gogoBengkulu

Hancurkan dan Bangun Kembali

Letak supit urang pada burung Januari 24, 2011

Filed under: Loker Dunia Hobi — gogo @ 11:51 am

Letak supit urang pada burung

(sumber Om Kicau.com)

Banyak sekali para kicaumania yang mempertanyakan di mana supit urang sebagai salah satu penanda jenis kelamin burung berada? Ya, supit urang atau pubis adalah salah satu organ burung yang bisa digunakan untuk menanda jenis kelamin burung.

Sebagaimana kita ketahui hasil perabaan pada pubis burung bisa memberi petunjuk jantan-betinanya seekor burung. Umumnya, burung memiliki dua tulang pubis (supit urang) pada bagian pinggulnya. Pada musim berkembang biak, tulang pubis burung betina menjadi lebih elastis dan jarak antara kedua tulang pubis tersebut melebar karena pengaruh hormon. Keadaan tersebut dapat dirasakan dengan rabaan tangan. Pada burung jantan, jarak antara dua tulang pubis tersebut sempit. Namun harus dicatat di sini bahwa teknik perabaan hanya dapat digunakan secara lebih meyakinkan bila kegiatan seksual betina sedang aktif; atau minimal burung sudah memasuki usia remaja.

Kesalahan yang biasanya dilakukan ketika menanda tulang supit urang adalah meraba antara tulang pubis dan tulang dada. Oleh karenanya, ada yang mengatakan jarak supit urang anis merah atau anis kembang selebar 1 cm, bahkan ada yang mengatakan 2 cm. Sudah tentu hal itu salah. Sebab untuk burung seperti anis merah misalnya, jarak antara dua supit urang kanan dan kiri kurang dari 1 cm.

Ketika Anda meraba dua tulang supit burung dewasa, maka supit urang burung betina terasa lunak seperti kita meraba tulang rawan. Dan bila kita tekan, kedua supit urang terasa membuka. Sedangkan untuk jantan, kedua supit urang rapat dan terasa keras dan malah terasa runcing di jari kita yang merabanya.

Demikian gambaran posisi tulang supit urang atau pubis pada burung. Semoga bermanfaat.

 

Pleci, cucak jenggot, kolibri dan gelatik wingko: Cerita jelang Piala Raja Januari 20, 2011

Filed under: Loker Dunia Hobi — gogo @ 3:35 am

Pleci, cucak jenggot, kolibri dan gelatik wingko: Cerita jelang Piala Raja


 

Burung cucak jenggot

Cucak jenggot dan pleci adalah dua jenis burung yang selama ini dianggap burung pinggiran. Harga ombyokan cucak jenggot tak sampai 50 ribu perak. Pleci atau burung kacamata malah bisa dibawa pulang dengan 5 ribu rupiah saja. Padahal, di Singapura, pleci yang diduga kuat burung Indonesia harganya ada yang mencapai lebih dari 50 juta rupiah!

Cucak jenggot dan pleci sampai sekarang memang belum dianggap burung bergengsi. Harga bakalannya, seperti ditulis di Agrobis Burung, benar-benar sangat terjangkau, barangkali paling murah dibandingkan jenis burung lomba lainnya. Yang jelas, boleh jadi lebih murah dari uang makan sehari-hari kita.

Hal ini menggambarkan bahwa keduanya adalah burung yang sangat merakyat dan punya peluang untuk dibuat lebih ramai. Kalau kelas cucak jenggot dan terutama kelas pleci bisa dikibarkan, tentunya membuka peluang kepada masyarakat menengah bawah untuk bisa berpartisipasi dalam lomba dengan biaya yang murah.

Bandingkan kalau pengin ikut lomba anis merah atau murai batu misalnya. Beli bakalannya saja sudah tidak terjangkau, apalagi kalau beli yang sudah jadi burung lapangan. Kelas pleci masih lumayan populer di kawasan Malang dan sekitarnya, namun di daerah lain tampaknya kurang populer, meskipun pernah di coba untuk dibuka kelas sendiri, terpisah dari kolibri.

Dilombakan di Piala Raja

Jenis cucak jenggot adalah jenis burung yang pertama-tama akan menjadi semakin populer dan digeber secara resmi. Rapim PBI Pusat belum lama ini telah memutuskan untuk boleh membuka kelas cucak jenggot di lingkungan PBI.

Piala Raja Jogja, yang akan digelar pada 1 Agustus yang akan datang, rupanya meresponnya dengan langsung akan membuka kelas ini. Yang jelas, semenjak kasak kusuk kelas cucak jenggot bakal dibuka di Piala Raja, perburuan. burung-burung cucak jenggot di lapangan memang semakin kenceng.

Harga burung cucak jenggot di lapangan, apalagi yang tampak menonjol, pun langsung nangkring. Kini mereka yang memiliki cucak jenggot prospek pun semakin kuat dalam menahan untuk tidak tergesa-gesa menjualnya. Soalnya, makin dekat ke bulan Agustus, harga memang akan semakin meroket.

Sebagai tambahan informasi, masuknya cucak jenggot dalam lingkungan PBI adalah atas usulan hasil Rakernas PBI di Semarang beberapa waktu yang lalu. Usulan itu didasari oleh pemikiran bahwa pengurangan jumlah burung lokal yang diadakan oleh PBI, yang semangatnya adalah untuk mengurangi laju kepunahan, ternyata bisa dikatakan tidak memberikan dampak nyata. Artinya, tujuan mulai dari diberlakukan aturan larangan itu ternyata tidak efektif.

Pelarangan terhadap jenis decu, branjangan, prenjak, misaalnya, tak membuat burung ini menjadi lebih banyak populasinya. Sampai sekarang, meskipun di organiser lain masih ada yang membuka kelas tersebut, pesertanya tetap sepi. Sebab, pasokan dari alam memang sudah jarang.

Dari kesimpulan tersebut, diusung usulan untuk menambah kelas lokal lagi, yang populasinya masih cukup banyak, dan relatif belum terancam kepunahannya. Akhirnya, Rapim PBI menggedok palu untuk membuka kelas cucak jenggot.

Sebagai salah satu even unggulan PBI, khususnya PBl se-Jogja, dibukanya keran baru ini pun ditanggapi dengan antusias. Panitia Piala Raja sudah memastikan akan membuka kelas cucak jenggot. Apakah satu atau dua kelas, akan dilihat perkembangannya dalam waktu dekat ini.

