk dimengerti dan ditafsirkan oleh hipotesa serupa rekonstruksinya bahasa Austronesia Purba.
Kata-kata Sehari-hari dalam Tujuh Bahasa Austronesia
Melayu Rukai Tagalog Bidayuh Rejang Samoan Malagasy
(Taiwan) (Filipina) (Kalimantan) Rawas (Pasifika) (Afrika)
Dua dosa da-lawa duŭ duei lua rua
Empat sepate apat umpĕt pat fi efatra
Lima lima lima rimŭ lemau lima dimi
Enam enem anim inŭm num ono ëninä
Ayam (aDaDame) manok manuk monok manu ??
Kutu koco kuto gutu guteu ?utu hao
Mata maca mata matŭh matei mata maso
Telinga calinga talinga (kaping) (ti’uk) talinga tadini
Ati aTay atay ati atui ate ati
Jalan dalan da?an jĕrĕn dalen ala ??
Niur (abare) niyog (buntĕn) niol niu ??
Ujan odale ulan ujĕn ujen ua uranä
Langit (sobelebeleng) langit rangit längät langi laniträ
Batu (lenege) bato batuh buteu fatu `fruit pit‘ vato
Makan kane ka?in ma?an ka?en ?ai hanä
Bahasa-bahasa di atas ini tersebar di hampir semua kepulauan Asia Tenggara dan Pasifik waktu sekarang, dari Taiwan (Rukai) hingga di Afrika (Malagasy) dan lautan Pasifik (Samoan). Ternyata, semua bahasa ini termasuk dalam satu kelompok bahasa, yaitu Austronesian. Prinsip dasar ilmu sejarah bahasa yang jelas digambarkan adalah: Evolusi fonologi sangat sistematis dan bertata dalam setiap dialek. (“Sound changes are regular”). Misalnya huruf ‘c’ dalam bahasa Rukai selalu menunjukkan ‘t’ atau ‘s’ atau nol dalam bahasa lain (lihat Kutu, Mata, Telinga) tanpa kecualian. Data seperti ini mustahil telah muncul hanya sebagai kebetulan saja, atau sebagai gara-gara kecampuran penduduk yang jauh sekali jarak antaranya pada waktu sekarang. Sebaliknya, para akhli bahasa menyatakan bahwa semua perkataan di atas itu diwariskan dari sebuah bahasa induk yang walaupun sudah lama mati sebagai bahasa sehari-hari, masih tetap hidup serupa bahasa keturunannya.
2. Di manakah Tempat yang paling Lama Diduduki oleh Suku Rejang?
Hipotesa 2: Dialek-dialek Rejang merupakan subkelompok terpencil di Sumatra yang turun dari bahasa induk purba yang kami namai Rejang Purba. Ternyata, dialek Rawas yang paling konservatif yaitu penting dalam upaya merekonstruksikan Rejang Purba. Selanjutnya bahasa Purba dipergunakan sebagai langkah pertama atau menara berlampu untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih jauh ke masa lalu–misalnya untuk mengatahui tempat yang paling pertama diduduki oleh suku Rejang.
2.1 Keunikan Bahasa Rejang
Bahasa Rejang yang unik ini dapat dicirikan oleh beberapa macam unsur leksikon, tatabahasa dan fonologi.
MPP RP Pes Leb Musi Keban Rawas
1. *danaw *daniu daneu daneu danuo danea daniu
2. *qatay *atui atui atei atié ateé atui
3. *kahiw *kiiu kieu kieu kiuo kiea kiiu
4. *hapuy *upui upui opoi opoi opoi upui
5. *tinaqi *tenui tenui tenei tenié teneé tenui
Keunikan bahasa Rejang dan perbedaan dialek-dialeknya satu sama lain yang memungkinkan merekonstruksikan bahasa Rejang Purba sebagai suatu hipotesa. Sebaliknya bahasa Purba mengandung informasi tentang sejarah bahasa dan suku Rejang.
Yang muncul dengan jelas dari penelitian kami adalah: dialek Rawas dan Kebanagung yang paling penting dalam perekonstruksian bahasa Rejang Purba, sedangkan dialek Lebong, Pesisir dan Musi lebih bermanfaat untuk menunjukkan proses evolusi fonologi. Dengan kata lain, perekonstruksian bahasa purba Rejang tidak mungkin dengan hanya dialek Lebong, Musi dan Pesisir, sebab ketiganya sangat mirip dan perbedaannya sedikit sekali. Lain halnya dengan dialek Rawas dan Kebanagung yang sangat berbeda dengan dialek Rejang lain.
2.2 Sumbangan Dialek Kebanagung
Berikut adalah dua sumbangan dari dialek Kebanagung yang paling penting.
2.3 Sumbangan Dialek Rawas
Adalah tiga sumbangan dari dialek Rawas yang paling penting.
2.3.1 MPP *-l, *-R dan Rawas -l
MPP *-l di akhir kata diwariskan dari Rejang Purba *-l, *-r yang hilang dari dialek lain, misalnya: niol ‘niur’; biol ‘air’; tenol ‘telur’ dalam Rawas tetapi menjadi nioa, bioa, tenoa dalam dialek lain.
Juga MPP *-R berubah menjadi RP *-l dan *-r dalam Bahasa Rejang Purba.
MPP RPur P&L Musi Keban Rawas Melayu
A *wahiR *biol bioa bioa bioa biol air
*niuR *niol nioa nioa nioa niol niur
*ikuR *ikol ikoa ikoa ikoa iko? (borr) ékor
*dapuR *dopol dopoa dopoa dopoa dopol dapur
*qateluR *tenol tenoa tenoa tenoa tenol telor
*tiduR *tidul tidua tidoa tiduh(borr) tidul tidur
*dengeR *tengol tengoa tengoa tengoa n.c. dengar
B *huluR *ulur ulua oloa uluh ulua ulur
*qapuR *upur upua opoa opoh upua kapur
*libeR *liber libea libea libeh libea lébar
*qiliR *ilir n.c. éléa ilih n.c. ilir
2.3.2 MPP, RP *iu dan *ui dan Rawas iu dan ui
Diftong MPP *uy dan *iw diwarisi kepada Rawas dan Rejang Purba Purba ui dan iu tanpa perubahan sejak 6000 tahun, sedangkan sudah berubalah dialek yang lain.
MPP RP Pes Leb Musi Keban Rawas
*kahiw *kiiu kieu kieu kiuo kiea kiiu
*hapuy *upui upui opoi opoi opoi upui
2.3.3 Rejang Purba dan Rawas *ä
Rejang Purba *ä menjadi é dalam setiap dialek kecuali Rawas.
Oleh sebab adanya Rawas -l, ui, iu, ä; dan adanya Kebanagung dui, tui, bungi dan H, maka sebagian kecil sejarah bahasa Rejang tidak hilang.
Lain halnya dengan kecirikhasan fonologi dialek Lebong, Pesisir dan Musi, yang menunjukkan proses evolusi fonologi.
2.4 Kecirikhasan Fonologi Dialek Lebong
Pada umumnya, kecirikhasan Lebong menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.
2.5 Kecirikhasan Fonologi Dialek Pesisir
Juga kecirikhasan Pesisir cenderung menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.
2.6 Kecirikhasan Fonologi Dialek Musi
Juga kecirikhasan Musi cenderung menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.
2.7 Sumbangan Lebong, Pesisir dan Musi kepada Rejang Purba
Kebetulan ada juga unsur dialek Lebong, Pesisir dan Musi yang menunjukkan Rejang Purba, dan sebaliknya, ada unsur dialek Rawas yang menunjukkan perkembangan baru dan bukan Rejang Purba. Berikutlah ada dua contoh yang menarik dan penting.
1. -iak dan -uak dalam Pesisir dan Lebong diwariskan dari RP *-i? dan *-u? yang berubah lebih lanjut dalam Rawas; misalnya dalam Rawas RP *puti? menjadi putäh dan *pulu? menjadi poloh.
2. Serial kata ganti dalam Pesisir, Lebong, Musi dan Kebanagung, yaitu uku, kumu, ko, nu, udi, si, diwariskan langsung dari Rejang Purba, sedangkan serial itu sudah berubah dalam Rawas menjadi: keu, kumeu, kaben, kaben, kaben, sei.
2.8 Kesimpulan tentang Sumbangan setiap Dialek
Rawas dan Kebanagung berfungsi sebagi “dialek kriterion” dalam usaha reconstruksi Rejang Pruba. Sebab kebanyakan kecirikhasannya menunjukkan kepada unsur-unsur bahasa Rejang Purba. Sedangkan dialek lainnya (Lebong, Pesisir dan Musi) berfungsi sebagai “dialek ujian” untuk membenarkan Rejang Purba; kebanyakan kecirikhasannya menunjukkan perkembangan-perkembangan baru.