Nah, Anda yang memiliki jagoan cucak jenggot, bersiaplah dari sekarang. Mungkin jagoan Anda akan mencatat rekor baru juara 1 cucak jenggot yang pertama di Piala Raja! Hal yang tentunya akan sangat membanggakan.

Melongok pleci di negeri tetangga

 

Lomba pleci di Singapura (Repro: Agrobis Burung)

Burung pleci atau dikenal dengan burung kacamata, saat ini sangat mudah dijumpai di pasar atau kios burung. Harga satuannya hanya berkisar 5 ribu perak. Beberapa organiser ada yang membuka kelas ini, baik di latber maupun lomba yang lebih gede. Namun pesertanya memang kurang. Barangkali yang cukup ramai hanya pada lomba dari kawasan Malang saja. Daerah lain rupanya kurang tertarik dengan lomba burung ini.

Di Jogja pun saat ini belum begitu ramai, namun dalam beberapa waktu ke depan rasanya akan terasa beda. Itu karena beberapa kicaumania memang berniat ingin menggeber jenis pleci agar bisa ramai lagi.

Salah satu yang terobsesi untuk meramaikan kelas pleci adalah Agung Budiman. Agung mengaku iri dengan lomba burung pleci di negeri tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Cina, juga di Hongkong dan Vietnam.

Di Singapura, sekali gantang dalam kelas penyisihan bisa diikuti hingga 200-an burung pleci. Agung mengaku pernah mencoba menawar burung pleci yang menurutnya sangat bagus, dan ternyata memang langganan juara.

Agung mengaku pernah iseng-iseng menawar hingga harganya kalau dikurskan sampai sekitar 50an juta, tapi ternyata tetap kekeh tidak dikasihkan. “Yang punya bilang ditawar sampai 60 juta rupiah juga tidak dikasih.”

 

Agus Budiman (Repro Agobis Burung)

Merasa gregetan, kini Agung pun terus mengumpulkan dan memburu pleci terbaik di Tanah Air. Salah satu yang sudah berhasil menjadi koleksinya adalah pleci Rontak yang langganan juara tak terkalahkan di seputar Malang.

“Suatu saat, saya ingin membawanya untuk dilombakan di Singapura sana. Saya rasa bisa menang karena kalau kita kan merawat burung jauh lebih serius dari pada mereka. Sebagian besar burung pleci, atau burung kaca mata, atau di Singapura disebut sebaggai burung Mata Putih itu, diklaim sebagai burung Malaysia. Tapi ketika coba ditelurusi, para pengepul Malaysia itu ternyata memburunya ke daerah Lombok, Indonesia. Setelah dibawa ke Malaysia dan dirawat secukupnya, barulah diekspor ke Singapura. Identitasnya pun menjadi burung Mata Putih Malaysia, bukan Indonesia.”

Di Singapura ada sekitar 5 lokasi lomba burung, dan khusus kelas Pleci hampir semuanya dipenuhi peserta. Burung ini disukai dinegeri tetangga karena suaranya yang merdu, halus, dan tidak terlalu berisik. Pleci biasa menemani di ruang kantor dari kantor kecil hingga kantor mewah, suaranya cukup indah didengarkan, juga bisa menimpali alurian musik yang disetel perangkat audio modern.

Tak ada hingar bingar teriakan peserta atau penonton. Semua duduk manis di pinggir lapangan sambil menikmati suara ngerol dari pleci yang meskipun tidak terlalu tembus, tetapi cukup bisa dinikmati kemerduannya.

Perawatan dan stelan

Banyak yang mungkin tak tahu persis bagaimana merawat dan menyetel pleci. Caranya tak beda dengan merawat anis merah. Pakan harian selain buah-buahan juga diberi voer yang lembut.

Pleci dimandikan, dengan cara dimasukkan ke keramba. Tentu ukuran keramba lebih kecil, jeruji juga lebih rapat. Sangkar pleci juga lebih kecil ukurannya.

Sebelum dilombakan, pleci sebaiknya juga dichas dengan sesama peserta yang lain, sebagaimana anis merah. Burung dicas, menurut pengalaman Agung Budiman, akan nanipil lebih baik. “Tradisi ngecas pleci sudah mulai ramai di Malang. Kalau di Singapur tentu tak ada, karena cara mereka memahami hobi dan burung beda dengan kita. Mereka benar-benar hanya buat waktu senggang, kalau kita kan serius sekali. Misalnya pengin tahu biar ketemu setelannya ya dicari beneran. Kalau orang luar ya ndak, lugu, apa adanya. Mau bunyi syukur, ndak juga santai aja.”

Cerita Brian Barek Jogja

 

Brian Jogja

Brian Jogja dan cucak jenggot (Repro Agrobis Burung)

Bakal naiknya pamor cucak jenggot ternyata sudah dirasakan auranya oleh Brian dari Sate Remaja Barek. Salah satu juri belia ini belum lama membeli cucak jenggot dari bakul ombyokan saat ada latihan di Monjali. “Saya membeli 45 ribu perak, masih bakalan memang,” aku Brian yang kini sudah duduk di bangku kuliah. Sesampai di rumah, cucak jenggot itu kemudian diberi master. Eh, ternyata hasilnya sangat bagus.

“Suara jenggotnya malah hilang, jadi full masteran. Kita awalnya juga tak percaya, tapi nyatanya begitu. Makanya kita pun penasaran untuk mencoba membawanya ke lomba,” terang H. Kirno, sang bapak.

Begitulah, setelah dianggap siap cucak jenggot yang kemudian diberi nama Liontin itu tiga kali dibawa ke latber di Sambego, latber paling ramai di Jogja yang dtlaksankan setiap Selasa mulai jam 15.00.

Tiga kali dicoba, ternyata hasilnya sangat memuaskan, bisa mengalahkan cucak jenggot papan atas Jogja yang sudah langganan juara. Sejak itu, Liontin pun jadi bahan perribicaraan. Beberapa orang, baik untuk sendiri maupun mengatasna-makan utusan sejumlah bos, mencoba merayu untuk bisa mendapatkan Liontin.

Konon, ada yang sudah berani membayar hingga kisaran 5 juta rupiah. Tapi, Brian dan H. Kirno, sang bapak, kompak untuk menolak semua lamaran itu. “Masih senang, kita ingin mencoba melombakan ke Piala Raja dulu. Bahkan kalau burung siap dan waktu juga memungkinkan, ada keinginan untuk menurunkan di Gubernur Cup Bali.”

Cerita di Bali

 

Silas, Bali

Sebelum kelas cucak jenggot dibuka PBI dan pertaa akan diputar di Probolingo, jauh sebelumnya di Bali kelas cucak jenggot sudah mulai ramai diminati. Lain dari cucak jenggot, kolibri kemudian menyusul dan terakhir kelas ciblek juga ikut memisahkan diri dari kelas campuran lokal.

Pamor ketiga kelas ini mulai terangkat ke permukaan setelah Asosiasi Ocehan Gresstenan terus membuka kelas tersebut dan mendapat sambutan dari kicau mania Bali. Rata-rata setiap kelas ini dibuka menyedot hingga 20 ekor. Para jago pun silih berganti menjuarai lomba. Dampak yang kemudian terjadi setelah tiga kelas burung lokal ini dibuka, harga bakalannya mulai merangkak naik.

Di Pasar Satria dan Sanglah Denpasar misalnya, cucak jenggot bakalan sudah mulai menembus angka 200-250 ribu per ekor. Begitu juga dengan kolibri dan ciblek. Rata-rata ketiga jenis burung ini didatangkan dari Jawa khususnya jenis cucak jenggot dan ciblek dari daerah Yogyakarta sedangkan kolibri dari Jawa Timur, selain banyak juga diambil dari lokal Bali khususnya cucak jenggot dan ciblek. “Tetapi kualitasnya masih kalah dengan ciblek Yogya,” ujar Silas.

Namun kalau sudah setengah jadi, seekor cucak jenggot, kolibri dan ciblek bisa di atas angka 500 ribu. Kalau sudah juara harganya bisa melambung tinggi. Juara I cucak jenggot di Bali sempat dipinang 3 juta, kolibri juara II bisa laku 1,5 juta sedangkan ciblek bisa menembus di atas angka satu jutaan.

PBI di Bali, sampai saat ini memang belum pernah membuka ketiga jenis burung ini. Namun sejak cucak jenggot dibuka pusat, Santo Utoyo dari PBI Denpasar menyambut antusias dan ke depan akan membuka kelas cucak jenggot. Jadwal lomba PBI Bali periode 2009-2010 sudah segera berakhir.

“Periode ke depan mungkin akan kami coba buka,” papar Santo Utoyo.

Sebaliknya, Asosiasi Ocehan Gresstenan, justru sudah menggelar ketiga kelas tersebut sejak lama. Antusiasme peserta dari waktu ke waktu terus bertambah seiring terus membanjirnya ketiga jenis burung ini ke Bali. Namun dari ketiga jenis burung ini, Silas mengakui bahwa kolibri paling diminati karena penampilan tarungnya yang unik.

Sering kelas kolibri dipakai sebagai ekshibisi untuk meredam suasana menegangkan sejak pagi. Kemudiari disusul prenjak yang juga memiliki sifat fighter yang kuat. Terakhir baru diduduki cucak jenggot.

Penampilannya yang monoton membuat peminatnya stagnan. Tetapi tetap menarik karena rata-rata kicau mania memiliki cucak jenggot sebagai master. Namun yang unggul di lapangan, yakni cucak jenggot yang benar-benar dirawat dan dimaster, bukan sekedar menjadi master. Seperti asuhan Gde Suarya Tajun, dimana jago cucak jenggotnya selalu di posisi pertama karena lagu yang dibawakan benar-benar unik. “Kalau benar-benar dikondisikan dengan benar, pastilah kelas cucak jenggot bakalan menjadi menarik,” tutur Silas.

Di Bandung gelatik wingko laris manis

Gelatik atau glatik wingko

Seiring ramainya burung lokal merambah blantika perkicauan nasional, kini muncul lagi burung lokal baru yang lagi ngetrend yakni gelatik wingko atau glatik wingko. Burung yang berperawakan seperti burung gereja ini mampu menyedot perhatian kicauamania untuk mengadopsinya. Pasalnya, gelatik wingko ini mudah beradaptasi dan cepat bunyi dibandingkan dengan jenis burung lokal lainnya.

Gelatik wingko yang memiliki warna dominan abu-abu hitam sangat cocok untuk buat isian segala jenis burung ocehan lainnya, terutama burung kenari. Suaranya yang nyaring dengan ciri khasnya cerecetnya panjang-panjang serta nafasnya kuat, burung asal daerah Jawa ini juga bisa mempunyai materi lagu burung lainnya seperti gereja.

Di tempat-tempat lainya, khususnya wilayah blok barat, gelatik wingko mampu memberikan warna tersendiri bagi dunia kicauan.

Di samping suaranya yang merdu, gelatik wingko pun harganya relative murah dan terjangkau. Akhir-akhir ini penggemar ocehan banyak yang memburunya, selain untuk di jadikan masteran juga untuk pajangan di rumahan.

Tak heran, di pasar burung di Jakarta dan Bandung pun gelatik wingko laku keras, sebagian besar kicaumania harus menungu satu atau dua hari untuk memperoleh burung lokal ini.

Untuk gelatik wingko yang masih muda atau anakan, para pedagang umumnya mematok harga sekitar Rp 100.000/ekor. Sedangkan yang sudah dewasa harga yang diatawarkan mulai dari Rp 450.000 sampai Rp 500.000/ekor. Untuk yang sudah gacor, harganya pun bisa mencapai jutaan rupiah.

Belum lama ini, di lapangan Banteng, Jakarta, gelatik wingko pernah dilombakan di kelas khusus campuran lokal. Di kelas ini, terdapat banyak burung lokal namun yang unggul adalah gelatik wingko. “Mudah-mudahan ke depannya beberapa organizer burung mampu memberikan ruang khusus kelas ini untuk dilombakan,” ujar Giman, salah seorang penghobi asal Jakarta.

Sementara untuk memiliki gelatik wingko yang prospek, kicaumania harus memilih patuknya yang lebih ceriwis jangan terlalu tebal tipis. Postur tubuh pun yang transparan dan jangan yang milih bentek. Dengan demikian, suara merdu disertai dengan tembakan cerecetannya sangat jelas terdengar. Begitu pun dengan rawatannya. Burung ini perawatannya cukup sederhana, setiap harinya hanya diberi makanan berupa voer atau biji-bijian. Kemudian, diberi kroto sedikit lalu digantangkan dengan burung ocehan lainnya. (Agrobis Burung)

 

Aneka pola rawatan burung cucak ijo jawara

Filed under: Loker Dunia Hobi — gogo @ 3:29 am

Aneka pola rawatan burung cucak ijo jawara

Orang bilang merawat cucak hijau itu tak gampang. Terutama menjaga stabilitas performanya. Sesekali nampil optimal, tapi pada lomba-lomba berikutnya lebih sering melempem. Namun, pesona cucak hijau ternyata tetap memikat hati kicaumania.