Akhir katanya, sumbangan setiap dialek sama pentingnya tetapi tidak sama gunanya
2.9 Di manakah Tempat yang paling Lama Diduduki oleh Suku Rejang?
Dengan adanya bahasa Rejang Purba, muncullah pertanyaan dengan jawabannya juga. Pertanyaannya adalah: di mana tempat nenek-moyang pada waktu mereka masih berbicara dengan bahasa Rejang Purba? Artinya, dari mana titik tolaknya waktu mereka mulai menyebar ke seluruh tanah Rejang?
Jawabannya yaitu: mengikuti prinsip akhli bahasa Blust (1991b) dan Ross (1991), umumnya dialek para perantau cenderung berkembang cepat sedang dialek orang yang tinggal cenderung berkembang lebih lambat (konservatif). Malah Ross (1991) menambahkan pengaruh psikologi: para perantau cenderung toleran terhadap “kesalahan” (perubahan bahasa) yang selalu akan muncul dari mulut anak-anak, sedang orang yang tinggal tidak setoleran “kesalahan” itu. Prinsip ini pasti menunjukkan Rawas sebagai tempat pertama nenek moyang waktu mereka masih berbahasa dengan Rejang Purba.
2.10 Terletak Geografi
Tanah Rawas terletak di hulu Sungai Rawas yang sudah lama menjadi jalan untuk memasuki pedalaman hampir sampai di puncak Bukit Barisan. Dari sana orang bisa berjalan kaki ke Lebong dengan tidak susah-payah, mengikuti jalan gajah. Sebaliknya Sungai Rawas mengalir jauh sekali ke laut sampai di Pulau Bangka tanpa halangan berupa air terjun. Artnya mudah sekali naik perahu ke Rawas dan tidak terlalu sulit berjalan kaki ke Lebong.
Kesimpulan: Cukup banyak fakta yang menunjukkan Rawas sebagai dialek yang paling unik dan konservatif, dan tempatnya sebagai tempat yang paling lama dihuni orang Rejang. Walaupun demikian, hipotesa kedua sangat terbatas dan belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan lain seperti: Dari mana datangnya pelopor pertama, leluhur Rejang Purba, sebelum mereka pergi merantau sampai di tanah Rejang? Apakah mereka datang dari arah timur melalui Sungai Musi, ataukah dari arah lain seperti misalnya barat-laut dari daerah Jambi dan Minangkabau sekarang? Ataukah mungkin dari pantai barat konon melalui Sungai Ketaun sampai ke tanah Pesisir dan Lebong sekarang? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlulah kita pindahkan perhatian kepada hipotesa baru, yaitu hipotesa ketiga dalam tulisan ini.
3. Hipotesa Ketiga: Asal Bahasa Rejang
Hipotesa ketiga tergantung total atas adanya bahasa Rejang Purba sebagai langkah pertama atau menara lampu untuk dapat melihat lebih jauh ke masa lalu. Jadi tujuan penelitian kini adalah untuk mencari bahasa Austronesia lain yang sedemikian sama dengan Rejang Purba sehingga dapat dinyatakan mereka adalah anggota sebuah subkelompok (sekelompok kecilan). Kalau benar ditemukan subkelompok bahasa seperti itu dalam dunia bahasa di Asia Tenggara, maka sangat mungkinlah kesimpulan bahwa suku Rejang berasal dari sana.
Tujuan seksi tulisan ini untuk membenarkan hipotesa keanggotaan bahasa Rejang dan bahasa Bukar-Sadong dalam sebuah subkelompok yang dinamai Rejang-Bukar-Sadong Purba. Hipotesa didasarkan atas 12 perkembangan bersama fonologi, dan 9 kesamaan tatabahasa.
3.1 Prinsip
Kemunculan bersama dari perkembangan-perkembangan fonologi yang menentukan keanggotaan dua bahasa dalam satu subkelompok.
Hasil penelitian kami baik di Sumatra maupun di Kalimantan Utara menunjukkan sebuah bahasa di Sarawak, Malasia, sebagai bahasa yang paling dekat dengan Rejang Purba. Meskipun demikian, harus diakui bahwa “paling dekat” tidak berarti “dekat”. Kedua bahasa itu sangat berbeda, tetapi banyak kesamaan juga. Maka hipotesa keanggotaan kedua bahasa itu merupakan suatu hipotesa saja yang baru kami ajukan sejak tahun 2003 dalam jurnal dan buku.
Nama bahasa di Kalimantan itu adalah bahasa Bukar-Sadong Bidayŭh. Nama itu mencirikan penuturnya sebagai penduduk tanah pertanian terletak di pegunungan antara Sungai Bukar dan Sungai Sadong; dan nama Bidayŭh itu menunjukkan keanggotaan mereka dalam sebuah subkelompok besar dengan anggotanya sejumlah 20 bahasa lebih. Rupanya ke-20 bahasa Bidayŭh itu berbeda sekali dengan satu sama lain, sehingga tidak saling dimengerti oleh penuturnya masing-masing.
Kedua bahasa purba itu jelas keturunan dari bahasa Melayu-Polynesia Purba (MPP).
Berikut adalah perkembangan bersama dan kesamaan lain antara bahasa Rejang Purba dan Bahasa Bukar-Sadong Purba.
3.2 Kesamaan Fonologi 1-6
Baik Rejang Purba maupun Bukar-Sadong Purba memperlihatkan perkembangan fonologi bersama dari Melayu-Polinesia Purba (MPP).
3.3 Kesamaan Fonologi KE-7: Perkembangan MPP Diftong *aw dan *ay
Dalam kedua diftong *ay dan *aw MPP itu, vokalnya *-a- berkembang menjadi *-e- dalam Bahasa Rejang-Bukar-Sadong Purba (yang mirip Rejang Lebong sekarang).
3.4 Kesamaan fonologi KE-8: MPP *uy tidak berubah dan diwariskan sebagai ui
3.5 Kesamaan Fonologi 9-10: Perkembangan MPP *-a di akhir kata
Antara banyaknya evolusi MPP *a dalam sejarah bahasa Rejang termasuk dua perkembangan yang paling penting untuk hipotesa kami. MPP *a naik menjadi *e dalam pola perkataan KVKaK dan KVKa nampaknya bersama dalam sejarah bahasa Rejang dan Bukar-Sadong. Kedua perubahan ini terdapat sebelum tekanan menggeser ke akhir kata, yaitu sewaktu vokal *a itu tak ditekankan.
3.5.1 Kesamaan Fonologi 9: Perkembangan Bersama yang paling Penting
Dalam pola KVKaK (silabel akhir kata tertutup), MPP *-a berubah menjadi /e/ = /ĕ/ kecuali konsonan terakhir adalah [+velar] (ka-ga-nga-qa). Perubahan yang unik ini terdapat dalam semua dialek Rejang dan Bukar-Sadong.
3.5.2 Kesamaan Fonologi Ke-10
3.5.3 Rangkuman Kesamaan Perkembangan 9-10 secara Formal
*a > *e / V:C__(C[-velar])#
Rej-BS Purba > perkemgangan Kebanagung Melayu
*ki:ta > kite > ite kita
*du:ha > *du:e > dui: > dui dua
*ma:ta > *ma:te > *mati: > matei mata
*bu:lat > *bu:let > bule:t bulet bundar
*a:nak > *anak anak anak
3.5.4 Kesamaan ke-11 – Tekanan Menggeser ke Akhir Kata
Tekanan di akhir kata juga muncul bersama dalam Rejang Purba dan Bukar-Sadong Purba.
Dalam hipotésa kami, sesudah perkembangan tekanan itu, berpisahlah suku Rejang dan mulailah mereka hidup sendirian. Kemudian mereka masih tinggal di Kalimantan selama 1000 tahun baru migrasi ke Sumatra.
3.6 Tiga Macam Kesamaan Tatabahasa
Selain kesamaan evolusi fonologi, ada juga beberapa kesamaan tata bahasa yang mungkin juga menunjukkan bahasa Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba.
Arti Tibakang RejPurba Melayu
Masa lalu embeh *mi~bik~bi sudah
Masa depan kelék *kelak hendak
Bentuk perintah boh, mah *bah~ba lah
`Berapa?’ kudu *kedu berapa
`Di’ ang *tang di
`Mana?’ api *ipe mana
‘Yang’ de *di~do yang
3.7 Kesimpulan: Suku Rejang Berasal dari Kalimantan Utara
Kesimpulan kami dapat digambarkan dalam bentuk pohon bercabang yang mewakili hipotesa ketiga tentang asalnya suku Rejang.