Terbukti dari jumlah peserta yang nyaris selalu penuh dari lomba ke lomba, bahkan setingkat latber sekalipun. Sebagai gambaran lagi, di Owen Award yang even baru akan digelar pada 3 Oktober yang akan datang, hingga berita ini ditulis, jenis cucak hijau semua kelas  sudah habis terpesan!

Salah satu “kelemahan” dari cucak hijau yang harus dipahami betul di antaranya adalah bulu mudah rontok. Kalau kaget, misalnya saat masih tidur dibangunkan paksa, bulu bisa jatuh. Bila itu terjadi menjelang lomba, biasanya burung juga lantas tak mau kerja.

Sejumlah burung yang awalnya langganan juara, prestasinya kemudian bias terus merosot secara permanen. Kalau sudah begini dan pemilik menyerah, biasanya lantas dilego dengan harga murah.  Contohnya adalah cucak hijau Jamrud, yang langganan juara antara tahun 2007-2008, namun kemudian tidak stabil, lebih banyak tak kerjanya setiap kali dilombakan.

Burung kemudian berpindah tangan ke Marsono, yang tinggal di kawasan Jombor, Jogja. Setelah coba dipelajari, Marsono kemudian menyadari bahwa sang jagoan rupanya jenuh berada di tempat yang sama untuk waktu yang lama, sehingga perlu dipindah ke lokasi atau kamar baru agar mendapatkan suasana yang baru.

Betul juga, di tempat yang baru, sang jagoan menjadi lebih mudah gacor dan gairah untuk bertarungnya muncul lagi.

Ada juga jagoan yang dari sejak dibeli hingga kini tampil cukup stabil, misalnya Presiden-nya Handi Hoho. Namun, belakangan ini Presiden juga mulai masuk rontok bulu sehingga sampai lebaran berakhir, bisa dipastikan Presiden mulai absen dari lomba, kemungkinan sampai bakda lebaran, seperti Owen Award, barulah mulai dicoba lagi untuk bertarung dalam suasana yang baru.

Sementara itu, menurut Mr Gandang yang mengorbitkan Alpacino dan kini juga Alcapone, salah satu resep jitu menjaga stabilitas cucak hijau adalah dengan terus menjaga setiap hari agar birahinya tidak berlebihan.

Kalau birahi berlebihan, sifat tarungnya berlebihan, burung bisa mengejar musuh, lagu bisa putus-putus, atau suara dan power tak keluar, hanya gayanya saja yang tampak dari jauh. “Beberapa waktu lalu saat konsentrasi terpecah karena kita semua lagi demen nonton Piala Dunia misalnya, Alcapone juga sempat beberapa waktu kurang nampil. Namun sekarang setelah saya  konsentrasi lagi dalam merawat dan memantau burung, sudah mau nampil

lagi.”

Dwi yang sehari-hari merawat Presiden mengungkapkan, perawatan burung itu sebenarnya biasa saja. Jangkrik misalnya, diberikan pagi dan sore masing-masing lima ekor.

Pisang diberikan terus-menerus setiap hari. Jemur dilakukan pagi setiap dua jam. Mulai Jumat, ditambah ular hongkong. Mandi setiap pagi diberikan pada cepuk, dibebaskan untuk mandi sepuasnya.

“Pada kasus Presiden, burung ini memang figther sekali, panas. Jadi malah harus sering dilombakan. Seminggu atau paling lambat dua pekan sekali harus tarung, kalau sapai telat hingga 3 pekan, biasanya malah ‘suloyo’ kurang nampil,” kata Dwi.

Sementara itu untuk eksfood, bila cuaca mendung cukup dengan 5-10 biji ulat hongkong tetapi bila cuaca panas hanya membutuhkan 5 biji ulat hongkong. Pengontrolan tetap dilakukan, pada burung yang sangat agresif maka harus diberikan buah papaya untuk meredam panas dari ekstra fooding yang berlebihan, cukup hanya kita melihat 10 menit kondisi burung yang akan digantangkan di lapang, bila kurang agresif tinggal menambah fooding yang diperlukan.

Ditempel master

Cucak hijau adalah burung yang pelupa. Untuk memastikan lagu mainan cucak hijau tidak hilang, maka direkomendasikan untuk selalu menempel dengan master, baik selama di kamar sewaktu istirahat, saat dijemur, hingga saat dianginkan.

Presiden misalnya, ditempel master tak cukup satu ekor, tetapi banyak master. Cucak jenggot dan kapas tembak saja empat ekor sendiri, belum jenis yang Iain. Kalau tak mau repot, juga bisa memanfaatkan jasa pemaster elektronik.

Ciri burung prospek

Cucak hijau memiliki sejumlah varian. Cucak hijau asal sumatera biosa dilihat dari body yang berukuran lebih kecil, warna hijaunya juga lebih muda. Sedangkan cucak hijau asal Jawa Timur seperti daerah Banyuwangi, bodi burung lebih besar dan panjang, warna hijaunya lebih tua.

Untuk memperbandingkan burung bakal yang prospek atau tidak, bukan ditentukan berdasar asal habitat tetapi melihat posturnya.

Burung prospek umumnya ditandai oleh bagian atas kepalanya jeprak. Jika bertemu lawan, sayapnya segera bergetar atau ngentrok. Bila ngentroknya hanya setengah, maka burung tersebut punya kebiasan membongkar lagu tetapi bila ngentroknya full biasanya burung hanya memiliki volume yang keras.

Dodi BM pemandu bakat dari Purwokerto yang mengorbitkan cucak hijau Extra Joss, mempunyai kiat-kiat khusus dalam memilih bakalan cucak hijau untuk kontes. Warna bulu, menurutnya, harus yang hijau muda, postur jangan terlalu besar. Pilihlah burung yang mempunyai postur panjang. Bulu kepala usahakan cari yang agak tebal, karena burung dengan bulu kepala tebal biasanya akan dominan saat dilombakan karena burung mudah menjambul.

Jaga kestabilan

Menampilkan burung, di mana saja, ternyata memang tidak bias dipukul rata. Masing-masing memiliki karakter sesuai kondisioning yang dilakukan pada burung itu sejak awal. Yang jelas, penangan perlu ekstra hati-hati terutama saat menjaga kondisi di masa birahi.