Hipotesa Subkelompok Rejang dan Bukar-Sadong
Bahasa Rejang-Bidayŭh Purba 3500 tyl di Kalimantan Utara
Rejang-Bukar-Sadong Purba (3000 tyl) Biatah Milikin Grogo Singgai Lara’ Lunde
*a > e / V:C__(C[-velar])#
(migrasi ke Sumatra 1200 tyl)
Rejang Purba (1000 tyl) Bukar-Sadong Purba (1000 tyl)
Menurut hipotesa, nenek moyang suku Rejang keturunan dari suku Rejang-Biday«h yang berada di Kalimantan Utara antara 3500-3000 tahun yang lalu. Kemudian bahasa Rejang-Bukar-Sadong berpisah menjadi Rejang dan Bukar-Sadong, dan sesudah itu, suku Rejang hidup sendirian di Kalimantan Utara selama 1000 tahun lebih. Kemudian entah mengapa suku Rejang migrasi ke Sumatra kira-kira 1200 tahun yang lalu.
Dalam perjalannya yang jaraknya kurang dari 600 kilometer, mereka naik perahu menyeberangi lautan melalui selat Bangka dan masuk Sungai Musi lalu menyusurinya hingga mencapai muara Rawas. Di sana sungai itu bercabang. Ada separuh dari imigran tersebut meneruskan perjalanannya menyusuri sungai Musi terus melewati Bukit Dempo sampai menemukan lahan yang bagus di daerah Kebanagung sekarang. Yang separuh lagi belok ke kanan dan menyusuri sungai Rawas hingga ke bagian yang paling hulu. Di hulu Rawas terdapat lahan yang baik untuk pertanian dan juga bermanfaat. Dari sana para imigran berjalan ke Lebong tanpa bersusah-payah melalui jalan gajah. Dengan demikian, para pendiri Rejang dapat mencapai Lebong yang sangat indah dan subur itu. Seiring dengan waktu, kemudian dari Lebong ada sekelompok pelopor yang membuka lahan baru sampai ke Pesisir dan daerah Gunung Kaba di sekitar Curup sekarang.
PUSTAKA ACUAN
A. Pustaka tentang Bahasa Rejang oleh Richard McGinn
2009 (akan datang) Out-of-Borneo Subgrouping Hypothesis for Rejang: Re-weighing the
Evidence. In Festschrift, ed. by K. Alexander Adelaar. Canberra: Australian
National University.
2008a (akan datang, dengan Dr. Zainubi Arbi). Serial Buku Bacaan Bahasa Rejang untuk
Kanak-kanak. (Lima dialek x dua judul = sepuluh buku.) Akan diterbitkan oleh
pemerintah.
2008b (akan datang) Indirect Licensing at the Interface of Syntax and Semantics in Rejang.
Proceedings of the 16th Meeting of the Southeast Asian Linguistics Society, ed. by Uri
Tadmor. Jakarta: Universitas Atma Jaya.
2005. What the Rawas Dialect Reveals About the Linguistic History of Rejang. Oceanic
Linguistics 44.1:12-64.
2003. Raising of PMP *a in Bukar-Sadong Land Dayak and Rejang. In Issues in Austronesian
Historical Phonology, ed. by John Lynch. Canberra: Australian National University .
Pacific Linguistics Series C, pp. 37-64.
2000. Where Did the Rejangs Come From? In Marlys Macken (ed.), Proceedings of the Tenth
Annual Conference of the Southeast Asia Linguistics Society, University of Arizona.
1999. The Position of the Rejang Language of Sumatra in Relation to Malay and the ‘Ablaut’
Languages of Northwest Borneo. In Elizabeth Zeitoun and Paul Jen-kuei Li (eds.),
Selected Papers from the Eighth International Conference on Austronesian Linguistics.
Taipei: Academia Sinica Institute of Linguistics, pp. 205-226.
1998. Anti-ECP Effects in the Rejang Language of Sumatra. Canadian Journal of Linguistics
43(3/4):359-376.
1997 Some Irregular Reflexes of Proto-Malayo-Polynesian Vowels in the Rejang Language of
Sumatra. Diachronica XIV.1:67-108.
1991 Pronouns, Politeness and Hierarchy in Malay. In Robert Blust (ed.), Currents in Pacific
Linguistics: Festschrift in Honor of George W. Grace. Canberra, Australian National
University: Pacific Linguistics C-117, pp. 197-221.
1989 The Animacy Hierarchy and Western Austronesian Languages. The Ohio State University: ESCOL ’89, pp. 207-217.
1985 A Principle of Text Coherence in Indonesian Languages, Journal of Asian Studies
XLIV.4:743-753.
1982a Outline of Rejang Syntax. Jakarta: Series NUSA, Linguistic Studies in Indonesian and
Languages of Indonesia.
1982b On the So-Called Implosive Nasals of Rejang (with James Coady). In Reiner Carle (ed),
Gava` 17: Studies in Austronesian Languages and Cultures: Festschrift for Hans Kähler.
pp. 437-449.
B. Penelitian Masih Belum Selesai
C. Pustaka Acuan lain tentang
Bahasa dan Budaya Rejang
Aichele, W. 1935, 1984. A fragmentary sketch of the Rejang language. Reprinted in Jaspan
(1984), pp. 145-158.
Blust, Robert A. 1984. On the history of the Rejang vowels and diphthongs. Bijdragen tot
de Taal-, Land- en Volkenkunde 140:422-450.
Galizia, Michele. 1992. Myth does not exist apart from discourse, or, The story of a myth that
became history. In Victor T. King, ed. The Rejang of southern Sumatra. Hull, England:
University of Hull Centre For South-East Asian Studies, pp. 3-29.
Hazairin. De Redjang. 1936. De volksordening, het verwantschaps-,huweliijks- en erfrecht.
Batavia doctoral thesis (unpublished). 242pp. With map. Bandoeng.
Helfrich, O. L. Uit de folklore van Zuid-Sumatra. BKI 83(1927), pp. 193-315. (Rejang texts pp.
244-248 w/translation pp. 308-315).
Holle, van K. F. n.d. Rejdangische Woordenlijst door den controleur SWAAB in het archief te
Kepahiang aangetroffen, door een onbekende bewerkt naar de blanco-woordenlijst,
36pp.
Hosein, H. M. 1971 ms. Edited by Abdullah Sani. Rejang asal-usul. 58 pp. (stenciled)
Hosein, H. M. 1971 Ms, edited by Abdullah Sani. Rejang asal-usul. 58pp. (stencilled)
Jaspan, Mervyn A. 1964. Folk literature of South Sumatra: Rejang Ka-Ga-Nga texts. Canberra:
The Australian National University.
_____. 1984. Materials for a Redjang-Indonesian-English dictionary, ed. by P. Voorhoeve.
Canberra: Pacific Linguistics Series D, No. 58.
Marsden, William. 1783, 1811. History of Sumatra. London. Reprinted 1966. Kuala Lumpur:
Oxford University Press. (includes a Rejang wordlist and Ka-Ga-Nga script)
Rees, W. A. Van. 1860. De Annexatie Der Redjang eene Vredelievende Militaire Expeditie.
Rotterdam: Nijgh. 119pp. (Contains description of the Rejang and Besemah people
occupying the region between Bengkulu and Palembang.)
Saleh, Yuslisal. 1988. System Morphologi Verba Bahasa Rejang. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Sani, Abdullah. Ms. (n.d. ca. 1975) Petweak lem serambeak. 4pp. (stencilled)
Siddik, Abdullah. 1980. Hukum Adat Rejang. Jakarta: Balai Pustaka.
Syahrul Naspin et. al. 1980/81. Morfologi dan sintaksis bahasa Rejang. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Sya’rani, Atika. 1980. Kata kerja bahasa Rejang. Laporan penelitian. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. 97pp (stencilled)
_______. 1981/2. Sistem perulangan kata dalam bahasa Rejang. Laporan penelitian. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 97pp (stencilled)
Voorhoeve, P. 1955. Critical survey of studies on the languages of Sumatra. ‘S-Gravenhage:
Martinus Nijhoff.
. 1984. Preface and Postscript to Jaspan (1984).
P. Wink, De onderafdeeling Lais in de Residentie Bengkoeloe. VBG 66/2 (1926),
pp. 111-124: Maleisch-Rejangsche woordenlijst, Lais.
Wuisman, J.J.J.M. 1984. The Rejang and the field of ethnological study concept (Comments
by William D. Wilder). Unity in Diversity: Indonesia as a Field of Ethnological Study. VKI
103, pp. xzxz.