Banyak jawara cucak hijau yang prestasinya timbul tenggelam karena tidak bisa menjaga kestabilannya saat burung dalam kondisi birahi. Namun  ini memang tidak berlaku untuk Monster, jawara cucak hijau kepunyaan Hartoyo dari Jakarta.

Dalam kondisi apa pun  prestasinya tetap terdongkrak. Tercatat puluhan kali gelar juara yang dipetik sang gaco di beragam even penting.

“Saya sendiri sampai lupa sudah berapa kali juaranya,” ungkap sang pemilik yang kala mentransfernya dari H Irfan Tangerang.

Lantas, bagaimana kiat sang perawat menjaga kestabilannya hingga terus terjaga dengan performa yang sempurna? Padahal menurut Yudi, perawatnya, penanganan kesehariannya sangat sederhana.

Tidak perlu menggunakan kandang umbar, eksfood juga cukup jangkrik 5-5 ekor setiap harinya ditambah 2 ekor ulat bambu di siang harinya. Untuk kebutuhan buah diberikan pisang kepok diselingi apel merah. Kecuaii hari Senin, diberi papaya. “Untuk menurunkan birahinya agar jangan terlalu tinggi,” kata sang perawat.

Keseharian burung ditempel parkit, dengan suara cerecetan panjang. Ini disesuaikan dengan lagu dasarnya yang memang nyerecet panjang. Beres mandi,   burung dijemur cukup 2-3 jam.

Untuk setting lapangan juga tidak perlu repot. Cukup ditambah eksfood jangkrik 5 ekor jangkrik, total jadi 15 ekor berikut ditambah sedikit kroto. Sebelum digantang burung di obok tangan, digoda agar terpancing birahinya naik. Setelah itu langsung digantang. Begitu ketemu lawan, burung langsung nge-figh, dengan materi lagu yang super komplet mulai dari isian srindit, tembakan celilin hingga lagu dasar parkit didukung volumenya yang tembus semakin mempertajam tonjolannya di lapangan.

Bahkan, kondisi lapangan tidak mempengaruhi sang jawara dalam aksinya ketika ketemu lawan. Baik lapangan terbuka maupun bertenda, Monster tetap on fire ketika dikepung lawan. Justru tipe lapangan bertenda, menurut pemiliknya, yang paling disukainya.

Yang penting, kondisi burung dijaga dengan tidak menurunkannya setiap minggu, cukup selang-seling, dua pekan sakali. Itupun hanya di even-even penting.

Lain halnya dengan cara perawatan Monster, lain pula cara yang dilakukan Rusdy Bintaro. Ya, bicara cucak hijau blok barat, tidak lepas dari nama Rusdy Bintaro. Dari tangannya banyak burung cucak hijau mencorong di tangga juara, sebut saja seperti Mezzo milik Raymond Bachtiar yang hingga saat ini prestasinya masih di peringkat atas. Ada juga nama lain seperti Obama, Geger, Green Peace, Bandit, Prahara, dan yang sekarang sedang diorbitkannya adalah Kharisma.

Bagaimana kiat Rusdy, mencetak beberapa calon gaconya hingga bisa moncer di tangga juara? Di kediamannya saat ini sdi kawasan Bintaro sedikitnya ada 6 ekor cucak hijau orbitannya dalam satu rumah petak khusus burung. “Yang penting, jangan saling melihat satu sama lainnya, baik saat mandi maupun dijemur,” jelasnya.

Bahkan untuk menjaga kondisi burung agar jangan sampai terkena masa birahi akibat pengaruh burung lain, dia juga pantang cucak hijau saling melihat dengan burung lainnya, baik itu sejenis maupun burung isian. Jangankan burung sejenis, burung gereja liar saja jangan sampai mengganggu sehingga membuatnya jadi birahi.

Begitu dikeluarkan pagi burung langsung masuk bak mandi. Satu persatu burung dimandikan. Tanpa saling melihat. Beres mandi, burung di jemur dengan penempatan berjauhan. Untuk penjemuran dia kerap memafaatkan rumah tetangganya untuk numpang nitip jemur, agar saling berjauhan satu sama lain tidak saling melihat.

Masa penjemuran juga tidak terlalu lama, paling banter sampai pukul 10 pagi. Sedangkan untuk kebutuhan eksfood jangkrik disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing burung. Karena satu sama lain memiliki karakter berbeda. Ada yang satu hari jangkriknya diberikan lebih dari 10 ekor tetapi ada yang kurang dari itu.

Begitu juga pemberian ulat maupun krotonya ada yang diberi ulat hongkong juga ada yang hanya diberikan sedikit kroto. Yang penting kebutuhan buahnya tetap terpenuhi sebagai pakan utama selain voer.

Perbedaan penanganan ini juga dalam hal kandang umbar. Ada yang mau diumbar bahkan ada yang diumbar tapi justru kerja lapangannya kurang maksimal. “Tergantung karakter dan kebiasaannya,” kata Rusdy.

Khusus kandang umbarnya ini memang antik, sesuai jenis cucak hijau yang memiliki kebiasaan terbang vertical ke atas, kandang pun dibuat lebih tinggi. Ukuran lebar cukup 1,5 meter x panjang 2 meter x tinggi 2,3 meter. Posisi tangkringan di tempatkan di bawah dan atas. Penempatan umbaran relatif.

“Posisi umbaran sengaja dibuat terbang dari bawah ke atas atau sebaliknya, jenis cucak hijau kan berbeda dengan murai atau kacer yang terbang mendatang,” jelasnya lagi.

Tapi untuk cucak hijau yang baru mulai belajar diumbar harus melalui tahapan, dengan cara menempatkan posisi tangkringan diatur tidak langsung atas bawah. Intinya, mengorbitkan cucak hijau jawara menurut Rusdy adalah dimulai dari kualitas burung itu sendiri. Terutama materi lagu maupun kualitas volumenya.

Setelah itu, rawatan harian hingga perawatan H-1 menjelang lomba juga perlu perhatian sesuai karakter burung. Setelah itu juga setting lapangan hingga setting menggantang burung di lapangan. “Untuk ini masing-masing burung berbeda, ada yang harus diobok-obok dulu sebelum di gantang dan lainnya,” ungkapnya.

Hindari rontok total

Apa yang terjadi jika cucak hijau dengan sengaja dirontokkan oleh pemiliknya. Maka yang terjadi kemudian cucak hijau stress dan rusak. Ya, cucak hijau yang dirontokkan dengan sengaja biasanya sulit sekali ditampilkan seperti sedia kala. Bisa membutuhkan waktu lebih dari setahun untuk bias pulih.