D. Pustaka Acuan Ilmu Bahasa
Adelaar, K. Alexander, 1992, Proto Malayic: A reconstruction of its phonology and part of its
morphology and lexicon. Canberra: Pacific Linguistics C-119.
__________. 2007. Review of John Lynch, ed., Issues in Austronesian historical phonology.
Canberra: Pacific Linguistics 550. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde
163/1:139-146.
Asmah Haji Omar. 1983. The Malay Peoples Of Malaysia and their Languages. Kuala
Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
__________. 1992. An overview of linguistic research on Sarawak. In Martin, Peter W., ed.,
Shifting patterns of language use in Borneo. Williamsburg, VA: The Borneo Research
Council Proceedings Series Vol. Three.
Bellwood, Peter. 1997. Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago. Honolulu: University of
Hawaii Press.
Blust, Robert A. 2006. The origin of the Kelabit voiced aspirates: A historical hypothesis
revisited. Oceanic linguistics 45.2: 311-338.
__________. 1991a (ed). Currents in Pacific Linguistics: Papers in honor of George W. Grace.
Pacific Linguistics Series C, No. 17. Canberra.
__________. 1991b. Sound change and migration distance. In Blust (ed.), pp. 27-42.
__________. (Ms., no date) Austronesian comparative dictionary. Electronic manuscript.
Clark, Ross. 1987. Austronesian Languages. In Bernard Comrie, ed., The World’s Major
Languages. New York: Oxford University Press.
Collins, James T, ed. 1990. Language and oral traditions in Borneo. Selected Papers from the
first extraordinary conference of the Borneo Research Council, Kuching, Sarawak,
Malaysia August 4-9. Williamsburg, VA: The Borneo Research Council Proceedings
Series Vol. Two.
Court, Christopher, 1967. Some Areal features of Měntu Land Dayak. Oceanic Linguistics VI:
46-50.
Dahl, Otto Christian. 1976. Proto-Austronesian (2nd Edition). Scandinavian Institute of Asian
Studies monograph series, No. 15. Lund.
Dempwolff, Otto. 1934-1938. Vergleichende Lautlehre des Austronesischen Wortschatzes.
Berlin: Dietrich Reimer Verlag.
Diamond, Jared and Peter Bellwood. Farmers and their languages: The first expansions.
Science vol. 300, April 24, 2003.
Hudson, A.B. 1978. Linguistic relations among Bornean peoples with special reference to
Sarawak: an interim report. In Sarawak: Linguistics and Development Problems.
Williamsburg, VA: Studies in Third World Societies No. 3, pp. 1-45.
Kroeger, Paul R., 1994 Ms. The dialects of Biatah. Borneo Research Council, 3rd Biennial
Meeting, 10-14 July, 1994.
Ray, Sidney H., 1913, The languages of Borneo. The Sarawak Museum Journal 1(4):1-196.
Ross, Malcom D. 1991. How Conservative are Sedentary Languages? Evidence from
Western Melanesia. In Blust (ed.).
__________. 1998. Language classification in Sarawak: a status report. The Sarawak
Museum Journal LIII 74:137-173.
Scott, N.C., 1964, Nasal consonants in Land Dayak (Bukar-Sadong). In David Abercrombie et.
al. eds., In honour of Daniel Jones. London: Longmans, pp. 432-436.
Tadmor, Uri. 2003. Final /a/ mutation: a borrowed feature in Western Austronesia. In John
Lynch, ed., Issues In Austronesian Historical Phonology. Canberra: Pacific Linguistics
550, pp. 15-36.
Topping, Donald M. 1990. A dialect survey of the Land Dayaks of Sarawak. In James T. Collins,
ed., 247-274.
Voorhoeve, P. 1955. Critical survey of studies on the languages of Sumatra. Martinus Nijhof:
‘S Gravenhage.
Zorc, David. 2006. Review of John Lynch, ed., Issues in Austronesian historical phonology.
Canberra: Pacific Linguistics 550. In Oceanic linguistics 45.2: 505-516. http://209.85.175.104/search?q=cache:53fHi4jN-hEJ:oak.cats.ohiou.edu/~mcginn
Richard McGinn
Ohio University USA
0. Ringkasan
Di dalam tulisan ini, kami mengajukan tiga hipotesa yang secara logis tidak perlu diterima sekaligus atau sebagai gabungan. Ketiga-tiganya didasarkan atas perbandingan bahasa-bahasa, terutama perbandingan kosakata sehari-hari termasuk bentuk (struktur) perkataan.
1. Bahasa Rejang adalah anggota subkelompok besar “Austronesia” dan turun dari bahasa induk purba yang bernama Austronesia Purba.
2. Dialek-dialek Rejang adalah anggota subkelompok kecil di Sumatra yang turun dari bahasa induk purba yang kami namai bahasa Rejang Purba. Ternyata, dialek Rawas yang paling penting dalam upaya merekonstruksikan Rejang Purba. Selanjutnya bahasa Purba dipergunakan sebagai langkah pertama atau ‘menara berlampu’ untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih jauh ke masa lalu – misalnya untuk mengatahui tempat yang paling pertama diduduki oleh suku Rejang.
3. Bahasa Rejang (purba) adalah anggota subkelompok Bidayŭh dan turun dari bahasa induk yang kami namai Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba. Lagi pula, leluhur Rejang itu berasal dari sana, yaitu Kalimantan Utara.
Tiga hipotesa ini tidak sama penilaiannya. Misalnya, hipotesa yang pertama sudah sering dibenarkan oleh para akhli bahasa sejak 70 tahun belakang ini; dengan demikian kami kemukakannya sebagai latar belakang. Lain halnya dengan hipotesa kedua dan ketiga yang kami ajukan sebagai teori pribadi. Walau sudah diterbitkan dalam jurnal dan buku, haruslah diakui bahwa hipotesa kedua dan ketiga masih baru, dan belum banyak didiskusikan (apalagi dibenarkan dan dikonfirmasikan) oleh para akhli bahasa. Malah teori ketiga sudah memiliki pendukung (Zork 2006) dan pengritik (Adelaar 2007).
1. Hipotesa yang pertama
Bahasa dan suku Rejang adalah anggota kelompok besar bahasa-bahasa yang bernama “Austronesian”, yang terdiri dari lebih dari seribu duaratus bahasa, yang tersebar di Asia Tenggara dan pulau-pulau di Lautan Pasifik dengan penutur berjumlah ratusan juta orang (Dempwolff 1934-1938; Dahl 1976; Blust (MS, no date). Berikut adalah beberapa contoh kata sehari-hari yang merupakan bahan keterangan (data, fakta) untuk dimengerti dan ditafsirkan oleh hipotesa serupa rekonstruksinya bahasa Austronesia Purba.
Kata-kata Sehari-hari dalam Tujuh Bahasa Austronesia
Melayu Rukai Tagalog Bidayuh Rejang Samoan Malagasy
(Taiwan) (Filipina) (Kalimantan) Rawas (Pasifika) (Afrika)
Dua dosa da-lawa duŭ duei lua rua
Empat sepate apat umpĕt pat fi efatra
Lima lima lima rimŭ lemau lima dimi
Enam enem anim inŭm num ono ëninä
Ayam (aDaDame) manok manuk monok manu ??
Kutu koco kuto gutu guteu ?utu hao
Mata maca mata matŭh matei mata maso
Telinga calinga talinga (kaping) (ti’uk) talinga tadini
Ati aTay atay ati atui ate ati
Jalan dalan da?an jĕrĕn dalen ala ??
Niur (abare) niyog (buntĕn) niol niu ??
Ujan odale ulan ujĕn ujen ua uranä
Langit (sobelebeleng) langit rangit längät langi laniträ
Batu (lenege) bato batuh buteu fatu `fruit pit‘ vato
Makan kane ka?in ma?an ka?en ?ai hanä
Bahasa-bahasa di atas ini tersebar di hampir semua kepulauan Asia Tenggara dan Pasifik waktu sekarang, dari Taiwan (Rukai) hingga di Afrika (Malagasy) dan lautan Pasifik (Samoan). Ternyata, semua bahasa ini termasuk dalam satu kelompok bahasa, yaitu Austronesian. Prinsip dasar ilmu sejarah bahasa yang jelas digambarkan adalah: Evolusi fonologi sangat sistematis dan bertata dalam setiap dialek. (“Sound changes are regular”). Misalnya huruf ‘c’ dalam bahasa Rukai selalu menunjukkan ‘t’ atau ‘s’ atau nol dalam bahasa lain (lihat Kutu, Mata, Telinga) tanpa kecualian. Data seperti ini mustahil telah muncul hanya sebagai kebetulan saja, atau sebagai gara-gara kecampuran penduduk yang jauh sekali jarak antaranya pada waktu sekarang. Sebaliknya, para akhli bahasa menyatakan bahwa semua perkataan di atas itu diwariskan dari sebuah bahasa induk yang walaupun sudah lama mati sebagai bahasa sehari-hari, masih tetap hidup serupa bahasa keturunannya.