Anehnya cucak hijau yang bagus di lapangan biasanya cucak hijau yang dalam kondisi sedikit rontok. Kondisi ini sebagai pertanda bahwa cucak hijau dalam kondisi top performa. “Cucak hijau yang sedang fit akan ditandai dengan rontok bulu sedikit-sedikit,” tutur Silas, pemandu bakat burung khususnya cucak hijau.

Beberapa pantangan buat cucak hijau, lanjut Silas, selain tidak boleh dirontokkan dengan sengaja juga sangkar tidak boleh diganti-ganti. Kalau sangkar yang sudah biasa dipakai tiba-tiba diubah, maka burung tersebut akan langsung macet. Hal yang juga mesti diperhatikan bagi pemain cucak hijau, untuk mempertahankan perfoma, jangan memelihara hanya satu ekor cucak hijau.

Cucak hijau, kata Silas punya karakter yang

unik. la butuh gandengan selama di rumah. “Sebaiknya pelihara 2-3 ekor,” ungkap Silas. Cucak hijau yang jarang digandeng akan terbiasa tertidur di siang hari dan menambah kemalasannya.

Namun, lanjut pria yang tinggal di Sanglah Denpasar ini, cucak hijau di dalam rumah mesti selalu dalam kondisi dikerodong. Tidak baik dua atau lebih cucak hijau dibiarkan terbuka sepanjang hari. Hal ini akan menumpulkan sifat tarungnya. Jika dalam kondisi dikerodong dan sesekali dibuka sesuai waktu saat lomba, maka semangat tarungnya akan tumbuh.

Sementara untuk makanan, cucak hijau tidak perlu ditakar. Terlebih lagi menjelang lomba, cucak hijau butuh ekstrafod jangkrik sebanyak-banyaknya. Semakin banyak mau makan maka akan semakin bagus penampilannya di lapangan. Terkadang kesulitan untuk memberikan makanan karena sesuatu sebab. Karena itu, perawatan harian akan menentukan kelahapannya ketika menjelang lomba. “Cucak hijau mesti dimandikan dulu baru dijemur dan tidak dianjurkan sebaliknya,” tutur Silas.

Pilih bakalan

Sementara itu seorang pengulak burung di Bali, Naryo, memberi tips cara membeli cucak hijau untuk para penghobi lomba. “Beli burung setengah jadi atau beli di latberan,” papar Naryo.

Burung setengah jadi, biasanya sudah teruji aman jika digandeng dengan burung lain. Berbeda dengan bakalan yang membutuhkan proses pendewasaan dan pelatihan turun ke lomba.

“Toh begitu, jika di pasar ada bakalan yang bagus saya juga ambil,” papar Naryo.

Memilih bakalan cucak hijau, menurut Naryo perlu ditekankan kepada dua hal, yakni mental gandeng dan mau ngentrok. Biasanya warna hijau pupus atau hijau muda lebih memilki karakter tarung dibandingkan dengan cucak hijau berwarna hijau tua.

Soal lagu bisa dengan mudah diisi. Hal yang penting adalah bagaimana agar cucak hijau mau digandeng dengan musuhnya. Cucak hijau seperti ini biasanya punya karakter tersendiri dan bisa dicermati ketika digandeng di pasar.

Sepintas, bakalan yang bagus akan memperlihatkan karakternya ketika digandeng termasuk juga ngentroknya walaupun hanya sesaat. “Tidak semua cucak hijau punya mental gandeng,” papar Naryo.

Begitu juga dengan bentuk tubuh cucak hijau, menrut Naryo tidaklah menentukan. Sebab, dari pengamatannya, banyak cucak hijau bertubuh kecil bisa tampil di lapangan. Sebaliknya cucak hijau yang bertubuh besar malah terkadang kurang mau tarung.

Sementara itu berdasar pantauan Agrobur, harga bakalan cucak hijau di Bali jauh lebih murah dibandingkan di Jawa. Di pasar burung Bali, harga bakalan cucak hijau berkisar 500 ribuan, sebaliknya di Jawa sekitar 700 ribuan. Namun untuk setengah jadi, di Bali bisa menembus 700 ribuan.

Meski lebih murah, tidak sedikit pemain atau pengulak Bali membeli bakalan ke Jawa. Bahkan dibandingkan membeli bakalan, akan lebih praktis memilih setengah jadi di latber-latber di Jawa dengan harga berkisar 900 ribuan. 

Penutup dan catatan dari Om Kicau:

Oke teman-teman, tentu teman ada yang bingung juga membaca aneka tips rawatan burung cucak ijo yang bermacam-macam dari Tabloid Agrobur itu. Yang penting, Anda jangan lantas selalu mencoba-coba setelan burung dari pola satu ke pola lain. Ada satu hal yang perlu kita ingat, bahwa merawat burung  agar bisa bagus memerlukan konsistensi.

sumber:  (Agrobur)

 

Menangkar cucakrowo

Filed under: Loker Dunia Hobi — gogo @ 3:26 am

Menangkar cucakrowo

 

Beginilah logika umum untuk membreding cucakrawa dengan lebih gampang: memelihara indukan dari kecil dan hasil ternakan. Selain dianggap lebih mudah, juga lebih murah.

Sebagai gambaran, harga anakan usia makan sendiri sepasang sekitar 4 juta rupiah, sedangkan harga yang sudah usia dewasa kelamin, sekitar 8 bulan, dan siap dijodohkan (dalam bahasa pedagang, yang begini biasanya dianggap sepasag dan siap masuk kandang) harganya hampir dua kali “lipat.

Bila kita ragu-ragu akan jenis kelaminnya, dijual secara terpisah pun tidak ada soal. Sebab untuk cucakrawa, jantan atau betina harga satuannya sama saja, sama-sama bunyi, dan sama-sama bisa dilombakan.

Di sinilah salah satu kelebihan bila kita “menginvestasikan” uang untuk membeli, memelihara, dan membesarkan anakan cucakrawa. Bisa disebut, tak mengenal kata rugi.

Logika yang agak berbeda datang dari Mardiono, yang tinggal di Tegal Kenongo, Tirtonirmolo, Bantul.  Memelihara cucakrawa asal hutan sejak tahun 1994 yang kemudian dimasukkan ke kandang breeding, saat ini sudah menghasilkan lebih dari 50 kali tetasan.

Tentu saja, waktu itu Mardiono hanya menyiapkan kandang seadanya. Mardiono membangun kandang di dalam rumah ukuran 2 x 2 m, dengan sekat menggunkan kawat strimin.

Hanya dalam waktu satu bulan, burung sudah mau bertelur dan menetas, begitu seterusnya hingga 2007 sudah lebih dari 50 tetasan. Setelah itu, produksi baru mulai lambat, tidak selancar sebelumnya.

Dari hasil pengalaman itu, Mardiono pun menyimpulkan, bahwa indukan asal hutan bisa lebih awet produksinya. Yang jelas, sebagian anakan itu sekarang juga sudah dikembangkan menjadi indukan baru. Sekarang, Mardiono sudah memiliki 13 pasang kandang cucakrawa.

Perawatan tentukan produktivitas

Kebersihan adalah salah satu rahasia keberhasilan dari breeding, termasuk cucakrawa. Tak hanya di dalam kandang, seperti bagian sarang, titik-titik di sekitar kandang pun harus dibersihkan dari kotoran-kotoran yang berceceran.
Di dalam kandang yang diberi tanaman perdu untuk memberi kesan rindang dan alami, juga-perlu disemprot agar daun dan tangkainya kelihatan bersih dan segar.

Untuk inkubator, Mardiono hanya menggunakan inkubator sederhana buatan sendiri dari bahan triplek dan hanya diberi penerangan saja untuk penghangat.
Piyik yang baru menetas hingga umur dua minggu, setelah diloloh tak perlu diberi air.  Setelah usia tiga minggu, piyik mulai memerlukan penjemuran selama sekitar 30 menit. Setelah dijemur, bisa ditambahkan suplemen alami berupa madu.

Membedakan jantan-betina

Memilih atau membedakan jenis kelamin cucakrawa harus diakui tidak gampang, sebab secara fisik nyaris tidak berbeda, dari segi suara juga sama saja. Jadi bagi yang awam, benar-benar tak gampang membedakannya.

Di kalangan para breeder yang sudah berpengalaman pun, ternyata cara untuk memastikan jantan dan betina tidak sama. Mardiono biasa melihat cirinya bila dengan mengamati saat masih piyikan.

Piyikan bisa  dikatakan jantan bla di bagian atas kepalanya terdapat garis atau galar yang kelihatan cerah, kelihatan piyikan itu juga agresif. Bila piyikan lebih cepat bunyi dan birahinya lebih cepat biasanya banyak betinanya.  Indukan maupun piyikan yang baru diloloh juga sangat bagus bila diberi tambahan asupan multivitamin.

sumber:  (Agrobur)

 

Perawatan Murai Batu

Filed under: Loker Dunia Hobi — gogo @ 3:15 am

 

 

 

Perawatan Murai Batu

Sebelumnya saya minta maaf, bukan bermaksud sok tau atau merasa jago, saya hanya ingin berbagi cara-cara perawatan saya selama ini untuk murai-murai saya, karena banyak teman-teman yang minta saya untuk memberikan tips perawatan murai batu, mungkin bukan yang terbaik tp inilah cara perawatan yang saya jalani setiap hari.

Sebenarnya cara perawatan murai batu ini hampir sama saja dengan perawatan burung yang lainnya, yang pasti kita harus tau dulu karakter burung tersebut, mental matang, gamapang galak atau justru susah fight/galak dilapangan, setelah tau barulah kita dapat mengontrol karakternya tsb melalui makanan dan extra foodingnya.

Cara perawatan yang akan saya sampaikan berikut ini khusus untuk burung-burung yang sudah bermental matang artinya tidak terlalu galak ataupun tidak terlalu loyo.

Perawatan Harian

1.Pagi sekitar jam 7.00 krodong burung di buka ditempat teduh
2. lalu berikan 5 ekor jangkrik
3. berikan 2 sendok makan kroto yg sudah dibersihkan
4. jemur 1-2 jam (tergantung kesenangannya) krn ada jg murai yg tidak mau dijemur terlalu lama, cukup 0.5 jam saja.
5. setelah selesai dianginkan 20 mnt lalu ditutup, simpan ditempat teduh dan dikelilingi burung isian
6. sore sekitar jam 3 sore buka krodong lalu mandikan
7. setelah selesai beri jangkrik kembali 5 ekor setelah itu tutup kmbali
8. gantung burung ditempat yg tenang dan jangan terlalu terang sehingga burung dapat ber istirahat dengan tnang.

Catatan : Untuk yg senang memberikan Vitamin sebaiknya cukup diberikan 2x seminggu, jangan terlalu ering memberikan vitamin, murai termasuk burng yang sensitif terhadap bau yg berlebihan…kalau terlalu sering dan terlalu banyak memberi vit, bisa2 murai jd tidak mau minum sehingga burung jd serak.
sebagai catatan tidak ada satupun murai saya yang menggunakan vitamin untuk perawatan harian kecuali jika burung sakit atau rontok bulu.

Perawatan 1 Minggu sebelum lomba

Untuk perawatan seminggu sebelum lomba yang biasa saya jalani sebagai berikut :

1. Dari senin s/d rabu burung dirawat seperti rawatan harian diatas.
2. Mulai kamis porsi jangkrik dinaikan yg tadinya 5 pg jd 8pg dan 7 sore ttl 15
sedangkan perawatan lainnya sama dengan hari biasa.
3. jum’at porsi jangkrik dinaikan menjadi 10 pagi dan 10 sore, tambah 5 ekor ulat hongkong dan perawatan lainnya sama dengan hari biasa.
4. Sabtu porsi jangkrik dinaikan lagi 15 pg, 10 sore, tambah 5 ekor ulat hongkong + kroto 2 sendok makan pg hari saja dan khusus pada hari sabtu ini burung tidak dijemur dan tidak dimandikan pada sore harinya, jadi burung dikrodong seharian ditempat yang teduh setelah diberikan kroto, jangkrik, ulat hongkong.
5. Pada hari minggu pagi burung diberi jangkrik 10 ekor, ulat hongkong 5 ekor dan kroto 2 sendok makan, burung tetap jangan dimandikan dan usahakan pada saat menunggu untuk dilombakan disimpan ditempat yang jauh dr lapangan lomba dan burung murai lainnya. sehingga diharapkan pada saat krodong dibuka dilapangan lomba burung dapat keluar nafsunya dan tenaganya masih full untuk menandingi lawan2nya.
6. Jika akan diturunkan pada babak berikutnya burung kalau bisa jangan dimandikan, beri jangkrik 5 ekor, ulat hongkong 3 ekor dan simpan ditempat yg jauh.