2. Di manakah Tempat yang paling Lama Diduduki oleh Suku Rejang?
Hipotesa 2: Dialek-dialek Rejang merupakan subkelompok terpencil di Sumatra yang turun dari bahasa induk purba yang kami namai Rejang Purba. Ternyata, dialek Rawas yang paling konservatif yaitu penting dalam upaya merekonstruksikan Rejang Purba. Selanjutnya bahasa Purba dipergunakan sebagai langkah pertama atau menara berlampu untuk melihat dengan lebih jelas dan lebih jauh ke masa lalu–misalnya untuk mengatahui tempat yang paling pertama diduduki oleh suku Rejang.
2.1 Keunikan Bahasa Rejang
Bahasa Rejang yang unik ini dapat dicirikan oleh beberapa macam unsur leksikon, tatabahasa dan fonologi.
MPP RP Pes Leb Musi Keban Rawas
1. *danaw *daniu daneu daneu danuo danea daniu
2. *qatay *atui atui atei atié ateé atui
3. *kahiw *kiiu kieu kieu kiuo kiea kiiu
4. *hapuy *upui upui opoi opoi opoi upui
5. *tinaqi *tenui tenui tenei tenié teneé tenui
Keunikan bahasa Rejang dan perbedaan dialek-dialeknya satu sama lain yang memungkinkan merekonstruksikan bahasa Rejang Purba sebagai suatu hipotesa. Sebaliknya bahasa Purba mengandung informasi tentang sejarah bahasa dan suku Rejang.
Yang muncul dengan jelas dari penelitian kami adalah: dialek Rawas dan Kebanagung yang paling penting dalam perekonstruksian bahasa Rejang Purba, sedangkan dialek Lebong, Pesisir dan Musi lebih bermanfaat untuk menunjukkan proses evolusi fonologi. Dengan kata lain, perekonstruksian bahasa purba Rejang tidak mungkin dengan hanya dialek Lebong, Musi dan Pesisir, sebab ketiganya sangat mirip dan perbedaannya sedikit sekali. Lain halnya dengan dialek Rawas dan Kebanagung yang sangat berbeda dengan dialek Rejang lain.
2.2 Sumbangan Dialek Kebanagung
Berikut adalah dua sumbangan dari dialek Kebanagung yang paling penting.
2.3 Sumbangan Dialek Rawas
Adalah tiga sumbangan dari dialek Rawas yang paling penting.
2.3.1 MPP *-l, *-R dan Rawas -l
MPP *-l di akhir kata diwariskan dari Rejang Purba *-l, *-r yang hilang dari dialek lain, misalnya: niol ‘niur’; biol ‘air’; tenol ‘telur’ dalam Rawas tetapi menjadi nioa, bioa, tenoa dalam dialek lain.
Juga MPP *-R berubah menjadi RP *-l dan *-r dalam Bahasa Rejang Purba.
MPP RPur P&L Musi Keban Rawas Melayu
A *wahiR *biol bioa bioa bioa biol air
*niuR *niol nioa nioa nioa niol niur
*ikuR *ikol ikoa ikoa ikoa iko? (borr) ékor
*dapuR *dopol dopoa dopoa dopoa dopol dapur
*qateluR *tenol tenoa tenoa tenoa tenol telor
*tiduR *tidul tidua tidoa tiduh(borr) tidul tidur
*dengeR *tengol tengoa tengoa tengoa n.c. dengar
B *huluR *ulur ulua oloa uluh ulua ulur
*qapuR *upur upua opoa opoh upua kapur
*libeR *liber libea libea libeh libea lébar
*qiliR *ilir n.c. éléa ilih n.c. ilir
2.3.2 MPP, RP *iu dan *ui dan Rawas iu dan ui
Diftong MPP *uy dan *iw diwarisi kepada Rawas dan Rejang Purba Purba ui dan iu tanpa perubahan sejak 6000 tahun, sedangkan sudah berubalah dialek yang lain.
MPP RP Pes Leb Musi Keban Rawas
*kahiw *kiiu kieu kieu kiuo kiea kiiu
*hapuy *upui upui opoi opoi opoi upui
2.3.3 Rejang Purba dan Rawas *ä
Rejang Purba *ä menjadi é dalam setiap dialek kecuali Rawas.
Oleh sebab adanya Rawas -l, ui, iu, ä; dan adanya Kebanagung dui, tui, bungi dan H, maka sebagian kecil sejarah bahasa Rejang tidak hilang.
Lain halnya dengan kecirikhasan fonologi dialek Lebong, Pesisir dan Musi, yang menunjukkan proses evolusi fonologi.
2.4 Kecirikhasan Fonologi Dialek Lebong
Pada umumnya, kecirikhasan Lebong menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.
2.5 Kecirikhasan Fonologi Dialek Pesisir
Juga kecirikhasan Pesisir cenderung menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.
2.6 Kecirikhasan Fonologi Dialek Musi
Juga kecirikhasan Musi cenderung menunjukkan evolusi fonologi. Berikut adalah beberapa contoh yang penting.
2.7 Sumbangan Lebong, Pesisir dan Musi kepada Rejang Purba
Kebetulan ada juga unsur dialek Lebong, Pesisir dan Musi yang menunjukkan Rejang Purba, dan sebaliknya, ada unsur dialek Rawas yang menunjukkan perkembangan baru dan bukan Rejang Purba. Berikutlah ada dua contoh yang menarik dan penting.
1. -iak dan -uak dalam Pesisir dan Lebong diwariskan dari RP *-i? dan *-u? yang berubah lebih lanjut dalam Rawas; misalnya dalam Rawas RP *puti? menjadi putäh dan *pulu? menjadi poloh.
2. Serial kata ganti dalam Pesisir, Lebong, Musi dan Kebanagung, yaitu uku, kumu, ko, nu, udi, si, diwariskan langsung dari Rejang Purba, sedangkan serial itu sudah berubah dalam Rawas menjadi: keu, kumeu, kaben, kaben, kaben, sei.
2.8 Kesimpulan tentang Sumbangan setiap Dialek
Rawas dan Kebanagung berfungsi sebagi “dialek kriterion” dalam usaha reconstruksi Rejang Pruba. Sebab kebanyakan kecirikhasannya menunjukkan kepada unsur-unsur bahasa Rejang Purba. Sedangkan dialek lainnya (Lebong, Pesisir dan Musi) berfungsi sebagai “dialek ujian” untuk membenarkan Rejang Purba; kebanyakan kecirikhasannya menunjukkan perkembangan-perkembangan baru.
Akhir katanya, sumbangan setiap dialek sama pentingnya tetapi tidak sama gunanya
2.9 Di manakah Tempat yang paling Lama Diduduki oleh Suku Rejang?
Dengan adanya bahasa Rejang Purba, muncullah pertanyaan dengan jawabannya juga. Pertanyaannya adalah: di mana tempat nenek-moyang pada waktu mereka masih berbicara dengan bahasa Rejang Purba? Artinya, dari mana titik tolaknya waktu mereka mulai menyebar ke seluruh tanah Rejang?
Jawabannya yaitu: mengikuti prinsip akhli bahasa Blust (1991b) dan Ross (1991), umumnya dialek para perantau cenderung berkembang cepat sedang dialek orang yang tinggal cenderung berkembang lebih lambat (konservatif). Malah Ross (1991) menambahkan pengaruh psikologi: para perantau cenderung toleran terhadap “kesalahan” (perubahan bahasa) yang selalu akan muncul dari mulut anak-anak, sedang orang yang tinggal tidak setoleran “kesalahan” itu. Prinsip ini pasti menunjukkan Rawas sebagai tempat pertama nenek moyang waktu mereka masih berbahasa dengan Rejang Purba.
2.10 Terletak Geografi
Tanah Rawas terletak di hulu Sungai Rawas yang sudah lama menjadi jalan untuk memasuki pedalaman hampir sampai di puncak Bukit Barisan. Dari sana orang bisa berjalan kaki ke Lebong dengan tidak susah-payah, mengikuti jalan gajah. Sebaliknya Sungai Rawas mengalir jauh sekali ke laut sampai di Pulau Bangka tanpa halangan berupa air terjun. Artnya mudah sekali naik perahu ke Rawas dan tidak terlalu sulit berjalan kaki ke Lebong.
Kesimpulan: Cukup banyak fakta yang menunjukkan Rawas sebagai dialek yang paling unik dan konservatif, dan tempatnya sebagai tempat yang paling lama dihuni orang Rejang. Walaupun demikian, hipotesa kedua sangat terbatas dan belum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan lain seperti: Dari mana datangnya pelopor pertama, leluhur Rejang Purba, sebelum mereka pergi merantau sampai di tanah Rejang? Apakah mereka datang dari arah timur melalui Sungai Musi, ataukah dari arah lain seperti misalnya barat-laut dari daerah Jambi dan Minangkabau sekarang? Ataukah mungkin dari pantai barat konon melalui Sungai Ketaun sampai ke tanah Pesisir dan Lebong sekarang? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlulah kita pindahkan perhatian kepada hipotesa baru, yaitu hipotesa ketiga dalam tulisan ini.
3. Hipotesa Ketiga: Asal Bahasa Rejang
Hipotesa ketiga tergantung total atas adanya bahasa Rejang Purba sebagai langkah pertama atau menara lampu untuk dapat melihat lebih jauh ke masa lalu. Jadi tujuan penelitian kini adalah untuk mencari bahasa Austronesia lain yang sedemikian sama dengan Rejang Purba sehingga dapat dinyatakan mereka adalah anggota sebuah subkelompok (sekelompok kecilan). Kalau benar ditemukan subkelompok bahasa seperti itu dalam dunia bahasa di Asia Tenggara, maka sangat mungkinlah kesimpulan bahwa suku Rejang berasal dari sana.
Tujuan seksi tulisan ini untuk membenarkan hipotesa keanggotaan bahasa Rejang dan bahasa Bukar-Sadong dalam sebuah subkelompok yang dinamai Rejang-Bukar-Sadong Purba. Hipotesa didasarkan atas 12 perkembangan bersama fonologi, dan 9 kesamaan tatabahasa.
3.1 Prinsip
Kemunculan bersama dari perkembangan-perkembangan fonologi yang menentukan keanggotaan dua bahasa dalam satu subkelompok.
Hasil penelitian kami baik di Sumatra maupun di Kalimantan Utara menunjukkan sebuah bahasa di Sarawak, Malasia, sebagai bahasa yang paling dekat dengan Rejang Purba. Meskipun demikian, harus diakui bahwa “paling dekat” tidak berarti “dekat”. Kedua bahasa itu sangat berbeda, tetapi banyak kesamaan juga. Maka hipotesa keanggotaan kedua bahasa itu merupakan suatu hipotesa saja yang baru kami ajukan sejak tahun 2003 dalam jurnal dan buku.
Nama bahasa di Kalimantan itu adalah bahasa Bukar-Sadong Bidayŭh. Nama itu mencirikan penuturnya sebagai penduduk tanah pertanian terletak di pegunungan antara Sungai Bukar dan Sungai Sadong; dan nama Bidayŭh itu menunjukkan keanggotaan mereka dalam sebuah subkelompok besar dengan anggotanya sejumlah 20 bahasa lebih. Rupanya ke-20 bahasa Bidayŭh itu berbeda sekali dengan satu sama lain, sehingga tidak saling dimengerti oleh penuturnya masing-masing.
Kedua bahasa purba itu jelas keturunan dari bahasa Melayu-Polynesia Purba (MPP).
Berikut adalah perkembangan bersama dan kesamaan lain antara bahasa Rejang Purba dan Bahasa Bukar-Sadong Purba.
3.2 Kesamaan Fonologi 1-6
Baik Rejang Purba maupun Bukar-Sadong Purba memperlihatkan perkembangan fonologi bersama dari Melayu-Polinesia Purba (MPP).
3.3 Kesamaan Fonologi KE-7: Perkembangan MPP Diftong *aw dan *ay
Dalam kedua diftong *ay dan *aw MPP itu, vokalnya *-a- berkembang menjadi *-e- dalam Bahasa Rejang-Bukar-Sadong Purba (yang mirip Rejang Lebong sekarang).
3.4 Kesamaan fonologi KE-8: MPP *uy tidak berubah dan diwariskan sebagai ui
3.5 Kesamaan Fonologi 9-10: Perkembangan MPP *-a di akhir kata
Antara banyaknya evolusi MPP *a dalam sejarah bahasa Rejang termasuk dua perkembangan yang paling penting untuk hipotesa kami. MPP *a naik menjadi *e dalam pola perkataan KVKaK dan KVKa nampaknya bersama dalam sejarah bahasa Rejang dan Bukar-Sadong. Kedua perubahan ini terdapat sebelum tekanan menggeser ke akhir kata, yaitu sewaktu vokal *a itu tak ditekankan.
3.5.1 Kesamaan Fonologi 9: Perkembangan Bersama yang paling Penting
Dalam pola KVKaK (silabel akhir kata tertutup), MPP *-a berubah menjadi /e/ = /ĕ/ kecuali konsonan terakhir adalah [+velar] (ka-ga-nga-qa). Perubahan yang unik ini terdapat dalam semua dialek Rejang dan Bukar-Sadong.
3.5.2 Kesamaan Fonologi Ke-10
3.5.3 Rangkuman Kesamaan Perkembangan 9-10 secara Formal
*a > *e / V:C__(C[-velar])#
Rej-BS Purba > perkemgangan Kebanagung Melayu
*ki:ta > kite > ite kita
*du:ha > *du:e > dui: > dui dua
*ma:ta > *ma:te > *mati: > matei mata
*bu:lat > *bu:let > bule:t bulet bundar
*a:nak > *anak anak anak
3.5.4 Kesamaan ke-11 – Tekanan Menggeser ke Akhir Kata
Tekanan di akhir kata juga muncul bersama dalam Rejang Purba dan Bukar-Sadong Purba.
Dalam hipotésa kami, sesudah perkembangan tekanan itu, berpisahlah suku Rejang dan mulailah mereka hidup sendirian. Kemudian mereka masih tinggal di Kalimantan selama 1000 tahun baru migrasi ke Sumatra.
3.6 Tiga Macam Kesamaan Tatabahasa
Selain kesamaan evolusi fonologi, ada juga beberapa kesamaan tata bahasa yang mungkin juga menunjukkan bahasa Rejang-Bukar-Sadong-Bidayŭh Purba.
Arti Tibakang RejPurba Melayu
Masa lalu embeh *mi~bik~bi sudah
Masa depan kelék *kelak hendak
Bentuk perintah boh, mah *bah~ba lah
`Berapa?’ kudu *kedu berapa
`Di’ ang *tang di
`Mana?’ api *ipe mana
‘Yang’ de *di~do yang
3.7 Kesimpulan: Suku Rejang Berasal dari Kalimantan Utara
Kesimpulan kami dapat digambarkan dalam bentuk pohon bercabang yang mewakili hipotesa ketiga tentang asalnya suku Rejang.
Hipotesa Subkelompok Rejang dan Bukar-Sadong
Bahasa Rejang-Bidayŭh Purba 3500 tyl di Kalimantan Utara
Rejang-Bukar-Sadong Purba (3000 tyl) Biatah Milikin Grogo Singgai Lara’ Lunde
*a > e / V:C__(C[-velar])#
(migrasi ke Sumatra 1200 tyl)
Rejang Purba (1000 tyl) Bukar-Sadong Purba (1000 tyl)
Menurut hipotesa, nenek moyang suku Rejang keturunan dari suku Rejang-Biday«h yang berada di Kalimantan Utara antara 3500-3000 tahun yang lalu. Kemudian bahasa Rejang-Bukar-Sadong berpisah menjadi Rejang dan Bukar-Sadong, dan sesudah itu, suku Rejang hidup sendirian di Kalimantan Utara selama 1000 tahun lebih. Kemudian entah mengapa suku Rejang migrasi ke Sumatra kira-kira 1200 tahun yang lalu.
Dalam perjalannya yang jaraknya kurang dari 600 kilometer, mereka naik perahu menyeberangi lautan melalui selat Bangka dan masuk Sungai Musi lalu menyusurinya hingga mencapai muara Rawas. Di sana sungai itu bercabang. Ada separuh dari imigran tersebut meneruskan perjalanannya menyusuri sungai Musi terus melewati Bukit Dempo sampai menemukan lahan yang bagus di daerah Kebanagung sekarang. Yang separuh lagi belok ke kanan dan menyusuri sungai Rawas hingga ke bagian yang paling hulu. Di hulu Rawas terdapat lahan yang baik untuk pertanian dan juga bermanfaat. Dari sana para imigran berjalan ke Lebong tanpa bersusah-payah melalui jalan gajah. Dengan demikian, para pendiri Rejang dapat mencapai Lebong yang sangat indah dan subur itu. Seiring dengan waktu, kemudian dari Lebong ada sekelompok pelopor yang membuka lahan baru sampai ke Pesisir dan daerah Gunung Kaba di sekitar Curup sekarang.