Ingat murai merupakan burung dengan type fighter yg tinggi, sehingga dibutuhkan kondisi yang benar-benar prima pada saat dilombakan selain mental jawaranya.

Perawatan setelah lomba

Untuk menghindari burung Murai tidak menjadi galak setelah dilombakan, usahakan pulang dari lapangan lomba murai batu dimandikan dan jangan diberikan jangkrik kembali, perawatan berikutnya dapat dikembalikan kepada cara perawatan harian sebelumnya.

Sekali lagi cara perawatan diatas adalah cara perawatan yang biasa saya gunakan sebelum lomba dan ini hanya cocok untuk burung2 yang sudah memiliki mental yg matang, jika burung Om-om kegalakan atau malah kurang bergairah bisa disesuaikan dari cara pemberian extrafoodingnya, terutama jangkrik dan ulat hongkongnya. Jika burung kegalakan jangan pernah memberi ulat hongkong sebelum lomba dan jumlah jangkrik bisa dikurangi baik harian maupun seminggu sebelum lomba. Sedangkan bila burung Om-Om kurang bergairah bisa ditambah jumlah jangkrik yg diberikan baik harian maupun satu minggu sebelum lomba, saya sarankan jumlah ulat hongkong yang diberikan jangan terlalu berlebihan karena takut menimbulkan efek samping spt rontok bulu atau kegalakan.

Efek Pemberian Doping
Dari pengalaman saya pemberian doping ini sangat saya tidak anjurkan, karena akan menimbulkan efek samping yg tidak baik berupa ketergantungan terhadap doping tersebut dan burung tidak bergairah kembali setelah selesai mabung.
Dulu ada beberapa murai batu saya yang harus didoping oleh Orong-orong (kadal kecil) tiap hari, 3 hari sebelum lomba dan diberikan minuman tonic and bitter, burung tersebut kerap berprestasi, mungkin ada yang ingat denag murai saya yg bernama Elang Sakti yg lalu ditransfer oleh Bp. Januar Dewa Ruci,burung tersebut kerap menjuarai lomba yg diikutinya selama doping tersebut diberikan secara teratur, tp pada saat setelah mabung/rontok bulu burung tersebut terlihat tidak bernafsu untuk memakan orong2 tersebut dan kondisinya tidak dapat pulih kembali seperti semula sampai kahirnya tengelam prestasinya. Kesimpulan saya efek dari doping tersebut akan terlihat pada saat burung selesai mabung, dimana kondisi burung susah sekali untuk kembali ke kondisi prima sebelum dia mabung.

Saran saya jangan pernah menggunakan doping apapun terutama orong2, kelabang dan minuman doping yg ada jika anda ingin MB anda berprestasi dalam jangka panjang

Perawatan Pada Saat Mabung

Banyak sekali pemain murai batu, baik yang pemula maupun yang sudah top terjebak pada saat mengkondisikan MB jawaranya setelah mabung, hal ini dikarenakan karena keinginannya untuk segera melombakan kembali burung jawaranya. Ada beberapa hal yang harus benar-benar diperhatikan oleh Om-om pada saat merawat murai waktu mabung dan jangan pernah melanggarnya.

a. Pada saat mau Mabung.
1. Rawatlah murai anda yg sedang mabung dengan baik dan selalu bersihkan kandangnya tiap hari.
2. Jika awal burung mau mabung coba kurangi porsi jangkriknya dr 5 menjadi 2 pg dan sore sedangkan porsi krotonya tambah menjadi 3 sendok makan/hari. Selama mulai rontok bulu burung tidak perlu dijemur.
3. kurangi waktu mandinya dr tiap hari menjadi 2-3 hari sekali, tp kandang tetap dibersihkan tiap hari.
4. rubah waktu madinya menjadi antara jam 12-jam 1 siang, setelah mandi langsung krodong dalam kondisi bulu basah dan jangan diangin2.
5. Beri larutan Growvit di air minumnya sekucupnya(jangan terlalu banyak cukup seujung pentul korek api untuk tiap cangkir minum burung), 2 hari sekali, baik untuk mempercepat perontokan dan pertumbuhan bulu
Jauhkan dari burung murai lain kalau bisa cukup 1 burung MB 1 rumah

b. Perawatan Pada Saat Tumbuh bulu
1. Pada saat semua bulu, baik kepala, badan, sayap maupun ekor sudah jatuh maka kembalikan porsi rawatan kepada porsi rawatan harian seperti biasa baik makanan maupun pola mandinya. Ingat jangan pernah menjemur burung yg sedang tumbuh bulu sampai semua bulunya terutama ekor dan sayap selesai masa pertumbuhannya (full) karena ini akan menghentikan pertumbuhan bulu terutama ekor dan membuat bulu akan cepat tua.
2. Selama pertumbuhan bulu berikan Growvit pd minumannya dg komposisi diatas 2 hari sekali dan campur air madi dg obat mandi yg ada di pasaran.
3. Burung harus trus dikrodong setelah diberikan makanan dan dibersihkan kandangnya baik sebelum atau setelah mandi ditempat yang teduh dan berikan burung isian disekelilingnya.
4. Setelah bulu ekor dan sayap tumbuh maksimal mulailah dilakukan secara bertahap :.
minggu ke 1 dijemur selama 1/2 jam
minggu ke 2 dijemur selama 3/4 jam
minggu ke 3 dan ke 4 selama 1 jam
minggu ke 5 dan ke 6 selama 1.5 jam
minggu ke 7 dan ke 8 selama 2 jam

Ingat dan jangan pernah melanggar atau anda akan menyesal :
Jangan pernah mengadukan MB jawara Om-om sebelum 2 bulan penjemuran minimal, saya jamin kalau MB anda Jawara dan anda adu sebelum 2 bulan pasti burung anda akan juara, tp pd minggu-minggu berikutnya MB anda kan galak dan makin susah untuk mencapai performa seperti sebelum mabung, sampai burung tersebut mabung kembali. Hal ini sudah terbukti dan dirasakan oleh pemain2 murai Top yang saya kenal, mereka selalu terjebak oleh keinginan untuk segera melombakan burung MB jawaranya karena masalah gengsi.

Setelah selesai penjemuran selama 2 bulan cobalah MB anda dilatihan kecil terlebih dahulu antara 15-20 burung agar burung anda tidajk terlalu kaget, dan biasakanlah melombakan burung anda 2 minggu sekali agar burung MB anda dapat selalu tampil prima.

Semoga tips ini dapat cocok dengan MB om-om semua, dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.