PUSTAKA ACUAN
A. Pustaka tentang Bahasa Rejang oleh Richard McGinn
2009 (akan datang) Out-of-Borneo Subgrouping Hypothesis for Rejang: Re-weighing the
Evidence. In Festschrift, ed. by K. Alexander Adelaar. Canberra: Australian
National University.
2008a (akan datang, dengan Dr. Zainubi Arbi). Serial Buku Bacaan Bahasa Rejang untuk
Kanak-kanak. (Lima dialek x dua judul = sepuluh buku.) Akan diterbitkan oleh
pemerintah.
2008b (akan datang) Indirect Licensing at the Interface of Syntax and Semantics in Rejang.
Proceedings of the 16th Meeting of the Southeast Asian Linguistics Society, ed. by Uri
Tadmor. Jakarta: Universitas Atma Jaya.
2005. What the Rawas Dialect Reveals About the Linguistic History of Rejang. Oceanic
Linguistics 44.1:12-64.
2003. Raising of PMP *a in Bukar-Sadong Land Dayak and Rejang. In Issues in Austronesian
Historical Phonology, ed. by John Lynch. Canberra: Australian National University .
Pacific Linguistics Series C, pp. 37-64.
2000. Where Did the Rejangs Come From? In Marlys Macken (ed.), Proceedings of the Tenth
Annual Conference of the Southeast Asia Linguistics Society, University of Arizona.
1999. The Position of the Rejang Language of Sumatra in Relation to Malay and the ‘Ablaut’
Languages of Northwest Borneo. In Elizabeth Zeitoun and Paul Jen-kuei Li (eds.),
Selected Papers from the Eighth International Conference on Austronesian Linguistics.
Taipei: Academia Sinica Institute of Linguistics, pp. 205-226.
1998. Anti-ECP Effects in the Rejang Language of Sumatra. Canadian Journal of Linguistics
43(3/4):359-376.
1997 Some Irregular Reflexes of Proto-Malayo-Polynesian Vowels in the Rejang Language of
Sumatra. Diachronica XIV.1:67-108.
1991 Pronouns, Politeness and Hierarchy in Malay. In Robert Blust (ed.), Currents in Pacific
Linguistics: Festschrift in Honor of George W. Grace. Canberra, Australian National
University: Pacific Linguistics C-117, pp. 197-221.
1989 The Animacy Hierarchy and Western Austronesian Languages. The Ohio State University: ESCOL ’89, pp. 207-217.
1985 A Principle of Text Coherence in Indonesian Languages, Journal of Asian Studies
XLIV.4:743-753.
1982a Outline of Rejang Syntax. Jakarta: Series NUSA, Linguistic Studies in Indonesian and
Languages of Indonesia.
1982b On the So-Called Implosive Nasals of Rejang (with James Coady). In Reiner Carle (ed),
Gava` 17: Studies in Austronesian Languages and Cultures: Festschrift for Hans Kähler.
pp. 437-449.
B. Penelitian Masih Belum Selesai
C. Pustaka Acuan lain tentang
Bahasa dan Budaya Rejang
Aichele, W. 1935, 1984. A fragmentary sketch of the Rejang language. Reprinted in Jaspan
(1984), pp. 145-158.
Blust, Robert A. 1984. On the history of the Rejang vowels and diphthongs. Bijdragen tot
de Taal-, Land- en Volkenkunde 140:422-450.
Galizia, Michele. 1992. Myth does not exist apart from discourse, or, The story of a myth that
became history. In Victor T. King, ed. The Rejang of southern Sumatra. Hull, England:
University of Hull Centre For South-East Asian Studies, pp. 3-29.
Hazairin. De Redjang. 1936. De volksordening, het verwantschaps-,huweliijks- en erfrecht.
Batavia doctoral thesis (unpublished). 242pp. With map. Bandoeng.
Helfrich, O. L. Uit de folklore van Zuid-Sumatra. BKI 83(1927), pp. 193-315. (Rejang texts pp.
244-248 w/translation pp. 308-315).
Holle, van K. F. n.d. Rejdangische Woordenlijst door den controleur SWAAB in het archief te
Kepahiang aangetroffen, door een onbekende bewerkt naar de blanco-woordenlijst,
36pp.
Hosein, H. M. 1971 ms. Edited by Abdullah Sani. Rejang asal-usul. 58 pp. (stenciled)
Hosein, H. M. 1971 Ms, edited by Abdullah Sani. Rejang asal-usul. 58pp. (stencilled)
Jaspan, Mervyn A. 1964. Folk literature of South Sumatra: Rejang Ka-Ga-Nga texts. Canberra:
The Australian National University.
_____. 1984. Materials for a Redjang-Indonesian-English dictionary, ed. by P. Voorhoeve.
Canberra: Pacific Linguistics Series D, No. 58.
Marsden, William. 1783, 1811. History of Sumatra. London. Reprinted 1966. Kuala Lumpur:
Oxford University Press. (includes a Rejang wordlist and Ka-Ga-Nga script)
Rees, W. A. Van. 1860. De Annexatie Der Redjang eene Vredelievende Militaire Expeditie.
Rotterdam: Nijgh. 119pp. (Contains description of the Rejang and Besemah people
occupying the region between Bengkulu and Palembang.)
Saleh, Yuslisal. 1988. System Morphologi Verba Bahasa Rejang. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Sani, Abdullah. Ms. (n.d. ca. 1975) Petweak lem serambeak. 4pp. (stencilled)
Siddik, Abdullah. 1980. Hukum Adat Rejang. Jakarta: Balai Pustaka.
Syahrul Naspin et. al. 1980/81. Morfologi dan sintaksis bahasa Rejang. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Sya’rani, Atika. 1980. Kata kerja bahasa Rejang. Laporan penelitian. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. 97pp (stencilled)
_______. 1981/2. Sistem perulangan kata dalam bahasa Rejang. Laporan penelitian. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 97pp (stencilled)
Voorhoeve, P. 1955. Critical survey of studies on the languages of Sumatra. ‘S-Gravenhage:
Martinus Nijhoff.
. 1984. Preface and Postscript to Jaspan (1984).
P. Wink, De onderafdeeling Lais in de Residentie Bengkoeloe. VBG 66/2 (1926),
pp. 111-124: Maleisch-Rejangsche woordenlijst, Lais.
Wuisman, J.J.J.M. 1984. The Rejang and the field of ethnological study concept (Comments
by William D. Wilder). Unity in Diversity: Indonesia as a Field of Ethnological Study. VKI
103, pp. xzxz.
D. Pustaka Acuan Ilmu Bahasa
Adelaar, K. Alexander, 1992, Proto Malayic: A reconstruction of its phonology and part of its
morphology and lexicon. Canberra: Pacific Linguistics C-119.
__________. 2007. Review of John Lynch, ed., Issues in Austronesian historical phonology.
Canberra: Pacific Linguistics 550. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde
163/1:139-146.
Asmah Haji Omar. 1983. The Malay Peoples Of Malaysia and their Languages. Kuala
Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
__________. 1992. An overview of linguistic research on Sarawak. In Martin, Peter W., ed.,
Shifting patterns of language use in Borneo. Williamsburg, VA: The Borneo Research
Council Proceedings Series Vol. Three.
Bellwood, Peter. 1997. Prehistory of the Indo-Malaysian Archipelago. Honolulu: University of
Hawaii Press.
Blust, Robert A. 2006. The origin of the Kelabit voiced aspirates: A historical hypothesis
revisited. Oceanic linguistics 45.2: 311-338.
__________. 1991a (ed). Currents in Pacific Linguistics: Papers in honor of George W. Grace.
Pacific Linguistics Series C, No. 17. Canberra.
__________. 1991b. Sound change and migration distance. In Blust (ed.), pp. 27-42.
__________. (Ms., no date) Austronesian comparative dictionary. Electronic manuscript.
Clark, Ross. 1987. Austronesian Languages. In Bernard Comrie, ed., The World’s Major
Languages. New York: Oxford University Press.
Collins, James T, ed. 1990. Language and oral traditions in Borneo. Selected Papers from the
first extraordinary conference of the Borneo Research Council, Kuching, Sarawak,
Malaysia August 4-9. Williamsburg, VA: The Borneo Research Council Proceedings
Series Vol. Two.
Court, Christopher, 1967. Some Areal features of Měntu Land Dayak. Oceanic Linguistics VI:
46-50.
Dahl, Otto Christian. 1976. Proto-Austronesian (2nd Edition). Scandinavian Institute of Asian
Studies monograph series, No. 15. Lund.
Dempwolff, Otto. 1934-1938. Vergleichende Lautlehre des Austronesischen Wortschatzes.
Berlin: Dietrich Reimer Verlag.
Diamond, Jared and Peter Bellwood. Farmers and their languages: The first expansions.
Science vol. 300, April 24, 2003.
Hudson, A.B. 1978. Linguistic relations among Bornean peoples with special reference to
Sarawak: an interim report. In Sarawak: Linguistics and Development Problems.
Williamsburg, VA: Studies in Third World Societies No. 3, pp. 1-45.
Kroeger, Paul R., 1994 Ms. The dialects of Biatah. Borneo Research Council, 3rd Biennial
Meeting, 10-14 July, 1994.
Ray, Sidney H., 1913, The languages of Borneo. The Sarawak Museum Journal 1(4):1-196.
Ross, Malcom D. 1991. How Conservative are Sedentary Languages? Evidence from
Western Melanesia. In Blust (ed.).
__________. 1998. Language classification in Sarawak: a status report. The Sarawak
Museum Journal LIII 74:137-173.
Scott, N.C., 1964, Nasal consonants in Land Dayak (Bukar-Sadong). In David Abercrombie et.
al. eds., In honour of Daniel Jones. London: Longmans, pp. 432-436.
Tadmor, Uri. 2003. Final /a/ mutation: a borrowed feature in Western Austronesia. In John
Lynch, ed., Issues In Austronesian Historical Phonology. Canberra: Pacific Linguistics
550, pp. 15-36.
Topping, Donald M. 1990. A dialect survey of the Land Dayaks of Sarawak. In James T. Collins,
ed., 247-274.
Voorhoeve, P. 1955. Critical survey of studies on the languages of Sumatra. Martinus Nijhof:
‘S Gravenhage.
Zorc, David. 2006. Review of John Lynch, ed., Issues in Austronesian historical phonology.
Canberra: Pacific Linguistics 550. In Oceanic linguistics 45.2: 505-516. http://209.85.175.104/search?q=cache:53fHi4jN-hEJ:oak.cats.ohiou.edu/~mcginn
Satu lagi barang-barang kuno yang di perlihatkan oleh BMA Kab. Rejang Lebong dalam HUT Kota Curup yang 128, yaitu separangkat alat-alat upacara adat yang terbuat dari kuningan dan keramik. keterangan gambar : dari barisan bawah dari kiri ke kanan
Di belakang dari kiri kekanan
Note : untuk piring raja dulunya adalah piring yang bisa mengakal segala jenis racun


SEJARAH LETUSAN
| 1883 | Pada tanggal 24 dan 25 November terjadi gempabumi kuat yang disebabkan oleh letusan Gunungapi Kaba. Salah satu danau kawahnya lenyap dan menghasilkan banjir. Kampung Talang tergenang air sedalam 21 kaki, 36 orang meninggal dunia. Jumlah korban di distrik Klingi dan Bliti berjumlah 90 orang (Sapper, 1927, p.326) |
| 1834 | November terjadi letusan yang merusak lahan di sekitar gunungapi |
| 1845 | Di bulan April, terjadi banjir lagi yang melenyapkan 150 orang meninggal dunia. Tetapi Neumann van Padang (1951) meragukan- nya sebagai suatu letusan, dan ia tidak mencantumkan ke dalam catannya sebagai satu letusan. |
| 1853 | Terjadi letusan seperti di tahun 1883, tetapi tidak dilaporkan adanya korban jiwa (Sapper, 1927, p.326). |
| 1868. dan 1869 | Mungkin terjadi letusan abu. Sejak Oktober terlihat tiang letusan,
puncak tertutup abu, banyak pepohonan hangus. |
| 1873 | Terjadi peningkatan kegiatan di kawah Vogelsang |
| 1876 | Di bulan April, di Sindang terjadi hujan abu yang berasal dari gunungapi Biring. Bukit Kaba. Kawah Vogelsang giat bekerja, 2 sampai 10 menit sekali terjadi letusan, abu, pasir, dan batu dilontarkan. |
| 1873 dan 1892 | Selama 19 tahun gunungapi giat terus menerus dan berhenti
mendadak di akhir 1892 |
| 1886 | Tanggal 4 � 8 Juni jatuh hujan abu tipis di Warung Jelatang dan Pelalo. Tanggal 12 Juni terlihat bara api dan tiang asap berapi, serta aliran lava. |
| 1887 | Tanggal 3 dan 4 Februari tampak asap tebal disertai ledakan dan getaran serta hujan abu tipis. Tanggal 24 dan 24 Maret hujan abu lebih lebat hingga 28 Maret malam hari. |
| 1888 | Tanggal 27 Januari, suara gemuruh terus menerus terdengar dari bawah tanah, diiringi oleh asap yang mengepul antara Februari dan April. |
| 1890 | Tanggal 13 Mei, gunungapi sangat giat, suara gemuruh terus menerus terdengar, dan terjadi letusan di Kawah Vogelsang. |
| 1892 | Terjadi peningkatan kegiatan |
| 1907 | Terjadi letusan terus menerus yang begitu kuat di Kawah Baru
(Schuittenvoerder, 1914, p.165). |
| 1917 | Tanggal 30 Januari suara gemuruh terdengar dari bawah tanah. |
| 1918 | Tanggal 8 Agustus terjadi awan panas. |
| 1938 | Tanggal 10 November terjadi peningkatan kegiatan. |
| 1940 dan 1941 | Peningkatan kegiatan, suara gemuruh, hujan abu disertai lontaran
bahan-bahan lepas. |
| 1951 | Terbentuk sebuah kawah yang menghancurkan pematang Kawah Vogelsang bagian selatan. Bom vulkanik dan lapili dilontarkan sejauh 800 meter dari kawah. |
| 1952 | Tanggal 26 Maret pukul 10:00 terlihat tiang abu letusan dan terdengar suara gemuruh. Tanggal 2 April terjadi hujan abu di sekitar Gunungapi Kaba. Abu yang terbawa angin tersebar sampai sejauh 5 kilometer ke arah selatan. Letusan abu terjadi lagi pada tanggal 26 sampai 28 April. |
| 2000 | Sejak awal Juni terjadi peningkatan kegiatan kegempan di Gunungapi Kaba, yang dipicu oleh gempa tektonik Bengkulu berkekuatan 7.8 skala Richter pada tanggal 4 Juni disertai gempa-gempa susulannya yang dapat dirasakan di kawasan Gunungapi Kaba Kemunculan gempa-gempa vulkanik sebelum awal Juni rata-rata 1 kali kejadian setiap harinya, namun setelah awal Juni gempa-gempa vulkanik meningkat menjadi rata-rata 15 kali kejadian setiap hari. Gangguan dari gempa tektonik Bengkulu mengganggu sistem kantung fluida di dalam tubuh Gunungapi Kaba, sekaligus mengganggu sistem rekahan yang ada, serta memicu kemunculan gempa-gempa vulkanik dangkal berhiposenter 1-3 kilometer. Mekanisme sumber gempa-gempa vulkaniknya mempunyai solusi sesar turun. Energi gempa vulkanik yang dilepaskan berangsur-angsur menurun setelah September. Krisis kegempaan kali ini tidak diikuti oleh perubahan permukaan yang berarti di kawah-kawah Gunungapi Kaba. |
Sumber : http://www.vsi.esdm.go.id/gunungapiIndonesia/kaba/sejarah.html photo : KITLV

We just found a fine example of rare and very old type to add to our already significant collection of textiles from a little known interior area of Pasemah Regency in Sumatra. Textiles of this type are extremely rare, and seem to have begun coming out of the field in some numbers only in the past seven years or so. They have been variously described by travelers, dealers and institutions as “Kalianda” cloth, “Rejang Lebong” cloth, and “Temaland Ulu”. They are certainly not from Kalianda; can be linked to the Rejang Lebong people; and as for “Temaland Ulu,” the term is hard to verify. There is no place recorded in Indonesian sources called “Temaland” in Sumatra. The word “ulu” simply means riverhead, or up-river area. Who can to add verifiable information to this long-discussed matter?
Cakik digunakan untuk tempat mencuci sayuran,ikan atau daging, bentuk dan ukurannya beragam ada yg kecil sedang dan besar
Ti is Niyoa / Tirisan Kelapa /Saringan kelapa digunakan untuk menyaring santan kelapa dimana dibawahnya ada ujung yang lancip mirip sebuah corong
Krotong digunakan untuk menempatkan ikan hasil tangkapan
Tikong digunakan untuk tempat bumbu-bumbu dapur ( Bawang putih,bawang merah,cabe dll )
Media Diskusi